RESENSI BUKU: Memandang Kehidupan Jakarta dengan Kacamata Romo Sindhu
Buku “Burung-Burung di Bundaran Hi” mengajak kita untuk membuka mata pada kehidupan sehari-hari yang penting tapi sering dilewatkan begitu saja.
Penulis Adinda Putri S18 Oktober 2026
BandungBergerak - Saat ini, bayangan orang tentang Jakarta bisa jadi tentang sebuah kota dengan peradaban modern. Tapi buku kumpulan reportase Sindhunata berjudul “Burung-burung di Bundaran HI” justru mengajak pembaca menelusuri bagaimana kondisi Jakarta pada tahun 1970-an. Sang penulis menyajikan sesuatu yang mungkin terlihat kurang penting bagi kita, seperti pesut di Ancol yang berhasil melahirkan anak pertamanya, hingga cerita tentang para pekerja seks komersial (PSK) di Kramat Tunggak.
Namun, melalui buku yang dicetak ulang Kompas ini, Romo Sindhu, demikian ia kadang disapa, tak hanya menceritakan keseharian penduduk Jakarta di masa lampau. Jurnalis, sastrawan yang juga filsuf ini mengajak pembaca perlu berkaca pada sejarah, bahwa kejadian-kejadian biasa terkadang mengandung hikayat penting di baliknya.
Misalnya, dalam satu liputannya, Sindhunata bercerita tentang Jembatan Marijah. Dibanding fokus pada bagaimana malangnya desa Kembangan karena jembatan penting itu telah roboh dan tak kunjung diperbaiki, Sindhunata memulai tulisan itu dengan kisah romansa di balik penamaan jembatan itu, hal ini tentunya menjadi daya tarik bagi sebagian pembaca yang kurang senang membaca berita kaku.
Selain itu, ada beberapa hal yang menggelitik bagi saya dalam kalimat-kalimat yang disajikan penulis, misalnya bagaimana Kimo, seorang singa laut betina diberikan cuti hamil seminggu sebelum melahirkan. Kalimat itu terasa hidup, bagaikan sedang membahas manusia.
Penulis bahkan menuliskan bagaimana kegelisahan pesut jantan ketika menyaksikan pasangannya menderita karena rasa sakit saat hendak melahirkan. Tapi, di sisi lain ketika menuliskan tentang human interest, penulis tidak menonjolkan pada kemalangan dan penderitaan, tapi tetap cukup pandai untuk merangsang pembaca mengerti makna kelam di baliknya.
Ketika bercerita tentang salah satu PSK di bawah umur yang bekerja di Kramat Tunggak, penulis tidak berfokus pada bagaimana ceritanya saat ia melayani tamu, tapi ironinya bekerja dalam kalimat lain. Anak berusia enam belas tahun itu disebut sebagai Si Mungil, kisah tentangnya dimulai dengan pujian yang didapatnya karena hari itu mendapat tiga pelanggan.
Di usia sebelia itu ia sudah berstatus janda, imbas dari perjodohan paksa yang mendorongnya kabur dan berakhir menjadi PSK. Di cerita selanjutnya penulis menceritakan bagaimana para penghuni tempat itu kebanyakan memiliki kekasih, ada yang sampai punya anak, ada juga yang rajin mengikuti pengajian atau mengadakan ibadah rutin di rumah prostitusi mereka.
Reportase-reportase dalam buku ini memang lebih banyak bercerita tentang perjuangan orang-orang kecil: para pekerja seks komersial, penjual rambutan, pekerja konveksi, sampai para pengguna kursi roda. Suatu kali penulis menuliskan tentang seekor anjing peliharaan yang ditangkap oleh polisi yang sedang razia, rupanya hal tersebut berakar pada persoalan besar. Tingkat penularan rabies sedang tinggi pada saat itu, tetapi masyarakat tidak punya cukup kesadaran untuk memvaksin anjing peliharaan mereka.
Buku Romo Shindu saya baca atas saran dari seorang kenalan saya yang bekerja di bidang jurnalistik. Katanya, buku ini dapat memberikan panduan untuk melakukan penulisan melalui sudut pandang orang pertama, dan saya setuju. Salah satu reportase yang dijadikan judul untuk buku ini, “Burung-burung di Bundaran HI”, adalah salah satu reportase singkat yang paling saya suka.
Mungkin jika saya jadi Sindhunata, saat pertama kali melihat burung-burung itu, otak saya akan langsung berkelana, siapakah yang menaruh unggas-unggas itu di sana, dan bagaimana tanggapan pemangku kepentingan lingkungan kota. Tapi Sindhunata punya cara yang lebih kreatif, ia menuliskan bagaimana kegunaan burung itu di sana tiada guna selain menjadi objek lamunan bagi para polisi yang sedang bertugas.
Serasa Menyaksikan Perjalanan Waktu
Membaca buku ini rasanya bagaikan membaca kumpulan cerita pendek, bedanya permasalahan dan cerita yang tertulis di dalamnya adalah kenyataan, bukan kisah fiksi. Cerita-cerita tentang sepeda, oplet, dan mikrolet juga memicu saya mengingat kondisi sekarang.
Saat ini Jakarta mungkin sudah memiliki Bus Rapid Transit dan LRT yang beroperasi secara lancar, tetapi di Bandung peralihan itu masih dalam proses. Tapi pola itu berulang, pengguna angkot mulai sepi, masyarakat belum tentu mau sukarela mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, sementara kemacetan Bandung masih belum teratasi. Beralih itu memang selalu sulit.
Selain itu, Sindhunata selalu menggunakan penulisan detail dalam karyanya, jadi bukan sekedar perumpamaan. Selalu ada harga jelas dalam bahasannya tentang produk dagang (misalnya: harga rambutan masa itu 500 rupiah per ikat), begitu juga dengan biaya-biaya lainnya, sehingga makin nyatalah kondisi yang tergambar dalam benak pembaca.
Setelah membaca buku ini, saya mendapat suatu pemahaman, bahwa pandangan mata sama berharganya dengan keterangan narasumber. Sebagai jurnalis, mungkin sebagian orang terlalu fokus memperhatikan target narasumber, sehingga lupa mengamati sekelilingnya. Padahal observasi itu juga penting dan menarik untuk ditulis.
Contoh, Sindhunata menceritakan saat menaiki oplet larut malam, ia melihat seorang wanita yang pergi setelah bertengkar dengan suaminya. Detail kejadian seperti ayahnya si wanita yang mengikuti dan berusaha membujuknya pun tak terlewat oleh sang penulis. Menurut saya hal ini menjadi salah satu penghidup dalam tulisan-tulisan Sindhunata, sederhana tetapi memang begitulah yang terjadi di dunia nyata.
Barangkali setelah membaca ini, orang-orang yang membacanya dapat lebih terdorong untuk memperhatikan kondisi di sekelilingnya, karena begitulah yang terjadi pada saya. Ada banyak hal penting di sekeliling kita, yang hanya akan kita sadari jika kita mengamatinya. Maka dari situlah bisa tumbuh kesadaran dan kepedulian kita.
Saya akan merekomendasikan buku ini untuk para jurnalis pemula, maupun orang-orang yang tertarik pada isu sosial dan kemasyarakatan, karena bukunya cukup ringan dan ringkas, tapi amat bagus untuk membangun kesadaran kita terhadap kehidupan rakyat jelata.
Baca Juga: RESENSI BUKU: Nama yang Sama, Manusia yang Berbeda
RESENSI BUKU: Lulur Borasih, Hutan, dan Tubuh Perempuan
Sindhunata
Dr. Gabriel Possenti Sindhunata, yang akrab disapa Romo Sindhu, lahir di Batu, Malang, pada 12 Mei 1952 dari keluarga keturunan Tionghoa. Ia dikenal sebagai rohaniwan Katolik, wartawan, sastrawan, filsuf, redaktur, dosen, dan budayawan. Berdasarkan laman Pelitaku Sabda pendidikan filsafat Sindhunata ditempuh di STF Driyarkara, Jakarta, dan pendidikan teologi di Institut Filsafat Teologi Kentungan, Yogyakarta. Pada 1992, ia meraih gelar doktor filsafat dari Hochschule für Philosophie, München, Jerman, melalui disertasi tentang pengharapan mesianik masyarakat Jawa.
Ketertarikan Sindhunata terhadap dunia tulis-menulis tumbuh sejak sekolah menengah, didorong oleh kegemarannya membaca buku-buku budaya, filsafat, sejarah, novel, dan puisi. Karier jurnalistiknya dimulai di majalah Teruna pada 1974–1977, kemudian berlanjut di harian Kompas pada 1978. Ia menghasilkan beragam karya, mulai dari sastra fiksi, karya ilmiah, filsafat budaya, hingga tulisan jurnalistik. Karya sastranya yang terkenal antara lain Anak Bajang Menggiring Angin, Semar Mencari Raga, Putri Cina, Tak Enteni Keplokmu, Aburing Kupu-Kupu Kuning, dan Air Kata-Kata. Dalam bidang filsafat dan kajian ilmiah, ia menulis Waton Urip, Menjadi Generasi Pasca Indonesia: Kegelisahan Y.B. Mangunwijaya, serta Kambing Hitam, Teori Rene Girard.
Salah satu sumbangan penting Sindhunata dalam dunia jurnalistik adalah pengembangan jurnalisme sastrawi, yakni penyampaian berita melalui gaya bertutur yang mendalam dan reflektif seperti karya sastra. Hal ini terlihat dalam karya Petruk Jadi Guru dan Telanjang di Lereng Gunung Merapi, yang mengangkat persoalan spiritualitas, penderitaan, kebahagiaan, agama, kehidupan rakyat kecil, tanggung jawab penguasa, dan ketuhanan.
Saat ini, berdasarkan bahan biografi tersebut, Sindhunata menetap di Yogyakarta dan mengabdikan dirinya sebagai gembala umat Katolik, penulis, redaktur majalah Basis, serta dosen di Universitas Sanata Dharma. Secara keseluruhan, biografi Sindhunata memperlihatkan perpaduan antara pengabdian religius, pemikiran filosofis, kreativitas sastra, dan kepedulian sosial yang diwujudkan melalui tulisan serta kiprahnya di bidang pendidikan dan kebudayaan.
Informasi Buku
Judul: Burung-burung di Bundaran HI: Manusia & keseharian
Penulis: Sindhunata
Penerbit: Penerbit Buku Kompas, 2006
ISBN: 9797092755, 9789797092757
Tebal: 158 halaman.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


