• Buku
  • RESENSI BUKU: Ketika Pecinta Buku Menjadi Pemecah Kasus Misteri

RESENSI BUKU: Ketika Pecinta Buku Menjadi Pemecah Kasus Misteri

Novel Toko Buku Kucing Hitam karya Piergiorgio Pulixi tentang pemilik toko buku dan klub bukunya yang berusaha memecahkan kasus pembunuhan.

Buku Toko Buku Kucing Hitam karya Piergiorgio Pulixi bersama kucing-kucing yang menggemaskan. (Foto: Najwa Ramadhani/BandungBergerak)

Penulis Najwa Ramadhani28 Maret 2026


BandungBergerak – Di tengah hiruk pikuk dunia, toko buku sering kali menjadi ruang sunyi bagi orang-orang yang ingin bernapas sejenak. Di sana mereka menyusuri rak untuk menemukan bacaan yang lama dicari, menghirup aroma kertas yang khas, atau bertukar pikiran dengan orang yang sama dengannya.  

Begitu pula dengan Kucing Hitam, atau Les Chats Noirs, sebuah toko buku yang berlokasi di Cagliari, Italia, dalam novel fiksi Toko Buku Kucing Hitam karya Piergiorgio Pulixi. Toko buku ini dimiliki oleh Marzio Montecristo, seorang mantan guru matematika yang mendirikannya setelah diberhentikan dari sekolah tempat ia mengajar.

Melalui buku ini, Piergiorgio Pulixi menghadirkan sebuah cerita perpaduan antara misteri dan kasih sayang. Cerita tersebut merupakan pemecahan kasus pembunuhan berantai yang sangat kejam dan terorganisir. Di antara rumitnya kasus tersebut Piergiorgio Pulixi juga menggambarkan hubungan antar tokoh yang hangat, jauh dari kata “kejam”.

Mungkin bagi sebagian pembaca, atau calon pembaca, dua kucing hitam yang berada di sampul dan judul buku ini menjadi tokoh utama atau teman si tokoh utama yang mengikuti kemana pun si tokoh utama pergi. Nyatanya, dua kucing hitam tersebut, Miss Marple dan Poirot, tidak berperan besar dalam alur cerita. Giving a heads up untuk yang ingin membaca hanya karena kucing hitam di sampul.

Salah satu kelebihan dari buku “Toko Buku Kucing Hitam” adalah bagaimana Piergiorgio Pulixi memberikan pembaca sebuah cerita misteri pembunuhan yang dirangkai sederhana, tidak membingungkan. Cocok untuk pembaca pemula atau yang ingin bacaan ringan. Sang penulis juga membagi cerita ke dalam puluhan bab sehingga tidak akan membosankan untuk dibaca.

Toko Buku Kucing Hitam

Seperti biasa, Marzio memulai paginya dengan secangkir kopi di teras, ditemani sinar matahari, dan kicauan burung yang bernyanyi merdu. Tapi yang berbeda dari biasanya, tidak ada kemacetan saat Marzio menuju pusat kota, tempat di mana toko bukunya berdiri. Selain itu, sampai di titik ia membuka pintu toko, menyalakan lampu dan komputer, dan mendengarkan musik, ia belum mengeluarkan sumpah serapah satu pun. Hingga pelanggan pertama pada hari itu membuka mulutnya.

Tokoh Marzio digambarkan sebagai seseorang yang pemarah, tidak ramah, dan kasar. Tidak heran jika banyak pelanggan yang keluar dari toko buku ini sambil mengucapkan sumpah serapah padanya. Perilaku tersebut yang membuat toko buku sepi.

Tapi, Miss Marple dan Poirot menyelamatkannya. Berkat konten rekomendasi buku oleh kucing yang diunggah ke media sosial karena suatu keisengan, toko buku menjadi ramai. Buku apa pun yang “direkomendasikan” Miss Marple dan Poirot akan laku.

Tidak hanya Miss Marple dan Poirot, ada keunikan lain dari toko buku ini yang menjadi daya tarik bagi sebagian orang, dan mungkin juga sumber kebangkrutan Marzio. Toko ini hanya menjual buku misteri.

Buku-buku misteri itu menarik perhatian seseorang seperti Nunzia, wanita tua pencinta misteri, untuk datang. Cukup untuk mendirikan Klub Buku Detektif Selasa yang membuat toko buku hidup kembali, dalam artian suasana maupun pemasukan finansial.

Nunzia digambarkan sebagai seorang wanita tua yang memiliki semangat tinggi dan mudah bergaul. Berkatnya, banyak orang yang datang untuk menjadi bagian dari Klub Buku Detektif Selasa. Nunzia adalah jiwa Toko Buku Kucing Hitam dan penyelamat Marzio. Marzio sangat berterima kasih padanya dan menyayanginya, bahkan ketika Nunzia mulai melupakannya.

Baca Juga: RESENSI BUKU: Merayakan Pertemuan Singkat dalam Funiculi Funicula
RESENSI BUKU: Serigala Betina, Perempuan Liar, dan Perempuan Penyihir

Klub Buku Detektif Selasa

Dalam buku ini, Piergiorgio Pulixi berhasil menunjukkan bahwa sebuah klub atau komunitas dapat menghidupkan kembali suatu hal yang sudah ditinggalkan oleh banyak orang atau yang berpotensi akan dilupakan. Buku, contohnya. Di tengah kota yang serba cepat dan penuh kesibukan, masih ada di antaranya tempat di mana orang-orang dapat berkumpul hanya untuk membaca sebuah buku dan mendiskusikan cerita apa yang mereka temukan di dalamnya.

Klub Buku Detektif Selasa berkumpul di Toko Buku Kucing Hitam setiap hari Selasa. Syarat mengikui klub ini cukup dengan membeli buku di Toko Buku Kucing Hitam. Setiap pertemuan akan membahas buku misteri yang berbeda.

Sebelum penyakit menyerang Nunzia, Klub Buku Detektif Selasa memiliki banyak anggota. Namun, anggota tersebut menjadi semakin berkurang ketika Nunzia mulai fokus pada kesehatannya hingga menyisakan empat anggota setia.

Suasana hangat terasa ketika buku ini menceritakan kedekatan keempat anggota dan Marzio saat hari selasa tiba. Dengan perbedaan dan keunikan masing-masing, mereka dapat berkumpul dan bersatu dengan satu tujuan: buku, ditemani Miss Marple dan Poirot suka menuntut usapan di kepala.

Hubungan kelima penghuni Klub Buku Detektif Selasa semakin erat setelah mereka berhasil memecahkan kasus kriminal lama yang diberikan teman Marzio yang merupakan seorang detektif.

Piergiorgio Pulixi kembali membawakan sesuatu yang menarik dalam bukunya ketika kelima orang tersebut diberi tantangan oleh detektif yang sama untuk memecahkan kasus pembunuhan berantai yang masih berjalan. Bagi pembaca buku misteri, tantangan seperti ini dapat membangkitkan rasa semangat dan melayangkan pemikiran mereka hingga ujung dunia.

Lemahnya Penegakan Hukum

Tidak hanya soal buku misteri, Piergiorgio Pulixi juga mengangkat isu yang mungkin terasa dekat dengan banyak orang di berbagai belahan dunia, yaitu ketika penegak hukum tidak berpihak pada yang lemah, walaupun tidak secara gamblang.

Ketidakadilan tersebut yang menjadi alasan bagi sebagian orang untuk bertindak irasional, seperti pelaku di  balik terbunuhnya beberapa orang dan menyisakan dua orang saksi dalam kasus tersebut. Dua orang tersebut harus hidup dengan trauma yang dalam, menyaksikan orang tersayang meninggal karena pertanyaan sederhana yang dilontarkan pelaku.

Pelaku membenarkan tindakannya dengan merujuk pada tragedi kelam dalam hidupnya, yang semakin memburuk ketika aparat penegak hukum tidak berpihak kepadanya karena kepentingan pribadi. Fenomena semacam ini tampaknya bukan hal yang asing dalam realitas, bukan?

Marzio dan Klub Buku Detektif Selasa berhasil memecahkan kasus tersebut.

Gaya penulisan Piergiorgio Pulixi cenderung ringan, tetapi tetap efektif membangun ketegangan. Sang penulis membiarkan cerita bergerak perlahan, membuka rahasia demi rahasia seiring perkembangan alurnya. Namun, mungkin sebagian pembaca setuju jika Piergiorgio Pulixi dalam keadaan terburu-buru saat menulis bagian akhir buku. Semua terasa begitu cepat dan tiba-tiba.

Setelah membaca halaman terakhirnya, pembaca akan terbayang sebuah toko buku kecil di Italia, pemiliknya yang pemarah, dua kucing hitam, klub buku yang semakin terasah pemikirannya, dan mungkin, satu misteri kecil yang penulis biarkan tetap menjadi misteri.

Informasi buku

Judul buku: Toko Buku Kucing Hitam

Penulis: Piergiorgio Pulixi

Penerbit: Penerbit BACA

Cetakan: Pertama, Juni 2024

Jumlah halaman: 300

Bahasa: Indonesia.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//