• Buku
  • RESENSI BUKU: Mengingat Kembali Ikatan antara Manusia dan Alam dalam Semesta Manusia Sunda

RESENSI BUKU: Mengingat Kembali Ikatan antara Manusia dan Alam dalam Semesta Manusia Sunda

Ismi Rinjani dalam buku terbarunya Semesta Dunia Sunda mengembalikan ingatan soal nilai-nilai Sunda yang memaknai hubungan manusia dan alam layaknya ibu dan anak.

Sampul buku Semesta Dunia Sunda: Hidup Selaras dengan Alam dan Leluhur karya Ismi Rinjani. (Foto Sumber: bukumojok.com)

Penulis Nabila Eva Hilfani 21 September 2026


BandungBergerak – “...akar krisis modern berakar dari hilangnya kesadaran akan posisi manusia di hadapan alam,” satu kutipan penyadaran yang ditulis Ismi Rinjani dalam buku terbarunya Semesta Dunia Sunda: Hidup Selaras dengan Alam dan Leluhur.

Persis seperti hari ini yang tidak hentinya tanah dikeruk hingga titik dasar. Berhektar-hektar hutan dicerabut untuk membuka lahan perkebunan. Gunung-gunung digunduli untuk bisnis perumahan. Seakan alam sepenuhnya berhak dimiliki oleh manusia.

Ismi mengembalikan ingatan soal nilai-nilai Sunda yang memaknai hubungan manusia dan alam layaknya ibu dan anak. Saling merawat dan menjaga. Meski yang dituliskannya ini tidaklah dipenuhi dengan penjelasan kaku soal nilai-nilai Sunda layaknya hasil penelitian, tapi justru banyak dihangatkan dengan berbagai pengalamannya tumbuh di keluarga Sunda abad ke-20.

Nilai-nilai kesundaannya terasa hadir tapi juga berjarak. Itu lah yang dirasa ketika membaca pengalaman hidup seorang penulis sekaligus artisan jamu kelahiran Sumedang ini.  Persis seperti yang ia katakan pada bab pembuka, “Hari ini saya hidup sebagai orang Sunda yang tidak sepenuhnya tinggal dalam tradisinya, tapi juga tidak selebihnya lepas darinya.”

Buku ini juga akhirnya menjadi jawaban atas kedekatannya dengan minuman tradisional yang ia gemar kembangkan dan perayaannya soal keberlanjutan hidup sehari-hari.

Bukunya tidak terlalu tebal, hanya diisi 130 halaman. Berwajahkan ilustrasi perempuan berpakaian oranye dengan mahkota sambil menggenggam seikat tumbuhan padi yang menyerupai sosok Dewi Sri Pohaci.

Baca Juga: RESENSI BUKU: Mengapa Kepanikan Massal Akibat Bencana Membutuhkan Kambing Hitam Segera?
RESENSI BUKU: Gus Dur, Hari Kemerdekaan, dan Pemerintah yang Tidak Perlu Dibela
RESENSI BUKU: Menebang Pohon Sunda

Sunda dan Penghargaannya Atas Alam Semesta

Kedekatan yang merenggang antara manusia dan alam hari ini, Ismi menggambarkannya mulai dari satu kebiasaan paling sederhana yaitu makan. Hari ini proses panjang pemerolehan sepiring kenikmatan hasil bumi dari penanaman saja sudah tidak lagi banyak dilakukan oleh masyarakat, sehingga koneksi dengan alam tidak lagi dekat.

Terpenting makanan bisa tersaji dengan cepat dan praktis. Hanya pemenuhan kebutuhan tubuh. Soal penghargaan alam dan penjagaan ekosistem dirasa bukan lagi satu hal utama yang harus dilakukan, karena hubungan yang berjarak itu.

Kesadaran itu Ismi rasakan justru ketika melakukan satu kebiasaan dalam budaya Sunda yang diajarkan ayahnya yaitu, perapalan jangjawokan selain doa sebelum menikmati makanan yang siap disantapnya.

Perapalan jangjawokan digambarkan Ismi sebagai pengalaman mengambil jeda untuk menaruh perhatian penuh atas hasil bumi yang akan dinikmati. Menumbuhkan keyakinan bahwa alam semesta dan seisinya saling terhubung dan menopang satu sama lain.

Sedari situlah ia sadar, manusia hari ini telah hilang keyakinannya akan ketidakmampuan hidup tanpa hal-hal lain yang mengitarinya. Hanya mementingkan dirinya sendiri, menganggap alam hanyalah objek yang bisa dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan.

Begitu magis dan menyadarkan, ketika Ismi menceritakan bagaimana waktu jeda yang diambilnya itu dapat menjadi koneksi dirinya dengan semua entitas semesta lainnya hingga yang tidak terlihat.

Kesadaran itu juga melahirkan penyadaran lebih dalam soal nilai-nilai Sunda yang selama ini hadir di sekitarnya.

Tarapti kana tekad, ucap, laku, lampah atau menjaga niat, kata, dan perbuatan. Silih asuh, silih asah, silih asih, atau yang berarti saling mengasah, saling mengasuh, dan saling mengasihi.

Dari prinsip dan falsafah Sunda yang iya dapatkan dari keluarganya itu menyadari bahwa Sunda mengajarkan panduan hidup tentang keterhubungan dan keseimbangan.

“Manusia tidak akan pernah bisa berdiri sendirian. Ia sebaiknya menyadari sekaligus menghormati keberadaan orang lain dan lingkungan yang mengitarinya,” ucapnya.

Bentuk Penjagaan dalam Budaya Sunda

Nilai-nilai Sunda yang diajarkan keluarganya tidak hanya berakhir pada pemaknaan atas segala sesuatunya. Ismi melengkapi ceritanya dengan pengalaman mempraktikkan nilai kesundaaan di keseharian: memilih menu makan hari-hari, merawat tanah yang menumbuhkan tiap hasil bumi yang dinikmatinya, sampai bahkan bagaimana membangun rumah.

Rumah saat kecilnya dibangun dengan gaya rumah tradisional Sunda, rumah panggung. Ismi menceritakannya cukup rinci. Rumahnya dbangun di atas tanah berundak yang tidak ia ratakan dan lantainya lebih tinggi 30-40 cm yang ditopang dengan batu kali besar dan kayu tebal layaknya rumah panggung Sunda seperti di gambar-gambar buku pelajaran sekolah.

Material yang digunakannya saja adalah bahan yang diperoleh dari hasil penanaman sendiri selama puluhan tahun, seperti kayu, ijuk, bambu, hingga pelepah daun kelapa.

Rumah dibangun mengikuti bentuk bentang alam. Tanpa mengubahnya. Tanpa merusaknya. Bahkan, bentuk rumah panggung ini menjadi bentuk paling sesuai dengan bentang alam tanah Sunda yang cenderung dilintasi berbagai sesar aktif.

Perlakuan kehati-hatian terhadap memperlakukan tanah sebagai sumber penghidupan pun tidak lewat ia ceritakan. Bagaimana budaya Sunda mengajarkan segalanya tetap tumbuh sebagaimana mestinya tanpa memaksakan apa yang harus tumbuh kali ini atau seberapa cepat hasilnya bisa didapat.

“Tanah tidak perlu ‘dipaksa’ subur, cukup dirawat dan dijaga keseimbangannya. Merawat tanah bukanlah soal efisiensi, tapi sebuah hubungan timbal balik,” tulis Ismi.

Bagaimana budaya Sunda mengajarkan soal perawatan tanah yang hati-hati, Ismi menyambungkannya sampai ke bagaimana akhirnya tubuh yang menyelaraskan diri dengan tanah, bukan tanah yang dipaksa mengikuti kebutuhan manusia seperti hari ini.

Lalaban yang menjadi hidangan utama orang Sunda menjadi simbol dan ingatan. Simbol penghargaan atas tumbuhan yang tumbuh hari ini, itulah yang dimakan, dan ingatan soal tubuh yang bisa hidup dari apa yang tumbuh di sekitar.

Rajutan cerita tumbuh Ismi bersama nilai-nilai Sunda yang ia dapatkan seperti satu pengingat kita yang hidup hari ini. Begitu berjarak dan tidak banyak menghargai apa yang ada dan tumbuh di sekitar. Padahal, kita manusia layaknya entitas lain yang ada di semesta, tidak bisa hidup sendiri, saling berkaitan dan membutuhkan.

Informasi Buku

Judul: Semesta Manusia Sunda: Hidup Selaras dengan Alam dan Leluhur
Penulis: Ismi Rinjani
Penerbit: Buku Mojok
Tahun: Cetakan 1, Juni 2026.
ISBN: 978-623-8463-27-5
Jumlah Halaman: x-130 halaman.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//