• Berita
  • Forgotten: Melawan Sampai Akhir Hidup

Forgotten: Melawan Sampai Akhir Hidup

Lima belas tahun setelah Laras Perlaya, Forgotten kembali menengok musik, luka sosial, dan ruang hidup yang membentuk perlawanan mereka.

Band Forgotten meluncurkan film dokumenter 15 Tahun Album Laras Perlaya di Bandung, Rabu, 30 September 2026. (Foto: Riyan D Apriliyana/BandungBergerak)

Penulis Ryan D.Afriliyana 3 Oktober 2026


BandungBergerak - Band cadas Forgotten meluncurkan film dokumenter 15 Tahun Album Laras Perlaya di Ludo Sports Kitchen, Jalan Kiara Artha, Rabu, 30 September 2026. Film ini menampilkan potongan-potongan video tentang kawan lama, kru, serta manajemen yang pernah dan masih mendukung perjalanan Forgotten. Semangat perlawanan menjadi nuansanya.

Perlawanan sendiri, bagi Forgotten, bukan slogan musiman. Di usia yang tak lagi muda, makna perlawanan bagi mereka justru menjadi semakin personal dan dekat dengan persoalan sehari-hari.

"Keseharian kita kan banyak yang harus dilawan, melawan rasa berat, token listrik habis, persoalan sebagai kepala keluarga yang mesti pandai berhitung menyelesaikan persoalan keseharian," ungkap Rifki, drumer Forgotten Band, kepada BandungBergerak di sela-sela acara.

Menurut Rifki, perlawanan pada akhirnya berkaitan dengan keberlangsungan hidup. Ketika kita berhenti melawan, sambung dia, artinya kita berhenti untuk hidup. Pernyataan ini sejalan dengan perjalanan Forgotten yang sejak awal menjadikan musik sebagai medium untuk merespons realitas sosial di sekitarnya.

Sementara itu, album Laras Perlaya diambang bukan sekadar kumpulan lagu. Di tengah perkembangan industri musik yang semakin dipengaruhi tren digital, album yang dirilis pada Juli 2011 itu menjadi catatan perjalanan sekaligus refleksi atas perubahan sosial yang mereka saksikan.

Forgotten menyebut Laras Perlaya sebagai semacam kitab tafsir yang merekam kegelisahan sebuah komunitas di tengah perubahan ruang hidup dari kawasan agraris menuju kawasan industri. Gagasan tersebut kembali dibicarakan dalam peluncuran film dokumenter yang menandai 15 tahun album tersebut.

Bagi Addy Gembel, vokalis Forgotten, lirik-lirik dalam Laras Perlaya memuat kritik sosial dan politik yang tetap relevan. Lagu seperti “Trias Demonica”, “Surga Metafora”, dan “Bantai Patronasi” masih dianggap berkaitan dengan persoalan sosial hari ini.

“Jadi artinya kita yang enggak berubah atau negara ini yang tidak berubah?” ujar Addy.

Menurut Addy, pertanyaan itu muncul karena sejumlah persoalan yang mereka kritik melalui album tersebut masih dapat ditemukan 15 tahun kemudian.

Band Forgotten meluncurkan film dokumenter 15 Tahun Album Laras Perlaya di Bandung, Rabu, 30 September 2026. (Foto: Riyan D Apriliyana/BandungBergerak)
Band Forgotten meluncurkan film dokumenter 15 Tahun Album Laras Perlaya di Bandung, Rabu, 30 September 2026. (Foto: Riyan D Apriliyana/BandungBergerak)

Jejak Forgotten di Ujungberung

Perjalanan Forgotten tidak dapat dilepaskan dari komunitas musik cadas Homeless Crew di Ujungberung. Kawasan di timur Kota Bandung itu menjadi salah satu ruang tumbuh skena musik bawah tanah yang kemudian melahirkan sejumlah kelompok musik metal.

Ujungberung juga mengalami perubahan akibat perkembangan industri dan permukiman. Bagi para personel Forgotten, perubahan tersebut merupakan bagian dari pengalaman sehari-hari yang kemudian masuk ke dalam karya mereka.

"Kita melihat langsung yang depan kita asalnya sawah itu tiba-tiba dalam hitungan berapa bulan tiba-tiba ada pabrik. Tiba-tiba orang-orang entah dari mana pada datang, kos-kosan ramai," kenang Addy.

Data BPS Kota Bandung mencatat jumlah penduduk Kecamatan Ujungberung sekitar 98.886 jiwa dengan kepadatan penduduk sekitar 15.847 jiwa per kilometer persegi. Sementara itu, data Open Data menunjukkan kawasan Bandung Timur menghadapi tekanan alih fungsi lahan sawah seiring perkembangan kawasan perkotaan.

Dalam konteks tersebut, Forgotten berkembang sebagai bagian dari kultur tandingan. Band ini terbentuk pada 1994 dengan formasi awal Addy Gembel (vokal), Ferly dan Toteng (gitar), Kardun (bass), serta Kudung (drum).

Musik kemudian menjadi salah satu medium bagi mereka untuk merespons kondisi sosial di lingkungan tempat tinggalnya. Di tengah kepadatan permukiman, debu jalanan, dan perkembangan industri, musik keras menjadi ruang katarsis bagi para personel Forgotten.

"Beruntung kita diselamatkan oleh musik. Kita tidak lari ke hal lain untuk mencari katarsis, tidak mencoba menjadi preman, gangster, atau dealer," tegas mereka.

Perjalanan Forgotten kemudian terus berkembang. Pada Januari 1997, mereka merilis album pertama, Future Syndrome. Setahun kemudian, mereka merilis Obsesi Mati Promo Tape 98 yang berisi dua lagu.

Pada periode tersebut, Ferly mengundurkan diri ketika Forgotten terlibat dalam sejumlah proyek kompilasi. Proses pengerjaan album kedua dimulai pada Februari 2000 dan dirilis pada Agustus tahun yang sama. Setelah itu, Rifki bergabung sebagai pemain drum dan Gangan sebagai gitaris.

Pada Maret 2003, Forgotten merilis Tiga Angka Enam melalui Rottrevore Records. Pada tahun yang sama, Andris mengundurkan diri dari posisi drum dan sempat digantikan oleh pemain drum Motor Death. Pada 2006, Rottrevore Records merilis split video Forgotten bersama Disinfected, Jasad, dan Siksakubur.

Dari sejumlah karya Forgotten, Laras Perlaya memiliki posisi penting karena memadukan death metal dengan Tarawangsa, musik tradisi Sunda yang berkembang antara lain di Rancakalong, Sumedang.

Bagi Forgotten, perpaduan tersebut bukan sekadar eksperimen musikal. Tarawangsa dipilih karena karakter musiknya yang dianggap sesuai dengan narasi kematian yang menjadi salah satu tema dalam album. 

Keputusan Forgotten jatuh pada Tarawangsa bukan karena dorongan eksotisme tradisionalisme. Menurut Addy, karakter musik yang gelap dan mistis dinilai klop dengan narasi kematian dalam album tersebut.

Baca Juga: Menyusuri Jejak Skena Musik Metal di Ujungberung
Tragedi AACC 14 Tahun Lalu, masihkah Bandung Takut pada Musik Underground?

"Kolaborasi itu sebuah proses yang bisa saling memahami. Ada proses negosiasi ego di situ, tawar-menawar," ujar Addy.

Proses tersebut tidak berlangsung sederhana. Gangan mengatakan, musik tradisi memiliki keterikatan kuat dengan pakem adat, sementara musik modern cenderung lebih bebas dalam proses penciptaannya.

Salah satu tantangan utama adalah menyelaraskan laras atau tuning frekuensi. Melalui proses kreatif di Rancakalong, kedua bentuk musik tersebut akhirnya dapat dipertemukan tanpa menghilangkan karakter Tarawangsa.

Bagi Gangan, pertemuan death metal dan musik tradisional juga membuka ruang baru bagi kedua ekosistem musik tersebut.

“Ketika ini digabung ya lumayan ngasih impact yang bagus. Menariknya akhirnya secara tidak langsung kita membantu ekosistem musik tradisional jadi meningkat,”

Musik Forgotten sendiri sejak awal tidak terlepas dari lingkungan sosial tempat mereka tumbuh. Lirik-liriknya kerap mengangkat realitas sosial dengan pilihan kata yang kasar, vulgar, dan satir.

Dalam perkembangannya, pengaruh antargenre juga menjadi bagian dari proses penciptaan musik. Bagi Forgotten, musik tidak lahir dalam ruang yang sepenuhnya terpisah dari pengaruh lain. Pertemuan berbagai pengaruh tersebut dapat melahirkan bentuk dan genre baru.

15 Tahun Laras Perlaya

Film dokumenter 15 Tahun Album Laras Perlaya menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan perjalanan Forgotten sekaligus ekosistem yang menopang keberlangsungan mereka. Film ini merupakan karya Borderless Scene yang didukung Hailstrom,

Rizki dari Borderless Scene melihat dokumenter tersebut sebagai semacam panduan mengenai bagaimana sebuah band dapat dibangun dan dikelola melalui kerja kolektif. Film tersebut juga menunjukkan bagaimana sebuah band dibentuk.

“Melalui karya ini, kita bisa melihat bahwa kita masih memiliki semangat kolektif dan kekeluargaan,” tutur Rizki.

Menurut Rizki, perjalanan Forgotten juga memperlihatkan pentingnya ekosistem dan komunikasi dalam menjaga keberlangsungan sebuah kelompok musik sejak 1994 hingga kini. Ia mengaku terharu ketika kembali menyaksikan potongan-potongan video lawas tentang perjalanan Forgotten.

“Mudah-mudahan dokumenter ini bisa menjadi pemantik agar api Forgotten menyala lebih besar lagi ke depannya," ucap Rizki.

Setelah peluncuran dokumenter ini, Forgotten bersama Hailstrom telah merancang rencana untuk lima tahun ke depan. Apa bentuknya? Tunggu saja.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB 

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//