• Buku
  • RESENSI BUKU: Cahaya Terang Bintang Merah untuk Negara Dunia Ketiga

RESENSI BUKU: Cahaya Terang Bintang Merah untuk Negara Dunia Ketiga

Buku Bintang Merah Menerangi Dunia Ketiga karya Vijay Prashad bercerita tentang sisi lain Revolusi Oktober di Uni Sovyet dan pengaruhnya di berbagai belahan dunia.

Buku Bintang Merah Menerangi Dunia Ketiga karya Vijay Prashad. (Foto: Prita Kusumaningtyas)

Penulis Prita Kusumaningtyas22 Agustus 2026


BandungBergerakJika kau lelah dengan kejamnya dunia, bacalah buku sejarah yang dituliskan oleh ilmuwan berhaluan kiri, kelak kau akan merasa tersembuhkan.

Pernyataan tersebut sangat cocok untuk menggambarkan perasaan ketika membaca buku yang ditulis oleh Vijay Prashad. Ia adalah seorang sejarawan yang juga merupakan pendiri lembaga riset dengan haluan Marxisme, Tricontinental. Prashad sudah menghasilkan banyak karya, salah satunya adalah buku Bintang Merah Menerangi Dunia Ketiga. “Bintang Merah” adalah simbol untuk pergerakan kaum komunis, sedangkan “Dunia Ketiga” adalah negara-negara di kawasan Asia, Afrika hingga Amerika Latin yang terdiri dari negara-negara yang pernah terjajah dan hingga saat ini masih berkembang.

Buku ini pertama kali diterbitkan tahun 2017, tepat seratus tahun setelah Revolusi Oktober yang terjadi pada tahun 1917. Dalam buku ini, Prashad menuliskan relevansi Revolusi Oktober yang menggaungkan perjuangan untuk kaum buruh dan tani di seluruh dunia, terutama Dunia Ketiga. Buku ini merupakan buku yang relatif tipis, halamannya berjumlah kurang dari dua ratus lembar saja. Namun, setiap babnya penuh dengan fakta sejarah yang berkaitan dan sayangnya jarang diketahui oleh publik secara luas.

Melihat betapa tipisnya buku ini, pembaca mungkin akan menganggap ini adalah bacaan ringan yang mudah diselesaikan dalam waktu beberapa jam. Namun kisah-kisah dalam buku ini bukanlah sekadar kisah belaka, sebab isinya terdiri dari peristiwa-peristiwa nyata yang pernah terjadi pada begitu banyak orang di berbagai belahan dunia. Kisah-kisah yang diwarnai dengan rasa haru, peristiwa pertumpahan darah, hingga kobaran semangat kaum tertindas. Cerita yang penuh dengan aspirasi dari masa lalu untuk masa yang akan datang. Beberapa jam tidak akan sanggup untuk menampung gejolak perasaan yang dihasilkan setelah membaca buku ini, maka sisihkanlah waktu lebih lama untuk membacanya.

Baca Juga: RESENSI BUKU: Kedung dan Selubung di Balik Panggung
RESENSI BUKU: Pekerjaan Rumah Dunia Pendidikan yang Menumpuk sejak Pagebluk
RESENSI BUKU: Belajar dari Cerita Perlawanan Pekerja Ojek Online di Tiga Kota

Bacalah dengan Tenang

Warna-warninya emosi yang dapat dihasilkan ketika membaca buku ini bahkan membuat Prashad menganjurkan pembaca untuk membacanya dengan tenang seperti yang dituliskan dalam bagian Prakata:

Buku kecil ini berusaha menjelaskan kekuatan Revolusi Oktober bagi Dunia Ketiga. Ini bukanlah kajian yang komprehensif, melainkan sejilid buku kecil dengan harapan besar—bahwa suatu generasi baru akan melihat pentingnya revolusi ini bagi kelas buruh dan tani di belahan dunia yang menderita di bawah tumit dominasi kolonial.

Banyak cerita yang tidak hadir di sini dan banyak yang tidak diulas sepenuhnya. Hal itu wajar dalam buku seperti ini. Namun kisah-kisah ini penuh perasaan, cerminan aspirasi. Mohon dibaca dengan tenang.

Prashad tidak berbohong dengan dua kalimat terakhir yang ditulisnya. Buku ini pada kenyataannya memang dipenuhi dengan kisah yang mengaduk perasaan.

Buku ini dibuka dengan mendekatkan pembaca dengan Vladimir Lenin, sosok krusial dalam keberhasilan Revolusi Oktober. Pada bab awal diceritakan bagaimana pemimpin Revolusi Oktober tersebut merupakan sosok yang sederhana dan bersajaha. Dua wartawan Jepang yang mendatanginya untuk wawancara menjelaskan bahwa sosoknya jauh dari ekspektasi awal, ruangan kerja Lenin merupakan ruangan yang sederhana, dan ia memperlakukan mereka seakan kawan lama. Titik awal ini sangat penting karena sifat-sifat yang digambarkan tersebut merupakan sifat yang tidak diduga datang dari Lenin. Seseorang yang berhasil mengajak begitu banyak orang lain untuk meruntuhkan rezim brutal Tsar Rusia. Dan, walaupun ia sudah berada di puncak kekuasaan paling tinggi di negaranya saat itu, walaupun ia sangat bisa hidup bermewah-mewahan, ia tetap tampil sederhana. Penjelasannya ini langsung melunturkan anggapan tentang Lenin yang selama ini secara umum digambarkan sebagai sosok otoriter dan kejam.

Tidak hanya memperkenalkan sisi lain dari seorang Lenin, Prashad juga banyak memperkenalkan tokoh-tokoh revolusioner dari berbagai macam belahan dunia. Nama-nama seperti Ho Chi Minh dari Vietnam, Fidel Castro dan Che Guevara dari Kuba, Mao Ze Dong dan Zhou Enlai dari China, hingga Nehru dari India. Mungkin nama-nama tersebut sudah sangat umum terdengar. Namun ada banyak nama lain di buku tersebut yang mungkin baru didengar dan tidak luput dari penceritaannya seperti Toussaint L’Overutre yang memimpin Revolusi Haiti, revolusi kulit hitam pertama. Ada pula bagian yang menceritakan Avetis Sultan-Zade yang merupakan pendiri Partai Komunis Persia di Iran. Dari Indonesia, Prashad pun tidak melupakan dua sosok luar biasa yakni Tan Malaka yang pernah hampir menjadi ketua Komunis Internasional dari Indonesia dan D. N. Aidit yang memimpin partai komunis ketiga terbesar di dunia.

Ilustrasi di dalam buku Bintang Merah Menerangi Dunia Ketiga karya Vijay Prashad. (Foto: Prita Kusumaningtyas)
Ilustrasi di dalam buku Bintang Merah Menerangi Dunia Ketiga karya Vijay Prashad. (Foto: Prita Kusumaningtyas)

Bacaan yang Emosional

Selain memuat kisah-kisah yang penuh dengan perasaan dan sarat dengan fakta sejarah krusial, keistimewaan buku ini juga terletak pada gaya kepenulisannya. Jika kebanyakan buku sejarah nonfiksi membuat pembaca lelah dengan penjabaran yang kaku dan cenderung menggurui, maka hilangkan prasangka tersebut untuk buku ini. Dengan pemilihan kata-kata yang indah, pembaca dimanjakan dengan kisah yang menyentuh hati. Namun, seakan tidak mau pembacanya terlena, ia juga memilih kata-kata yang menyemangati dan memantik pembaca untuk membuat perubahan. Penerjemahan oleh Ronny Agustinus juga sangat layak untuk dipuji karena kobaran semangat Prashad tidak lantas padam dalam versi terjemahan. Berikut adalah bagian kecil dari banyaknya penulisan Prashad yang indah dan bersemangat:

[Bab: Kenangan Akan Komunisme, hal. 129]

Tiga belas tahun telah berlalu sejak Revolusi Oktober. Revolusi sudah banyak dicemooh. “Kapitalisme,” tulis Trotsky dalam simpulannya, “butuh seratus tahun untuk melambungkan sains dan teknik ke ketinggian dan menceburkan manusia ke dalam neraka peperangan dan krisis. Sedangkan kepada sosialisme, musuh-musuhnya hanya memberi waktu lima belas tahun untuk mencipta dan mengisi surga di muka bumi ini. Kita [Uni Soviet] tak memberi kewajiban tersebut pada diri sendiri. Kita tak pernah menetapkan tanggal-tanggal ini. Proses transformasi raksasa harus diukur dengan timbangan yang memadai.” Namun ia tidak punya waktu untuk berkembang.

Uni Soviet bertahan hanya 70 tahun. Ini periode waktu yang sangat pendek dalam cakupan sejarah dunia. Pencapaian-pencapaiannya dikecilkan, kejatuhannya dijadikan argumen utama untuk membantah pencapaian-pencapaiannya. Namun, semata-mata lenyap bukan berarti bahwa ia tak punya jasa. Ia memberi kita jaminan bahwa sebuah negara kaum buruh dan tani bisa ada, bahwa ia bisa menciptakan kebijakan-kebijakan yang menguntungkan rakyat luas alih-alih segelintir orang kaya, bahwa ia bisa menyembuhkan dan mendidik alih-alih menyengsarakan dan membunuh. Ini sesuatu untuk dijadikan pegangan.

Pemilihan kata yang bermetafora seperti yang tertulis di cuplikan di atas membuat pembaca tidak hanya membaca fakta sejarah yang membosankan, melainkan juga benar-benar diajak ikut merasakan kedalaman emosional dari peristiwa walaupun sudah terjadi bertahun-tahun lalu.

Tepat seperti judul yang diberikan, buku ini memberikan pembaca secercah harapan, cahaya dari “Bintang Merah” untuk warga dunia ketiga yang hingga kini masih terus tertindas di bawah sistem usang yang berkuasa. Buku kecil ini seakan mengingatkan pembaca bahwa penderitaan yang kamu alami sekarang sudah pernah dialami banyak orang lain, dan pada suatu titik, orang-orang seperti dirimu berhasil melawan dan memenangkan perjuangannya.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//