• Berita
  • Dari Batagor dan Buruh Pabrik, Lahirlah Cerita

Dari Batagor dan Buruh Pabrik, Lahirlah Cerita

Asep Ardian dan Yoga Palwaguna mengolah pengalaman hidup, tekanan, dan kegelisahan menjadi karya. Bagi keduanya, menulis adalah cara memahami diri dan dunia.

Festival Sastra Ciwidey 2026, Kabupaten Bandung, Sabtu, 26 September 2026. (Foto: Muhammad Akmal Firmansyah/BandungBergerak)

Penulis Muhammad Akmal Firmansyah28 September 2026


BandungBergerak - Asep Ardian, pedagang batagor cum penulis, dan Yoga Palwaguna, mantan buruh yang kini penulis lepas,  berbagi cara menuangkan keresahan-keresahan yang mereka temukan selama perjalanan hidupnya. Di Festival Sastra Ciwidey 2026 yang berlangsung di Sekolah Al-Wafa, Kabupaten Bandung, keduanya membicarakan proses kreatif yang tidak mudah.

Mereka tak hanya berbicara soal karya, tetapi juga bagaimana pengalaman hidup menjadi bahan bakar penulisan dan bagaimana komunitas membantu mereka melewati proses kreatif yang panjang. Bagi mereka, menulis kerap dibayangi perubahan selera, tekanan emosional, hingga persoalan membagi waktu. Namun, kesulitan itu membuat mereka menemukan alasan untuk terus menulis.

Asep Ardian yang menulis novel Oni Jouska menuturkan, ia biasa menjalani proses menulis pada waktu sebelum tidur dan di sela-sela berjualan batagor. Dibutuhkan upaya membagi waktu dan mengelola tenaga.

Akan tetapi, ia tidak sepenuhnya menganggap kesulitan tersebut sebagai beban. Proses menulis, kata Asep, seperti mendaki gunung. Saat alur cerita belum menemukan bentuk, ia bisa merasa stres hingga sulit tidur. Sebaliknya, saat menemukan kunci cerita, muncul kebahagiaan yang besar.

“Ledakan kebahagiaan itulah yang sangat saya nikmati,” ujar Asep.

Novel yang menceritakan kehidupan ikan-ikan di lautan itu berawal dari kenangan masa kecilnya di pantai Garut Selatan. Waktu itu ia kerap diajak memancing. Ketika dewasa ia melihat pantai semakin tercemar sampah.

Keresahan ekologis itu bertemu dengan pengalaman tinggal di Baleendah, Kabupaten Bandung  yang rawan banjir. Air banjir yang kotor membuat persoalan lingkungan terasa semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Biota laut sebagai medium cerita dipilih olehnya. Tokoh utamanya, Remora, merupakan ikan kecil yang hidup dan menempel pada hiu atau paus. Karakter itu dapat menjadi simbol kemarjinalan manusia yang merasa tak mampu berdiri sendiri sehingga memilih bergantung pada kelompok atau nama besar.

Beberapa karakter dalam novelnya dibangun dari persoalan lingkungan dan emosi tertentu. Marissa, cumi-cumi raksasa dalam novel tersebut merupakan sosok yang kesepian dan dicap buruk oleh biota laut lain karena bentuk fisiknya. Di balik stigma tersebut, Marissa menyimpan trauma.

Di saat menulis, Asep menghadapi persoalan keluarga yang berat. Pada 2022 ibunya mengalami sakit dan harus menjalani pengobatan. Kondisi tersebut mengguncang keadaan ekonomi dan emosional keluarga. Terlebih Asep anak pertama di keluarganya. Dalam situasi itulah menulis menjadi ruang baginya untuk mencurahkan tekanan.

“Menulis bukan sekadar merangkai cerita, melainkan juga berfungsi sebagai media terapi batin,” terang Asep.

Namun, menulis saja tidak cukup. Ia masih harus meluangkan waktu untuk melakukan riset, menonton dokumenter alam dan biota laut. Ia memperhatikan perilaku hewan untuk membangun karakter ceritanya.

Pengalaman sehari-hari juga menjadi bagian dari riset tersebut. Ia sering melihat berbagai jenis ikan di Pasar Ciroyom Bandung. Pengalaman visual yang berulang itu tanpa disadari mengendap dan kemudian muncul dalam novel.

Penulisan fabel menjadi proses perenungan diri. Tokoh-tokoh dalam novelnya bukan sekadar karakter, tetapi cermin untuk melihat diri sendiri dan situasi di sekitarnya.

Peran komunitas selama ia menekuni tulisan tidak bisa diabaikan. Ia bergabung dengan komunitas baca di Depok. Komunitas yang diikuti berbagai orang dengan latar belakang profesi itu memberinya banyak masukan berharga. Baginya, komunitas menjadi ruang godok penulis.

Baca Juga: Pertemuan Kecil di Festival Sastra Ciwidey 2026: Menyusuri Wajah Puisi Jawa Barat
Festival Sastra Ciwidey 2026: Menyalakan Kawah Literasi di Bandung Selatan

Dari Kemarahan Menuju Empati dan Harapan

Berbeda dengan Asep yang menulis novel, Yoga Palwaguna mengumpulkan cerpen dalam Misi Menggagalkan Doa melalui proses panjang. Cerpen tertuanya ditulis sekitar 2016–2017. Sebelum pandemi, kemarahan terhadap berbagai hal di sekitar menjadi salah satu sumber tulisannya. Namun, pada 2020, ia mengalami kebuntuan hingga hampir setahun tidak mampu menulis fiksi.

Ia kemudian menemukan gagasan dari penyair Vietnam-Amerika, Ocean Vuong, bahwa penulis tidak harus terus berada di puncak konflik untuk menghasilkan karya. Menurutnya, merapikan sisa kekacauan merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan orang lain. Gagasan itu memengaruhi cerpen-cerpen terakhirnya yang menghadirkan tokoh-tokoh yang tidak hanya meratapi ketertindasan, tetapi juga berupaya mencari harapan.

Yoga yang kini menjadi penulis lepas dan membuka jasa menulis melalui teman_tik pernah mengalami berbagai pekerjaan, dari buruh pabrik, staf notaris, hingga pedagang. Pengalaman kerja selama sekitar satu dekade itu turut membentuk kegelisahannya terhadap cara masyarakat menentukan kebenaran dan kebaikan. Ia melihat standar moral, agama, pendidikan, dan kelas sosial kerap membuat aspek empati terlupakan.

“Sering kali dalam menegakkan kebenaran, masyarakat melupakan aspek kebaikan dan empati,” ujarnya.

Aktif di berbagai komunitas, seperti Kawah Sastra Ciwidey, Yoga menjelaskan bahwa lingkungan tersebut turut memengaruhi proses penulisannya. Ketidaksempurnaan dalam tulisan, serta pengalamannya berbincang dengan seorang transpuan di Bandung, mengajarkannya bahwa pengalaman manusia bersifat unik dan partikular. Keresahan dan pengalaman tersebut kemudian diolah melalui proses panjang hingga menjadi karya yang dapat dibaca dan ditafsirkan.

Proses kreatif para pengkarya dan keberadaan komunitas sastra menjadi bagian dari ekosistem yang juga ingin dirawat melalui Festival Sastra Ciwidey 2026. Festival ini berangkat dari aktivitas sastra yang telah berlangsung di Ciwidey, termasuk perbincangan rutin Kawah Sastra Ciwidey.

Menghidupkan Sastra di Selatan Bandung

Ciwidey, Kabupaten Bandung, telah lama hadir dalam berbagai cerita dan karya sastra. Jejak tersebut menjadi salah satu alasan Festival Sastra Ciwidey 2026 digelar untuk mempertemukan pengkarya, komunitas, dan masyarakat sekaligus membicarakan kembali hubungan sastra dengan kehidupan di wilayah selatan Bandung.

Program Director Festival Sastra Ciwidey 2026 Jein Oktaviany mengatakan, festival tersebut berangkat dari diskusi rutin Kawah Sastra Ciwidey yang telah berlangsung sekitar 100 kali. Diskusi yang awalnya bernama Perbincangan itu kemudian berubah menjadi Ngawacitra, singkatan dari Ngawangkongkeun Ciwidey jeung Sastra, dan digelar sebulan sekali sejak 2024.

Dari rangkaian perbincangan tersebut, muncul gagasan untuk membuat perhelatan yang melibatkan lebih banyak pengkarya dan masyarakat. Menurut Jein, hubungan Ciwidey dengan sastra telah berlangsung panjang dan tercermin dalam beragam bentuk karya.

“Terkhusus Ciwidey, sudah sejak lama Ciwidey ada tertulis dalam sastra, di pupuh Sunda, di puisi, dan di cerpen atau novel,” kata Jein.

Festival Sastra Ciwidey 2026 berlangsung pada 26–27 September 2026 di Sekolah Al-Wafa, Ciwidey, Kabupaten Bandung. Selama dua hari, festival menghadirkan pembacaan puisi, diskusi buku puisi dan prosa, lokakarya menulis cerita pendek, diskusi kepenyairan Jawa Barat, serta pembahasan hubungan sastra dan film.

Pada hari kedua, agenda dilanjutkan dengan diskusi komunitas sastra Bandung Raya, pembahasan buku sastra Sunda, diskusi buku puisi dan prosa, serta monolog Pahlawan 1945–1950: Komandan.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//