• Berita
  • Empat Tahun Tragedi Kanjuruhan, Solidaritas untuk Korban Menggema di Bandung

Empat Tahun Tragedi Kanjuruhan, Solidaritas untuk Korban Menggema di Bandung

Bobotoh, Aremania Bandung, pelajar, warga, dan orang-orang yang tidak pernah menonton sepak bola mengingat korban Tragedi Kanjuruhan.

Ratusan orang memperingati Tragedi Kanjuruhan di Taman Cikapayang, Bandung, Kamis, 1 Oktober 2026. (Foto: Nida Nurhamidah/BandungBergerak)

Penulis Nida Nurhamidah 6 Oktober 2026


BandungBergerak - Orang-orang memadati Harianbangga, Bandung, pada Kamis sore, 1 Oktober 2026. Sebuah banner bertuliskan “Kanjuruhan Massacre” terbentang di antara kerumunan. Empat tahun setelah tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, nama 135 orang kembali disebut. Para solidaritas datang bukan untuk menonton pertandingan atau merayakan kemenangan, melainkan untuk mengingat orang-orang yang kehilangan nyawa setelah laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya pada 1 Oktober 2022.

Ratusan orang kemudian berjalan menuju Taman Cikapayang. Sepanjang perjalanan, suara mereka bersahutan: “135 itu bukan angka. 135 itu korban jiwa. Arek-arek Malang kalian tak sendiri. Arek-arek Malang kalian tak sendiri.”

Di sekitar Taman Cikapayang, aparat sudah berjaga. Malam itu menjadi pertemuan antara duka dan ingatan. Nama-nama korban dibacakan, doa dilantunkan, lilin dinyalakan. Untuk beberapa saat, sekat yang biasanya membedakan kelompok suporter seperti kehilangan maknanya. Bobotoh, Aremania Bandung, pelajar, warga, bahkan orang-orang yang tidak pernah menonton bola, berkumpul untuk mengenang mereka yang tidak pernah pulang dari Stadion Kanjuruhan.

Empat tahun berlalu, pertanyaan tentang Kanjuruhan belum selesai. Bagi keluarga korban dan pendamping, persoalannya bukan hanya tentang bagaimana 135 orang meninggal, tetapi juga tentang bagaimana negara mempertanggungjawabkan tragedi tersebut dan memastikan peristiwa serupa tidak kembali terjadi. Bagi sebagian orang yang datang malam itu, Kanjuruhan bahkan tidak lagi semata-mata perkara sepak bola.

“Ini bukan tentang sepak bola, tapi ini tentang hati nurani manusia,” kata Boim, pelajar kelas dua SMA yang datang ke aksi solidaritas tersebut.

Boim datang ke aksi solidaritas bersama teman-temannya setelah pulang sekolah. Ia mengaku tidak terlalu mengikuti sepak bola. Ketika kecil, ia justru pernah menjadi Aremania sebelum kemudian mendukung Persib.

Namun ia datang karena melihat Kanjuruhan sebagai persoalan kemanusiaan. Bagi Boim, Kanjuruhan juga menjadi pengingat tentang bagaimana negara seharusnya menggunakan kewenangannya ketika menghadapi situasi yang dianggap kacau.

“Ini tuh tentang nyawa, ini tentang kemanusiaan, ini tentang sesuatu hal yang tidak bisa disepelekan,” katanya.

Boim pernah mengalami sendiri situasi ketika berhadapan dengan aparat. Pada awal 2025, ia sedang berjalan kaki ketika tanpa mengetahui adanya aksi demonstrasi, seorang polisi menariknya. Ia kemudian diperiksa dan telepon selulernya dicek. Setelah aparat memastikan ia tidak berkaitan dengan demonstrasi tersebut, ia diperbolehkan pergi.

Kejadian itu mungkin berlangsung singkat. Namun bagi Boim, pengalaman tersebut meninggalkan rasa takut yang masih ia ingat sampai sekarang. Ketika mengikuti aksi solidaritas Kanjuruhan dan melihat banyak aparat berjaga di sekitar lokasi, ia mengaku takut.

“Dibilang takut, aku takut banget,” katanya.

Meski begitu, ia tetap datang. Baginya, rasa takut tidak menghapus persoalan yang ingin diingat bersama. Ia juga merasa anak muda perlu memahami persoalan seperti ini sejak dini. Menurutnya, menjadi pelajar bukan alasan untuk tidak memahami politik, hukum, maupun persoalan yang terjadi di masyarakat. Meskipun, ia mengatakan bahwa kasus-kasus pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara tidak pernah terdengar di ruang kelas.

“Kita harus memahami hal-hal seperti ini tuh sejak kita remaja,” ujarnya.

Tragedi Kanjuruhan sendiri terjadi pada 1 Oktober 2022, ketika pertandingan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya. Setelah pertandingan yang berakhir dengan kemenangan Persebaya 2-0, sejumlah suporter masuk ke lapangan. Situasi kemudian direspons aparat keamanan dengan penggunaan gas air mata di dalam stadion.

Tragedi tersebut menewaskan 135 orang dan menyebabkan ratusan lainnya mengalami luka. Data yang dikutip dalam kajian hukum mengenai perkara Kanjuruhan mencatat 782 korban, terdiri dari 135 orang meninggal, 24 luka berat, dan 623 luka ringan atau sedang. Sebanyak 191 korban di antaranya merupakan anak-anak.

Kanjuruhan kemudian menjadi salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah sepak bola Indonesia. Namun empat tahun setelahnya, pertanyaan mengenai pertanggungjawaban belum sepenuhnya selesai.

KontraS, dalam catatannya memperingati empat tahun tragedi Kanjuruhan, menilai proses pengungkapan dan penuntasan perkara masih jauh dari harapan korban dan keluarga korban. Organisasi tersebut mempertanyakan mengapa proses hukum lebih banyak berhenti pada aktor lapangan, sementara pertanggungjawaban terhadap pihak yang memiliki kedudukan lebih tinggi belum terungkap secara menyeluruh.

Lima orang telah diproses dan dijatuhi hukuman dalam perkara pidana Kanjuruhan, yakni mantan Kabag Ops Polres Malang Kompol Wahyu Setyo Pranoto, mantan Kasat Samapta Polres Malang AKP Bambang Sidik Achmadi, Danki 3 Brimob Polda Jawa Timur AKP Hasdarmawan, Ketua Panpel Arema FC Abdul Haris, dan Security Officer Suko Sutrisno. Kajian hukum yang diajukan dalam perkara restitusi juga mencatat bahwa dari enam orang yang sempat ditetapkan sebagai tersangka, lima kemudian didakwa di persidangan.

Ratusan orang memperingati Tragedi Kanjuruhan di Taman Cikapayang, Bandung, Kamis, 1 Oktober 2026. (Foto: Nida Nurhamidah/BandungBergerak)
Ratusan orang memperingati Tragedi Kanjuruhan di Taman Cikapayang, Bandung, Kamis, 1 Oktober 2026. (Foto: Nida Nurhamidah/BandungBergerak)

Keadilan yang Masih Dinanti

Dedi, salah satu pembina Aremania Bandung, telah tinggal di Bandung selama 21 tahun. Ia berasal dari Malang dan mengikuti peringatan Kanjuruhan sebagai bentuk untuk “menolak lupa”.

“Bagaimanapun juga kita masih tetap menuntut keadilan yang selama ini kita tunggu-tunggu,” katanya.

Ia tidak berada di Malang ketika tragedi terjadi. Namun dari saudara-saudaranya di Malang, ia mengetahui bagaimana situasi berlangsung. Menurut cerita yang diterimanya, gas air mata ditembakkan ke arah tribun yang dipenuhi penonton.

“Kenapa harus ditembakin ya ke tribun yang banyak anak-anak dan banyak orang-orang perempuan dan orang-orang tua yang di atas itu kan enggak tahu apa-apa,” ujarnya.

Empat tahun kemudian, Dedi mengatakan Aremania di Malang masih berusaha mendorong penuntasan perkara. Menurutnya, belum ada perkembangan yang berarti dalam upaya tersebut.

Di tengah penantian itu, dalam laporan KontraS sebagian keluarga korban juga harus menerima hasil restitusi yang nilainya jauh di bawah permohonan mereka. Pada tingkat pertama, Pengadilan Negeri Surabaya pada Desember 2024 menetapkan restitusi untuk 63 korban meninggal masing-masing 15 juta rupiah dan delapan korban luka masing-masing 10 juta rupiah. Nilai tersebut kemudian turun dalam putusan banding menjadi 10 juta rupiah bagi korban meninggal dan 5 juta rupiah bagi korban luka. LPSK sebelumnya memfasilitasi permohonan restitusi dengan nilai jauh lebih besar.

Baca Juga: Mengingat Empat Tahun Tragedi Kanjuruhan di Bandung
Dari Bandung untuk Korban Tragedi Kanjuruhan, Gas Air Mata tak Sebanding dengan Air Mata Ibu

Ketika Keresahan Bertemu

Pengalaman Kanjuruhan memiliki konteksnya sendiri. Begitu pula pengalaman warga Dago Elos dalam menghadapi konflik ruang hidup mereka. Keduanya tidak terjadi dalam situasi yang sama. Namun, ketika warga Dago Elos hadir dalam aksi solidaritas Kanjuruhan pada 1 Oktober 2026, mereka membawa ingatan atas pengalaman brutalitas aparat yang pernah terjadi pada mereka.

Beberapa warga Dago Elos datang ke Taman Cikapayang untuk turut memperingati empat tahun tragedi Kanjuruhan. Mereka mengatakan kehadiran itu merupakan bentuk solidaritas kepada keluarga korban yang kehilangan anggota keluarganya.

Ayang, 47 tahun,  perwakilan Forum Dago Melawan, mengatakan ia hadir dalam solidaritas ini untuk mengingatkan pada keluarga korban bahwa mereka tidak sendiri. Ia ikut merasakan kesedihan para ibu dari 135 orang penonton tersebut.

“Mengingatkan pula agar kehati-hatian rakyat terhadap aparat jangan sampai padam dan jangan pernah percaya pemerintah. Ironis memang, tapi itulah kenyataannya,” ujar Ayang.

Bagi warga Dago Elos, Kanjuruhan juga mengingatkan pada peristiwa 14 Agustus 2023 di Dago Elos. Warga menyebut kedua peristiwa tersebut memiliki pengalaman yang menurut mereka beririsan, terutama terkait penggunaan gas air mata. Pengalaman itu meninggalkan rasa sesak yang tidak mudah dilupakan.

“Kami sama-sama diserang oleh para aparat dengan gas air mata,” ujar perwakilan warga tersebut. Menurut mereka,

Namun, mereka tidak datang dengan anggapan bahwa Kanjuruhan dan Dago Elos merupakan peristiwa yang identik. Yang mereka kenali adalah pengalaman tentang rasa tidak aman ketika berhadapan dengan aparat dalam ruang yang seharusnya memberi perlindungan kepada warga.

Pertemuan pengalaman itulah yang membuat Kanjuruhan bergerak keluar dari batas stadion. Bukan berarti persoalan yang terjadi di stadion dapat disamakan begitu saja dengan konflik ruang hidup di Dago Elos. Namun, keduanya dapat menjadi pintu untuk membicarakan pertanyaan yang lebih luas: bagaimana aparat menggunakan kewenangannya ketika berhadapan dengan warga, dan bagaimana keselamatan warga seharusnya ditempatkan dalam situasi tersebut?

Pertanyaan serupa muncul dalam suara Obem, seorang Bobotoh berusia 24 tahun yang hadir dalam aksi solidaritas. Baginya, Kanjuruhan tidak cukup dibaca sebagai persoalan sepak bola.

“Ini bukan tentang siapa yang salah,” katanya.

Obem melihat tragedi tersebut sebagai persoalan yang melibatkan banyak pihak dan menunjukkan kegagalan dalam membangun sistem keselamatan yang mampu melindungi suporter. Ia menyebut penyelenggara, federasi, aparat, hingga negara sebagai pihak-pihak yang menurutnya perlu dievaluasi.

Namun, solidaritas yang muncul dalam peringatan Kanjuruhan juga menunjukkan bahwa hubungan antarsuporter tidak berhenti pada identitas klub. Obem mengatakan, “Pertama kita adalah sesama suporter dan kita adalah sesama masyarakat.”

Di ruang yang sama, identitas-identitas itu tetap melekat. Bobotoh tetap datang sebagai Bobotoh. Aremania membawa ingatan tentang Malang dan korban yang mereka kenal. Pelajar hadir dengan kegelisahannya sendiri. Warga Dago Elos membawa pengalaman perjuangan mempertahankan ruang hidup.

Mereka tidak memiliki pengalaman yang sama. Tetapi mereka bertemu dalam satu ruang karena sama-sama melihat pentingnya mengingat apa yang terjadi, menyampaikan duka, dan membicarakan kembali bagaimana keselamatan warga seharusnya dijamin.

Dari sana, solidaritas tidak lagi hanya berbicara tentang sepak bola. Ia menjadi pertemuan berbagai pengalaman warga yang sama-sama membawa keresahan tentang rasa aman, kekuasaan, dan perlindungan yang harusnya dijamin oleh negara.

Teruntuk Semua yang Dicintai

Di tengah lingkaran massa, 135 nama itu bukan lagi angka yang tercetak dalam laporan atau poster aksi. Mereka adalah manusia yang pernah hidup, dicintai, dan memiliki keluarga yang menunggu mereka pulang. Ada anak yang kehilangan orang tua, orang tua yang kehilangan anak, saudara yang kehilangan saudara, dan kawan yang tidak pernah lagi kembali bersama dari stadion.

Empat tahun telah berlalu. Sepak bola terus dimainkan. Suporter kembali memenuhi tribun. Pertandingan kembali berlangsung dan stadion kembali menjadi tempat orang-orang Mengenang Kanjuruhan bukan hanya tentang kembali pada malam 1 Oktober 2022. Ingatan juga membawa kita kepada kita saat ini ketika warga menonton pertandingan, berkumpul di jalan, menyampaikan pendapat, atau mempertahankan ruang hidupnya, apakah keselamatan mereka benar-benar dijamin?

Pertanyaan itu tidak selesai bersama padamnya lilin malam itu. Ia justru menjadi bagian dari alasan mengapa lilin terus dinyalakan, bunga terus ditaburkan, dan nama-nama korban terus disebut.

Malam itu, ketika massa mulai meninggalkan lokasi, suara mereka beralih ke chant yang biasa digaungkan suporter liverpool, You'll Never Walk Alone. Lagu yang mengiringi langkah mereka menjadi pesan solidaritas bagi keluarga korban bahwa kehilangan mereka tidak dilupakan dan perjuangan mereka tidak seharusnya dijalani sendirian.

"Walk on, walk on. With hope in your heart. And you'll never walk alone. You'll never walk alone."

Untuk nama-nama yang harus terus dikenang:

Muchamad Arifin, Moch Hashfi Al Wafi, Roni Setyawan Rizki Ramadan, Anggraeni Dwi Kurniasari, Viky Rohibala, Iwan Junaedi, Faiqotul Hikmah, Fillah Aziz Firmansyah, Elisabeth Agustin, Moh Rizki Darmawan, Gilang Surya Ramadani, Anik Hariani, Setyohadi Kurniawan, Hutriadi Hermanto, Ahmad Wahyudi, Jefri Ichlasul Amal, Ahmad Dani Safarudin, Moch. Tegar Ardian, Amel (18 tahun), Moch. Adib Husni, Muhammad Noval, Eko Viki Sulistyo, Hadiyatus Tsaniyah, Muhammad Ubaidillah, Alfinia Maharani Putri, Muhammad Teguh Wahyudi, Moh Bintang Pratama, Gebi Asta Putri Purwoko, Natasya Debi Ramadhani, Evi Nur Rosidah, Naila Debi Anggraini, Hendrik Gunawan, Radina Astrida Lutfifasar, Muhammad Hafizh Aprilianto, Audi Nesia Alfiari, Shifwa Dinar Artamevia, Bregi Andri Kusuma Anggi, Agus Riansyahpratama Putra, Gabriel Fernanda Yuda, Ratna Indriyani, Firman Nur Abidin, Muhamad Rizal Ilhamin, Gebby Setyawardana, Moh. Irsyad Al Juned, Citra Ayu Amelia, Salsa Yonas Octavia, Yohanes Revano Prasetyo, Munifa Latiful Iksan, Wildan Ramadani, Abian Hasyi Rifki, Andika Bayu Pradana, Afrilila Tri Putra, Revanya Salwa Syahrani, Fajar Yoyok, Andik Purwanto, Syahrulloh, Indhi Rahma Putri, Muh. Virdy Prayoga, Klarista Disca Saputri, Herlangga Aditama, Lutvia Damayanti, Mochamad Ali Muhtar, Nafisatul Mukhoyaroh, El Viduially, Sandi Sanjaya, Muhammad Mustofa, M. Rian Fauzi, Kaka Widad Samdya Adabi, Hadinata, Angger Aditya Permana, Linda Setya Restu Ningrat, Lamhadi Irawan, Wahyu Nur Utomo, Ach Nur Cahyo, Achmad Husen Rahmadani, Riyo Edit Setyawan, M. Ari Maulani, Rudi Hariyanto, Pratiwi, Septian Ragil Syahputra, Muhammad Khoirul Huda, Yunia, Dafa Yumanto, Putri Lestari, Hindun Diana, Muhammad Nizamudin, Yanuar Dwi Bramantyo, Muhamad Hendra Wahyu Z.A, Faiz Al Fikri, Muh. Akbar Raihan Firdaus, Mochammad Rifky Aditya A, Handika Rizky Triono, Ria Amalia Putri, Abdan Ageng Fauzan, M. Farel Aljanadi, Moh Kindi Arrumi, Devi Ratnasari, Much Yulianton, Najwa Zalfa Abdillah, Angga Frasdiansyah, Muh. Febriansyah, Noval Setyo Budi, Aditya Dimas Pratama, Daffa Fakhrudin Wijaya, Riyan, Muh. Mungizul Hidayatullah, Aura Maulida Fitria Aisya, Mayang Agustin, Eka Putri Mei Wulandari, Rizky Dwi, Rizky Wahyudi, Ahmad Fajar Khoiron, Ibnu Muhammad Rafi, Yulio Dini Prastiawan, Hildan Agit Agista, Bahrul Ulum, Muhammad Heikal, M. Nailul Author, Kusaini, Jovan Farellino Yuseifa P.P, Riyang Ambarwati, Hafiska Dwi Aninditya, Muhammad Ilham Sabilillah, Vera Puspita Ayu, Nova Setyarahayu, Muhammad Haikal Maulana, M. Andre Ramadhan, Mita Maulidya, Anggara Putra Pratama, Astrid Nafisa Putri Subagio, Hermawan Effendi, Hellen Prisela, Andi Setiawan, Reyvano Dwi Afriansyah, Farza Dwi Kurniawan.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB 

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//