• Berita
  • RESENSI BUKU: Mengapa Kepanikan Massal Akibat Bencana Membutuhkan Kambing Hitam Segera?

RESENSI BUKU: Mengapa Kepanikan Massal Akibat Bencana Membutuhkan Kambing Hitam Segera?

Catastrophe! karya Christopher J. Ferguson membahas respons pikiran kita saat bencana datang. Mengapa manusia baik justru sering memperburuk krisis?

Buku Catastrophe!: Bagaimana Psikologi Menjelaskan Mengapa Orang Baik Membuat Situasi Sulit Menjadi Semakin Buruk karya Christopher J. Ferguson. (Foto: Daffa Fadillah/BandungBergerak)

Penulis Daffa Fadillah6 September 2026


BandungBergerak - Kembali ke masa awal pandemi Covid-19, ketika kelangkaan tisu toilet menjadi salah satu fenomena yang masih lekat dalam ingatan warga Amerika Serikat dan sejumlah negara lain. Rak-rak minimarket dan supermarket kosong karena tisu toilet diborong dalam jumlah besar.

Kelangkaan tersebut bukan disebabkan oleh turunnya produksi tisu toilet, melainkan oleh kepanikan masyarakat yang membeli barang secara bersamaan dalam jumlah berlebihan karena khawatir kehabisan. Fenomena ini dikenal sebagai panic buying.

Momen yang jika dilihat sekarang akan terasa cukup konyol itu justru menjadi salah satu pintu masuk favorit Christopher J. Ferguson dalam Catastrophe!: How Psychology Explains Why Good People Make Bad Situations Worse.

Buku setebal 258 halaman ini diterbitkan Prometheus Books pada November 2022, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Catastrophe!: Bagaimana Psikologi Menjelaskan Mengapa Orang Baik Membuat Situasi Sulit Menjadi Semakin Buruk.

Ferguson, seorang profesor psikologi di Stetson University, memiliki pertanyaan mendasar tentang latar belakang penulisan bukunya: mengapa manusia yang sebagian besar sebetulnya berniat baik, justru kerap membuat situasi sulit menjadi jauh lebih buruk dari yang seharusnya.

Buku ini tidak berhenti pada cerita kelangkaan tisu toilet. Ferguson menariknya lebih jauh ke pola yang sama pada peristiwa-peristiwa besar lainnya, seperti kebakaran hutan yang penanganannya tak pernah benar-benar mengikuti prosedur yang sudah dirancang, hingga bagaimana masyarakat Amerika berubah sesudah peristiwa 9/11, dan pembunuhan George Floyd.

Semua studi kasus ini disatukan oleh benang yang sama, yaitu ketika rasa takut kolektif muncul akan menyebabkan kemampuan berpikir jernih kita justru yang pertama kali roboh.

Yang menarik, kepanikan ditempatkan bukan sebagai kegagalan moral segelintir orang jahat. Ferguson justru menekankan bahwa mayoritas pelaku dalam studi kasusnya adalah orang baik-baik, seperti petugas yang taat prosedur, ilmuwan yang jujur, warga biasa yang cuma ingin keluarganya aman.

Ferguson menyebut pola pikir semacam ini sebagai warisan evolusi, di mana otak manusia dirancang untuk merespons ancaman langsung di depan mata, bukan untuk menghitung probabilitas jangka panjang secara dingin. Ketika ancaman itu abstrak dan lambat, seperti krisis iklim, justru di situ nalar kita paling mudah tersesat.

Baca Juga: RESENSI BUKU: Pesan Misterius di Toko Kelontong Namiya
RESENSI BUKU: Cahaya Terang Bintang Merah untuk Negara Dunia Ketiga

Ketika Trauma Berubah Jadi Panggung

Bagian paling tajam dari buku ini, menurut saya, ada pada analisisnya soal bagaimana trauma kolektif berubah menjadi arena politik. Christopher J. Ferguson memperlihatkan bahwa peristiwa trauma besar semacam serangan teror atau kematian yang direkam dan disebarkan luas, hampir selalu diikuti oleh dorongan sosial untuk cepat-cepat menyimpulkan siapa yang salah dan menghukumnya di ruang publik.

Ia menyebut kecenderungan ini dekat dengan apa yang dulu digambarkan sosiolog Stanley Cohen dalam Folk Devils and Moral Panics (1972) yang menyatakan bahwa masyarakat butuh sosok yang bisa disalahkan agar rasa cemas kolektif terasa punya arah.

Persoalannya, penghukuman cepat semacam ini jarang menyembuhkan luka yang sebenarnya. Ia hanya memindahkan kecemasan dari satu sasaran ke sasaran lain. Ferguson juga menyinggung bagaimana budaya "meng-cancel" seseorang di ruang digital mirip dengan perburuan kambing hitam pada bencana alam.

Buku ini secara implisit mengingatkan bahwa tekanan untuk ikut arus opini, apalagi ketika algoritma menghadiahi kemarahan dengan lebih banyak tayangan, membuat ruang untuk berpikir pelan-pelan semakin sempit.

Padahal menurut Ferguson, justru keputusan yang diambil pelan-pelanlah yang paling sering menyelamatkan situasi krisis, bukan yang diambil paling cepat.

Meski begitu, saya perlu jujur bahwa buku ini punya keterbatasan yang cukup terasa. Sebagian besar studi kasusnya berpijak sangat kuat pada konteks Amerika Serikat, dari politik pandemi ala AS sampai ketegangan rasial pascakematian George Floyd, sehingga pembaca Indonesia perlu melakukan lompatan sendiri untuk menerjemahkannya ke konteks lokal.

Buku ini bisa mengantarkan pembacanya, khususnya saya yang tidak memiliki latar belakang psikologi sedikit pun, dengan pembawaan memberikan cerita secara detail lalu dibedah oleh Ferguson dapat membantu saya dalam memahami konsep dan istilah psikologi yang dijelaskan Ferguson.

Dengan demikian, Catastrophe! bukan buku yang menjanjikan mitigasi bencana yang lebih canggih atau kebijakan publik yang lebih baik. Ia justru mengajak pembacanya menengok ke dalam, ke cara pikir yang sering kita anggap wajar padahal keliru.

Ferguson menutup bukunya dengan optimisme yang hati-hati. Manusia memang mudah panik, tetapi juga punya kapasitas untuk belajar dari kekacauan yang mereka ciptakan sendiri.

Bagi siapa pun yang penasaran mengapa krisis kecil bisa membesar hanya karena orang-orang baik mengambil pilihan yang keliru pada waktu yang salah, buku ini layak jadi bacaan berikutnya.

Informasi Buku

Judul asli: Catastrophe!: How Psychology Explains Why Good People Make Bad Situations Worse

Judul dalam terjemahan Bahasa Indonesia: Catastrophe!: Bagaimana Psikologi Menjelaskan Mengapa Orang Baik Membuat Situasi Sulit Menjadi Semakin Buruk

Penulis: Christopher J. Ferguson

Penerbit: Prometheus Books

Penerbit di Indonesia: Elex Media Komputindo

Tahun terbit: 2022

Tebal: 258 halaman (versi asli) & 336 halaman (versi terjemahan bahasa indonesia).

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//