Menyambangi Jejak Megalodon di Laut Purba Panjampangan
Museum Megalodon dibangun di atas bangunan desa yang terbengkalai. Menampung fosil-fosil peninggalan laut purba.
Penulis Muhammad Akmal Firmansyah13 Oktober 2026
BandungBergerak - “Museum Megalodon”, demikian tulisan yang terpampang di depan bangunan berukuran sekitar 6 x 10 meter, merupakan bekas bangunan milik Pemerintah Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Saya bersama kawan-kawan dari Bandung menyambangi Museum Megalodon setelah menempuh perjalanan sekitar 222 kilometer dengan sepeda motor, Senin, 28 September 2026.
Siang itu, pintu museum masih terkunci. Rupanya, pengunjung perlu melakukan reservasi terlebih dahulu untuk dapat berkunjung. Museum buka setiap hari, kecuali Jumat, mulai pukul 08.30 hingga 14.30 WIB. Kedatangan kami disambut Kepala Desa Gunungsungging, Nanang. Sambil menunggu pengelola museum datang, beberapa dari kami yang berjumlah sepuluh orang mengisi waktu dengan membaca papan-papan informasi yang terpasang di luar bangunan. Salah satunya memuat informasi mengenai Geopark Ciletuh, Palabuhanratu, termasuk Museum Megalodon sebagai salah satu destinasi yang tercantum di dalamnya.
Sekitar lima belas menit kemudian pengelola museum Nuril Anwar datang dan membuka pintu. Dipandu Nuril, kami berkeliling ke ruang-ruang museum. Kesan pertama langsung terasa begitu melewati pintu. Panel-panel informasi berwarna biru gelap memenuhi bagian dalam ruangan. Di salah satu sisi, gambar ikan raksasa dengan mulut menganga dan deretan gigi tajam menjadi penyambut pertama bagi pengunjung. Sosok tersebut menggambarkan Carcharocles megalodon, predator laut purba yang menjadi ikon utama museum.
Dari panel-panel tersebut, kami mulai diperkenalkan dengan kehidupan laut purba di kawasan Panjampangan. Informasi yang disajikan mengisahkan keberadaan ikan-ikan raksasa yang pernah hidup di Laut Panjampangan Purba. Dari sini, kunjungan tidak lagi sekadar melihat fosil, tetapi mulai membawa kami membayangkan bagaimana kehidupan di kawasan tersebut pada masa lampau.

Setelah melihat panel pengantar, perhatian kami beralih pada koleksi fosil yang dipajang di dalam ruangan. Koleksi tersebut berasal dari berbagai jenis hewan laut, mulai dari paus (Balenoptera), lumba-lumba (Delphinidae), moluska, Carcharocles megalodon, hingga teritip. Masing-masing koleksi dilengkapi label yang membantu pengunjung mengenali objek yang sedang diamati.
Tidak hanya fosil, museum ini juga memperlihatkan batuan pembawa fosil. Batuan tersebut dilengkapi label kelompok yang memberikan informasi mengenai material geologi tempat fosil ditemukan. Beberapa fosil juga ditempel dan dilengkapi label individu sehingga pengunjung dapat mengamati objek sekaligus membaca keterangan yang menyertainya.
Di bagian lain ruangan, museum menyediakan fasilitas pendukung berupa layar televisi interaktif. Pengunjung juga dapat memindai barcode untuk mengakses informasi tambahan dalam bahasa Inggris. Fasilitas tersebut menjadi pelengkap bagi koleksi dan panel informasi yang sudah tersedia di dalam museum.
Nuril menyebut jumlah koleksi museum menyimpan sekitar 600 hingga 700 fosil dari berbagai jenis, sebagian telah diidentifikasi oleh peneliti nasional dan disurvei oleh peneliti internasional. Fosil-fosil biota laut ini ditemukan secara tidak sengaja oleh warga sejak tahun 1970-an. Di Gunungsungging, fosil-fosil ini ditemukan saat warga mencangkul sawah, membuat pondasi rumah, atau saat membuka lahan.
Sebelum museum didirikan, warga kerap menemukan fosil-fosil biota laut ini. Namun, mereka sering membuangnya dan mengabaikannya. Menurut Nuril, di era 70-an warga masih mempercayai bahwa gigi tersebut adalah gigi petir—atau huntu gelap, dalam bahasa Sunda.
“Orang-orang dulu itu di sini tuh dari tahun 70-an sampai 2019 terakhir bilangnya ini mitosnya itu hantu gelap atau gigi petir. Makanya orang-orang dulu tuh takut jangankan untuk jual koleksi apalagi jual beli ketika dikasih itu enggak mau,” jelas Nuril.
Menjelang akhir 2019, penemuan fosil di Gunungsungging mulai tersebar di media sosial dan menarik kolektor pasar gelap. Nuril menjelaskan, saat pandemi Covid-19 banyak perantau yang pulang kampung dan terdesak kebutuhan ekonomi, sehingga warga mulai sengaja mencari fosil karena harganya yang tinggi misalnya gigi berukuran 10 cm dihargai sekitar 3 juta rupiah, sedangkan ukuran 14–15 cm bisa mencapai 14 juta rupiah ke atas.
Atas kekhawatiran fosil-fosil yang terus dieksploitasi dan terancam habis jika tak segera diselamatkan, Nuril dengan tim berinisiatif mendirikan museum pada 2020-2021 untuk menyelamatkan fosil dan sejarahnya agar dapat dipelajari oleh generasi mendatang, serta didukung kajian dari Museum Geologi.
“Untuk menyelamatkan fosil dan sejarahnya bagi generasi kita dan anak cucu. Supaya mereka tahu, bukan sekadar cerita, tapi ada barang bukti, sejarah, dan kajian yang didukung Museum Geologi,” ujarnya.
Museum Megalodon berdiri di atas bangunan desa yang terbengkalai. Pendirian museum sempat mendapat penolakan warga karena saat itu sedang gencar-gencarnya menjual beli fosil. Seiring berjalanya waktu, masyarakat mulai mendukung setelah dilibatkan dalam berbagai pelatihan homestay, kerajinan, dan perbaikan infrastruktur desa.
Nuril berharap keberadaan museum terus mendapat dukungan. Pemerintah diharapkan lebih memperhatikan pengelolaan museum, termasuk membantu pembangunan gedung museum yang resmi dan layak.
Sejauh ini, kunjungan ke museum rata-rata sekitar 150 hingga 200 orang per bulan. Dari sejak didirikan hingga sekarang, pengelola mengaku belum mendapat anggaran atau bantuan dana dari dinas terkait sehingga masih menghadapi kendala operasional dan fasilitas.
Kami berhenti di panel informasi mengenai megalodon. Nuril menjelaskan, ikan super jumbo tersebut memiliki sejumlah fakta unik. Megalodon hidup di perairan hangat, 200-300 meter di bawah permukaan laut di berbagai benua kecuali antartika. Ukurannya 20 hingga 30 kali lipat lebih besar dibanding hiu putih modern.
“Hiu putih sekarang panjangnya sekitar 5–6 meter dengan bobot 200–400 kilogram. Sedangkan megalodon panjang minimalnya 16–18 meter, bahkan bisa lebih dari 20 meter, dengan bobot mencapai 60–70 ton,” beber Nuril.
Nuril menyebut struktur gigi megalodon memiliki 276 gigi yang tersusun dalam 5 baris atas dan 5 baris bawah dengan sistem bersilang. Ikan raksasa ini disebut juga memiliki kekuataan gigi mencapai 24.000 PSI. Kepunahan megalodon, kata Nuril, sekitar 4 hingga 3,7 juta tahun yang lalu akibat proses glasiasi (penyebaran hawa dingin dari kutub) serta berkurangnya sumber makanan.
Baca Juga: Museum Berperan Memulihkan Ekonomi Masyarakat
Refleksi Kebudayaan, Museum Sri Baduga, Etalase, dan Siasat Melawan Sepi

Melihat Laut Purba Pajampangan
Pendirian Museum Megalodon di Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi memiliki akar sejarah yang kuat. Kawasan ini dahulu dikenal sebagai Panjampangan purba. Pakar geografi, T. Bachtiar menjelaskan, Pajampangan diperkirakan pernah menjadi laut dangkal yang hangat.
Bukti tersebut terlihat dari temuan fosil tulang rahang, tulang belakang paus, gigi megalodon, dan moluska di kawasan tersebut. Menurut T. Bachtiar, paus purba diperkirakan hidup sekitar 15 juta hingga 3,5 juta tahun lalu. Penulis Topomini: asal-usul nama tempat di Jawa Barat ini menjelaskan, pada periode 16 juta hingga 3,5 juta tahun lalu, wilayah Jampang menjadi habitat sekaligus jalur migrasi paus.
“Paus yang terdampar, tulang-tulangnya terkubur, lalu terjadi pengangkatan daratan, di antaranya dengan lahirnya gunungapi. Fosil paus dan gigih hiu yang semula berada di dasar laut, menjadi terangkat ke permukaan, lalu tersingkap,” kata Bachtiar kepada BandungBergerak, Senin, 5 Oktober 2026.
Tak hanya gigi megalodon, Bachtiar menuturkan, temuan mengenai tulang belakang paus dan gigi ikan hiu menjadi bukti penting untuk menyusun kronologi sejarah geologi kawasan Pajampangan. Museum Megalodon menjadi penting untuk menyimpan koleksi sekaligus informasi mengenai temuan fosil laut di kawasan tersebut. Bachtiar mengatakan, pengetahuan tentang masa lalu Pajampangan sebagai laut dangkal yang hangat, dengan paus, hiu, dan berbagai habitat laut, diharapkan dapat membantu masyarakat memahami kondisi wilayahnya dan menjadi pertimbangan dalam pembangunan.
“Ini penting artinya bagi ilmu pengetahuan, dan bagi masyarakat yang mau belajar tentang keadaan ekosistem daerahnya,” terangnya.
Sementara itu, Humas Museum Geologi, Anita menuturkan, keberadaan fosil di kawasan tersebut sudah mulai mendapatkan perhatian setelah ramainya temuan warga pada 2019. Museum Geologi kemudian melakukan penelitian dan verifikasi terhadap temuan tersebut pada 2020 dan 2021.
Hasil penelitian tersebut dikembangkan menjadi Site Museum Megalodon. Anita Kusumayati menjelaskan, museum geologi tak hanya melakukan identifikasi dan verifikasi koleksi, tetapi juga membantu penyusunan konten, desain ruang pamer, serta tata pamer sesuai prinsip museologi.
“Jadi, Museum Geologi mengetahui keberadaan dan koleksi Museum Megalodon Gunungsungging secara cukup mendalam karena Museum Geologi sebagai inisiator dan pendamping utama pengembangan site museum Megalodon,” ujar Anita dihubungi BandungBergerak, Selasa, 6 Oktober 2026.
Museum Megalodon diresmikan pada 19 Februari 2021 dan pengelolaanya diserahkan kepada masyarakat setempat. Anita menyebut, Museum Geologi tetap melakukan pendampingan melalui kegiatan konservasi, edukasi, evaluasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Pada 2021, Museum Geologi memberikan pelatihan kepada masyarakat untuk membuat replika fosil gigi Megalodon yang dapat dikembangkan menjadi suvenir dan sumber ekonomi alternatif. Menurut Anita, pengembangan site museum merupakan bagian dari program prioritas Badan Geologi dalam mengembangkan situs geologi bernilai penting. Konsepnya menggabungkan konservasi warisan geologi, edukasi, pariwisata, serta pemberdayaan masyarakat.
“Site museum ini juga untuk mengkonservasi koleksi, ibaratnya in situ, di tempat di mana dia ditemukan,” katanya.
Sedikitnya terdapat lima site museum di Pulau Jawa, di antaranya Museum Banjarejo (Rumah Fosil Banjarejo), Site Museum Lembah Cisaar di Sumedang, serta Site Museum Fosil Tambaksari dan site museum lainnya di Ciamis.
Anita menjelaskan, keberadaan Site Museum Megalodon memiliki peran penting dalam memperkenalkan sejarah geologi dan kondisi laut purba di kawasan Pajampangan kepada masyarakat. Selain menjadi sarana edukasi, museum ini juga diharapkan dapat berkontribusi dalam melestarikan warisan geologi serta mencegah risiko kehilangan dan kerusakan temuan bernilai sejarah.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


