RESENSI BUKU: Serigala Betina, Perempuan Liar, dan Perempuan Penyihir
Ester Lianawati membagi karaker perempuan ke dalam istilah yang tidak lazim, seperti serigala betina, perempuan liar, dan perempuan penyihir.
Penulis Retna Gemilang1 Februari 2026
BandungBergerak - Akhir-akhir ini saya tertarik mendalami isu feminis, di saat banyak komunitas yang memperjuangkan kesetaraan gender di tengah masih kentalnya budaya patriarki. Buku "Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan: Psikologi Feminis untuk Meretas Patriarki" membuka pandangan saya soal psikologi feminis.
Seperti yang kita tahu, budaya patriarki, di mana perempuan dianggap gender kedua setelah laki-laki, sudah mengakar beratus-ratus tahun lamanya. Terlebih, ilmu psikologi banyak dikembangkan oleh para ilmuwan laki-laki yang teori dasarnya diambil dari kehidupan laki-laki.
Buku yang ditulis Ester Lianawati berangkat dari realita bahwa kita memang sudah hidup di era modern yang mengakui hak-hak perempuan. Akan tetapi, banyak pula perempuan yang belum memahami dirinya sendiri, bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan.
Psikolog yang sudah menetap di Prancis sejak 2012 itu kemudian menyoroti kultur negara kita yang tidak memberikan kebebasan sepenuhnya kepada perempuan untuk mendefinisikan hidupnya. Kehidupan perempuan masih didikte sesuai dengan kultur yang berlaku di masyarakat, yaitu patriarki.
Saya mengangguk setuju dengan penilaian Ester. Karena memang itu jugalah yang saya alami. Contoh kecilnya saat saya remaja, mengapa adik laki-laki saya lebih dibebaskan dalam berekspresi keluar rumah, dibandingkan saya yang harus lebih sering berdiam diri di rumah, membantu urusan domestik, dan minim diberi ruang untuk berekspresi.
Dalam buku ini ide-ide psikologi dan budaya feminisme banyak berkiblat dari Prancis dan Eropa yang kemudian direfleksikan ke dalam budaya Indonesia. Ide buku lahir dari para filsuf dan psikoanalisis tentang bagaimana cara perempuan dapat menyelidiki diri, melihat jauh ke dalam batin, dan berdialog dengannya. Dengan demikian, keinginan dan jati diri perempuan lahir dari dalam dirinya, bukan bagian dari pendiktean masyarakat semata.
Baca Juga: RESENSI BUKU: Bisri Muhamad dan Mawar Tanpa Mengapa
RESENSI BUKU: Ketika Kekerasan Seksual di Ruang Digital Merembet ke Fisik

Psikologi Feminis
Banyak sekali perdebatan psikologi feminis yang dikemas menarik oleh Ester. Namun, psikoanalisis perempuan pertama asal Rusia, Sabina Naftoulovna Spielrein menarik perhatian saya. Ia adalah mantan pasien sekaligus pasangan kedua Carl Jung. Tokoh perempuan ini tidak mengembangkan teori, tapi ia sangat kritis. Spielrein mengkaji bahwa psike perempuan ada pada empatinya saat berelasi dengan orang lain.
“Perempuan, dalam pandangan Spielrein, mampu memahami dan merasakan pengalaman serta pemikiran orang lain. Perempuan mengelaborasi apa yang dialami orang lain, memaknainya, melakukan reinterpretasi setelah refleksi berdasarkan pengalaman pribadi,” (halaman 72).
Selain empati, reinterpretasi juga jadi kekuatan perempuan dalam melawan budaya patriarki. Carol D. Ryff, psikolog perempuan, menggagas teori kesejahteraan psikologis. Bahwa setiap orang mampu menjadi sejahtera dengan reinterpretasi.
Pada dasarnya, menurut Ryff, perempuan dapat melakukan reinterpretasi terhadap kondisi dan pengalaman hidupnya. Bisa terhadap diri sendiri, tuntutan masyarakat, dan terhadap situasi “ketidaksempurnaan” perempuan. Pembahasan lengkapnya bisa dibaca pada subbab “Aku Perempuan, Aku Tidak Sempurna.”
“Menjadi sejahtera adalah menjadi diri sendiri yang telah bebas dari upaya mencapai kesempurnaan, dari kekhawatiran untuk menjadi tidak normal karena berbeda atau menyimpang dari apa yang sudah ditentukan masyarakat,” (halaman 143).
Kartini
Ester melihat, Kartini menjadi tokoh perempuan Indonesia yang mampu mencapai kesejahteraan psikologis. Di saat Kartini kecil menderita karena penderitaan ibunya yang seorang selir Bupati Jepara, ia manfaatkan dengan belajar yang tekun dalam pendidikan sekolah rendah Belanda.
Saat ia umur 12 tahun, ia mulai menjalani pingitan, sementara kakak laki-lakinya bisa menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Tapi Kartini memanfaatkan previlage putri bangsawannya dengan belajar mengenai feminisme Barat dan politik di tanah Jawa.
Meski pada akhirnya ia terpaksa menikah dengan Bupati Rembang, banyak sejarawan yang menilai bahwa Kartini takluk dan menjadi ikon dependensi terhadap laki-laki. Tapi Ester menilai bahwa keputusan Kartini adalah bentuk keberhasilan kesejahteraan psikologis. Kartini tetap memiliki tujuan hidup, meski berada di posisi yang tidak menyenangkan.
Ia telah mempertimbangkan bahwa suaminya akan mendukung cita-citanya dalam mendirikan sekolah perempuan bumiputra dan diberi kebebasan berekspresi melalui surat-surat yang ditulisnya.
“Bila kita menyadari realitas yang berlangsung di masanya, pernyataan tersebut justru menunjukkan Kartini sebagai ‘pemberontak’ yang realistis,” (halaman 179).
Ia menerima nasib seolah hidupnya telah ditentukan dan tidak akan mampu mengubah struktur yang berlaku. Tapi ia berhasil mencari celah dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan pada masa itu.
Serigala Betina, Perempuan Liar, dan Perempuan Penyihir
Ester banyak menggunakan istilah yang “ekstrem” terhadap perempuan, seperti serigala betina, perempuan liar, bahkan perempuan penyihir. Sekilas saat kita membacanya, mungkin istilah tersebut berkonotasf negatif. Justru Ester memandang sebaliknya. Ketiga istilah ini menjadi penguat bahwasanya perempuan berdaya, otonom, namun tetap berempati dan belas kasih.
Pertama, serigala betina. Serigala sering berstigma makhluk buas, pemangsa, hewan bertaring, dan lainnya. Padahal, serigala betina didefinisikan oleh Ester adalah binatang pelindung. Sebagaimana insting ibu, ia menyayangi anak-anaknya dengan sepenuh hati dan tidak akan membiarkan mereka terluka. Sebagai pasangan, serigala betina juga setia tanpa bergantung pada pasangannya.
Psikoanalisis Clarissa Pinkola Estes membuat karya buku “Women who Run with the Wolves: Myths and Stories of the Wild Women Achetype”. Estes melihat kesamaan perempuan dengan serigala betina. Mereka memiliki pengindraan yang tajam, intuisi kuat, berani, peduli terhadap sesama, mampu beradaptasi dalam berbagai situasi dan kondisi, kekuatan, hingga daya tahan.
“Ada serigala betina dalam diri setiap perempuan. Ini pesan yang saya tangkap dari karya Estes. Jika banyak perempuan tidak menyadarinya, itu karena keliaran perempuan sejak lama ditekan oleh masyarakat,” (halaman 109).
Kedua, perempuan liar yang dimaknai oleh Ester berarti hangat dan autentik, bukan sosok yang mengerikan dan tidak terkendali. Perempuan liar punya batasan diri yang jelas, karena sudah memiliki tangki cinta yang cukup. Perempuan liar juga tidak otoriter. Ia tegas, berani, otonom, bahkan mandiri dalam mengambil keputusan kontroversial yang mendobrak nilai-nilai tradisional jika itu yang terbaik.
“Ketika keputusan kontroversial yang pernah ia ambil ternyata tidak membuahkan kebaikan yang sesuai yang ia harapkan, perempuan liar tidak menyalahkan diri ataupun orang lain,” (halaman 111).
Ketiga, perempuan penyihir yang sering diasosiasikan sebagai perempuan lajang, perempuan janda, atau perempuan yang tidak memiliki anak yang membuat ramuan ajaib atau beracun. Dalam catatan sejarah di negeri Eropa, banyak perburuan perempuan penyihir karena mayoritasnya mereka tidak mengikuti ajaran gereja.
Setelah penelusuran lebih lanjut, Ester mendefinisikan perempuan penyihir ialah lambang kecerdasan dan kemandirian. Mereka memiliki pengetahuan soal dunia medis, mampu mengendalikan tingkat “kesuburan” dan tubuh. Banyak sekali turunan pembahasan perempuan penyihir ini yang bisa dibaca dengan memaknainya lebih dalam.
“Jika Anda adalah perempuan dan Anda berani melihat ke dalam diri Anda, Anda adalah penyihir,” (halaman 224).
Ester lebih banyak mengajak pembaca untuk menyelidiki diri, menerimanya sebagai bagian dari diri sendiri, dan menemukan kekuatan serta potensi penuh dalam menjalani kehidupan sebagai perempuan yang utuh.
Informasi Buku
Judul Buku: Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan: Psikologi Feminis untuk Meretas Patriarki
Penulis: Ester Lianawati
Genre: Gender
Penerbit: Buku Mojok Group
Terbit: Cetakan ketujuhbelas, Juli 2025
Tebal buku: xii + 292 halaman
ISBN: 978-623-94979-0-3.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

