PROFIL KOMUNITAS OUR HOME: Sekolah Tanpa Seragam untuk Anak Jalanan
Our Home terbentuk dari sebuah percakapan antara Cia (pendiri) dan seorang anak yang tinggal dalam gerobak. Menjadi sekolah sekaligus rumah kedua bagi anak jalanan.
Penulis Riani Alya18 Februari 2026
BandungBergerak - Di bawah terik matahari yang tertutupi oleh pepohonan rimbun, sekelompok anak duduk melingkar beralaskan karpet di sebuah sudut kota. Tanpa bangku sekolah, tanpa papan tulis, dan tanpa seragam. Bergabung dalam lingkaran tersebut, seorang relawan menunjukan beberapa lembar kertas yang menunjukan berbagai jenis sampah. Plaza Cikapundung River Spot menjadi tempat bagi komunitas Our Home menjalankan pembelajaran nonformal untuk anak-anak jalanan.
Our Home Bandung merupakan Rumah pemberdayaan untuk anak jalanan yang berada dalam naungan Yayasan Rumah Mimpi dan Harapan Anak Nusantara. Sejak tahun 2018, Our Home berkomitmen untuk memberikan akses pendidikan kontekstual berupa pengajaran, pembelajaran, dan pemberdayaan.
Tahun 2018 Our Home terbentuk dari sebuah percakapan antara Cia (Founder) dengan seorang anak bernama Dian yang tinggal dalam gerobak di Braga. Saat itu Dian ingin belajar karena tidak bersekolah formal, akhirnya Cia rutin menemui Dian setiap minggu untuk mengajari pembelajaran basic hingga Dian mengajak teman-temannya.
Saat Covid-19 menyerang pada tahun 2019, Cia dan teman-teman relawan yang lain tetap mengajar anak-anak tersebut melalui Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Setiap anak diberi lembar kerja yang akan dikumpulkan setiap satu bulan sekali, PJJ ini berlangsung hingga tahun 2020. Pada Tahun 2021, Our Home kembali mengajar luring secara rutin hingga saat ini.
Data terbaru yang dikeluarkan oleh Open Data Kota Bandung pada tahun 2024 menunjukan setidaknya ada 39 anak Jalanan di Kota Bandung, 5 hingga 15 di antaranya yang selalu datang setiap minggu untuk belajar bersama Our Home. Dengan latar belakang yang berbeda, banyak di antara mereka yang ikut berjualan bersama orang tua nya, pada saat berjualan itulah mereka bertemu dengan Our Home.
Fazria, anak 9 tahun yang lebih sering disapa Dede mengaku sudah bergabung dengan Our Home sejak umurnya 2 tahun, saat ini ia tetap menempuh pendidikan formal di salah satu Sekolah Dasar (SD) Negeri di Kota bandung. Namun setiap hari Jumat hingga Minggu ia akan berjualan tisu di sekitar jalan Braga.
“Dulu kata mamah, dede bantuin mamah jualan buat bayar kost-an, awalnya aku gamau terus kata mama gapapa, disitu aku ngerasa kaya tertekan gitu di rumah cuma makan sama tidur nyenyak, jadinya aku ikut mama jualan,” ucapnya.
Begitupun dengan para pengurus dan volunteer, mereka hadir dengan latar belakang yang berbeda, namun setidaknya ada 17 mentor dengan latar belakang yang relevan seperti pendidikan, profesi, dan lembaga.
Alda selaku salah satu fasilitator dari Our Home dengan latar belakang yang sangat jauh dengan kegiatan ini, yaitu konsultan teknik mengaku ketulusan dialah yang menahannya tetap berada di Our Home sejak tahun 2025.
Sedangkan Intan, mahasiswa akhir pendidikan khusus di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yang bergabung sebagai volunteer dengan Hour Home sekitar tahun 2022 atau 2023 mengaku memiliki koneksi dengan anak-anak yang ada di sini, Intan juga mengatakan bahwa mereka anak yang baik.
“Datang kesini tu kaya recharge aja gitu, disini tu kita kaya main aja, saling memberi keluh kesah. Mereka ini kan dalam tanda kutip agak nakal ya, aku pengen menggali mereka ini kenapa, background apa yang bikin mereka gitu, setelah ditanya-tanya, diselidiki, emang mereka tu juga jadi tulang punggung,” jelas Intan pada tim BandungBergerak.
Metode Pembelajaran
Proses pembelajaran dilakukan secara dua arah, para pengurus dan volunteer tidak hanya memberi materi, namun juga menjadi ruang aman yang selalu mendengarkan keluh kelas setiap anak. Mereka tidak dituntut untuk bisa membaca dan menulis, namun tetap dirangkul, hal ini dilakukan agar anak merasa dihargai dan tidak minder.
“Karena di sini itu ada yang kelasnya udah besar tapi belum bisa baca, makanya gak kita wajib-in karena nanti dia minder, tapi tetep kita rangkul buat belajar,” ucap Alda.
Materi yang dibawakan setiap minggu tentunya selalu berbeda, seperti mengenali lingkungan, menggambar batik, dan memilah sampah. Pembelajaran dimulai dengan berdoa bersama yang dipimpin oleh seorang anak laki-laki berbaju hitam, dilanjut dengan sesi perkenalan semua yang ada disana, mulai dari anak-anak, volunteer, hingga pengurus.
Setiap seseorang sudah berkenalan, mereka akan menyambut dengan kata “welcome home” sembari menyatukan kedua ujung jari membentuk rumah.
Sebelum masuk ke pematerian, ada sesi game untuk meningkatkan semangat para anak. Game yang dimainkan berupa memperagakan sebuah kata, kata pertama yang keluar adalah ‘tidur’ semua orang mulai memperagakan gaya tidur yang sama, yaitu menyatukan kedua telapak tangan dan menaruhnya di salah satu pipi. Namun anak yang memimpin doa tadi benar-benar melakukan gerakan tidur dengan meringkuk di atas karpet, tawa dan ejekan mulai riuh terdengar dari anak-anak yang lainnya.
Masuk ke sesi pematerian yang diisi oleh seorang relawan mengenai macam-macam sampah, mereka diberi penjelasan mengenai berbagai jenis sampah, seperti sampah organik, anorganik, dan 3B. Hal yang menarik, setiap penjelasan jenis sampah akan dibacakan oleh anak-anak. Hal ini dapat membantu perkembangan cara membaca anak tersebut.
Setelah semua penjelasan dibacakan, pemateri akan menjelaskan ulang dengan bahasa yang mudah dipahami. Mereka juga akan menebak jenis-jenis sampah berdasarkan gambar yang disediakan.
“Seneng banget (belajar disini) soalnya banyak kakak-kakak yang baru, lebih tau soal memilah sampah” ucap Fazria.
Sebagai bentuk praktik langsung, anak anak diberikan 3 gambar dengan jenis yang berbeda, lalu mereka diminta untuk memasukan gambar tersebut satu-persatu ke dalam gelas yang sudah diberi gambar sampah organik, anorganik, dan 3B.
Untuk penutup pertemuan, anak-anak berbaris untuk mendapatkan sebuah poin berupa kertas bulat yang nantinya dapat mereka tukar setiap satu bulan sekali sebagai reward untuk mereka yang rajin hadir. Poin diberikan bersamaan dengan snack sebagai hadiah atas kehadiran mereka pada hari itu.
Selain pembelajaran di Cikapundung, Our Home juga sering berkolaborasi dengan berbagai pihak atau donatur yang akan mengajak anak-anak belajar di luar seperti museum geologi atau berkunjung ke Universitas Maranatha bandung.
Baca Juga: Pengalaman Budi Kecil di Jalan, Membangun Rumah Singgah di Usia Dewasa
Tentang Bocah Perempuan Pengamen di Persimpangan Kopo, tentang Kota yang Gagal Memberikan Ruang Aman
Pentingnya Menjaga Sikap dan Perilaku
Our Home menekankan pentingnya bersikap dan berperilaku pada anak, latar belakang kehidupan mereka terbilang cukup bebas, membuat beberapa anak bersikap seenaknya.
“Ada anak yang bisa tiba-tiba mukul ke orang tua, setelah ikut Our Home dia bisa lebih terkontrol, bisa bilang tolong dan makasih. Bahkan saat ketemu orang tuanya, dia minta tolong ke mama nya, dan mama nya kaget dia bisa bilang tolong dan maaf,” ucap Alda.
Perjalanan mengajar anak-anak tentunya tidak selalu mulus, muncul berbagai tantangan yang harus dihadapi “dari moodnya anak anak karena gak bisa diprediksi sama sekali, kalo moodnya jelek pasti kebawa ke dalam pembelajaran, bahkan pernah ada anak berantem sama anak diluar Our Home, itu salah satu PR,” ucap Alda.
Selain perasaan, keinginan belajar mereka juga tidak selalu ada, terkadang para pengurus harus mencari mereka di sekitar Braga dan Alun-Alun, bahkan memberinya iming-iming berupa hadiah atau snack agar mereka mau bersekolah.
Tantangan yang datang dari eksternal berupa persepsi dan dukungan dari masyarakat terhadap anak jalanan yang beranggapan bahwa anak jalanan tidak akan bisa diajarkan, lalu sarana prasarana, pendanaan, dan tempat yang belum sepenuhnya mendukung proses pembelajaran.
Bagi Intan yang merupakan anak rantau dari Solo, Our Home dan anak-anak di dalamnya adalah rumah kedua, ia merasakan seperti pulang ke rumah saat sedang menjalani kegiatan volunteer. Walaupun ada anak-anak yang belum mengenal dirinya, Intan merasakan tatapan yang mereka berikan sangat tulus. Our Home bisa menghilangkan sebagian pandangan negatif Intan terhadap anak-anak.
“Dulu aku menganggap remeh anak-anak jalanan, tapi setelah aku nyemplung ke dunia mereka, aku jadi tau kalo dunia yang mereka jalanin itu lebih susah dari aku, karena anak sekecil itu harus jualan, harus bantuin ekonomi keluarga, jelasnya.
Sedangkan Keinginan Alda dan pengurus yang lainnya, mereka berharap tidak ada lagi anak-anak jalanan yang membutuhkan itu, karena jika Our Home masih berjalan, berarti populasi anak jalanan masih ada.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

