• Foto
  • Tandas di DAS Citarum

BandungBergerak - Darti merapikan botol-botol galon penampung air bersih di atas papan beroda, Selasa pagi, 15 September 2026. Roda tersebut ia dorong sampai ke rumahnya di RT 2 RW 9 Gang Kasuari, Kelurahan Maleber, Kecamatan Andir, Kota Bandung.

Ia harus datang sepagi mungkin untuk mengisi lima botol galon di instalasi sumur pompa manual dekat gapura gang kampung. Sumber air bersih ini jadi andalan warga saat sumur-sumur di rumah mereka debitnya menyusut drastis sejak tiga bulan lalu, saat kemarau ekstrim mulai mendera wilayah di seluruh Indonesia.

Mendorong roda berisi galon air bersih di Maleber, Darti membawa pulang air dari sumur pompa komunal di Gang Kasuari, Kelurahan Maleber, Kecamatan Andir, Kota Bandung, Selasa, 15 September 2026.  (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Mendorong roda berisi galon air bersih di Maleber, Darti membawa pulang air dari sumur pompa komunal di Gang Kasuari, Kelurahan Maleber, Kecamatan Andir, Kota Bandung, Selasa, 15 September 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Air tersebut ia pakai untuk memasak, mandi, dan mencuci piring. Sementara untuk kebutuhan minum, ia membeli air galon isi ulang.

“Ini ngambil air harusnya tugas laki-laki, ya,” katanya, sambil tertawa.

Eulis mengolah lahan tandus saat kemarau di Cimenyan, Kabupaten Bandung, Kamis, 4 September 2026.  (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Eulis mengolah lahan tandus saat kemarau di Cimenyan, Kabupaten Bandung, Kamis, 4 September 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Di saat Darti mendorong roda, galon dan jerigen masih berjajar di sekitar fasilitas sumur pompa manual itu. Di sana Edi terus menggerakkan lengan pompa air untuk memenuhi botol-botol galon. Pria berusia 81 tahun ini masih terlihat bugar, ia masih cekatan menaikkan botol-botol galon ke atas roda dorong.

Edi harus antre menampung air untuk kebutuhan untuk tujuh orang anggota keluarganya di rumah. Ia harus dua kali bolak balik untuk menampung botol-botol airnya. Edi perlu 12 botol galon air per hari untuk kebutuhan memasak, mandi, dan mencuci, selama sumur di rumahnya mongering di musim kemarau panjang tahun ini.

Petani Cimenyan mengolah tanah saat kemarau untuk ladang di musim hujan di Kampung Merak Dampit, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Kamis, 4 September 2026.  (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Petani Cimenyan mengolah tanah saat kemarau untuk ladang di musim hujan di Kampung Merak Dampit, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Kamis, 4 September 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Selain di Kecamatan Andir, dampak kemarau merembet ke wilayah lain di Bandung Raya, terutama di daerah aliran sungai (DAS) Citarum. Beberapa waktu ke belakang, tepatnya tanggal 5 Juli 2026, panas terik membakar kawasan Curug Jompong di Margaasih, Kabupaten Bandung. Air di aliran sungai terpanjang di Jawa Barat, Sungai Citarum, tampak menghitam berbau busuk. Meliuk di antara bebatuan dasit berwarna coklat kemerahan, debit airnya sangat kecil.

Di beberapa area genangan air membentuk danau, tak bergerak, warnanya hijau, sebagian permukaannya tertutup timbunan sampah. Lebih ke hilir, beberapa warga sedang memancing ikan, berharap masih ada ikan yang kuat menahan cemaran limbah industri dan sampah yang menutupi permukaan sungai.

Jalan berdebu di Merak Dampit Cimenyan, Kabupaten Bandung, Kamis, 4 September 2026.  (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Jalan berdebu di Merak Dampit Cimenyan, Kabupaten Bandung, Kamis, 4 September 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Beberapa pria terlihat melempar jala ke atas permukaan air hitam berbusa putih. Beberapa pria lain juga sibuk “menjaring” sampah-sampah botol dan gelas plastik yang masih punya nilai komersil. Ada yang berjalan kaki menyusuri pinggiran sungai, ada yang berperahu menembus pekatnya limbah dan sampah yang mencemari Citarum. Ia juga harus pintar memilih jalur agar tak menabrak tanah atau lumpur keras dampak dari sedimentasi sungai.

Kerusakan lingkungan di daerah aliran sungai ini otomatis mengurangi daya dukung sungai sebagai salah satu sumber air permukaan yang alih-alih mendatangkan manfaat, malah memicu munculnya masalah-masalah lain yang tentu berdampak pada nihilnya akses warga terhadap air bersih.

Nani menyemai bibit di dasar perairan Saguling yang kering di Desa Budiharja, Cililin, Kabupaten Bandung, Senin, 1 September 2026.  (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Nani menyemai bibit di dasar perairan Saguling yang kering di Desa Budiharja, Cililin, Kabupaten Bandung, Senin, 1 September 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Semakin ke barat, tepatnya di Cililin, 1 September 2026, Nani menyemai bibit sayuran di lahan yang tampak gembur. Warga Desa Budiharja, Kabupaten Bandung itu bertani memanfaatkan sebagian area Waduk Saguling yang mengering.

Nani melubangi lahan gembur yang seharusnya jadi dasar perairan Saguling. Selama kemarau, area tersebut berubah menjadi hamparan daratan yang cukup luas dan subur. Nani berharap ladang sayuran sementara ini bisa mendatangkan keuntungan ekonomi untuk keluarganya.

“Usaha kolam pemancingan kan berhenti dulu sementara, menunggu musim hujan lagi, jadi daratan yang sekarang muncul ini dimanfaatkan untuk bertani sayuran saja,” kata Nani.

Gagal panen di Merak Dampit Cimenyan, Kabupaten Bandung, September 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Gagal panen di Merak Dampit Cimenyan, Kabupaten Bandung, September 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Di latar belakang kebun sayurnya tampa kolam pemancingan yang sudah berubah jadi kubangan. Di kanan kirinya beberapa keramba budidaya ikan air tawar juga kandas ke dasar, dikepung tebalnya tanaman gulma eceng gondok.

Kekeringan juga menghantam tanah keras di lahan miring perbukitan Kampung Merak Dampit, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Eulis, petani sekitar, berusaha membalikkan tanah bersama Hana, 4 September 2026. Tapi mereka belum bisa mulai bertani karena belum ada air.

Menjaring ikan di air limbah di Sungai Citarum, Margaasih, Kabupaten Bandung, Sabtu, 5 Juli 2026.  (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Menjaring ikan di air limbah di Sungai Citarum, Margaasih, Kabupaten Bandung, Sabtu, 5 Juli 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

“Kita belum bisa bertani, masih kemerau panjang, di sini semua ladangnya tadah hujan,” ujar Euis.

Bagi petani modal besar, kata Euis, mereka bisa menyedot air lewat selang-selang dari sungai atau embung. Panjang selangnya bisa lebih dari 1.000 meter.

Eulis berencana untuk bertani bawang merah saat musim penghujan tiba. Untuk membiayai ekonomi keluarga ia dan suaminya masih bisa jadi buruh tani di kebun-kebun kentang milik petani pemilik bermodal besar.

Panen sampah di Curug Jompong, Margaasih, Kabupaten Bandung, Sabtu, 5 Juli 2026.  (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Panen sampah di Curug Jompong, Margaasih, Kabupaten Bandung, Sabtu, 5 Juli 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Para petani yang masih bisa bertani bukan tidak memiliki risiko. Beberapa ladang terong bahkan gagal panen. Karena itu, sebagian besar petani memilih untuk mengolah tanah dulu sambil menunggu datangnya musim penghujan.

Ada juga petani yang bisa bertani sampai panen, seperti Enjang. Saat ditemui BandungBergerak, ia sibuk mengikat karung berisi jagung.

“Jagung masih bisa bertahan saat kemarau, tapi bobot panennya memang menyusut karena kering,” kata Enjang.

Setelah panen jagung, ia akan mengolah tanah seperti yang dilakukan Euis dan Hana sambil menunggu datangnya musim hujan.

Sampah menutup permukaan Citarum di Curug Jompong, Margaasih, Kabupaten Bandung, Sabtu, 5 Juli 2026.  (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Sampah menutup permukaan Citarum di Curug Jompong, Margaasih, Kabupaten Bandung, Sabtu, 5 Juli 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Di kawasan pertanian lainnya menghadirkan fenomena yang sama. Rabu, 16 September 2026, para petani di Desa Bojongloa harus menyedot air Sungai Cikijing, Cimande, dan Citarik. Aliran air di tiga sungai ini mengalir pelan, debitnya terus menyusut, dan berwarna hitam kecoklatan terpapar limbah industri.

Pompa-pompa dari generator menyedot air untuk mengisi sistem irigasi di area persawahan di kawasan Bandung Timur tersebut. Tak ada pilihan lagi. Air-air dari sungai tercemar jelas berdampak pada produktivitas padi, tanaman jadi lambat pertumbuhannya, ongkos perawatan untuk obat-obatan dan pupuk bakal naik. Namun, ada salah satu bahaya yang tersembunyi dari air tercemar, yaitu kandungan logam berat yang terserap ke bulir-bulir padi atau tanaman semusim lainnya.

Air tercemar di pertemuan Sungai Cikijing dan Citarik di Rancaekek, Kabupaten Bandung, Rabu 16 September 2026.  (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Air tercemar di pertemuan Sungai Cikijing dan Citarik di Rancaekek, Kabupaten Bandung, Rabu 16 September 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Sungai sebagai salah satu sumber air permukaan yang seharusnya jadi sumber air untuk beragam kepentingan kebutuhan dasar manusia dan pertanian saat musim kemarau panjang tak lagi bisa diandalkan. Bahkan untuk mendukung sektor energi pun sudah tak layak lagi akibat dari tercemarnya seluruh sistem di daerah aliran sungai.

Sumur kering di permukiman dan tersendatnya pasokan air PDAM ke para pelanggannya akibat susutnya debit air baku dari sungai-sungai dan bendungan di dataran tinggi Kabupaten Bandung jadi tantangan untuk warga. Mereka harus berhemat air bersih, bisa juga membeli pasokan air dari tangki truk pegunungan, atau menunggu datangnya bantuan truk air bersih dari pemerintah.

Baca Juga: Kekeringan Menghantui Bandung Raya
EL NINO BANDUNG RAYA: Saat Keran Jatinangor Mengering, Mahasiswa Menumpang Mandi ke Masjid

Kejadian yang Berulang

Cerita foto ini bukan mendramatisir momen kemarau lewat yang cenderung repetitif dari tahun ke tahun. Walau bagaimanapun kondisi ini tetap harus disampaikan di tengah rasa skeptis dan bosan: kering saat kemarau dan banjir saat musim hujan, begitu mungkin pemikiran sebagian orang.

Namun, ada fakta yang tidak bisa diabaikan. Kerusakan alam dan lingkungan semakin memperparah perubahan iklim. Alih fungsi lahan terjadi massif di kawasan-kawasan resapan air DAS Citarum. Ledakan populasi penduduk terjadi di kota maupun daerah pinggiran.

Petani memasang pompa penyedot air hitam Sungai Cikijing di Rancaekek, Kabupaten Bandung, Rabu, 16 September 2026.  (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Dalam kondisi itu, warga sekuat tenaga beradaptasi. Mereka yang terdampak langsung kemarau panjang tahun dipaksa bersiasat dalam menghadapi sulitnya akses air.

Pada awal September 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan 18 daerah di Jawa Barat dalam klasifikasi “Awas” kekeringan pada periode September 2026, termasuk wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. Klasifikasi “Awas” ini yaitu potensi hari tanpa hujan ekstrim, lebih dari 61 hari.

Burung kuntul sawah di antara sampah Sungai Cimande, Rancaekek, Kabupaten Bandung, September 2026.  (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Burung kuntul sawah di antara sampah Sungai Cimande, Rancaekek, Kabupaten Bandung, September 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat melansir data per Agustus 2026, sebanyak 519.687 warga di 387 desa di 27 kota/kabupaten kesulitan mendapat air bersih. Kondisi kemarau ekstrem yang diperkuat dengan El Nino memicu sejumlah wilayah mengalami kekeringan serta meningkatkan kebakaran hutan dan lahan yang semakin meluas.

Fenomena El Nino diperkirakan masih akan bertahan hingga awal 2027. Meski kondisi kering masih akan mondominasi sebagian wilayah, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang dan angin kencang akan terjadi secara lokal. Masyarakat harus tetap waspada potensi bencana hidrometeorologi, tak ada salahnya memantau prakiraan cuaca yang bisa di akses di laman BMKG.

 

Foto dan Teks: Prima Mulia

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//