• Berita
  • Kenapa Bandung? Bandung Kenapa?

Kenapa Bandung? Bandung Kenapa?

Sejarah, budaya , dan solidaritas komunitas membentuk Bandung sebagai kota kreatif. Di balik itu, ruang hidup menyusut dan kesejahteraan pekerjanya dipersoalkan.

Diskusi publik bertajuk DengarLangsungDari Bandung: Warisan Kreatif dan Wajah Barunya, yang digelar di Gallery Yuliansyah Akbar, Jalan Cigadung Raya Barat, Sabtu, 26 September 2026. (Foto: Riyan D Apriliyana/BandungBergerak)

Penulis Ryan D.Afriliyana 28 Oktober 2026


BandungBergerak - Melihat Bandung hari ini tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang yang membentuknya sebagai kota kreatif. Kota ini bukan sekadar ruang tumbuh bagi seniman, arsitek, dan pekerja kreatif, melainkan juga disebut sebagai tempat lahirnya gagasan yang turut membentuk kota-kota lain di Nusantara, termasuk Jakarta.

Marco Kusumawijaya, seorang arsitek, menyoroti peran historis Bandung sebagai tempat tumbuhnya para pemikir dan perancang kota. Menurutnya, banyak orang Bandung yang bekerja di Jakarta, termasuk di bidang arsitektur dan perencanaan kota.

“Sejak dulu orang Bandung tuh banyak kerja di Jakarta, di bidang saya setidaknya. Jakarta itu jarang rusak karena direncanakan oleh orang-orang Bandung,” ungkap Marco.

Ia juga membandingkan ritme hidup kedua kota tersebut. Jika Jakarta menuntut perjuangan yang lebih keras, Bandung menawarkan kehidupan yang relatif santai.

“Kalau di Bandung kan santai naik motor. Perjuangan itu enggak terlalu keras, kalau di Jakarta perjuangan lebih keras,” ucapnya.

Sebutan Bandung sebagai kota kreatif tidak lepas dari munculnya ruang-ruang berproses. Akhir pekan di kota ini bisa diisi dengan pameran, pertunjukan musik, diskusi, pasar kreatif, komunitas lari, hingga kolaborasi antarkomunitas. Berbagai inisiatif tumbuh dari pertemuan warga yang mencoba menciptakan sesuatu, baik melalui karya, gagasan, maupun gerakan kolektif.

Namun, di balik riuh acara dan tumbuhnya ruang kreatif, ada pertanyaan yang tak kalah penting: apakah Bandung masih merawat kondisi yang memungkinkan kreativitas warganya tumbuh? Dan, di tengah perubahan kota, siapa yang masih memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari ekosistem tersebut?

Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu pokok bahasan dalam diskusi publik bertajuk #DengarLangsungDari Bandung: Warisan Kreatif dan Wajah Barunya, yang digelar di Gallery Yuliansyah Akbar, Jalan Cigadung Raya Barat, pada Sabtu, 26 September 2026.

Diskusi ini membahas bagaimana sebuah kota membentuk manusia di dalamnya, mulai dari perspektif arsitektur dan seni hingga industri kreatif. Menggunakan format Open Fishbowl Discussion, forum tersebut membuka ruang percakapan antara pembicara dan audiens melalui dua lingkaran: lingkaran dalam untuk pembicara dan lingkaran luar untuk peserta.

Kenapa Bandung? Kreativitas yang Tumbuh dari Pertemuan

Amanda Manggiasih Paramita, selaku pengarah diskusi, membuka percakapan dengan pertanyaan mengenai pengaruh media sosial terhadap identitas komunitas side stream dan subculture yang selama ini menjadi bagian dari kekhasan Bandung.

Bagi Imania Fitri Fauzy dari Kolektif Burst Solidarity, media sosial tidak serta-merta mengikis identitas komunitas. Sebaliknya, ruang digital dapat menjadi jembatan untuk menjaga hubungan dan memperluas jejaring antarkelompok.

“Dan malah di situ menurut aku media sosial ini membantu beberapa komunitas untuk tetap hadir dan berjejaring,” ujar Imania, yang akrab disapa Nia.

Menurutnya, karakter warga Bandung yang someah (ramah) turut mendorong komunitas untuk terus tumbuh. Keramahan dan keterbukaan itu memungkinkan orang-orang dengan minat berbeda bertemu, membangun hubungan, lalu mengembangkan inisiatif bersama.

Pengalaman serupa muncul dalam cerita Tri Adi Pasha, seorang produser. Baginya, komunitas tidak selalu terbentuk melalui struktur atau label administratif. Ia justru mengenal kehidupan berkomunitas melalui kegiatan ekstrakurikuler musik di SMA Negeri 3 Bandung.

“Buat saya eskul itu adalah salah satu celah pertama buat saya punya embel-embel komunitas,” ucap Tri.

Berawal dari hobi bermain musik, Tri membangun jejaring yang kemudian membawanya ke panggung-panggung kampus. Pengalaman tersebut membuatnya melihat pentingnya ruang untuk berlatih, bereksperimen, dan bertemu dengan orang lain.

“Saya ngerasa itu penting banget, dari live space ini membuat saya tertarik dan belajar,” ungkapnya.

Bagi Tri, ruang semacam itu memungkinkan kreativitas berkembang sebelum seseorang dituntut menghasilkan karya atau memenuhi standar tertentu. Ia membedakan kreativitas sebagai energi pendorong dari predikat kreatif yang kerap dilekatkan pada seseorang.

“Kayaknya kreativitas kita sebagai energi, sebagai dorongan gitu. Itu jauh lebih bisa dirayakan timbang daripada kreatif itu sendiri gitu,” katanya.

Perspektif lain disampaikan Zen RS, yang membedakan komunitas dan kolektif berdasarkan cara keduanya bekerja. Menurutnya, komunitas cenderung konservatif karena menghimpun individu dalam struktur yang sudah ada. Sebaliknya, kolektif memiliki potensi progresif karena dapat membayangkan tatanan baru dan mengubah cara pengambilan keputusan.

Zen mencontohkan Warga Dago Elos sebagai salah satu kolektif yang menonjol di Bandung hari ini. Baginya, gerakan tersebut memperlihatkan bagaimana kekuatan bersama dapat mengubah struktur sosial dan memberi warga kendali atas keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka.

“Karena Dago Elos itu juga lahir dari community sebenarnya. Struktur sosial itu sudah beneran diubah. Collective power untuk ambil keputusan-keputusan terbaik yang menentukan hajat hidup mereka sudah ditentukan oleh masyarakat itu sendiri,” tegas Zen.

Dari ruang musik, jejaring pertemanan, hingga gerakan warga, kreativitas Bandung tumbuh melalui pertemuan dan pengalaman bersama. Akan tetapi, kemampuan untuk berkumpul dan membangun sesuatu tidak hanya ditentukan oleh kemauan warga. Kota juga harus menyediakan ruang yang memungkinkan proses itu berlangsung.

Bandung Kenapa? Ketika Ruang Hidup Menyempit

Zen RS melihat Bandung sebagai kota yang memberi anak muda kesempatan untuk berproses, sebuah kemewahan yang menurutnya sulit ditemukan di Jakarta. Namun, kesempatan tersebut kini berhadapan dengan perubahan tata ruang yang semakin mengkhawatirkan.

Dalam sepuluh tahun terakhir, masuknya pemodal ikut mengubah lanskap kota. Warga asli Bandung perlahan tersisih dari pusat kota ke wilayah pinggiran, sementara pilihan hidup mereka semakin terbatas.

Perubahan ini bukan sekadar persoalan perpindahan tempat tinggal. Ruang kota turut menentukan pengalaman sehari-hari, pertemuan antarmanusia, dan kemungkinan seseorang membayangkan masa depannya.

“Horizon itu dibentuk terutama oleh kemungkinan yang ada di depan mata kita,” tutur Zen.

Pernyataan tersebut memperlihatkan sisi lain dari Bandung sebagai kota kreatif. Di satu sisi, kota ini menyediakan ruang bagi warga untuk bereksperimen dan membangun komunitas. Di sisi lain, penyempitan ruang hidup berpotensi menghilangkan kondisi yang selama ini memungkinkan kreativitas berkembang.

Persoalan itu menjadi semakin relevan ketika Bandung menyandang status sebagai bagian dari jejaring Kota Kreatif UNESCO sejak 2015. Bagi Zen, predikat tersebut tidak boleh membuat publik terjebak dalam romantisasi identitas kota. Sebab, ekosistem kreatif Bandung selama ini justru banyak ditopang oleh tenaga dan pengorbanan warganya sendiri.

"Kota kreatif itu disubsidi oleh tubuh warga, oleh pekerja event yang duitnya baru dibayar setelah event-nya selesai seminggu. Ketika sebuah deck dan anggaran baru jadi RAB di kanvas,” tegas Zen.

Di balik festival, pameran, pertunjukan, dan berbagai agenda kreatif, ada pekerja yang kerap harus menanggung beban produksi tanpa kepastian penghasilan. Karena itu, label kota kreatif tidak cukup diukur dari banyaknya acara atau besarnya perhatian publik. Ukuran yang lebih mendasar adalah apakah orang-orang yang menggerakkan ekosistem tersebut dapat hidup layak dari pekerjaannya.

Zen menyoroti sempitnya harapan kesejahteraan di Bandung, termasuk ketika lulusan baru hanya berani memasang ekspektasi gaji di bawah dua juta rupiah. Situasi tersebut memperlihatkan jarak antara citra kota kreatif dan kondisi ekonomi orang-orang yang membuatnya tetap hidup.

“Predikat kota kreatif baru lunas ketika orang-orang yang membuat Bandung kreatif dapat hidup dari pekerjaannya,” tulis Zen di dalam Zine Bloemen.

Meski demikian, kritik terhadap kondisi struktural Bandung tidak serta-merta menghapus optimisme Zen. Ia justru menemukan harapan pada gerakan akar rumput, terutama orang-orang yang memiliki kesadaran politik kuat meski tidak menempuh pendidikan tinggi.

“Bandung membuat optimisme saya tinggi karena saya melihat banyak sekali orang-orang dengan kesadaran politik paling radikal dan paling berbahaya, justru tidak pernah kuliah,” pungkas Zen.

Optimisme tersebut berangkat dari keyakinan bahwa masa depan kota tidak sepenuhnya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, kepentingan pemodal, atau institusi pendidikan. Warga yang mengorganisasi diri, merawat solidaritas, dan memperjuangkan ruang hidup juga memiliki peran penting dalam menentukan arah Bandung. 

Di sela-sela kepulan asap rokok di warung kopi dan dinginnya malam Dago Elos, kota ini terus menulis takdirnya sendiri. Ceritanya tidak hanya dibentuk oleh penguasa atau pemilik modal, tetapi juga oleh warga yang bertahan, berkarya, dan memperjuangkan hak atas ruang hidupnya.

Baca Juga: Dari Desain untuk Kota Kreatif Bandung
Mencintai Kota yang Tak Sesuai Ekspektasi

Bloemen: Membaca Bandung dari Dua Arah

Berbagai pertanyaan mengenai warisan kreatif dan persoalan struktural Bandung itu dirangkum dalam _Manusia Zine Vol. IV bertajuk Bloemen, sebuah inisiatif Manusa dan Labtek Indie. Zine ini berangkat dari pertanyaan sederhana: kondisi apa yang membuat Bandung dikenal sebagai kota kreatif, dan apakah kondisi tersebut masih dirawat hingga hari ini?

Bloemen membaca Bandung melalui dua sudut pandang yang saling melengkapi. Pertama, “Kenapa Bandung?” Bagian ini menelusuri warisan kolonial, budaya tongkrongan tanpa agenda, serta kebiasaan membongkar-pasang pengaruh luar yang turut membentuk berbagai skena kreatif di Bandung. Sudut pandang ini berupaya memahami bagaimana karakter kota terbentuk melalui sejarah, pergaulan, dan pertemuan berbagai gagasan.

Kedua, “Bandung Kenapa?” Bagian ini mengajak pembaca mempertanyakan siapa yang diuntungkan dan siapa yang tersisih akibat segregasi ruang kota yang akarnya telah terbentuk sejak lama. Perhatian tidak lagi berhenti pada daya tarik Bandung sebagai kota kreatif, tetapi beralih pada kondisi sosial dan ekonomi yang menopang, sekaligus mengancam, keberlangsungan ekosistem tersebut.

“Kenapa Bandung?” adalah pertanyaan tentang kondisi yang memungkinkan kreativitas tumbuh. Sementara itu, “Bandung Kenapa?” merupakan pertanyaan tentang siapa yang masih dapat menikmati kondisi tersebut. Sebab, kota kreatif bukan hanya kota yang ramai oleh kegiatan dan dipenuhi gagasan baru. Kota kreatif juga harus mampu menyediakan ruang hidup, menjamin penghidupan yang layak, dan memberi kesempatan kepada warganya untuk terus tumbuh tanpa harus tersingkir dari kota yang mereka bangun sendiri.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//