• Buku
  • RESENSI BUKU: Nama yang Sama, Manusia yang Berbeda

RESENSI BUKU: Nama yang Sama, Manusia yang Berbeda

Kumpulan cerpen Memburu Muhammad karya Feby Indirani berada dalam arus sejarah hubungan antara sastra dan sakralitas di Indonesia.

Buku kumpulan cerpen Memburu Muhammad karya Feby Indirani. (Foto: Fio F. Yussup)

Penulis Fio F Yussup10 Oktober 2026


BandungBergerak – Akhir-akhir ini publik perbukuan Indonesia kembali riuh rendah membicarakan sebuah buku yang bahkan sebelum dibaca seutuhnya telah lebih dahulu dipersoalkan judulnya. Memburu Muhammad, kumpulan cerpen (kumcer) karya Feby Indirani, menjadi perbincangan karena sebagian masyarakat menganggap penyandingan kata memburu dengan nama Muhammad tidaklah elok rasanya. Bahkan, memunculkan tuduhan jikalau buku tersebut berpotensi menistakan agama. Polemiknya mengemuka menjelang diadakannya diskusi tentang buku tersebut yang seharusnya diselenggarakan pada acara Pekan Sastra Bogor 2026, 20 September 2026. Polemik ini mengingatkan saya pada salah satu cerpen Danarto berjudul Balairung dari kumcernya Gergasi; atau pada kasus yang menimpa Jerinx SID yang menyebut IDI sebagai kacung WHO pada 2020 silam.

Polemik semacam ini sebetulnya bukan hal yang baru dalam skena sastra Indonesia. Riwayat polemik macam ini meniti jalan panjang ketika karya sastra coba ditabrakkan dengan batas-batas sakralitas. Salah satu kasus yang sempat menggegerkan skena sastra Indonesia adalah cerpen Langit Makin Mendung karya Kipandjikusmin yang dimuat dalam majalah Sastra No. 8, Th. VI, Agustus 1968. Cerpen tersebut memicu apa yang kemudian dikenal sebagai Heboh Sastra 1968 sampai pada Majalah Sastra dilarang untuk beredar kembali. Tanggapan pro dan kontra berdatangan, bermunculan, dan bermekaran dari berbagai kalangan, alim-ulama, budayawan, sastrawan, dll., sampai dengan pada puncaknya H.B Jassin selaku redaksi majalah Sastra harus berhadapan dengan pengadilan.

Menariknya, perdebatan dan polemik yang berlangsung antara kekaryaan pengarang dengan sakralitas tidaklah menghasilkan satu jawaban yang sederhana. Jassin mempertahankan perbedaan antara yang profanitas dan saskralitas; antara sastra dan agama; antara imajinasi dan ketauhidan. Baginya, sebuah karya sastra bekerja dengan logikanya sendiri sehingga tidak serta-merta dapat diukur menggunakan ukuran yang sama dengan teks keagamaan. Sebaliknya, sebagian pihak melihat persoalan tersebut dari sudut penghormatan terhadap akidah dan kemuliaan tokoh agama.

Dengan latar macam itu, Memburu Muhammad sebenarnya menarik untuk dibaca bukan hanya judulnya yang mengusik dan menyengat, tetapi karena ia berada dalam arus sejarah hubungan antara sastra dan sakralitas di Indonesia. Namun, sebelum terlalu jauh membicarakan polemiknya, pertanyaan mendasar barangkali perlu diajukan yaitu buku ini bercerita tentang apa?

Baca Juga: RESENSI BUKU: Menebang Pohon Sunda
RESENSI BUKU: Mengingat Kembali Ikatan antara Manusia dan Alam dalam Semesta Manusia Sunda
RESENSI BUKU: Lulur Borasih, Hutan, dan Tubuh Perempuan

Manusia dan Kehidupan Beragama

Lebih kurang, Memburu Muhammad merupakan kumcer yang terdiri dari 19 cerpen. Cerpen-cerpen tersebut ditulis Feby Indirani sekitar tahun 2019 dan berlanjut hingga rampung pada situasi pandemi. Dari keseluruhan cerita, tampak kecenderungan bahasan yang coba dibawakan oleh Feby, agama tidak hanya ditempatkan sebagai seperangkat aturan yang harus dijalankan, sebaliknya sebagai sesuatu yang terus-menerus dinegosiasikan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Pun kumcer ini sekaligus menjadi buku kedua dari trilogi Islamisme Magis, setelah buku pertamanya berjudul Bukan Perawan Maria (2017).

Tema besar yang diangkat oleh Feby adalah kritik terhadap cara manusia menjalani kehidupan beragama. Cerpen pembuka, misalnya, mengangkat persoalan gibah. Feby menerjemahkan larangan yang dalam ajaran Islam sering dijelaskan malalui metafora memakan daging saudara sendiri ke dalam gambaran yang eksplisit, anak-anak menyaksikan orang dewasa sedang memakan daging saudaranya sendiri.

Menurut saya, di sinilah kekuatan cerpen tersebut ketika Feby melakukan deteritorialisasi terhadap suatu dogma sekaligus defamiliarisasi terhadap sesuatu yang terlampau klise. Gagasan keagamaan yang abstrak tidak hanya dijelaskan begitu saja, ia diubah menjadi gambaran konkret yang mengusik imajinasi pembaca. Feby membuat pembaca seolah melihat kembali sesuatu yang sehari-hari dianggap biasa melalui bentuk yang asing sekaligus mengerikan. Hal tersebut dilakukan tidak hanya pada cerpen pertama kumcer ini, pun pada beberapa cerpen lain, misal, “Melukis Tuhan”; “Hidup Kedua Kiai Zahid”; atau “Kisah Cinta Azazil”.

Akan tetapi, tidak seluruh cerpen dalam kumcer ini menurut saya memiliki keberhasilan yang sama. Ada beberapa cerpen yang terasa terlalu dipaksa untuk menanggung beban gagasan. “Siap, Pemain Pertama?” dan “Suatu Pagi di Hidup Jibril”, misalnya, terasa kurang mampu berdiri dibandingkan beberapa cerpen lainnya. Bukan berarti gagasan yang hendak disampaikan tidak menarik. Persoalannya lebih terletak pada bagaimana gagasan tersebut disatupadukan menjadi sebuah cerita. Feby dalam hemat saya gagal melakukan abstraksi terhadap gagasan atau ide yang coba disampaikannya.

“Suatu Pagi di Hidup Jibril”, misalnya, tampaknya ingin memperlihatkan jikalau Tuhan tetaplah Tuhan apa pun bahasa dan bentuk yang digunakan manusia untuk menyebut-Nya--hal itu terlihat dari bagaimana kata Tuhan direpresentasikan dari berbagai bahasa, misal, Tailan, Rusia atau pun Yunani. Gagasan semacam ini sebenarnya memiliki kemungkinan-kemungkinan yang menarik, terutama ketika ia dikelindankan dengan persoalan bahasa, representasi, dan keterbatasan manusia dalam memahami hakikat Tuhan itu sendiri. Namun, cara cerita tersebut bergerak menurut saya terasa seperti mencari jalan pintas menuju kesimpulan yang sudah ditentukan sejak awal.

Hal yang lebih kurang sama saya rasakan ketika membaca, “Siap, Pemain Pertama?”. Cerpen tersebut tampaknya memanfaatkan adaptasi gagasan yang mengingatkan pada film Ready Player One, tetapi dibawa ke arah yang berbeda. Eksperimen semacam ini sebenarnya menjadi menarik jika bentuk cerita dan gagasannya saling menguatkan. Dalam cerita ini, menurut saya, hubungan tersebut masih belum sepenuhnya berhasil.

Pun selain dua cerpen tersebut, cerpen berjudul, “Hikayat Kota (Lima Cerita yang Mungkin Terjadi di Kota Anda)” juga mengalami nasib yang sama ketika abstraksi kurang mampu dilakukan. Cerpen tersebut, sama seperti “Siap, Pemain Pertama?”, memanfaatkan adaptasi. Kali ini adaptasinya dari kisah seorang sufi, Rabi’ah Al-Adawiyah, puisi Leigh Hunt, dan ceramah K.H. Jalaluddin Rakhmat, tetapi hasil adaptasinya kurang terasa dihadirkan begitu saja. Mengapa? dalam hemat saya gagasan yang disampaikan melalui cerita tersebut terkesan hadir sebagai pamflet kritik sosial belaka. Narasi cerita malah terdesak oleh hasrat menyampaikan wacana secara langsung, sehingga terjebak dalam pesan moral tanpa melebur matang ke dalam penokohan atau pun alur yang pada akhirnya macam cerita hidayah ilahi atau komik stensil Tatang S atau Feby malah terkesan mencipta semacam dogma tandingan.

Sebaliknya, cerpen seri Tuantu--begitu saya menyebutnya--entah berjudul, “Pengincar Perempuan Tuantu” entah itu “Tiada Pandemi di Tuantu” atau “Tiada Pandemi di Tuantu (2)”. Feby ingin melancarkan kritik terhadap pemerintah dalam penanganan pandemi kala itu atau pun kontrol masyarakat terhadap tubuh perempuan melalui abstraksi Tuantu sebagai alternatif latar penceritaan. Hasil akhirnya cerpen tersebut terasa lebih menyatu antara gagasan dengan abstraksi yang dilakukan Feby. Di dalam cerpen seri Tuantu ini, referen yang digunakan tidak sekadar menjadi tempelan untuk menyampaikan pesan, melainkan telah diolah menjadi bagian dari konstruksi cerita--meskipun untuk cerpen yang berjudul “Pengincar Perempuan Tuantu”, rasa-rasanya seperti menyimak utas di X. Kemudian, bagaimana dengan cerpen “Memburu Muhammad” yang  sekaligus menjadi judul buku ini?

Cerpen tersebut menghadirkan Abu Jahal yang hidup kembali pada zaman sekarang. Ia datang ke sebuah kelurahan dengan satu tujuan, mencari kanjeng Rasul. Yang dicari oleh Abu Jahal sudah barang tentu bukan hanya sekadar nama, Muhammad, belaka. Ia membawa gambaran tertentu tentangnya, “...jujur, tapi lihai berbisnis; andal berpolitik, tapi tidak haus jabatan; saudagar yang berhasil, tapi teramat miskin; gagah dan dipuja perempuan, tapi menikahi janda tua.”. Namun, yang ditemukan Abu Jahal hanyalah deretan orang Indonesia bernama Muhammad yang tidak sesuai dengan gambaran di kepalanya. Pencariannya akhirnya berubah menjadi kekecewaan. Ia menemukan nama yang sama, tetapi manusia yang berbeda.

Di sinilah judul Memburu Muhammad memperoleh maknanya. Kata memburu tidak lagi sekadar berarti mencari seseorang, tetapi dapat dibaca sebagai usaha mencari kembali idealisasi persona yang nilai-nilainya justru mungkin semakin jauh dari kehidupan orang-orang yang mengaku mengikutinya. Seperti dikatakan Nadirsyah Hosen dalam pengantar buku ini, persoalannya justru terletak pada jarak antara pengagungan terhadap kanjeng Rasul dan usaha meneladani kehidupan yang diasosiasikan dengan beliau. Oleh karena itu, menarik apabila kumcer Memburu Muhammad dibaca berdampingan dengan beberapa karya yang pernah mempertemukan sastra dan sakralitas, meskipun tentu saja konteks dan strategi estetiknya terlampau jauh berbeda.

Sastra dan Sakralitas

Jika Langit Makin Mendung mempertemukan imajinasi dengan persoalan representasi secara eksplisit dalam badan ceritanya, Memburu Muhammad mengambil jalan yang agak berbeda. Ia tidak menggambar kanjeng Rasul sebagai tokoh yang hadir secara eksplisit, tetapi kehadirannya digantikan oleh penacarian akan sosok persona kanjeng Rasul melalui nama, ingatan, dan perilaku manusia masa kini. Dengan kata lain, yang dipersoalkan bukan hanya bagaimana sebuah persona digambarkan, sebaliknya bagaimana manusia yang menyandang atau mengucap nama kanjeng Rasul menjalani kehidupannya.

Pun selanjutnya, dalam sejarah sastra Indonesia pertanyaan mengenai sastra dan sakralitas sudah muncul dalam bentuk yang berbeda jauh sebelumnya melalui Atheis karya Achdiat K. Mihardja. Novel tersebut menguliti pergulatan Hasan, seorang muslim yang mengalami krisis eksistensi ketika berhadapan dengan gagasan-gagasan modern, marxisme, dan nihilisme. Oleh karena itu, Atheis penting bukan lantaran berpolemik yang identik dengan Langit Makin Mendung atau pun Memburu Muhammad–meskipun polemik filmnya mirip dengan Memburu Muhammad yaitu masalah judul yang dirasa bertentangan dengan sila pertama–tetapi, karena ia menunjukkan bahwa sastra Indonesia sejak lama menggunakan fiksi untuk membawa persoalan keagamaan keluar dari wilayah doktrin yang mapan dan memasukkannya ke dalam pengalaman manusia yang dipenuhi keraguan, konflik batin, perubahan zaman, dan pencarian akan makna.

Dengan demikian, dari kekaryaan tersebut memperlihatkan beberapa kemungkinan hubungan antara sastra dan sakralitas. Atheis memperlihatkan agama sebagai persoalan keyakinan yang berhadapan dengan modernitas dan ideologi. Langit Makin Mendung memperlihatkan benturan antara imajinasi dan batas representasi terhadap yang profan dan yang sakral. Pun Memburu Muhammad berada di antara kemungkinan-kemungkinan tersebut. Ia menggunakan humor, absurditas, pembalikan, dan ironi untuk mengkritik perilaku keberagamaan kita sehari-hari. Oleh sebab itu, barangkali pada akhirnya pertanyaan yang mendasar dari apakah judulnya menghina; provokatif; kontroversial; strategi marketing; atau apalah. Seharusnya menjadi mengapa judul tersebut terasa mengganggu bagi sebagian pembaca dan apa sebenarnya yang sedang diburu oleh pengarang melalui nama kanjeng Rasul?

Pertanyaan tersebut justru membawa kita kembali kepada pergumulan argumen. Abu Jahal memang mencari kanjeng Rasul. Namun, setelah membaca keseluruhan cerita, mungkin yang lebih penting bukan apakah Abu Jahal berhasil menemukan kanjeng Rasul atau pun berujung pada kekecewaan, melainkan apakah persona kanjeng Rasul ditemukan di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang mengaku mencintainya? Pada akhirnya, polemik mengenai kumcer Memburu Muhammad barangkali memang bermula dari judul yang terlalu provokatif bagi sebagian kalangan dan menimbulkan kegaduhan–yang belakangan kuketahui judul salah satu buku Hilal Asyraf lebih provokatif dibandingkan kumcer Feby Indirani. Namun, pembaca yang baik seharusnya tidak berhenti pada sampul semata, bukankah gusti Allah memberikan wahyu pertamanya kepada kanjeng Rasul adalah tugas untuk membaca? Kita perlu masuk ke dalam cerita, membaca bagaimana simbol-simbol digunakan, bagaimana kritiknya dibangun, dan apakah kritiknya berhasil menjadi pengalaman estetik atau justru sekaligus menjadi pengalaman asketik.

Sebab sejarah sastra telah menunjukkan bahwa persoalan sastra dan sakralitas hampir tidak pernah sesederhana pertanyaan apakah sebuah karya menghina atau tidak menghina. Di belakangnya selalu terdapat persoalan lain yang lebih kompleks, batas imaji, kebebasan berekspresi, sensitivitas keagamaan, tanggung jawab pengarang, cara pembaca membaca, entah kemampuan kita dalam membedakan serta memilah pesan setiap simbol yang dibaca mana yang mesti dimasukkan ke dalam hati dan mana yang mesti dimasukkan ke dalam pikiran.

Informasi Buku

Judul: Memburu Muhammad

Penulis: Feby Indirani

Tahun Terbit: 2020

Penerbit: Bentang Pustaka

Jumlah Halaman: xiv + 210

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//