• Berita
  • Sungai di Bandung Membutuhkan Lebih dari Sekadar Dibersihkan

Sungai di Bandung Membutuhkan Lebih dari Sekadar Dibersihkan

Aksi River Cleanup di Cikakak dan Cipaganti menunjukkan bahwa mengangkut sampah hanyalah langkah awal. Warga diajak melihat sungai sebagai bagian dari kehidupan.

Para river warriors dari River Cleanup Indonesia dan warga mengambil sampah di Sungai Cikakak, Liogenteng, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astaanyar, Bandung, 19 September 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Penulis Tim Redaksi28 September 2026


BandungBergerak – Sampah plastik, kain, karet, hingga puntung rokok satu per satu diangkat dari aliran Sungai Cikakak, Lio Genteng, Kota Bandung, Sabtu, 19 September 2026. Puluhan warga, petugas kebersihan, dan mahasiswa menyusuri aliran sungai yang kedalamannya mencapai betis orang dewasa, sementara peserta lain menarik karung-karung sampah ke bantaran.

Pada hari yang sama, aksi serupa berlangsung di Sungai Cipaganti, kawasan Ledeng, Bandung. Namun, dua lokasi tersebut memiliki pendekatan yang berbeda. Di Cikakak, kegiatan bersih sungai berjalan bersama warga dan terhubung dengan penguatan pengelolaan sampah melalui Bank Sampah One Six. Sementara di Cipaganti, aksi diperluas melalui River Talks, keterlibatan komunitas, serta pembahasan hubungan kawasan hulu dan hilir.

Keduanya merupakan bagian dari rangkaian World Cleanup Day 2026 yang digelar River Cleanup Indonesia di empat titik Kota Bandung, yakni Cikakak, Cikapundung, Cipaganti, dan Dago Elos. Secara keseluruhan, kegiatan tersebut melibatkan ratusan peserta dan mengangkut 5.382,36 kilogram sampah. Dari jumlah itu, 1.187,5 kilogram dikumpulkan dari kawasan Cikakak dan Lio Genteng oleh 125 peserta, sedangkan di Cipaganti, 141 River Warriors mengumpulkan 523 kilogram sampah dalam waktu kurang dari satu jam.

Angka tersebut menunjukkan besarnya sampah yang dapat diangkat dalam satu kegiatan. Namun, mengangkut sampah dari sungai hanya menyelesaikan satu bagian persoalan. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana agar sampah tidak kembali ke sungai.

Di Lio Genteng, kegiatan bersih-bersih sebenarnya telah dilakukan secara rutin bersama warga, setidaknya sekali dalam sebulan. Perbedaannya kali ini terletak pada posisi warga yang semakin terlibat dalam pelaksanaan kegiatan.

Fitria, 32 tahun, Social Media and Communication River Cleanup Indonesia mengatakan, keterlibatan warga kini tidak lagi sebatas sebagai peserta kegiatan.

“Yang bikin beda mungkin sesi sekarang di Sungai Cikakak ini kita bener-bener duet sama warga, kalau sebelumnya kita lebih lead ini mah bener-bener sudah blending banget,” ungkapnya, Sabtu, 19 September 2026.

Menurut Fitria, pola tersebut merupakan bagian dari upaya agar kegiatan lingkungan tidak bergantung pada organisasi yang menginisiasinya. Warga diharapkan mampu meneruskan kegiatan secara mandiri setelah pendampingan dikurangi.

“Harapannya, sebenarnya kalau dari River Cleanup Indonesia sendiri, kita itu gak mau kalau ada acara itu harus sama kita doang. Kita maunya warga itu mandiri, makannya kita mulai kasih beberapa hal yang bisa kita kerjakan bersama lalu kita lepas,” tambahnya.

Salah satu bentuk kemandirian tersebut telah berjalan melalui Bank Sampah One Six di Lio Genteng.

Para river warriors dari River Cleanup Indonesia dan warga mengambil sampah di Sungai Cikakak, Liogenteng, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astaanyar, Bandung, 19 September 2026.  (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Para river warriors dari River Cleanup Indonesia dan warga mengambil sampah di Sungai Cikakak, Liogenteng, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astaanyar, Bandung, 19 September 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Dari Sampah Menjadi Kebiasaan

Sampah kering yang dikumpulkan dalam kegiatan di Lio Genteng kemudian dikelola melalui Bank Sampah One Six. Sampah tersebut disetorkan warga dan ditukar dengan uang atau saldo tabungan yang dapat diambil dalam jangka waktu tertentu.

Bank Sampah One Six mulai beroperasi pada 2025. Hingga September 2026, tercatat 35 nasabah, mulai dari warga hingga anak-anak sekolah dasar. Fasilitasnya juga baru memiliki bangunan khusus hasil kerja sama dengan River Cleanup Indonesia.

Sandi Syarif, salah seorang pengelola Bank Sampah One Six, mengatakan sampah dari kawasan urban yang masih memiliki nilai ekonomi dikumpulkan dan disalurkan melalui jaringan pengepul.

“Kita ada dipengepul untuk (sampah) area urbannya, karena (sampah) di area urban itu kering kan, kita kelola di sini langsung. yang penting kita gak membuang sampah ke TPS lagi,” terang Sandi.

Keberadaan bank sampah perlahan mengubah cara sebagian warga memandang sampah. Benda yang sebelumnya dianggap tidak bernilai mulai dipilah dan disimpan karena dapat memberikan manfaat ekonomi.

“Dampaknya sangat luar biasa apalagi dari perubahan perilaku masyarakat gitu ya, yang awalnya mereka membuang sampah plastik sembarangan atau belum memilah dari rumahnya, alhamdulillah semenjak ada bank sampah juga si masyarakat, sampah non-organiknya, terutama sampah ekonomisnya itu ditabungin ke kita,” tutup Sandi.

Salah satu peserta kegiatan yang juga merupakan mahasiswa dari Universitas Telkom, Ester, 19 tahun, mengaku kegiatan ini membantunya lebih tersadar akan pentingnya menjaga lingkungan.

“Kebetulan aku juga udah pernah ikut kemarinnya, asik sih, bareng sama temen-temen yang lain. Apalagi ada adik-adik kita yang masih kecil ikut bersih-bersih untuk menyadarkan kita agar lebih peduli lagi sama lingkungan,” ujar Ester, selepas melakukan kegiatan bersih-bersih di kawasan Lio Genteng.

Jika Cikakak memperlihatkan bagaimana kegiatan bersih sungai dapat diarahkan menjadi kebiasaan pengelolaan sampah di tingkat warga, pendekatan di Cipaganti bergerak pada persoalan yang lebih luas: bagaimana kondisi sungai berkaitan dengan kawasan di sekitarnya dan bagaimana masyarakat dapat melihat hubungan tersebut.

Para river warriors dari River Cleanup Indonesia dan warga mengambil sampah di Sungai Cikakak, Liogenteng, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astaanyar, Bandung, 19 September 2026.  (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Para river warriors dari River Cleanup Indonesia dan warga mengambil sampah di Sungai Cikakak, Liogenteng, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astaanyar, Bandung, 19 September 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Melihat Sungai dari Hulu hingga Hilir

Di kawasan Ledeng, aksi bersih Sungai Cipaganti dilengkapi River Talks di Taman Edukasi Terakota. Forum tersebut mempertemukan warga, komunitas, mahasiswa, dan lembaga untuk membicarakan apa yang terjadi setelah kegiatan bersih-bersih berakhir.

Lana, 30 tahun, Action Leader World Cleanup Day 2026 di Sungai Cipaganti, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan mengangkut sampah, tetapi juga mengajak masyarakat melihat persoalan pencemaran dari akarnya.

Menurut Lana, masyarakat yang selama ini jauh dari sungai perlu diajak melihat langsung kondisi aliran air dan persoalan yang mengitarinya. Di Cipaganti, aksi tersebut diikuti setidaknya 141 River Warriors yang berasal dari warga sekitar, Karang Taruna, dan berbagai organisasi mahasiswa. Kegiatan didukung Komunitas CAI, ledeng.ledeng.ledeng, Poltekpar NHI, dan Observatorium Bosscha.

Persoalan keberlanjutan sungai tidak hanya berada di titik tempat sampah ditemukan. Kondisi hulu dan hilir saling berkaitan sehingga upaya menjaga sungai juga membutuhkan kerja lintas komunitas dan wilayah.

Mita, 65 tahun, perwakilan Poltekpar NHI Bandung, mengatakan alam memiliki kemampuan untuk memulihkan dirinya sendiri, tetapi proses tersebut akan terganggu jika kerusakan terus terjadi.

“Karena secara alami dia akan membersihkan diri, tapi jangan dikotorin,” ujarnya.

Menurut Mita, kebiasaan menjaga lingkungan perlu dibangun sejak dini agar upaya pemulihan alam tidak terus dibebani oleh perilaku manusia yang menghasilkan pencemaran baru.

Persoalan hubungan hulu dan hilir juga menjadi perhatian Hesti, 56 tahun, Kepala Observatorium Bosscha ITB. Kawasan Observatorium Bosscha yang berada di daerah aliran Sungai Cipaganti memiliki fungsi ekologis selain sebagai tempat pengamatan astronomi.

Dengan luas 8,4 hektare, kawasan tersebut merupakan daerah tangkapan air yang berhubungan dengan mata air di bawahnya sebelum mengalir ke Sungai Cipaganti. Karena itu, menurut Hesti, menjaga kawasan hulu berkaitan langsung dengan kondisi wilayah di bagian hilir.

“Kita perlu berjejaring, jadi kita tahu teman-teman yang di bawah itu yang lebih ke hilir kondisinya seperti apa, kemudian apa yang kami harus jaga kami yang tinggal di hulu,” kata Hesti.

Keterlibatan lintas komunitas menjadi penting karena persoalan lingkungan tidak berhenti pada satu jenis ekosistem. Bagi Lana, kolaborasi juga menjadi cara untuk memperluas gerakan agar tidak berhenti pada satu lokasi.

“Karena sebenarnya kalau ngomongin soal kesadaran lingkungan kita enggak bisa fokus ke satu titik aja gitu. River cleanup sama sungai, enggak juga karena sungai bisa sangat berhubungan dengan elemen-elemen yang lain. Jadi ketika kita ketemu sama kolaborator dalam sektor yang lain, selagi kita satu spirit ngomongin soal lingkungan, kayaknya sama,” ujarnya.

Pendekatan tersebut diterjemahkan River Cleanup dalam Clean River Model, sebuah modul yang disusun bersama dan memiliki tiga pilar: Empowering, Preventive, dan Accelerate. Empowering dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekaligus membangun kesadaran dan kebiasaan menjaga lingkungan. 

Preventive diarahkan untuk mencegah sampah sejak dari sumbernya agar tidak berakhir di sungai. Sementara accelerate menggunakan data dan hasil aksi untuk mendorong advokasi kepada pembuat kebijakan.

Dengan pendekatan tersebut, kegiatan bersih sungai ditempatkan sebagai salah satu tahap dari proses yang lebih panjang: mengenali persoalan, membangun kebiasaan, mengelola sampah, dan mendorong perubahan pada tingkat yang lebih luas.

Baca Juga: Orang-orang Muda Bandung Terjun Membersihkan Sampah Sungai Cikapundung
Pencemaran di DAS Citarum tak Pernah Selesai

Para river warriors dari River Cleanup Indonesia dan warga mengambil sampah di Sungai Cikakak, Liogenteng, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astaanyar, Bandung, 19 September 2026.  (Foto: Muhammad Jadid/BandungBergerak)
Para river warriors dari River Cleanup Indonesia dan warga mengambil sampah di Sungai Cikakak, Liogenteng, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astaanyar, Bandung, 19 September 2026. (Foto: Muhammad Jadid/BandungBergerak)

Sungai sebagai Ruang Bersama

Upaya membangun kesadaran lingkungan di Cipaganti juga dilakukan melalui seni. Komunitas ledeng.ledeng.ledeng menampilkan musikalisasi puisi yang mengangkat alam dan lingkungan.

Hasbi, 26 tahun, pembina komunitas ledeng.ledeng.ledeng, mengatakan komunitas tersebut berisi warga Ledeng yang ingin mengaktivasi ruang publik untuk merespons persoalan di lingkungan sekitar melalui seni.

“Di puisi itu disampaikan bahwa alam itu sebagai ibu dan kita sebagai anaknya yang harus memiliki sinergitas ya teman-teman kayak gitu,” katanya.

Pertunjukan tersebut memadukan gitar elektrik, suling, dan kontrabas. Aksi ngabeluk sambil menyiram tanaman juga menjadi bagian dari pertunjukan.

Aben, 22 tahun, music director sekaligus warga lokal Ledeng, mengatakan pertunjukan tersebut berusaha menggabungkan musik sebagai suara dan musik sebagai visual. Bagi dia, musik tidak hanya berkaitan dengan estetika, tetapi juga dapat membawa narasi dan menyampaikan keresahan yang berasal dari lingkungan sekitar.

“Nah, akhirnya eh itu tuh bisa jadi acuan bahwa musik tuh enggak harus estetiknya doang gitu, tapi dengan narasi yang jelas, terus menyuarakan keresahan gitu ya tentang di dekat kita.” katanya. 

Di Cikakak menunjukkan pentingnya pengelolaan sampah dari tingkat warga, sementara di Cipaganti memperlihatkan pentingnya melihat sungai sebagai bagian dari ekosistem yang menghubungkan hulu, hilir, komunitas, dan ruang hidup masyarakat. Dua kegiatan ini menegaskan: menjaga sungai membutuhkan perubahan yang berlangsung setelah kegiatan bersih-bersih selesai.

***

*Reportase ini dikerjakan reporter BandungBergerak Bagea Awi Dan Heni dan Muhammad Jadid Alfadlin

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//