Festival Sastra Ciwidey 2026: Menyalakan Kawah Literasi di Bandung Selatan
Dari diskusi komunitas hingga kisah Pasukan Siluman Merah, Festival Sastra Ciwidey menjadi ruang untuk membaca kembali cerita dan sejarah.
Penulis Yopi Muharam25 September 2026
BandungBergerak - Ciwidey selama ini lebih dikenal sebagai kawasan wisata dengan udara sejuk dan hamparan perkebunan teh. Namun, di balik lanskap Bandung Selatan itu, tersimpan sejarah panjang kebudayaan dan sastra, termasuk jejak perlawanan rakyat terhadap Belanda yang perlahan terlupakan.
Gagasan tersebut menjadi salah satu dasar Kawah Sastra Ciwidey menggelar Festival Sastra Ciwidey pada 26-27 September 2026 di SMK Al-Wafa, Ciwidey, Kabupaten Bandung. Selama dua hari, puluhan sastrawan, penulis, musisi, dan pegiat sastra akan berkumpul melalui diskusi, lokakarya, monolog, hingga apresiasi puisi.
Program Director Festival Sastra Ciwidey 2026 Jein Oktaviany mengatakan, kegiatan tersebut berangkat dari diskusi rutin Kawah Sastra Ciwidey yang telah berlangsung sekitar 100 kali.
Kegiatan yang awalnya bernama Perbincangan kemudian berubah menjadi Ngawacitra, singkatan dari Ngawangkongkeun Ciwidey jeung Sastra. Diskusi itu digelar sebulan sekali sejak 2024. Dari rangkaian perbincangan tersebut, muncul gagasan untuk membuat perhelatan yang lebih besar dengan melibatkan lebih banyak pengkarya dan masyarakat.
Menurut Jein, Ciwidey memiliki hubungan panjang dengan sastra. Nama dan kehidupan kawasan tersebut telah hadir dalam berbagai bentuk karya, mulai dari pupuh Sunda, puisi, cerpen, hingga novel.
“Terkhusus Ciwidey, sudah sejak lama Ciwidey ada tertulis dalam sastra, di pupuh Sunda, di puisi, dan di cerpen atau novel,” ujarnya.
Ciwidey juga berkaitan dengan sejumlah tokoh sastra, seperti Duduh Durahman yang aktif sebagai penulis, kritikus, dan penerjemah sastra. Ada pula Eddy D Iskandar yang novelnya _Gita Cinta_ kemudian diadaptasi menjadi film populer yang dibintangi Rano Karno dan Jessy Gusman.
Namun, di luar jejak kebudayaan tersebut, Ciwidey lebih sering dikenal karena kawasan wisatanya. Padahal, kata Jein, kehidupan akan lebih bermakna jika manusia mendalami kesenian, salah satunya kesusastraan.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Sapardi Djoko Damono yang melihat sastra sebagai bagian dari kehidupan sosial. Dalam konteks Festival Sastra Ciwidey, karya sastra ditempatkan bukan hanya sebagai karya artistik, tetapi juga sebagai cara untuk membaca kembali kehidupan, sejarah, dan lingkungan tempat masyarakat tinggal.
Karena itu, festival tidak hanya menghadirkan diskusi mengenai karya sastra, tetapi juga mengangkat sejarah lokal. Salah satunya adalah kisah perlawanan rakyat Ciwidey pada masa perang kemerdekaan.
Di salah satu tikungan yang kerap dilalui warga dan wisatawan, terdapat tugu yang berkaitan dengan Pasukan Siluman Merah. Tugu tersebut sempat berlumut dan dipenuhi ilalang selama bertahun-tahun sebelum direhabilitasi secara swadaya oleh masyarakat. Namun, keberadaan tugu tidak selalu membuat sejarah di baliknya diketahui masyarakat.
Jein mengatakan, sejarah tersebut berkaitan dengan perjuangan Achmad dan pasukannya melawan Belanda. Kisah itu akan diadaptasi menjadi monolog Pahlawan 1945-1950: Komandan Siluman Merah Ahmad Wiranatakusumah yang diperankan oleh J dengan naskah Mazeinda Al Biruni.
“Adanya sastra, atau cerita bisa memberikan pengingat akan sejarah,” kata Jein dalam pesan tertulis, Kamis, 24 September 2026.
Bagi penyelenggara, kisah Pasukan Siluman Merah menunjukkan bahwa sejarah lokal tidak selalu hadir dalam ingatan masyarakat hanya karena peninggalannya masih ada. Cerita perlu terus disampaikan agar sejarah tidak berhenti sebagai penanda fisik.
Membangun Ruang Sastra dari Ciwidey
Selain persoalan sejarah, festival ini berangkat dari kebutuhan membangun ruang sastra yang lebih dekat dengan masyarakat Ciwidey, terutama pelajar.
Menurut Jein, jenjang pendidikan formal di Ciwidey berhenti pada tingkat SMA/SMK dan tidak terdapat perguruan tinggi. Masyarakat yang melanjutkan pendidikan tinggi harus pergi ke daerah lain. Kondisi tersebut, lanjut Jein, turut memengaruhi keberlanjutan ekosistem pembaca di Ciwidey.
“Hal itu kami jadikan patokan untuk memilih tempat yang ramah untuk anak sekolah. Ya, paling ramah untuk anak sekolah, ya sekolah,” ujarnya.
Atas pertimbangan tersebut, SMK Al-Wafa dipilih sebagai lokasi festival. Sekolah dianggap sebagai ruang yang paling dekat dengan pelajar sekaligus masyarakat sekitar.
Festival diharapkan menjadi ruang perjumpaan antara pelajar, masyarakat, dan pengkarya. Sastra tidak hanya ditempatkan sebagai sesuatu yang dibaca atau dipelajari, tetapi juga sebagai percakapan dan pengalaman bersama.
Kebutuhan membangun ruang semacam itu juga berlangsung di tengah persoalan literasi yang lebih luas di Bandung Raya. Dalam setahun terakhir, sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan buku dan diskusi mendapat penolakan atau menghadapi persoalan, termasuk penyitaan buku yang disebut berkaitan dengan demonstrasi di Bandung dan pembatalan diskusi di Kedai Jante pada 2025.
Dalam konteks tersebut, Festival Sastra Ciwidey mengambil bentuk yang lebih dekat dengan masyarakat: menghadirkan pengkarya ke sekolah, membuka ruang diskusi, dan mengolah sejarah lokal menjadi cerita.
Gagasan mengenai pentingnya ruang literasi juga tergambar dalam tulisan Tri Joko Her Riadi bertajuk Bandung dari Pinggir: Menyebar Biji di Tembok Berduri. Dalam tulisan tersebut diceritakan bahwa pada November 2025, sekitar 20 murid sekolah alam di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, datang ke Perpustakaan Bunga di Tembok.
Di perpustakaan itu, masing-masing murid secara bergiliran menceritakan pengalaman membaca buku, sementara murid lainnya memberikan tanggapan atau melontarkan pertanyaan. Dari sana, kehidupan literasi siswa berlangsung berdampingan dengan tawa riuh dan tepuk tangan.
“Buku menghadirkan pertemuan, cerita melahirkan imajinasi, kalimat menghidupkan percakapan. Literasi menjadi kerja merawat nyala,” tulis Tri Joko.
Dalam pertemuan itu pula, tersebar biji-biji untuk menumbuhkan kesadaran, dan perlahan dapat merubah sesuatu yang dapat dipetik hasilnya kelak di kemudian hari.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana ruang literasi dapat menjadi tempat pertemuan sekaligus pemantik kesadaran. Festival Sastra Ciwidey membawa semangat serupa ke lingkungan masyarakat setempat, terutama pelajar.
Baca Juga: Bagaimana Protes dan Ancaman Memaksa Batal Diskusi Buku Memburu Muhammad di Pekan Sastra Bogor?
Tak Berhenti di Tulisan, dari Halaman Mahasiswa Bersuara ke Ruang Publik
Agenda Dua Hari
Selama dua hari, Festival Sastra Ciwidey akan diisi dengan sejumlah diskusi, lokakarya, monolog, dan apresiasi puisi. Berbagai kegiatan tersebut menghadirkan pengkarya dari Jawa Barat dan mengangkat beragam tema dalam ekosistem sastra daerah.
Hari pertama, Sabtu, 26 September 2026, dimulai pukul 07.30 WIB dengan pembacaan puisi oleh Anzar Mustikowati. Agenda kemudian dilanjutkan pukul 08.00 WIB dengan diskusi buku puisi yang dipandu Bardjan, Juniarso, dan Ridwan, serta dimoderatori Dava Mc Cabal.
Pukul 10.00 WIB, peserta mengikuti lokakarya menulis cerita pendek yang dipandu Abdul Aziz. Setelah istirahat, salat, dan makan, rangkaian kegiatan berlanjut pukul 13.00 WIB melalui diskusi bertajuk Puisi Jawa Barat: Dulu, Kini, Nanti. Diskusi ini menghadirkan Acep Zamzam, Bob Anwar, Ratna Ayu, dan Rosyid E. Abby.
Pada pukul 16.00 WIB, agenda dilanjutkan dengan diskusi buku prosa yang dipantik Asep Ardian dan Yoga Palwaguna serta dimoderatori Lupita Lestari. Rangkaian hari pertama ini ditutup pukul 19.00 WIB melalui diskusi sastra bertajuk Ekranisasi Sastra bersama Film Bandung yang menghadirkan Budi Muiga, Iwa K. Barhta, dan Ratna Ayu serta dimoderatori Muthahhari Oi.
Pada hari kedua, Minggu, 27 September 2026, kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB dengan diskusi mengenai komunitas sastra Bandung Raya. Diskusi tersebut menghadirkan Yogira Togaswara, Ryandi Budiman, Ayu Oktriani, dan Kyiai Matdon serta dimoderatori Dinda Aina.
Pukul 10.00 WIB, agenda dilanjutkan dengan diskusi buku Sastra Sunda yang dipantik Isenendes, Ari Andriansyah, dan Nena Cunara serta dimoderatori Ang Chandra.
Setelah istirahat, salat, dan makan, pukul 13.00 WIB digelar diskusi buku puisi bagian kedua yang menghadirkan Ahda Imran dan Aghnia Tazqiah serta dimoderatori Naldi Firmansyah. Pada sore hari, diskusi buku prosa bagian kedua menghadirkan Evi Sri Rezeki dan Zaky Yamani serta dimoderatori Rangga Muhammad.
Rangkaian hari kedua ditutup dengan monolog Pahlawan 1945-1950: Komandan Siluman Merah Ahmad Wiranatakusumah yang diperankan J dengan naskah Mazeinda Al Biruni. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan malam apresiasi puisi yang diisi kolaborator Simbol Liar dan Bandung Berpuisi.
Sejumlah pengkarya yang hadir berasal dari Jawa Barat, termasuk Acep Zamzam Noor dan Aghnia Tazqiah. Jein mengatakan karya dan isu yang dibawa para pengkarya berkaitan dengan ekosistem sastra Jawa Barat dan pernah masuk dalam berbagai penghargaan atau sayembara sastra, seperti Rancage, KSK, Tempo, maupun sayembara novel DKJ.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, penyelenggara ingin mempertemukan pengkarya dengan masyarakat secara langsung. Sastra diharapkan tidak berhenti sebagai karya yang dibaca, tetapi menjadi medium percakapan tentang kehidupan, sejarah, dan lingkungan.
Festival Sastra Ciwidey diharapkan memperluas cara orang melihat kawasan tersebut. Melalui sastra, cerita-cerita tentang tempat dan masyarakatnya diharapkan tetap hidup. Seperti biji yang disebarkan ke berbagai ruang, proses tersebut mungkin tidak langsung terlihat hasilnya, tetapi dapat menjadi awal bagi tumbuhnya kesadaran literasi dan kebudayaan di Ciwidey.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


