KEMARAU BANDUNG RAYA: Saat Keran Jatinangor Mengering, Mahasiswa Menumpang Mandi ke Masjid
Kemarau dan padatnya kawasan pendidikan Jatinangor membuat air bersih menjadi barang yang tak selalu tersedia bagi mahasiswa dan warga.
Penulis Adinda Putri S22 Agustus 2026
BandungBergerak - Futri, 18 tahuh, mahasiswi semester 3 Universitas Padjadjaran (Unpad), sudah lima bulan ngekos di daerah Ciseke, Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Di tengah kemarau panjang, air di kosannya kerap keruh dan beberapa kali mati.
Terbaru, pada Juli lalu, air kosan Futri untuk kesekian kalinya mati. Kosannya mendapat aliran air dari mata air yang dikelola RT 03. Pemilik kosan sudah melaporkan masalah itu kepada Ketua RT, yang mengatakan kerusakan akan segera diperbaiki.
Futri pun menunggu seharian. Namun, sehari tanpa air membuatnya tak nyaman. Ia butuh bersih-bersih. Futri akhirnya mencari alternatif dengan mendatangi kamar mandi masjid di dekat kosnya.
Hari berikutnya, air masih belum menyala. Futri kemudian meminta tolong kepada penjaga kos, Yayan, 51 tahun. Yayan mengizinkannya menggunakan kamar mandi miliknya.
Saat itu, Futri sedang mengalami menstruasi. Ketiadaan air membuatnya kesulitan membersihkan diri dan mengganti pembalut.
“Karena cewek kan tiap bulannya ada datang bulan. Dan itu kan kita tiap harinya harus ganti (pembalut), gitu. Bahkan satu hari aja 2-3 kali dan kalau gak ada air kayak susah juga buat aku ganti,” cerita Futri, Selasa, 18 Agustus 2026.
Pengalaman Futri menjadi gambaran kecil dari persoalan air bersih yang dihadapi warga dan mahasiswa di Jatinangor. Sebagai kawasan pendidikan, kebutuhan air di wilayah ini terus meningkat seiring bertambahnya jumlah mahasiswa dan penduduk.
Jatinangor menjadi lokasi empat perguruan tinggi besar, yakni Unpad, Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Koperasi Indonesia (Ikopin), dan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Masyarakat asli Jatinangor hidup berdampingan dengan mahasiswa yang datang dari berbagai daerah.
Kepadatan penduduk turut meningkatkan kebutuhan air bersih. Di sejumlah wilayah, warga mengandalkan lebih dari satu sumber air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari sumur hingga aliran air dari sumber mata air bersama.
Menurut Yayan, kos miliknya dan kos yang ditempati Futri memakai sumber air yang sama, yakni aliran mata air yang dikelola Ketua RT 03 Ciseke. Kos Yayan berada tepat di sebelah kos Futri.
Kosan Yayan sebenarnya memiliki sumur sendiri. Namun, sumur sedalam sekitar 40 meter itu sudah lama kering. Air tanah tak lagi mencapai permukaan, sehingga Yayan beralih menggunakan sumber air yang dikelola RT.
Warga sekitar juga menggunakan aliran tersebut dan membayar biaya pengelolaan dan pemakaian setiap bulan, disesuaikan dengan debit air yang digunakan. Namun, ketika aliran bermasalah, warga seperti Yayan hanya bisa melapor dan menunggu pengelola memperbaikinya.
Menurut Yayan, satu-satunya cara agar tidak bergantung pada sumber air bersama adalah memperdalam sumurnya sekitar 20 meter lagi. Namun, biaya yang dibutuhkan tidak sedikit.
“Kalau sudah ada rezekinya kita maksain (memperdalam sumur). Jadi nggak ngandelin seperti PNPM seperti ini. Banyak kendala masalahnya,” ujar Yayan, Rabu, 12 Agustus 2026.
Yayan menyebut sumber air bersama tersebut merupakan bagian dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM).
Namun, cerita itu berbeda dengan penjelasan Bakhro (56), Ketua RT 03 Ciseke. Saat ditemui BandungBergerak pada Senin, 17 Agustus 2026, Bakhro mengatakan sumber air tersebut bukan bagian dari program PNPM.
Menurut Bakhro, aliran air itu berasal dari inisiatif pribadinya. Ia memiliki saudara yang tinggal di Cinenggang dan mempunyai sumber air di sana. Bakhro kemudian meminta izin agar air tersebut dialirkan ke wilayah RT 03 Ciseke.
Upaya itu dilakukan agar warga yang tidak memiliki sumur artesis tetap mempunyai sumber air. Namun, debit air belakangan semakin kecil. Air bahkan tidak mengalir pada siang hari dan baru muncul pada malam hari.
“Untung, Alhamdulillah sekarang Bapak bisa ngalirin air. Walaupun kayak sekarang debitnya tuh terlalu berkurang. Nggak nyala sekarang airnya. Kalau malam baru debit-debitnya ada,” kata Bakhro saat ditemui di kediamannya.
Bakhro sendiri pernah mencoba mengandalkan sumur. Ia memiliki sumur di rumahnya dan sempat menggali titik lain di sekitar rumah. Namun, dua sumur dengan kedalaman sekitar 30 meter itu sama-sama tidak menghasilkan air.
Kondisi tersebut berbeda dengan masa ketika Jatinangor masih dipenuhi perkebunan. Bakhro mengatakan, saat itu air masih melimpah. Warga cukup menggali sumur hingga belasan meter untuk mendapatkan air.
Meski demikian, Bakhro melihat kekeringan yang terjadi saat ini sebagai persoalan alam yang tidak bisa sepenuhnya dicegah. Namun, ia berharap sumber air lain di sekitar Jatinangor dapat menjadi cadangan ketika kebutuhan air warga meningkat.
Ia menunjuk bendungan atau cekdam milik Unpad dan ITB sebagai salah satu sumber air yang bisa dimanfaatkan dalam kondisi darurat. Selain itu, keberadaan lahan terbuka di kawasan kampus menurutnya dapat membantu menjaga daerah resapan air.
“Jadi ya, bersyukur Unpad ada cekdam (bendungan), itu untuk meredam kekurangan darurat air. Ada cekdam Unpad, ada cekdam ITB,” ujarnya.

Keruh dan Berbau
Persoalan air juga dialami warga Jatinangor lainnya, Femmi, 21 tahun. Saat tinggal di sebuah kontrakan bersama di daerah Hegarmanah, ia mendapati air yang digunakan sehari-hari keruh dan berbau. Pemilik kontrakan mengatakan sumber air berasal dari sumur bersama.
Femmi dan teman-temannya kemudian mencoba memasang filter air. Namun, filter tersebut hanya mampu bertahan sekitar satu hingga dua minggu sebelum kotor dan harus diganti.
“Kita beli filter air, cuman filter airnya juga ga bertahan lama, paling cuman kayak seminggu-dua minggu. Ga kuat filternya, keburu kotor, harus beli filter baru lagi,” tutur Femmi, Selasa, 18 Agustus 2026.
Setelah pindah ke kontrakan di daerah Cileles, kualitas air yang digunakan Femmi membaik. Namun, persoalan lain muncul. Air masih sering mati.
Kini, Femmi dan teman-temannya memiliki tempat penyimpanan air berukuran besar. Air yang mengalir bisa ditampung terlebih dahulu untuk digunakan ketika aliran kembali terhenti.
Rizka, 21 tahun, juga mengalami persoalan serupa. Awal Agustus lalu, ketika sedang libur semester, air di kosnya sempat mati. Air hanya mengalir pada tengah malam dan itu pun terputus-putus.
Akibatnya, pakaian dan piring kotor menumpuk. Berbeda dengan pengalaman Femmi, air di kos Rizka relatif jernih. Air hanya berubah keruh ketika baru kembali mengalir setelah mati cukup lama.
Baca Juga: KEMARAU BANDUNG RAYA: Warga Lagadar Bertahan dengan Sumur yang Makin Dalam
Kuasa atas Sumber Air dan Biaya di Baliknya
Krisis air di Jatinangor tidak dirasakan seluruh mahasiswa. Sebagian penghuni apartemen dan kos-kosan kelas atas memiliki sumur artesis sendiri, sehingga tidak bergantung pada sumber air bersama.
Namun, memiliki sumber air sendiri membutuhkan biaya besar. BandungBergerak menemui Undang, 68 tahun, penyedia jasa penggalian sumur bor, pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Menurut Undang, kedalaman sumur dan lama pengerjaan berbeda-beda di setiap wilayah Jatinangor. Ciseke, misalnya, merupakan daerah yang banyak memiliki lapisan batuan sehingga proses penggalian lebih sulit.
Undang pernah mendapat permintaan untuk menggali sumur di Ciseke. Ia memperkirakan kedalaman minimal yang dibutuhkan mencapai 33 meter. Untuk pekerjaan itu, ia mematok biaya 22 juta rupiah. Pemilik kos yang memintanya menggali sumur tidak menyanggupi biaya tersebut dan memilih mencari jasa lain yang lebih murah.
Menurut Undang, sejumlah bangunan besar, memiliki sumur artesis dengan kedalaman sekitar 100 meter. Penggunaannya, kata dia, dilakukan setelah mengantongi perizinan yang diperlukan.
Aturan mengenai penggunaan air tanah salah satunya tercantum dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 14 Tahun 2024. Pada Pasal 2 ayat (4) huruf c, persetujuan penggunaan air tanah yang berada di Cekungan Air Tanah dan sumber air tanah lainnya dalam satu wilayah sungai di satu kabupaten atau kota diselenggarakan oleh bupati atau wali kota.
Di Jatinangor, kebutuhan air tidak hanya meningkat karena banyaknya penghuni. Musim kemarau turut memperburuk ketersediaan air. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kekeringan berlangsung hingga Oktober.
Saat mahasiswa kembali memenuhi Jatinangor, persoalan air di kos-kosan yang tidak memiliki sumur artesis belum menemukan solusi jangka panjang. Di sisi lain, penggunaan air tanah dalam jumlah besar juga menyimpan persoalan lingkungan.
Penggalian sumur bor yang semakin dalam dapat membuat muka air tanah terus menurun. Hery Andreas, ahli sains, rekayasa, dan inovasi geodesi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menjelaskan bahwa penurunan muka air tanah dapat menyebabkan lapisan penyimpan air tanah mengalami pemadatan.
Ketika lapisan tersebut memadat, kemampuan tanah menyimpan air ikut berkurang. Kondisi itu juga sulit dipulihkan seperti semula.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


