Menyelami Keberagaman Nusantara Melalui Konser Orkestra Kolase Irama Indonesia
Kolase Irama Indonesia merupakan konser orkestra yang menyajikan lagu daerah, pop, dangdut, baroque, hingga musik kontemporer.
Penulis Bagea Awi Dan Heni12 Oktober 2026
BandungBergerak - Kala Sang Surya Tenggelam menjadi salah satu komposisi yang disajikan Acacia Yuk! String Orchestra (AYSO) dalam konser bertajuk Kolase Irama Indonesia. Meski diaransemen dengan alat musik gesek, komposisi ini tetap khas tanpa kehilangan melodi utamanya. Penonton juga merasakan unsur magisnya.
AYSO sengaja membawakan lagu dipopulerkan mendiang solois Chrisye tersebut dalam konsernya. Bertempat di Auditorium Lt.3, Klinik Pratama Silih Asih, Bandung, Minggu, 27 September 2026, konser tersebut berlangsung sehari setelah meninggalnya komposer Guruh Soekarnoputra, pencipta lagu Sang Surya Tenggelam. Penonton dengan tenang mendengarkan, sesekali mereka merekam dengan ponsel setiap alunan nada yang dimainkan. Namun mereka juga taat dengan aturan yang diterapkan dalam konser orkestra, yaitu tidak membuat kegaduhan atau suara bising dan bertepuk tangan di akhir lagu.
Kolase Irama Indonesia sendiri menyajikan sejumlah nomor lagu yang memamerkan keberagaman identitas, cerita, bahasa, dan pengalaman masyarakat dari berbagai wilayah Indonesia. Lagu-lagu tersebut dikemas dengan penggabungan antara lagu daerah, pop, dangdut, baroque, hingga musik kontemporer bagi beberapa orang akan terasa asing untuk didengarkan.
Beberapa lagu yang dibawakan AYSO antara lain: Bubuy Bulan, Sigulempong dan O Ina Ni Keke. Konser ini dimeriahkan pula dengan komposisi original, Selayang Pandang Betawi, Seruan Dari Ujung Barat juga komposisi baru terpilih Wind dan Anhedonia. Menuju puncak acara penampilan semakin berkesan karena adanya lagu dangdut Begadang yang digabungkan dengan lagu Nina Bobo, hingga konser ditutup dengan penampilan karya periode baroque Concerto in A minor - Vivaldi.
Transisi setiap lagu diisi dengan percakapan ringan satu arah dari concertmaster yang menyampaikan pesan dan deskripsi setiap karya. Leburan nada-nada paling rendah hingga paling tinggi dari setiap instrumen mengalun dengan teratur, dinamika dari setiap frasa membuat lagu terasa lebih hidup yang kemudian menjadikan setiap inti elemen musikal mampu menyatu dalam harmoni.
Dukungan dari ruangan tertutup di Auditorium menawarkan pengalaman akustik dan visual yang mengesankan. Selama konser berlangsung, lampu yang sengaja dinyalakan hanya untuk menyoroti puluhan pemain orkestra, memberikan efek visual akan kemegahan.
Arya Kitti, 36 tahun, mengatakan membawa unsur musik daerah ke dalam sebuah karya tidak serta-merta membuat karya tersebut menjadi musik tradisi. Ia membedakan musik tradisional dengan karya kontemporer yang mengambil inspirasi dari musik folk. Menurutnya, penyebutan tersebut juga berkaitan dengan sejauh mana seorang komposer memahami tradisi musik yang menjadi sumber inspirasinya. Karena itu, ia lebih berhati-hati dalam menyebut karya yang dibuatnya sebagai musik tradisi, dan memilih melihatnya sebagai karya kontemporer yang terinspirasi dari musik folk.
Seruan dari Ujung Barat merupakan musik yang sudah ia tulis sejak lama. Karya ini merupakan musik kontemporer yang terinspirasi dari musik daerah, terutama Aceh. Ia menegaskan bahwa ia tidak menyebut karya ini sebagai contemporary folk karena sebagai komposer musik Barat, ia melihat musik Aceh melalui kacamata Barat. Karena itu, ia merasa perlu berhati-hati untuk tidak mengklaim karyanya sebagai bagian dari musik tradisi Aceh, mengingat pemahamannya terhadap tradisi tersebut tetap datang dari sudut pandangnya sebagai komposer dengan latar belakang musik Barat.
Arya sebagai music director AYSO mengatakan, dirinya cukup kesulita dalam mencari repertoar orkestra gesek. Hal ini mendorongnya untuk menggaet komposer-komposer Indonesia dalam setiap pertunjukkan AYSO, sekaligus untuk mendukung perkembangan dan kemajuan penulisan musik orkestra gesek di Indonesia.
Baginya, kebanyakan komposer dunia lebih sering menulis untuk format orkestra besar, sehingga untuk orkestra gesek memiliki kendala tersendiri. Selain itu, tingkat kesulitan ketika karya tersebut dimainkan cukup tinggi.
“Jadi enggak aksesibel kita bilangnya musik-musik yang hanya bisa dimainkan oleh ensemble profesional yang levelnya tinggi banget.” kata Arya.
Baca Juga: PROFIL BANDUNG SYMPHONY ORCHESTRA (BASO)
Merintis Jalan Musisi Orkestra Muda Jawa Barat

Melalui panggilan terbuka, AYSO memberi ruang bagi komposer dan arranger untuk mengirimkan karya yang nantinya dapat dipilih dan dimainkan dalam konser AYSO. Salah satu komposisi baru yang ditampilkan ialah Anhedonia karya Lucyfreia, 33 tahun. Musik kontemporer ini memiliki latar belakang yang cukup bersinggungan dengan tema konser, bercerita tentang pengalaman pribadi dari Lucyfreia yang saat itu sedang mengalami fase “Anhedonia”, yaitu ketidakmampuan untuk merasakan perasaan senang.
“Kayak ini loh orang tuh kalau lagi enggak ada inspirasi dan enggak ada motivasi bikin karya hasilnya kayak gini,” kata Lucyfreia.
Penulisan lagu ini menggunakan pendekatan “French spectralism” yang berfokus pada atmosphere pergantian warna suara dan cenderung tidak melodis. Setiap perubahan dan perkembangan musikal dalam karya ini dilakukan secara bertahap, setiap section sering kali tidak bermain secara berbarengan.
Namun, pengalaman tersebut kemudian hadir dalam bentuk musik yang tidak mudah dicerna. Arya Kitti, menyebut Anhedonia sebagai salah satu karya yang cukup berat secara artistik karena membutuhkan konsentrasi tinggi, baik dari pemain maupun pendengar. Karena karakter tersebut, karya ini tidak ditempatkan berdekatan dengan karya lain yang memiliki tingkat kesulitan serupa, melainkan disisipkan di antara karya yang lebih easy listening agar pendengar tetap memiliki ruang untuk menikmati keseluruhan pertunjukan.
Hal serupa juga dirasakan Adam Zidane, 21 tahun, sebagai pemain kontrabas AYSO. Menurutnya, karya kontemporer menuntut pemain untuk lebih fokus karena tidak memiliki struktur yang seragam. Upaya mencari kebaruan dan mematahkan aturan-aturan lama membuat alur karya menjadi lebih sulit ditebak. Bagi pemain yang terbiasa memainkan karya dengan struktur yang lebih “teratur”, kondisi tersebut membuat mereka harus keluar dari kebiasaan bermain yang selama ini dilakukan.
“Jadi itu sih lebih susah di tebak istilahnya mah jadi karena kita juga biasa main karya yang "teratur" dipaksa buat ngelangkah keluar dari kebiasaan itu,” kata Adam.
Keunikan konser ini tidak berhenti pada penyisipan karya-karya kontemporer yang berat diantara lagu-lagu Nusantara, terdapat pula penampilan lagu dangdut yang digabungkan dengan lagu pengantar tidur, Begadang dan Nina Bobo. Dalam aransemennya, Arya menambahkan alat musik lain yaitu pianika, suling bambu, tamborin dan music box. Alasannya cukup sederhana, ia turut menggunakan beberapa instrumen tambahan untuk membangun suasana tertentu seperti suling bambu setelah sebelumnya ingin menggunakan bird whistle untuk menghasilkan bunyi seperti suara burung.
Menurutnya, bunyi suling tersebut dapat memberikan efek komedi dalam aransemen. Sementara itu, music box digunakan untuk menghadirkan kesan hendak tidur, setengah sadar, atau seperti sedang bermimpi, yang berkaitan dengan gagasan Begadang tentang kondisi ketika seseorang tidak bisa tidur.
Di sisi lain Galuh Novara, 19 tahun, salah satu penonton, datang dengan perkiraan bahwa konser akan banyak membawakan musik Indonesia. Namun, pertunjukan justru mempertemukan lagu-lagu Indonesia dengan bentuk musik lain, termasuk karya dari periode baroque. Dari seluruh karya yang ditampilkan, bagian yang menggunakan sampel “Nina Bobo” menjadi yang paling ia ingat.
“Paling aku suka yang iya paling memorable itu yang tadi ada ngambil sampel dari lagu Nina Bobo karena itu selain dari musikalnya yang semakin lama makin pelan dan katanya menggambarkan komunikasi antara ibu dan anak gitu. Visualnya juga mendukung di mana lampu lama-lama makin redup jadi menggambarkan kayak orang harus tidur gitu,” ujar Novara.
Ragam musik dalam Kolase Irama Indonesia pun ditutup dengan karya dari periode baroque. Pada penghujung pertunjukan, AYSO membawakan Concerto in A Minor karya Antonio Vivaldi, melengkapi perjalanan musikal konser yang sebelumnya mempertemukan lagu-lagu Nusantara, aransemen baru, hingga komposisi kontemporer dalam satu pertunjukan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


