RESENSI BUKU: Merayakan Pertemuan Singkat dalam Funiculi Funicula
Buku Funiculi Funicula: Before The Coffe Gets Cold karya Toshikazu Kawaguci mengingatkan tentang waktu sebagai ruang serba singkat dan terbatas, namun penuh makna.
Penulis Nuzulia Purwanto 8 Februari 2026
BandungBergerak.id – “Sepertinya kamu harus menulis resensi tentang buku ini Nuzul,” demikianlah seseorang berkata kepada saya.
Saya tidak merasa pandai dalam menilai suatu karya secara menyeluruh atau menggali makna mendalam yang ingin disampaikan oleh penulis dari sebuah kisah. Namun kisah yang diangkat dalam novel ini mengingatkan saya pada sebuah perbincangan tentang pentingnya menghargai seseorang yang ada bersama kita saat ini, menghargai kehadirannya. Sehingga dalam resensi ini saya akan cenderung membahas nilai tersebut.
Funiculi Funicula: Before The Coffe Gets Cold adalah buku pertama dari trilogi Funiculi Funicula karya Toshikazu Kawaguci. Terdiri dari 223 halaman yang terbagi menjadi empat kisah utama.
Berkisah tentang sebuah kafe kecil di bawah tanah bernama Funiculi Funicula yang dikelola oleh sepasang suami istri yang dibantu oleh beberapa karyawan. Hal yang berbeda dari kafe ini adalah bisa membawa kita menembus ruang dan waktu. Ketika rumor menyebar, kafe itu menjadi begitu terkenal. Setiap hari selalu terbentuk antrian panjang pengunjung yang ingin mencobanya. Namun secara instan keramaian itu hilang ketika mereka mengetahui berbagai peraturan yang harus dipenuhi sebelumnya.
Novel ini berhasil saya selesaikan dalam waktu satu hari. Alur ceritanya yang cukup ringan dan mudah dimengerti. Mengingat ini adalah novel terjemahan, kosa kata yang digunakan pun lugas tanpa banyak metafora. Kendati demikian saya sempat mengalami kesulitan dalam memahami gaya penulisannya, terutama pada halaman-halaman pembuka. Selain itu, terdapat beberapa percakapan yang menurut saya pribadi tidak terlalu memberikan pengaruh besar dalam cerita. Namun anggap saja bahwa hal tersebut terjadi disebabkan miskinnya pengalaman saya dalam membaca karya sastra Jepang, sehingga membutuhkan penyesuaian yang cukup serius.
Baca Juga: RESENSI BUKU: Ketika Kekerasan Seksual di Ruang Digital Merembet ke Fisik
RESENSI BUKU: Bisri Muhamad dan Mawar Tanpa Mengapa
RESENSI BUKU: Serigala Betina, Perempuan Liar, dan Perempuan Penyihir
Kenyataan yang Tidak akan Berubah
Toshikazu Kawaguchi berhasil menghadirkan tema penjelajahan waktu secara berbeda dari kebanyakan narasi fiksi ilmiah. Ia tidak menempatkan perjalanan waktu menjadi terobosan teknologi yang hebat, melainkan menjadi ruang yang lebih manusiawi. Perjalanan waktu dalam ceritanya bukanlah soal sejauh apa kita mampu menembus masa lalu atau masa depan, tetapi tentang alasan terdalam mengapa seseorang ingin kembali atau melangkah ke waktu yang lain.
Terdapat enam peraturan yang harus dipenuhi oleh mereka yang ingin melakukan perjalanan waktu. Peraturan-peraturan ini menjadi sesuatu yang sangat kontemplatif dan bisa dicari maknanya lebih dalam. Salah satu yang menarik bagi saya adalah meskipun bisa kembali ke masa lalu itu tidak berarti akan mengubah kenyataan yang telah terjadi.
Saya yakin banyak dari kita yang ingin kembali ke masa lalu karena ingin menebus sebuah kesalahan, menyesali suatu tindakan yang telah dilakukan dan berharap dapat mengubah semuanya menjadi sesuatu yang kita inginkan. Begitu pula saya. Berkali-kali saya berpikir “seandainya saya tidak melakukan hal itu, mungkin semuanya tidak akan seperti ini”. Namun apa yang sudah terjadi adalah sesuatu yang tidak bisa kita atur sesuka hati, melainkan sebuah ketetapan. Kita harus mengubur harapan itu dalam-dalam karena kenyataannya ketika kita kembali ke masa lalu dan mengubah sesuatu, berpotensi terjadinya sebuah momen yang paradoksial. Dalam novel ini kita dihadapkan pada kenyataan tersebut, bahwa meskipun kita kembali ke masa lalu, apa pun yang terjadi selanjutnya tidak akan ada yang berubah. Peraturan ini menjadi salah satu alasan mengapa banyak yang urung melakukan perjalanan menembus ruang dan waktu, merasa peraturan itu hanya akan membuatnya menjadi sia-sia. Meskipun di antara banyak orang yang mundur, ada pula yang tetap bersikeras melakukannya dengan alasan yang lain, seperti ingin sekedar berbicara kepada seseorang atau menyampaikan apa yang tak sempat disampaikan ketika seseorang itu telah tiada.
Kembali ke masa lalu tidak akan mengubah kenyataan dan pergi ke masa depan hanyalah kesia-siaan. Demikian salah satu kalimat penting dalam buku ini. Waktu menjadi medium refleksi, bukan alat untuk mengubah takdir, melainkan sarana memahami bahwa makna yang sebenarnya terletak pada penerimaan dan kesadaran atas pilihan hidup yang telah dan akan dijalani.
Terkadang manusia terlalu berambisi ingin kembali ke masa lalu atau mencemaskan masa depan sehingga sering kali membuatnya menjadi depresi. Hal-hal seperti ini pun membuat kita tidak bisa menikmati saat ini, sehingga terkadang kita lupa untuk “hadir” di saat ini.
Filosofi Sebuah Cangkir Kopi
Setelah siap dan memenuhi lima peraturan sebelumnya, pelayan akan menyuguhkan segelas cangkir kopi pahit panas sebagai pintu gerbang untuk memulai perjalanan waktu. Untuk bisa kembali ke saat ini, kita harus segera meminumnya sampai habis sebelum kopi itu menjadi dingin.
Before the coffe gets cold, menurut saya ini adalah sebuah metafora yang sangat menarik. Bukan hanya bicara tentang segelas kopi panas atau sebuah peraturan semata. Kalimat ini berbicara lebih keras kepada kita untuk lebih menghargai waktu dan menghargai kehadiran seseorang yang sedang bersama kita saat ini. Terkadang kita merasa bahwa seseorang itu akan selalu ada bersama kita selamanya. Hingga sering kali membuat kita lupa untuk menghargai waktu yang mereka berikan, kita lupa menghargai kehadirannya. Mungkin saja waktu yang kita miliki bersama seseorang itu tidak lebih lama dari segelas kopi yang panas menjadi dingin dan habis. Sampai yang kita temui hanyalah penyesalan setelah seseorang itu tiada. Kita tidak pernah tahu sampai kapan masa itu akan bertahan. Bagi saya ini menjadi penting karena di dunia yang serba cepat dengan berbagai distraksi seperti saat ini sering kali membuat kita melupakan kehadiran seseorang meskipun dia ada di hadapan kita.
Suatu hari saya bertemu dengan seseorang di sebuah kafe, kami sama-sama memesan segelas kopi Americano panas yang disajikan dalam sebuah cangkir hitam. Kopi itu berwarna hitam pekat dengan asap yang mengepul di atasnya, menandakan bahwa kopi itu sangat panas. Kami membicarakan banyak hal, seperti teman yang sudah lama tidak bertemu, berbincang sambil sesekali menyesap kopi dalam cangkir. Sampai pada saat kopi dalam cangkir itu menjadi dingin dan habis, kami pun mengakhiri pertemuan hari itu. Dalam perjalanan pulang, ada senyum kecil muncul di wajah saya, sebab pertemuan singkat itu mengingatkan saya pada cerita dalam novel ini: bahwa terkadang, yang paling berharga bukanlah lamanya waktu, melainkan kehangatan yang sempat dibagi sebelum segalanya usai.
Pertemuan itu membuat saya menyadari bahwa waktu yang kita miliki sering kali hanya sepanjang segelas kopi. Seperti dalam Funiculi Funicula, waktu bukanlah sesuatu yang bisa diregangkan sesuka hati, melainkan ruang yang singkat dan terbatas, namun penuh makna. Selama kopi itu masih hangat dan belum habis, kita diberi kesempatan untuk berbagi cerita, mendengarkan, dan hadir sepenuhnya. Ketika cangkir itu kosong, waktu pun menutup dirinya. Kontemplasi yang ditawarkan novel ini terasa dekat dengan pengalaman tersebut: bahwa keajaiban bukan terletak pada kemampuan kembali ke masa lalu, melainkan pada keberanian memanfaatkan waktu yang singkat untuk mengatakan hal-hal yang penting, sebelum semuanya berubah menjadi kenangan. Dalam keterbatasan itulah, setiap percakapan dan setiap pertemuan menjadi berarti dan menemukan maknanya.
Informasi Buku
Judul: Funiculi Funicula: Before The Coffe Gets Cold
Penulis: Toshikazu Kawaguchi
Penerbit: Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 223 halaman.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

