Pertemuan Kecil di Festival Sastra Ciwidey 2026: Menyusuri Wajah Puisi Jawa Barat
Kepenyairan Jawa Barat terus berubah. Dari rubrik sastra dan komunitas pada era media cetak hingga zine, media sosial, dan ruang-ruang baru.
Penulis Muhammad Akmal Firmansyah28 September 2026
BandungBergerak - Puisi kini tidak lagi hanya ditemukan di halaman koran, majalah, atau buku. Di tengah perkembangan media sosial, puisi hadir lebih dekat dengan pembaca melalui layar, dibagikan, dibacakan, dan dipertukarkan tanpa bergantung pada ruang-ruang sastra konvensional. Perubahan medium tersebut turut mengubah cara penyair memperkenalkan karya sekaligus membentuk ekosistem kepenyairan.
Di Jawa Barat, perubahan itu merupakan bagian dari perjalanan panjang. Sebelum media digital berkembang, koran, majalah, dan komunitas kebudayaan menjadi ruang penting bagi penyair untuk mempublikasikan karya, membangun jejaring, dan menemukan pembacanya. Dari ruang-ruang tersebut, kepenyairan Jawa Barat terus berkembang dan mengalami perubahan hingga hari ini.
Perjalanan itulah yang dibahas dalam diskusi sastra “Puisi Jawa Barat: Dulu, Kini, Nanti” dalam rangkaian Festival Sastra Ciwidey 2026, Sabtu, 26 September 2026. Diskusi yang berlangsung di Sekolah Al-Wafa Ciwidey, Kabupaten Bandung, itu menghadirkan Acep Zamzam Noor, Ratna Ayu Budiarti, Bob Anwar, dan Rosyid E. Abby.
Penyair sekaligus redaktur rubrik sastra Pikiran Rakyat, Rosyid E. Abby, menuturkan bahwa ekosistem sastra Jawa Barat pada masa lalu berkembang melalui sejumlah media cetak. Ia menyebut Pikiran Rakyat, Bandung Pos, Mandala, Aktuil, dan Horison. Sementara dalam sastra Sunda, terdapat antara lain Manglé dan Galura.
Salah satu ruang yang berperan dalam perkembangan kepenyairan Jawa Barat, kata Rosyid, adalah rubrik Pertemuan Kecil di Pikiran Rakyat. Rubrik tersebut menjadi ruang bagi sejumlah penyair untuk berkembang, antara lain Acep Zamzam Noor, Nirwan Dewanto, dan Ahda Imran.
Sejak 2020, rubrik sastra di koran tersebut ditangani Rosyid. Ia menjelaskan, saat itu dirinya diminta menjaga keberadaan Pertemuan Kecil setelah muncul persoalan dalam pemuatan sebuah puisi. Sejumlah penyair kenamaan di Jawa Barat, kata dia, berpesan agar ruang sastra tersebut jangan sampai hilang.
Berbeda dengan zaman Saini KM mengasuh rubrik tersebut, Rosyid menuturkan bahwa halaman sastra di media cetak saat ini semakin terbatas. Kondisi itu mengharuskan redaksi mempertemukan kualitas karya dengan keterbatasan ruang.
“Koran bukanlah media sosial. Artinya, ada etika-etika tertentu,” ujar Rosyid.
Keberagaman gaya, kata Rosyid, tetap terbuka, termasuk puisi kritis ataupun liris. Namun, persoalan teknis seperti judul yang terlalu panjang atau cerpen yang melebihi sekitar 1.250 kata dapat memengaruhi pemuatan.
Ia menjelaskan, tidak termuatnya sebuah karya tidak selalu berkaitan dengan isi. Rosyid mencontohkan puisi kritis yang pernah tidak dimuat karena keterbatasan tata letak. Menurutnya, persoalan tersebut menunjukkan bahwa ruang sastra di koran kini tidak hanya berhadapan dengan kualitas karya, tetapi juga perubahan bentuk dan keterbatasan media cetak.
Bagi penyair yang tumbuh dalam ekosistem tersebut, media cetak tidak sekadar menjadi tempat publikasi. Media juga menjadi ruang untuk membangun reputasi dan mendapatkan pengakuan dari lingkungan sastra yang lebih luas.
Pengalaman itu dirasakan musisi sekaligus penyair Bob Anwar. Ia mengenal sastra ketika masih berkuliah. Pada 2012, puisinya pertama kali dimuat di Pikiran Rakyat.
Menurut pelantun lagu Minggu Kelabu ini, publikasi di media cetak saat itu menjadi salah satu pencapaian penting karena karyanya mendapat respons dari penyair-penyair senior.
“Kalau sudah bisa dimuat di media lokal, tahap berikutnya adalah Kompas atau Tempo,” katanya.
Musisi yang memiliki nama lengkap Fajar M Fitrah ini kemudian mempelajari karakter setiap media agar dapat menyesuaikan karya yang dikirimkan. Baginya, jalur publikasi tersebut menjadi bagian dari proses seorang penyair mengenalkan karya kepada pembaca.
Kini, jalur tersebut tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan. Perkembangan internet dan media sosial membuat penyair dapat mempublikasikan karya tanpa harus melewati media cetak. Generasi muda juga memiliki kanal lain, seperti zine yang diterbitkan secara mandiri dan berbagai ruang pembacaan puisi.
Perubahan itu terlihat dalam aktivitas Bandung Berpuisi, komunitas yang didirikan Bob. Mereka menghimpun puisi melalui open submission, memilih sejumlah karya, menerbitkannya dalam bentuk zine, kemudian membacakannya dalam panggung open mic yang digelar rutin.
Setiap launching zine, sekitar 10 puisi dikurasi untuk didokumentasikan dan dibacakan. Menurut Bob, kegiatan tersebut turut menghidupkan kembali kantung-kantung komunitas muda di sejumlah kampus.
Keterbukaan akses juga membuat orang yang terlibat dalam kegiatan puisi tidak selalu berasal dari latar belakang penyair atau sebelumnya aktif dalam komunitas sastra. Puisi dapat ditemukan dan diikuti oleh pembaca yang lebih luas tanpa harus terlebih dahulu mengenal lingkungan sastra.
Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan. Bob menilai puisi perlu dijaga agar tidak berhenti sebagai tren atau sekadar menjadi komoditas konten. Kritik dan pengulasan tetap diperlukan agar perkembangan puisi tidak hanya bertumpu pada popularitas, tetapi juga memiliki dasar estetika dan kedalaman fungsi edukasi.
“Kalau karya sastra dipandang sebagai artefak dari pendidikan dan kebudayaan, pengulasan karya menjadi penting,” jelas Bob Anwar.
Dalam perkembangan kepenyairannya, Bob juga melihat puisi Jawa Barat banyak dipengaruhi kecenderungan pastoral dan religius. Namun, sekitar 2014–2015, ia mulai mencari bentuk penulisan yang berbeda karena gaya liris dinilai sudah banyak digunakan.

Desentralisasi Kepenyairan Jawa Barat
Perubahan medium publikasi merupakan bagian dari perubahan yang lebih luas dalam ekosistem kepenyairan Jawa Barat. Acep Zamzam Noor mengalami sendiri perubahan tersebut sejak datang ke Bandung pada 1980-an.
Ia menjelaskan, dunia sastra pada era 80-an masih berpusat pada sejumlah media yang menjadi ruang penting bagi penyair untuk memperkenalkan karya. Di tingkat nasional, majalah Horison di Jakarta menjadi salah satu pusat publikasi sastra. Sementara di Jawa Barat, koran Pikiran Rakyat memiliki peran serupa. Para penyair dari berbagai daerah berlomba agar karyanya dapat dimuat di media tersebut.
Pada masa itu, perkembangan sastra juga semakin ditopang oleh komunitas. Pada 1980-an, terdapat Keluarga Pengarang Bandung dan Kelompok 10 yang melakukan diskusi secara bergiliran di rumah para anggotanya. Setelah itu muncul Forum Sastra Bandung dan komunitas sastra di lingkungan kampus, seperti ASAS di UPI.
Dari pola yang sebelumnya berpusat pada sejumlah media dan komunitas di Bandung, ekosistem kepenyairan Jawa Barat kemudian berkembang lebih tersebar. Acep menyebut kondisi tersebut sebagai desentralisasi kepenyairan.
Penyair tidak lagi harus bergantung pada satu media sebagai pusat publikasi. Perkembangan media digital dan komunitas memungkinkan penulis dari berbagai daerah membangun ruangnya sendiri.
Perubahan tersebut juga terlihat dari bentuk puisi. Jika sebelumnya karya banyak bercorak kontemplatif, religius, atau liris, kini penyair menggunakan bahasa sehari-hari, istilah media sosial, dan berbagai bentuk eksperimentasi. Acep mengatakan, perkembangan itu membuat setiap daerah memiliki karakter kepenyairannya sendiri.
Baca Juga: Membincangkan Buku Puisi Hanya Waktu, Menengok Relung Seorang Matdon
Habis Gelap Terbitlah Puisi, Katarsis Penyair Muda Bandung melalui Kata
Penyair Perempuan dan Ruang Komunitas
Perubahan dalam kepenyairan Jawa Barat juga terlihat dari pengalaman penyair perempuan. Bukan hanya medium publikasi yang berubah, tema dan ruang yang dimasuki penyair perempuan pun semakin beragam.
Ratna Ayu Budiarti mengatakan, penyair perempuan di Jawa Barat terus mengalami perubahan, terutama pada tema yang diangkat dalam karya.
Pada periode awal perkembangan penyair perempuan di Jawa Barat, penyair perempuan banyak menulis persoalan domestik dan pengalaman personal, seperti relasi “aku, kau, dan rindu”. Keterbatasan ruang gerak sosial turut memengaruhi pemilihan tema tersebut.
Menurutnya, kini penyair perempuan semakin berani memasuki persoalan sosial, budaya, hingga politik. Pengalaman dan kepekaan terhadap berbagai persoalan menjadi salah satu pendekatan yang membedakan karya mereka.
Perubahan itu, kata Ratna, turut didukung keberadaan komunitas sastra. Sejumlah komunitas, seperti Sanggar Sastra Tasik, Majelis Sastra Bandung, dan Komunitas Penyair Perempuan Indonesia (KPPI), menjadi ruang bagi penyair untuk berdiskusi, membedah karya, dan saling menguatkan dalam proses kreatif.
Meski demikian, Ratna menilai penyair perempuan masih menghadapi berbagai hambatan sosial. Sejumlah penyair perempuan potensial mengalami pasang surut dalam berkarya atau bahkan berhenti setelah menikah karena persoalan patriarki domestik seperti izin pasangan, stigma keluarga, hingga tuntutan ekonomi.
“Banyak penyair perempuan yang timbul-tenggelam atau berhenti berkarya setelah menikah,” jelasnya.
Ratna menegaskan, komunitas perempuan diperlukan untuk membangun dukungan bersama agar potensi kepenyairan perempuan tetap berkembang dan tidak padam.
Dari koran dan majalah hingga media sosial, perubahan ruang publikasi turut mengubah cara puisi diproduksi, disebarkan, dan ditemukan pembacanya. Namun, perjalanan kepenyairan Jawa Barat menunjukkan bahwa media bukan satu-satunya penopang ekosistem. Komunitas, ruang diskusi, pembacaan, dan kritik tetap menjadi bagian penting dalam menjaga puisi terus tumbuh.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


