• Cerita
  • Panggung Kesetaraan di Saung Anglung Udjo

Panggung Kesetaraan di Saung Anglung Udjo

Angklung Toél membuka ruang bagi siswa SLB untuk memainkan musik, tampil di hadapan publik, dan menunjukkan bahwa panggung budaya dapat menjadi ruang kesetaraan.

Konser angklung toel di Saung Angklung Udjo, Bandung, Jumat, 25 September 2026. (Foto: Abimanyu Ismoyo Santoso/BandungBergerak)

Penulis Tim Redaksi4 Oktober 2026


BandungBergerak - Semerbak wangi dupa menyebar halus di antara riuh tribun pementasan Saung Angklung Udjo, Bandung. Di bawah udara sejuk yang diselingi hangatnya paparan sinar matahari, sekitar 350 penonton dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia, memadati deretan bangku tribun.

Namun, pementasan pada Jumat, 25 September 2026, itu terasa berbeda. Di atas panggung, denting alat musik berbahan bambu tidak lagi sekadar melantunkan nada-nada yang mendayu. Alunan lagu bergenre pop hingga Electronic Dance Music (EDM) menghentak arena, dimainkan secara presisi oleh para penampil dalam sebuah kolaborasi inklusif antara penampil umum dan siswa-siswi Sekolah Luar Biasa (SLB) lintas ragam disabilitas.

Mereka memainkan Angklung Toél, sebuah alat musik bambu hasil inovasi Yayan Mulyana Udjo yang lahir dari keresahan atas sulitnya berganti kunci dengan cepat pada angklung tradisional. Berbeda dari instrumen konvensional yang digoyangkan, Angklung Toél dimainkan dengan cara ditoél.

Melalui bilah-bilah bambu tersebut, para penampil menunjukkan bahwa batasan fisik bukan penghalang untuk mengembangkan kemampuan musikal. Di tengah gemuruh tepuk tangan penonton, sebuah kalimat dengan lantang terucap dari sang vokalis yang bernama Didin berasal dari SLBN Taruna Mandiri Kuningan:

“Kami ada bukan untuk dikasihani, tapi untuk dipahami.”

Pernyataan tersebut menjadi penegas bahwa kehadiran mereka di panggung budaya bukan sekadar pameran rasa iba, melainkan sebuah wujud dari kesetaraan atas karyanya. Pesan tersebut tergambar dalam Touch of Harmony: The Evolution of Angklung Toél, konser yang secara khusus menceritakan perjalanan Angklung Toél, dari akar tradisi hingga inovasi masa kini.

Konser berlangsung di Saung Angklung Udjo pada Jumat, 25 September 2026, dimulai pukul 08.30 pagi. Pertunjukan dibuka untuk umum tanpa biaya masuk dan didukung oleh Kementerian Kebudayaan melalui program Dana Indonesiana, yang kini disebut sebagai Dana Indonesia Raya. 

Sebelum pertunjukan dimulai, penonton terlebih dahulu menyanyikan lagu Indonesia Raya yang hanya diiringi instrumen Angklung Toél dan drum akustik. Pertunjukan kemudian dibuka dengan karya orisinal Kang Yayan berjudul “Angklung Toél”.

Komposisi tersebut tidak hanya menggunakan angklung, tetapi juga berpadu dengan drum akustik, saxophone, kendang, dan tiga vokalis. Tujuh penari turut melengkapi penampilan pembuka. 

Rangkaian pertunjukan berikutnya memperlihatkan berbagai kemungkinan aransemen angklung. Azay and Friends tampil dengan arumba angklung dan di pertengahan lagu menyelipkan teknik call and response, yang disebut juga sebagai “berpantun”. Sementara itu, Manshur Angklung membawakan lagu-lagu nasional dengan menggabungkan Angklung Toél dan musik upbeat EDM yang disambut tepuk tangan meriah dari penonton.

Perhatian kemudian beralih pada _special performance_ siswa-siswi dari berbagai SLB di Jawa Barat. Jumlah penampil didominasi oleh SLBN Taruna Mandiri Kuningan. Mereka membawakan lagu “Ayah” karya Rinto Harahap dan “Bunda” dari Potret. 

Didin, selaku vokalis dari SLBN Taruna Mandiri, mengungkapkan bahwa kedua lagu tersebut dipersembahkan untuk orang tercinta. “Spesial untuk ayah dan bunda yang hebat yang telah mengurus kami, terima kasih,” katanya di akhir lagu, sebelum akhirnya mengakhiri penampilan spesial mereka dengan membawakan lagu Jangan Menyerah - D’Masiv.

Kang Yayan juga tampil membawakan karya periode romantik yang menggunakan form music jenis Waltz berjudul Donauwellen Walzer karya komponis asal Romania, Iosif Ivanovici. Karya tersebut kemudian diaransemen kembali menggunakan instrumen Angklung Toél dan berbagai alat musik modern.

Kemeriahan puncak acara turut menghadirkan kolaborasi antara para perempuan dari komunitas Layung Wanoja dan para penyandang disabilitas dari berbagai SLB. Mereka membawakan lagu Koes Plus berjudul “Kapan-Kapan”.

Konser angklung toel di Saung Angklung Udjo, Bandung, Jumat, 25 September 2026. (Foto: Abimanyu Ismoyo Santoso/BandungBergerak)
Konser angklung toel di Saung Angklung Udjo, Bandung, Jumat, 25 September 2026. (Foto: Abimanyu Ismoyo Santoso/BandungBergerak)

Dari Kesulitan Berganti Kunci hingga Lahirnya Angklung Toél

Kemampuan Angklung Toél untuk merespons lagu bertempo cepat berawal dari pengalaman Yayan Mulyana Udjo, 67 tahun. Ia membuat Angklung Toél pertama kali pada 2008 karena sering merasa kesulitan memainkan lagu-lagu bertempo cepat jika hanya menggunakan angklung yang biasa.

Pada awal penciptaannya, Yayan terinspirasi dari anak-anak yang sedang bermain karet. Elastisitas karet kemudian ia gunakan sebagai penghantar getaran sekaligus penggantung angklung.

“Saya terinspirasi lihat mereka anak-anak main karet. Karet kan elastis digunakanlah karet untuk media sebagai getarannya supaya kondisinya dan lebih lebih cepat gitu,” ujar Yayan.

Seiring berjalannya waktu, Angklung Toél mulai dikembangkan dengan menggunakan per tarik. Bagi Yayan, inovasi tersebut bukan hanya untuk menjawab persoalan teknis. Ia ingin angklung terus mengikuti arus musik-musik zaman sekarang yang menurutnya cenderung bertempo cepat dan menjadi daya tarik anak muda. Karena itu, Angklung Toél lebih mudah diaransemen ke lagu-lagu bergenre pop, rock, metal, dan sebagainya.

Perkembangan instrumen tersebut kemudian turut memengaruhi proses aransemen. Dalam persiapan penampilan siswa SLBN Taruna Mandiri, misalnya, aransemen dikembangkan secara langsung dengan mencoba tempo dan kecepatan lagu.

Dengan demikian, inovasi Angklung Toél tidak hanya terjadi pada bentuk dan mekanisme instrumen, tetapi juga pada cara musik dipelajari, disusun, dan dimainkan.

Perubahan pada instrumen itu kemudian menemukan fungsi lain dalam proses pembelajaran musik bagi siswa dengan berbagai ragam disabilitas. Di balik keharmonisan nada di panggung Saung Angklung Udjo, terdapat metode pembelajaran yang menghubungkan siswa tunanetra, tunarungu, hingga siswa dengan hambatan intelektual dalam satu kelompok yang tampil bersama penampil lainnya.

Angklung Toél dirancang dengan susunan menyerupai tuts keyboard. Nada-nada pokok berada di baris bawah, sementara nada sisipan diletakkan di baris atas. Tata letak ini membantu tunanetra yang mengandalkan kepekaan audio dan teknik perabaan.

“Kita banyaknya melalui audio dan melalui perabaan. Jadi diperkenalkan dulu mana posisi nada C, mana posisi nada sisipannya,” terang Sunarto, guru dan pelatih musik di SLB Cileunyi.

Pendekatan berbeda digunakan untuk siswa yang memiliki hambatan pendengaran atau tunarungu. Nurmayanti Safitri, guru Pendidikan Khusus dari SLBN Taruna Mandiri Kuningan, menjelaskan bahwa kolaborasi dilakukan dengan memadukan Angklung Toél dan Angklung Tradisional (goyang).

“Untuk anak dengan hambatan pendengaran, mereka bisa melihat visual tetapi tidak bisa mendengar. Ketika mengajarkan sebuah chord atau kunci nada, saya menerjemahkannya ke dalam bahasa isyarat huruf, seperti A, B, atau C. Misalnya kunci nomor 1 itu gabungan beberapa nada, saya kasih kodenya pakai isyarat A, B, atau C ke anak tunarungu. Jadi ketika ada instruksi kode 1, mereka tahu kapan harus menggoyangkan angklungnya,” papar Nurmayanti.

Guru berusia 32 yang kerap kali dipanggil Elsa tersebut merupakan guru musik di SLB Taruna Mandiri sekaligus instruktur musik bagi pemain Angklung tradisional. Ia mengatakan bahwa nada di Angklung Toél masih sama seperti Angklung pada umumnya.

Secara teknis latihan, Elsa menggunakan kode visual dari tangan seperti bahasa isyarat untuk menunjukkan pergerakan lagu dan not kepada pemain Angklung tradisional yang tunarungu. Sementara itu, bagi tunanetra, Angklung Toél dinilai lebih sesuai karena dapat dimainkan dengan cara disentuh dan dieksplorasi secara langsung. 

Proses latihan tersebut kemudian dievaluasi secara berkala melalui video yang dikirim kepada Pak Yayan untuk dikoreksi. Pola latihan ini membuat proses pembelajaran tidak berhenti pada penguasaan instrumen, tetapi terus bergerak melalui latihan, evaluasi, dan perbaikan.

Baca Juga: SUARA SETARA: Pelaku Kekerasan Seksual pada Warga Difabel kerap Lolos, karena Kesaksian yang Kurang Valid atau Sistem Hukumnya tidak Inklusif?
Pembangunan Sistem Sanitasi Berbasis Gender

Dari Bandung hingga Kuningan

Pengembangan Angklung Toél ramah disabilitas tidak hanya berpusat di Kota Bandung, tetapi merambah hingga kabupaten. Salah satu motor penggeraknya adalah Kokoy Ikurnaeti, 53 tahun, Kepala Sekolah SLBN Taruna Mandiri Kabupaten Kuningan. Kokoy, yang juga seorang penyandang tunanetra, memiliki rekam jejak panjang dalam dunia pendidikan khusus.

Berawal mendirikan sekolah yayasan pribadi yang kemudian dihibahkan menjadi sekolah negeri ada 2008, ia membuktikan kapasitasnya dengan lulus seleksi terbuka kepala sekolah bersama peserta non-disabilitas. Ia mengenang awal mula hadirnya Angklung Toél di sekolahnya yang sempat diwarnai kesalapahaman.

“Gambaran saya awalnya itu Angklung Toél pakai setrum atau listrik. Ternyata ditowel, ini sangat tepat untuk anak tunanetra,” tutur Kokoy ketika memberi pesan di atas panggung.

Setelah mengetahui mekanisme instrumen tersebut, Angklung Toél kemudian dikembangkan sebagai bagian dari pembelajaran musik di sekolah. Kehadirannya menjadi salah satu cara bagi siswa tunanetra untuk berinteraksi dengan instrumen melalui sentuhan.

Pengembangan ini ditopang oleh komitmen Yayan Mulyana Udjo. Yayan rutin menempuh perjalanan Bandung-Kuningan setiap dua minggu sekali untuk melatih langsung para siswa.

“Pa Yayan intens dan konsisten datang melatih anak-anak kami dengan dipandu Bu Elsa. Beliau memberikan instrumen dan pelatihan dengan ketulusan luar biasa,” tambah Kokoy.

Proses pendampingan yang dilakukan secara konsisten juga membuka kemungkinan bagi siswa untuk melanjutkan keterampilan musik ke jenjang berikutnya. Salah satunya terlihat dari alumni binaan SLB Cileunyi yang berhasil menembus pendidikan tinggi di program studi Musik Bambu ISBI Bandung.

Namun, instrumen yang lebih mudah dimainkan belum otomatis membuat seluruh pengalaman bermusik menjadi aksesibel. Ruang pertunjukan juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan.

Pihak Saung Angklung Udjo telah menyiapkan sejumlah infrastruktur dan penanganan khusus. Untuk pengunjung maupun penampil disabilitas fisik, tersedia jalur khusus (ramp) serta area tempat duduk tersendiri. Pengelola juga menyiagakan tim pendamping khusus untuk membantu mobilitas pengunjung disabilitas selama pementasan berlangsung, termasuk pendampingan intensif bagi para siswa disabilitas netra yang tampil hari itu.

Kendati pendampingan personil dan jalur khusus sudah tersedia, upaya penyempurnaan fasilitas fisik secara mandiri tetap menjadi ruang evaluasi bersama. Kontur tangga tribun utama serta perabaan bagi pengunjung yang beraktivitas tanpa pendamping masih memerlukan penyelarasan berkala, agar prinsip aksesibilitas universal benar-benar terwujud tanpa celah.

Dengan begitu, inklusivitas tidak hanya berbicara tentang siapa yang tampil di atas panggung, tetapi juga tentang bagaimana seseorang dapat mengakses dan mengalami ruang pertunjukan. Di sisi lain, keberlanjutan angklung di Saung Angklung Udjo juga ditopang oleh ekosistem lingkungan sekitar. Kehadiran kelompok angklung perempuan yang berisikan 120 anggota berasal dari 13 RW Pasirlayung bernama Layung Wanoja menjadi bukti bahwa Angklung Udjo telah menyatu dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Kelompok ini memegang peran krusial dalam menjaga regenerasi di tengah gempuran zaman yang mendorong untuk melakukan resiliensi. Kolaborasi Layung Wanoja dengan para penyandang disabilitas dalam membawakan “Kapan-Kapan” di penghujung konser menjadi gambaran konkret dari pertemuan antara tradisi yang hidup di masyarakat dan ruang baru yang dibuka melalui inovasi.

Di panggung itu, Angklung Toél tidak berdiri sendirian. Ia hadir bersama angklung tradisional, musik modern, guru, pelatih, siswa, komunitas masyarakat, serta penonton yang menyaksikan seluruh proses tersebut.

Perjalanan Angklung Toél yang bermula dari upaya mempercepat permainan angklung akhirnya membuka kemungkinan lain: sebuah instrumen dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan musik sekaligus memperluas siapa saja yang dapat mengambil bagian di dalamnya.

Bagi siswa SLB yang tampil hari itu, panggung bukan sekadar tempat memainkan nada. Di sana, mereka menunjukkan hasil dari proses latihan, menerjemahkan musik melalui cara yang sesuai dengan kemampuan masing-masing, dan berdiri sebagai penampil di hadapan ratusan penonton.

Tepuk tangan pun menjadi bagian dari pertunjukan. Di antara riuh tepuk tangan itulah, suara Didin kembali menjadi penanda paling sederhana tentang mengapa panggung tersebut penting: “Kami ada bukan untuk dikasihani, tapi untuk dipahami”

 

 

*Reportase ini dikerjakan reporter BandungBergerak Abimanyu Ismoyo Santoso dan Bagea Awi Dan Heni

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//