Bagja, Buku, dan Puing-puing di Trotoar Cihapit
Dari kios buku lawas di Cihapit hingga Perpustakaan Gasibu, ruang literasi menyusut. Namun, di sudut-sudut kota, warga terus menghidupkan tradisi membaca.

Muhammad Akmal Firmansyah
Mahasiswa Ilmu Sejarah UIN SGD Bandung dan Jurnalis BandungBergerak.id sejak 12 Juni 2022
9 Oktober 2026
BandungBergerak - Satu perpustakaan dan satu kios buku tergusur di Kota Bandung. Puluhan buku, zine, dan poster sempat dipajang sebagai barang bukti di meja gelar perkara kepolisian. Sebuah diskusi buku disatroni, lalu dibubarkan. Peristiwa-peristiwa itu terjadi dalam dua tahun terakhir, pada waktu dan situasi berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: buku.
Melihat peristiwa-peristiwa itu, seolah-olah kiamat maju satu langkah setiap harinya bagi para pegiat literasi. Padahal, Bandung sempat mendapat julukan sebagai kota buku. Lantas, ke manakah jejak julukan itu kini?
Di tengah suramnya nasib perbukuan, gairah literasi di kota ini tetap menyala. Puluhan klub baca bermekaran, sementara perpustakaan yang merangkap kafe menjamur. Di balik gerakan itu, tentu ada peran orang-orang muda Bandung dari berbagai kolektif atau komunitas, meski tak sedikit pula yang bergerak secara individu.
Namun, generasi senior tak bisa dikesampingkan. Kiprah mereka justru menjadi jangkar sejarah perbukuan. Kisah mereka mengingatkan saya pada seorang pak tua yang khusyuk membaca dengan latar tumpukan buku nun jauh di Maroko. Mohammed Aziz, pak tua tersebut, adalah seorang penjual buku yang memilih mengabdikan hidupnya pada buku.
Cerita Mohammed Aziz diulas oleh Millie Ramm dalam artikel _Meet The Oldest Bookseller of Rabat, Morocco_. Disebutkan, Aziz sering menghabiskan waktunya di toko buku di Rabat dengan membaca selama enam hingga delapan jam setiap hari. Di tempatnya terdapat 4.000 buku berbahasa Arab, Prancis, dan Inggris. Buku-buku tersebut diperolehnya dari lapak-lapak buku bekas di Rabat. Sebagian dijual, sementara sisanya ia baca.
Aziz sendiri hidup dalam keterbatasan sejak kecil. Ia kehilangan orang tuanya saat berusia enam tahun. Bahkan, ia tidak dapat melanjutkan sekolah setelah berusia 15 tahun karena tidak mampu membeli buku pelajaran.
Di tengah keterbatasan itu, Aziz justru memilih mendekatkan diri pada buku. Pada 1963, ia memulai usaha dengan hanya sembilan buku dan sebuah tikar di bawah pohon. Perlahan-lahan, ia berhasil memiliki toko kecil di Medina, Rabat. Sejak itu, ia dikenal sebagai salah satu penjual buku tertua yang masih aktif.
Dalam artikel yang terbit di _1000libraries Magazine_ ini, disebutkan bahwa toko Aziz bukan sekadar tempat berdagang. Ia menjual buku dengan harga murah dan membiarkan buku-bukunya berada di luar agar mudah diakses. Baginya, orang yang tidak membaca dan tidak bisa membaca tak akan mencuri buku.
Aziz juga belajar secara mandiri. Berpegang pada adagium bahwa buku adalah jendela dunia, ia berhasil menguasai bahasa Arab, Prancis, Spanyol, dan Inggris. Ia membangun kehidupannya di sekitar buku, membaca, dan berbagi pengetahuan. Ketika ditanya apa yang dibutuhkan untuk bahagia, jawabannya sederhana: beberapa bantal dan buku-buku.
Kembali ke Bandung. Ada sosok yang mungkin memiliki kemiripan dengan Aziz, yaitu Bagja. Persamaan utama mereka adalah sama-sama pedagang buku yang menghabiskan sebagian besar hidupnya bersama buku.
Terpal usang yang terbakar matahari dan tumpukan buku menjadi pemandangan sehari-hari di Kios Buku Tjihapit milik Bagja. Lokasinya dekat setopan Jalan Riau-Cihapit, sejajar dengan penjual ketoprak dan empal gentong. Di sana, Bagja menghabiskan sebagian besar hidupnya bersama buku.
Sejak 1980-an, pria setengah baya itu setia mengelola kios sederhana yang dikenal menyediakan buku-buku lawas. Selain buku berbahasa Indonesia, kiosnya menyimpan banyak koleksi buku berbahasa asing, seperti Inggris, Belanda, dan Jerman. Bagja sendiri menguasai bahasa Jerman, sebuah keahlian yang jarang dimiliki penjual buku. Kios itu pun berada tak jauh dari rumahnya, hanya sekitar satu kilometer.
Pada Selasa siang, awal Oktober 2026, saya menemui Bagja yang sedang termenung. Mengenakan kaus oblong cokelat, ia memegang sebuah buku. Sebelumnya, ia diperintahkan membongkar lapaknya karena dianggap berjualan di tempat yang tidak semestinya sehingga harus ditertibkan.
Tak ada cukup waktu untuk memilah ribuan buku yang menumpuk di lapaknya. Bagja terpaksa menjual semuanya dengan cara ditimbang. Beberapa buku lawas yang dijual kiloan tersebut bahkan terbit pada 1800-an.
“Ada buku biologi yang tulisannya itu gothic,” ucapnya.
Semua berlangsung terburu-buru. Bagja tak bisa berlama-lama memilah buku karena khawatir merepotkan pedagang lain yang berniat membantunya, terlebih jumlah barangnya begitu banyak. Total buku yang dijual kiloan mencapai dua mobil. Pengalaman ini menjadi pukulan terberat baginya selama puluhan tahun berjualan buku di Cihapit.
Perintah pembongkaran kios itu berlangsung di tengah gelombang penertiban pedagang kaki lima (PKL) di Bandung. Situasi ini berbeda dengan era wali kota sebelumnya. Bagja masih diperbolehkan berjualan, tetapi tidak dengan kios permanen. Ia harus berjualan dengan sistem bongkar pasang.
Sambil mengisap rokok kretek, hari itu Bagja membersihkan sisa-sisa buku dan sampah. Bekas kiosnya sudah rata di atas trotoar. Sesekali, beberapa orang membantunya dengan imbalan seadanya.
Benak Bagja melayang kepada para pelanggannya. Ada pelanggan yang menyayangkan buku-buku yang sebagian tergolong antik dan diminati kolektor itu berakhir sebagai barang kiloan.
“Ada pembeli dari zaman dia kuliah sampai sekarang jadi dosen, dan masih langganan di sini,” ujarnya.
Baca Juga: Nasib Bagja dalam Gelombang Penertiban PKL di Bandung: Lapak Dibongkar, Buku Dijual Kiloan
Perpustakaan Gasibu, Literasi, dan Ambisi Penataan Fisik

Nasib Buku Bandung
Kisah Bagja bukan satu-satunya gambaran menyusutnya ruang-ruang literasi di Bandung dan sekitarnya. Beberapa bulan sebelumnya, Perpustakaan Gasibu dirobohkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan dalih penataan kawasan. Pemprov Jabar menyebut perpustakaan tersebut bertransformasi menjadi perpustakaan digital.
Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan layanan literasi akan tetap berjalan setelah Lapangan Gasibu terintegrasi dengan halaman Gedung Sate. Menurutnya, masyarakat tetap dapat mengakses layanan literasi melalui fasilitas digital maupun perpustakaan umum.
“Insya Allah, Lapangan Gasibu terintegrasi dengan halaman Gedung Sate dan masyarakat tetap mendapatkan layanan literasi,” ucap Herman, dikutip pada Senin, 13 Juli 2026.
Persoalan ruang literasi tidak berhenti pada tempat membaca dan berjualan buku. Ruang untuk mendiskusikan buku pun menghadapi persoalan serupa. Di Bogor, diskusi buku dalam rangka Pekan Sastra Bogor bertajuk _Memburu Muhammad: Bagaimana Cerita Mengganggu Cara Kita Memahami Agama?_ karya Feby Indirani dibatalkan dua hari sebelum acara. Pembatalan itu dilakukan setelah kelompok masyarakat keagamaan memprotes judul tersebut dan mengancam mengerahkan massa.
Panitia Pekan Sastra Bogor menyebut pembatalan itu diambil demi keselamatan setelah mereka mendapat ancaman penggerudukan. Meski demikian, panitia menolak praktik pencekalan dan menilai kebebasan berdiskusi serta berekspresi ikut terancam ketika sebuah diskusi dapat dibatalkan hanya karena ancaman massa. Sesi tersebut kemudian diganti dengan diskusi novel _Ajengan Anjing_ karya Ridwan Malik.
Sebelumnya, saat rangkaian aksi demonstrasi pada Agustus–September 2025, polisi di Jawa Barat menunjukkan buku-buku sebagai barang bukti bersama batu dan molotov. Foto buku-buku tersebut dipajang di meja barang bukti.
Aliansi Pegiat Literasi Bandung mengecam penyitaan buku-buku tersebut. Mereka menuntut agar buku-buku itu dikembalikan serta mendesak negara menjamin kebebasan berpikir, berekspresi, dan memperoleh informasi.
Perwakilan LBH Bandung, Ressy Rizki Utari, menilai penyitaan buku sebagai barang bukti dapat melanggar hak asasi manusia, terutama ketika gagasan di dalamnya diperlakukan sebagai unsur pidana. Hak masyarakat untuk memperoleh informasi dan kebebasan berpikir dijamin oleh UUD 1945. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 6-13-20/PUU-VIII/2010 juga mencabut kewenangan Jaksa Agung untuk melarang buku secara administratif.
Rangkaian peristiwa tersebut terasa kontras jika dibandingkan dengan sejarah Bandung sebagai kota buku. Julukan itu bukan muncul begitu saja. Dalam tulisan berjudul “Bandung Kota Buku yang Terlupakan” di buku _Pohon Buku di Bandung: Sejarah Kecil Komunitas Buku di Bandung 2000–2009_ (2018, hlm. 9–11), Deni Rachman mencatat bahwa pada awal abad ke-20, Bandung merupakan kota berbasis percetakan dan penerbitan. Di antara percetakan yang ada saat itu ialah Toko Tjitak Affandi (1903), milik pribumi, serta percetakan milik Indo-Eropa, G. Kolff & Co.
Deni menyebutkan, sepanjang 1850–1906, Bandung telah kebanjiran 222 judul buku berbahasa Sunda hasil cetakan dari Bandung maupun luar Bandung. Buku-buku tersebut dibagikan secara gratis oleh pemerintah kepada pelajar dan mahasiswa.
Ia juga menceritakan sejumlah toko buku paling terkenal di Bandung pada masa lalu, antara lain Toko Buku Prawirawinata milik R. Prawirawinata di Jalan Oude Hospitaalweg (sekarang Jalan Lembong), Toko Buku Van Dorp di Braga (sekarang Landmark), serta Toko Buku Visser dan Vorink di Jalan Asia-Afrika.
“Toko Buku Prawirawinata, sebagai toko buku pertama yang dimiliki pribumi tentunya menjadi kebanggaan tersendiri untuk warga kota Bandung. Bekas bangunan toko bukunya lenyap, dan kini berubah fungsi menjadi sebuah hotel,” tulis Deni.
Selain percetakan dan toko buku, Deni menjelaskan bahwa Bandung dikenal sebagai “gudang khazanah ilmu pengetahuan” di Hindia Belanda. Perpustakaan Centrale Bibliotheek di area Gedung Sate, yang diresmikan pada 1924, memiliki koleksi buku teknik dan umum terlengkap kedua setelah perpustakaan pusat di Batavia.
“Fakta-fakta sejarah di atas telah membuktikan kota Bandung tak perlu diragukan lagi sebagai pusat buku yang berpengaruh di Tanah Air,” tulisnya.
Kini, ruang-ruang literasi yang terlupakan itu dihidupkan kembali melalui inisiatif warga. Perpustakaan independen dan toko buku bermunculan di berbagai tempat, mulai dari trotoar dan permukiman padat hingga wilayah pinggiran. Mereka juga saling terhubung melalui beragam kegiatan bersama.
Reiza Harist dari Aliansi Perpustakaan Independen (API) Bandung mengatakan bahwa perpustakaan di Bandung tumbuh pesat sejak pascapandemi hingga sekarang. Menurut Reiza, ada lebih dari 20 taman bacaan masyarakat hingga perpustakaan jalanan yang tumbuh di Bandung.
API Bandung merupakan kolektif perpustakaan independen di kawasan Bandung Raya. Kolektif ini dibentuk untuk membantu menjawab berbagai persoalan yang dihadapi setiap perpustakaan, yang tentu memiliki karakteristik dan kebutuhan berbeda. API Bandung telah menggelar beragam program, kampanye, dan kegiatan bersama. Saat ini, mereka memproduksi Paspor Perpustakaan untuk mendorong kunjungan warga ke perpustakaan-perpustakaan independen.
Tumbuhnya perpustakaan dan toko buku di Bandung menegaskan pentingnya ruang publik yang dapat dihadiri dan dikunjungi secara fisik. Warga masih menghargai aktivitas literasi dan pertemuan tatap muka.
“Pada akhirnya inisiatif-inisiatif seperti ini muncul secara independen, bukan lewat dorongan atau insentif pemerintah,” tutur Reiza.
Ada nada getir dalam perjalanan literasi di Bandung. Ketika kebijakan pemerintah meruntuhkan perpustakaan dan memerintahkan pembongkaran lapak buku demi ketertiban, warga tetap berinisiatif membaca dan berdiskusi dengan caranya sendiri.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


