• Buku
  • RESENSI BUKU: Lulur Borasih, Hutan, dan Tubuh Perempuan

RESENSI BUKU: Lulur Borasih, Hutan, dan Tubuh Perempuan

Di balik perebutan formula kecantikan antargenerasi, Foggy FF menghadirkan cerita tentang ekofeminisme, pengetahuan lokal, dan perempuan yang melawan.

Novel Borasih karya Foggy FF, cetakan pertama, Maret 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)

Penulis Retna Gemilang27 September 2026


BandungBergerak - Akhir-akhir ini saya sedang tertarik mempelajari kaitannya isu perempuan dan ekologi—yang kemudian terhubung dalam satu pendekatan, yakni ekofeminisme. Dalam buku Borasih, penulis bukunya, Foggy FF coba membedah bagaimana ekofeminisme berlangsung yang lekat dengan warisan nusantara. Lebih dari itu, novel ini membongkar intrik bisnis dalam pendiktean tubuh perempuan sebagai komoditas kecantikan dan bagaimana solidaritas perempuan dapat terbangun.

Borasih merupakan novel tentang upaya mengembalikan jati diri perempuan di tengah struktur patriarki dan menggugat kapitalisme, yang dibungkus dalam narasi produk kecantikan. Cerita ini dibangun dan diturunkan antargenerasi melalui luka, warisan, pengetahuan, kebudayaan, bahkan kasih sayang itu sendiri.

Kita tak dapat menemukan kisah romansa dari novel ini, melainkan kisah solidaritas perempuan. Tentang narasi perlawanan perempuan yang suaranya kerap dipinggirkan dan hanya dijadikan ikon komodifikasi kecantikan. Suatu ide cerita segar yang masih terbilang jarang ditemukan dalam karya sastra.

Berkisah tentang dua trah bangsawan di desa Ciambarang yang berpuluh tahun lamanya menjadi rival bisnis lulur kecantikan Borasih. Trah Wirasandi dari barat, sedangkan trah Galinggih dari timur. Namun, dua perempuan—Sekar Galinggih dan Sinom Wirasandi—memilih melawan. Berlatar tahun 1945 era revolusi menuju kemerdekaan, mereka bersahabat dan berkolaborasi menyusun formula lulur Borasih dari warisan nenek moyang. Mereka menolak batas-batas lelaki di sekitar mereka dan berupaya mengembalikan pemberdayaan perempuan melalui ekofeminisme itu sendiri. 

Sayangnya, belum sempat tersebar luas, Juanda Wirasandi—kakak Sinom Wirasandi dan kekasih gelap Sekar Galinggih—merebut formula tersebut. Tak ayal, melahirkan perdebatan kepemilikan Borasih di dua keluarga hingga turun-temurun. Sekar Galinggih yang sedang mengandung anak Juanda Wirasandi, kecewa dan memilih tinggal sendiri di Hutan Ciambarang. Sedangkan Sinom Wirasandi dinyatakan tidak waras oleh sang kakak dan dipasung hingga akhir hayatnya.

“Perempuan adalah jawaban yang dibutuhkan dunia yang penuh luka ini. Perempuan harusnya menjadi perekat sejarah,” tulis Sekar Galinggih dalam catatan hariannya di Hutan Keramat Bukit Ciambarang, 1965 (halaman 27).

“Jika catatan ini ditemukan, biarlah dunia tahu: tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar memiliki hak atas Lulur Borasih. Karena sebelum diwariskan sebagai warisan keluarga, ia adalah hasil luka.”

Terhitung puluhan tahun, konflik dua keluarga itu terus diwarisi. Perebutan hak paten lulur Borasih makin tidak terhindarkan lagi. Seolah-olah terbentuk perbedaan dualisme: Wirasandi dan Galinggih, Timur dan Barat, tradisi dan modernitas. Terdapat konstruksi patriarkis yang mencegah perempuan bersatu.

Namun, melalui dua perempuan dari generasi ketiga memilih jalan lain, seperti nenek moyangnya. Ada Laras Wirasandi, seorang saintis, penerus lulur Borasih dari Wirasandi berbasis data dan sains. Adapula Ambalika Galinggih, seorang botanis memberdayakan lulur Borasih berdasarkan pengetahuan lokal. Di antara mereka terjalin pertemanan rahasia yang telah lama ditentang oleh keluarga mereka.

"Kita ini saudara sepertinya, secara teknis. Tapi dunia terlalu suka pertunjukan adu perempuan. Dan ini sudah terjadi sekian lama, mengadu domba kekuatan yang seharusnya bersatu," ujar Ambalika kepada Laras (halaman 61).

Mereka mengembalikan identitas murni lulur Borasih dari peninggalan berbagai arsip hingga pengalaman spiritual di Hutan "Keramat" Ciambarang. Mereka menemukan fakta akan peninggalan penguasa perempuan di masa lalu, Ratu Borasih. Mereka juga mengembalikan narasi asli persatuan perempuan peramu yang telah perlahan pudar dan tergantikan dengan narasi perseteruan. 

“Namun bagi Ambalika, melanggengkan kebencian hanya akan menciptakan derita dan kebencian yang baru. Ia ingin memutus siklus itu, dan di sisi lain ia ingin bisa menguasai resep kuno milik nenek buyutnya, tentu dengan penuh strategi.” (halaman 31).

Baca Juga: RESENSI BUKU: Ketika Pecinta Buku Menjadi Pemecah Kasus Misteri
RESENSI BUKU: Memahami Perempuan dalam “Perempuan Jika Itulah Namamu”, Sebuah Buku Karya Maman Suherman

Ratu Borasih

Dalam novel ini, Foggy FF mencoba menggambarkan bahwa perempuan pun mampu berdaya tanpa merawat kebencian. Hal itu digambarkan melalui tokoh Sekar Galinggih, Sinom Wirasandi, Ambalika Galinggih, Laras Wirasandi, bahkan Ratu Borasih itu sendiri. Terlepas dari berbagai kemampuan dan sudut pandang yang berbeda, Foggy FF memperlihatkan pada dasarnya perempuan memiliki satu persamaan yang memungkinkan mereka bersatu dan bersolidaritas.

"Mereka kini mengerti, bahwa perempuan di masa lalu lebih cinta damai dibanding lelaki-lelaki yang mengusung bendera dan senjata," (halaman 185).

Di zaman nusantara dulu, Ratu Borasih memimpin kawasan Ciambarang. Tidak hanya disebut sebagai kawasan hutan keramat dan mitos, lebih dari itu, Ciambarang menyimpan kekayaan ekologi dan kebudayaan yang dirawat oleh para perempuan. Mungkin inilah perwujudan dari ekofeminisme itu sendiri. Bersama para ibu, dukun, dan prempuan perempah, Ratu Borasih membentuk persekutuan rahasia dan menghasilkan formula Borasih kuno.

Lulur itu terbuat dari cendana, gaharu, kayu manis, getah bunga melati, hingga rerempahan Hutan Ciambarang.  Penggunaan lulur Borasih yang disempurnakan dengan langgam perempuan yang memberikan realisme magis melalui delusi. Bukan hanya sebagai formula kecantikan yang selama ini dikomersialkan trah Galinggih dan Wirasandi. Lebih dari itu, lulur Borasih menjadi simbol kepemimpinan perempuan di Ciambarang. 

Namun, patriarki tak menyukai narasi itu. Warisan yang telah perempuan Ciambarang jaga, nyatanya direbut dari kepenguasaan lelaki dan narasinya diubah menjadi suatu mitos mistik yang harus dihindari. Perempuan tak lagi memiliki kuasa atas agensinya sendiri bahkan perlahan dikomersialkan.

"Perempuan… cuma dijadikan alat kuasa oleh tetua-tetua kami yang laki-laki. Dipamerkan, dipakai untuk mengikat persekutuan, disanjung kalau patuh, dibuang kalau melawan kehendak mereka. Kuasa itu hanya boleh dimiliki oleh laki-laki—dan kita hanya boleh berdiri di pinggir dan menonton saja," (halaman 192).

Borasih memberikan refleksi atas situasi itu hari ini. Bahwa masih banyak intrik komodifikasi atas tubuh perempuan dan narasi-narasi yang dibangun membuat perempuan sulit bersatu. Padahal, perempuan memiliki kekuatannya sendiri untuk berdaya. Dan saya rasa, perlahan fenomena itu perlahan bergeser. Dari narasi patriarkis yang seringkali menciptakan internal misoginis (perempuan mengadopsi pandangan patriarkis ke sesama perempuan), menjadi narasi perempuan yang saling menguatkan.

Saya kira butuh perjalanan dan usaha yang besar untuk dapat mengubah narasi itu. Serta butuh usaha kolektif dari sesama perempuan untuk bisa bersatu. Tentang bagaimana mengembalikan ruang aman bagi perempuan untuk berdaya dan menjaga alam bumi dengan cinta kasih.

 

Informasi Buku

Judul               : Borasih

Penulis             : Foggy FF

Genre              : Fiksi Indonesia

Penerbit           : Effington

Cetakan           : Pertama, Maret 2026

Tebal Buku     : 261 + x halaman

ISBN               : 978-602-71537-1-1.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//