• Komunitas
  • PROFIL KOMUNITAS VOLUBIT: Ruang bagi Orang Muda Belajar dan Bertahan di Dunia Kripto

PROFIL KOMUNITAS VOLUBIT: Ruang bagi Orang Muda Belajar dan Bertahan di Dunia Kripto

Volubit hadir dari pertemuan tatap muka, setelah lama hanya berinteraksi daring. Dari diskusi grafik trader pemula, curhat kena scam, hingga salah kirim aset.

Kopi darat komunitas kripto Volubit di Bandung. (Foto: Dokumentasi Volubit)

Penulis Awla Rajul23 Maret 2026


BandungBergerak - Suasana sebuah kafe di Bandung dipenuhi orang-orang muda yang ngobrol soal grafik harga dan strategi investasi. Di hadapan mereka layar laptop dan ponsel menyala, menunjukkan grafik pergerakan pasar kripto. Dari pertemuan-pertemuan seperti inilah komunitas Volubit lahir sebagai wadah pertemuan tatap muka bagi para pegiat kripto.

Volubit didirikan setelah tiga entitas komunitas kripto – Upsidebit, Evolution Trading, dan Valuble – berinisiatif bertemu secara langsung dan mengajak para anggotanya berkumpul pada Januari 2024. Sebelumnya, para trader muda tersebut lebih banyak berinteraksi di ruang digital tanpa pernah bertatap muka. Setelah pertemuan berlangsung, mereka menyadari bahwa jumlah orang muda yang aktif di dunia kripto cukup besar.

Kegiatannya tidak hanya dihadiri oleh warga Bandung. Sejumlah anggota juga datang dari berbagai daerah di Jawa Barat, seperti Tasikmalaya, Subang, dan Garut.

Dalam kegiatannya, Volubit rutin menggelar berbagai aktivitas komunitas, mulai dari nonton bareng candle bar, menggarap proyek airdrop, hingga live market analysis. Selain itu, komunitas ini juga menyelenggarakan diskusi, sharing session bersama tokoh-tokoh tertentu, serta pelatihan manajemen portofolio bagi para anggotanya.

Volubit juga kerap bekerja sama dengan berbagai exchange atau platform perdagangan kripto untuk menyelenggarakan kegiatan edukasi dan komunitas kripto di Bandung. Kolaborasi tersebut bertujuan memperluas literasi sekaligus mempertemukan para pelaku kripto dalam satu ruang diskusi.

Aset Investasi Digital

Sebagai salah satu aset investasi digital yang terus berkembang, kripto (cryptocurrency) tidak lepas dari peran komunitas seperti Volubit. Meski kripto beroperasi sepenuhnya di dunia digital, komunitas menjadi wadah interaksi sekaligus literasi yang penting.

Kini Volubit memiliki anggota daring mencapai 5.000 orang yang tergabung masing-masing di grup Telegram dan Discord. Volubit secara rutin juga menggelar pertemuan setiap bulan yang dihadiri rata-rata sebanyak 50-100 orang. Selain bergerak sebagai komunitas, Volubit juga menjalankan fungsinya sebagai media dan akademi.

“Bitcoin aja itu bisa jalan karena komunitas yang percaya sama teknologinya, sama blockchain kan. Jadi penting banget (komunitas). Terus penting juga untuk terjun networking atau berkomunitas, biar kita tahu mana yang memang aman dan mana yang memang bisa menghasilkan gitu,” kata Esha, 25 tahun, salah satu pendiri Volubit, Sabtu, 28 Februari 2026.

Esha juga menambahkan, yang membuat dunia kripto semakin berkembang pesat juga komunitas – dalam berbagai bentuk dan formasinya. Misalnya, ada proyek baru dalam dunia kripto, komunitas-komunitas yang meramaikan, mengenalkan, hingga dipakai oleh publik secara luas.

Pendiri Volubit lainnya, Arli Fauzi, 34 tahun, menambahkan, komunitas menjadi wadah literasi yang penting. Ketika pertama kali terjun ke dunia kripto di penghujung 2018, Arli merasa sangat sedikit informasi sekaligus orang-orang yang aktif di bidang ini. Begitu pula dengan belum adanya komunitas.

Semakin berkembangnya teknologi dan ramai orang-orang yang menggunakan kripto, komunitas menjadi tempat yang tepat untuk mendapatkan informasi. Di sini, orang-orang muda tidak hanya saling berbagi informasi fundamental, tetapi juga hal-hal teknis yang bukan hal remeh untuk dilewatkan.

Dalam setiap kegiatan yang digelar, komunitas Volubit juga menjadi ruang berbagi pengalaman bagi para anggotanya. Tidak sedikit peserta yang datang untuk menanyakan persoalan transaksi aset kripto yang tidak masuk ke akun mereka, hingga berbagi pengalaman menjadi korban penipuan atau scam. Acara komunitas ini juga menjadi ajang bagi para trader untuk saling bercerita, mencari solusi, dan bertukar pengalaman seputar dunia kripto.

“Jadi kita tuh sebagai kakak anjir,” ungkap Arli, sambil bercanda, Sabtu, 28 Februari 2026.

Kripto dan Ragam Peluangnya

Cryptocurrency (mata uang kripto) adalah mata uang digital berbasis teknologi blockchain. Berbeda dengan mata uang fiat yang terpusat di bank-bank, kripto bersifat tidak terpusat atau terdesentralisasi. Mata uang “masa depan” ini dipercaya lebih aman dengan teknologi pecatatan kriptografi. Kripto dan blockchain memungkinkan semua pihak dapat bertransksi dua pihak secara langsung tanpa adanya pihak ketiga yang terpusat tadi, seperti bank sentral.

Mata uang kripto mulai populer di Indonesia sejak 2017 dan memuncak ketika pandemi. Secara global, kripto mulai dikenal dan populer setelah Bitcoin diciptakan oleh seorang atau sekelompok anonym bernama Satoshi Nakamoto.

Pada Oktober 2008, Satoshi menerbitkan makalah ilmiah berjudul “Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System”. Setahun setelahnya, Bitcoin (BTC), sebagai mata uang kripto diluncurkan terbatas hanya sebanyak 21 juta keeping digital.

Seiring berjalannya waktu, mata uang kripto terus bermunculan. Beberapa di antaranya adalah Etherium (ETH), Solana (SOL), Tether (USDT), Dogecoin (DOGE), dan lain ribuan mata uang kripto lainnya. Selain menggunakan teknologi blockchain, kripto didukung oleh Web3 atau internet generasi ketiga yang lebih aman dan efisien.

Sebagai instrumen investasi, kripto dianggap sebagai aset digital yang berisiko tinggi. Di Indonesia, kripto diatur sebagai komoditas yang legal untuk diperdagangkan sesuai Peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 9 Tahun 2024 tentang Pedoman Penyelenggaraan Perdagangan Pasar Fisik Aset Kripto di Bursa Berjangka.

Dalam keseharian dan persinggungan awal, Esha dan Arli beraktivitas berbeda di dunia kripto. Esha adalah seorang airdroper, Arli adalah trader. Namun satu kesamaan di antara keduanya adalah melihat kripto sebagai peluang untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Ini memungkinkan, karena, kata keduanya, ada banyak peluang dan peran yang bisa dimanfaatkan oleh setiap orang di Web3, selain menjadi investor atau trader.

Esha bersinggungan pertama kali dengan kripto di tahun 2021, berdasarkan informasi dari kawannya, sekaligus informasi yang berseliweran di media sosial. Ia tidak langsung memilih menjadi trader kripto karena risikonya yang tinggi. Makanya sebagai pemula waktu itu, ia memulai dengan airdrop, yang rendah risiko dan hanya sedikit modal yang dibutuhkan, yaitu waktu dan konsistensi.

Airdrop, kata Esha, adalah hadiah dari semacam program kampanye yang dijalankan untuk sebuah proyek mata uang kripto yang belum dirilis resmi dan listing di bursa kripto. Airdroper perlu menjalankan tugas harian yang diberikan dalam jangka waktu tertentu. Nantinya airdoper akan mendapatkan hadiah berupa token atau koin dari proyek mata uang kripto setelah resmi dirilis. Koin itu bisa dijual untuk menghasilkan keuntungan rupiah atau di-trading-kan untuk menggulung keuntungannya dari fluktuasi harga pasar.

Airdrop ini bisa dibilang lebih low risk karena kita enggak perlu ngeluarin modal yang banyak. Kita kayak cuma berkorban ke waktu, usaha, sama device buat ngerjain si campaign-campaign itu, kayak ngerjain tugas-tugas. Dalam sehari banyak muncul project, nanti setelah selesai kita dibagi rewardnya,” kata Esha yang selain airdroper, menjalani binis keluarga.

Sementara Arli adalah seorang trader, perjalanannya dimulai pada 2018. Dengan modal rupiah yang dimiliki, ia membeli Bitcoin. Melalui fluktuasi harga pada periode tertentu (bursa kripto beroperasi 24 jam penuh), keuntungan bisa didapatkan. Arli menyebutkan, keuntungan kripto hanya didapatkan dari fluktuasi nilai harga koin kripto di pasaran. Tidak ada keuntungan bagi hasil (dividen) seperti di saham.

“Bitcoin itu kan “tidak produktif”. Tapi kenaikan harga Bitcoin itu bisa menutupi sebetulnya. Ibaratnya beli Desember 2018 35 juta rupiah, sekarang satu miliar. All time high itu dua miliar loh untuk satu Bitcoin. Kenaikan harganya bisa menutupi sebetulnya, cuma ingat, fluktuasi harga enggak hanya naik, turunnya juga gila,” kata Arli yang juga menjalani bisnis dan sedang mendirikan sebuah startup.

Ada banyak pilihan lain yang bisa diselami bagi yang tertarik dengan kripto dan ekosistem Web3. Beberapa pilihan di antaranya adalah seniman NFT, manajer komunitas, pengembang koin, penambang Bitcoin (miner), DeFi (Decentralized Finance), hingga digitalisasi aset nyata (Real World Asset/RWA).

Baca Juga: Demam Cryptocurrency (Lagi), Bagaimana Blockchain Menjadi Tempat Penyimpanan Data?
Potensi dan Risiko Investasi Crypto

Kopi darat komunitas kripto Volubit di Bandung. (Foto: Dokumentasi Volubit)
Kopi darat komunitas kripto Volubit di Bandung. (Foto: Dokumentasi Volubit)

Penting Berkomunitas

“Dunia financial market itu high growth. (Tetapi) kalau kita enggak ada ilmunya, kita enggak ada komunitas, enggak ada teman gitu, enggak bisa ngebikin itu sangat-sangat high growth. Mau di saham, mau di mana pun begitu,” kata Arli, menegaskan pentingnya berkomunitas di dunia kripto.

Bagi pemula, baik teknis maupun fundamental sangat perlu diketahui. Ia menceritakan pernah ada seorang anggota yang menanyakan tentang mengapa aset yang dikirim tidak kunjung sampai. Ternyata itu bisa terjadi karena kesalahan jaringan pengiriman yang dipakai. Makanya, Arli menegaskan, hal teknis seperti itu tidak bisa diremehkan. Komunitas dapat membantu memberikan informasi terkini sekaligus saling berbagi solusi dan pengalaman.

Adapun untuk berinvestasi di kripto, lanjut Arli, sangat penting untuk menentukan terlebih dulu apa tujuannya, dan hendak investasi berjangka pendek atau berjangka panjang. Ia menyarankan, aset kripto diinvestasikan sebagai jangka pendek karena fluktuasi harganya yang tinggi dan volatilitasnya. Ia juga menegaskan kepada pemula untuk paham dan siap dengan risiko.

Adapun jika percaya diri dan menyadari profil risiko sendiri, maka bisa saja berinvestasi jangka panjang di kripto.

“Kalau di kripto saran saya di-trading aja, karena fluktuasinya ngeri kan, bisa 10 sampai 20 persen setiap asetnya setiap hari (naik atau turun). Ambil momentumnya aja,” kata Arli sambil menegaskan ini sebagai non-financial advice.

Adapun Esha, menyarankan untuk memulai dengan airdrop karena risikonya yang rendah, sambil mempelajari dunia kripto lebih jauh. Namun demikian, utamanya, ia menyebut kripto baiknya dijadikan sebagai sampingan saja – alih-alih resign dari pekerjaan utama karena mengetahui pemasukan dari kripto yang bisa tinggi.

“Misalnya sudah punya kerjaan yang stabil ya sudah lanjutin saja tapi sambil misalnya nge-airdrop buat nambahin pemasukan gitu sebagai sampingan. Kripto itu sebagai sampingan, karena kan dia digital ya. Maksudnya bisa kita kerjain kapan pun, di mana pun, dan dia tidak tentu juga gitu kan,” ungkapnya.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//