Tak Berhenti di Tulisan, dari Halaman Mahasiswa Bersuara ke Ruang Publik
Mahasiswa, aktivis, dan akademisi di Bandung bertemu untuk menguji: apakah tulisan mampu melampaui wacana dan benar-benar mengubah keadaan?
Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 22 April 2026
BandungBergerak - Peran mahasiswa tidak berhenti pada penguasaan teori, melainkan pada tindakan di tengah keterbatasan. Ketika tidak semua bisa turun langsung ke lapangan, menulis menjadi bentuk kerja yang paling mungkin—sekaligus strategis—untuk tetap terlibat dalam perubahan.
Namun, tulisan yang terputus dari realitas hanya akan berputar sebagai wacana. Karena itu, mahasiswa perlu berinteraksi langsung dengan kehidupan sosial dan memahami pengalaman kelompok-kelompok yang terpinggirkan.
Cindy Veronica, salah satu pemenang esai Mahasiswa Bersuara, berangkat dari keresahan pasca gelombang demonstrasi 2025. Di tengah keterbatasan untuk terlibat dalam kerja pengorganisasian, ia memilih menulis sebagai bentuk intervensi.
“Menulis jadi cara paling minimal untuk mengorganisir kesadaran,” ujar Cindy, di diskusi bertajuk “Merebut Kota: Kerja Lintas Sektor untuk Merespons Isu-isu Lokal” di Aula Perpustakaan Ajip Rosidi, Minggu, 19 April 2026.
Ia menekankan, pemahaman saja tidak cukup tanpa kerja konkret yang benar-benar mengubah kondisi hidup. Karena itu, tulisan harus terus dihidupkan—dibicarakan, diperdebatkan, dan disebarkan—agar tidak berhenti sebagai wacana.
Diskusi tersebut mempertemukan mahasiswa, akademisi, dan pegiat komunitas untuk membahas berbagai persoalan kota, mulai dari krisis ruang hidup hingga lemahnya kolaborasi antar sektor dalam merespons isu-isu lokal.
Acara ini bagian dari roadshow buku Mahasiswa Bersuara yang digagas oleh BandungBergerak. Buku tersebut menghimpun 28 esai mahasiswa terpilih dengan tema besar yang merentang dari kritik terhadap kekuasaan hingga persoalan ruang hidup dan ketimpangan sosial.
Di acara yang sama, Salma Rizkya salah satu pegiat di serikat buruh kreatif yaitu komunitas Sindikasi, mengapresiasi kemampuan mahasiswa dalam merespons realitas melalui tulisan. Namun, ia juga menyoroti adanya jarak antara teori dan praktik.
“Sering kali teori terlalu tinggi, terlalu klasik. Tantangannya adalah bagaimana kita merekonstruksi teori itu ke dalam bahasa sehari-hari dan konteks yang kita hadapi sekarang,” kata Salma.
Menurutnya, pemahaman tidak cukup berhenti pada pembacaan teks. Pengalaman langsung di lapangan justru menjadi sumber pengetahuan yang tak kalah penting.
“Hal-hal kecil di depan mata, kalau diamati dengan serius, bisa menjadi dasar untuk memahami peristiwa,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya dokumentasi sebagai bagian dari kerja gerakan. Tanpa dokumentasi, sejarah akan mudah hilang—dan bersama itu, ingatan tentang siapa yang membentuk kota ini.
“Kalau tidak didokumentasikan, kita tidak akan tahu kota ini dibentuk oleh siapa—oleh keringat siapa, oleh perjuangan siapa,” tegasnya.
Dalam pandangan Salma, tulisan bukan sekadar ekspresi, melainkan alat untuk membangun kesadaran kolektif. Pertanyaan pentingnya bukan hanya apa yang ditulis, tetapi juga untuk siapa tulisan itu ditujukan, apakah buku ini ditujukan untuk mahasiswa lagi atau para pemangku kebijakan yang dirasa perlu tau akan keresahan mereka.
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Hari Kartini dan Kekerasan Terhadap Perempuan yang Masih Saja Terjadi
MAHASISWA BERSUARA: Perempuan Terpinggirkan dalam Riuh Pembangunan
Pikiran Mahasiswa
Akademisi yang menjadi narasumber diskusi, Hawe Setiawan menyoroti fenomena jarak antara mahasiswa dan ruang belajar formal. Namun, jarak itu tidak serta-merta berarti mereka tidak berpikir dan memiliki keresahan. Justru sebaliknya, gagasan-gagasan itu muncul di ruang lain yang berupa tulisan esai seperti Mahasiswa Bersuara.
“Esai mahasiswa bersuara itu penting, karena dari situ kita bisa mengetahui apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka baca, dan bagaimana mereka melihat dunia hari ini,” ujar Hawe.
Melalui forum Mahasiswa Bersuara, Hawe melihat keragaman tema yang diangkat mahasiswa seperti isu gender, ekonomi politik, hingga kebudayaan. Bahkan, referensi yang digunakan tidak lagi terbatas pada buku, tetapi juga berbagai medium lain seperti zine yang sedang marak di Bandung kali ini.
Sementara itu, dari sisi penyelenggara, kegiatan ini bukan sekadar perayaan karya tulis mahasiswa yang dibukukan saja. Lebih dari itu, ia menjadi upaya untuk membawa tulisan keluar dari halaman buku dan mengujinya di ruang - ruang publik.
“Setelah memilih 28 esai dan menentukan karya terbaik di sayembara esai, kami tidak berhenti di buku. Kami ingin mendiskusikannya di berbagai titik,” ujar Nidan dari diviai Program dan Komunitas BandungBergerak.
Kedai Jante dipilih menjadi titik awal dengan tema “Merebut Kota”, sebuah upaya untuk merespons isu-isu lokal melalui kerja lintas sektor. kehidupan kota hari ini justru ditandai oleh keterpisahan seperti akademisi yang terkungkung di kampus, mahasiswa yang kesulitan menghubungkan teori dengan realitas, hingga komunitas yang bergerak sendiri-sendiri tanpa kolaborasi.
“Di tengah neoliberalisasi, kita cenderung berjalan sendiri-sendiri. Padahal persoalan kota tidak pernah berdiri sendiri,” ujar Nidan.
Diskusi mengenai beragam isu memang tidak memberikan jawaban singkat. Tetapi forum ini berusaha membuka satu kesadaran yang sama: bahwa persoalan kota, kampus, dan gerakan tidak bisa diselesaikan secara terpisah.
Bandung, seperti kota-kota lain, menyimpan sejarah panjang gerakan buruh, tani, hingga mahasiswa. Namun hari ini, sejarah itu kerap terputus oleh sekat-sekat yang membuat setiap kelompok berjalan sendiri-sendiri.
Di titik inilah, buku Mahasiswa Bersuara dan rangkaian diskusinya mencoba mengambil peran sebagai ruang pertemuan, sekaligus ruang refleksi. Bukan hanya untuk membaca tulisan, tetapi untuk mempertanyakan kembali: apa fungsi pengetahuan, untuk siapa ia ditulis, dan bagaimana ia bisa digunakan.
Akhirnya, seperti yang mengendap dalam percakapan di setiap buku ini, persoalannya bukan lagi apakah mahasiswa bisa bersuara. Melainkan, apakah suara itu cukup kuat untuk bertahan sebelum kritik benar-benar mati.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


