• Berita
  • KEMARAU BANDUNG RAYA: Warga Lagadar Bertahan dengan Sumur yang Makin Dalam

KEMARAU BANDUNG RAYA: Warga Lagadar Bertahan dengan Sumur yang Makin Dalam

Dari sumur 18 meter hingga 100 meter, warga Lagadar terus mencari sumber air untuk bertahan dari kemarau. Namun, itu bukan solusi permanen.

Ibu Supardi, warga Desa Lagadar, Kecamatan Margaasih, yang sehari-hari menjaga warung kelontong, Jumat, 7 Agustus 2026. (Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)

Penulis Jawahir Alma'ani 22 Agustus 2026


BandungBergerak - Erangan mesin pompa air dan kucuran pelan air menjadi irama harian warga Kampung Cikuya, Desa Lagadar, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Jumat, 7 Agustus 2026. Di tengah kemarau panjang, warga RW 13, RW 14, dan RW 15 harus mengatur penggunaan air karena debit sejumlah sumber air mulai berkurang.

Supardi, 52 tahun, pemilik warung kelontongan di Jalan Cikuya Leuwi Dulang, merupakan salah satu warga yang bergantung pada sumur bor program Sarana Air Bersih (SAB). Air dari sumur tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan dibayar berdasarkan jumlah pemakaian. 

“Per kubik tiga ribu,” kata Supardi.

Menurut Supardi, kualitas air yang digunakan warga masih bersih meski kemarau. Persoalannya, air tidak lagi mengalir deras seperti biasanya.

“Susah ngocor kadang,” ujarnya.

Satu sumber air digunakan bersama oleh sejumlah warga, sementara debit air yang tersedia terbatas. Kondisi itu membuat aliran air berkurang ketika kebutuhan meningkat pada musim kemarau.

“Apalagi kita mah kemarau gini ya,” katanya.

Dalam sebulan, pengeluaran Supardi untuk penggunaan air bisa mencapai Rp40.000. Di tengah penghasilan warung yang menurun dan harga kebutuhan yang terus naik, pengeluaran tersebut tetap harus dipenuhi.

Warga lainnya, Nur Aini mengatakan pasokan air bersih di kampungnya bersumber dari fasilitas jet pump bantuan pemerintah dan swadaya warga. Saat ini, air hanya mengalir dua kali sehari, biasanya pada pagi dan sore hari, masing-masing sekitar dua jam.

Meski distribusinya terbatas, warga masih bersyukur karena air dari sumur bor tergolong bersih. Kondisinya berbeda dengan sumur-sumur tradisional yang memiliki kedalaman sekitar 12 hingga 18 meter. Banyak di antaranya mulai mengering saat kemarau.

Kondisi tersebut membuat warga harus mengandalkan sumur bor yang lebih dalam.

Menurut Danu Suhendar, 51 tahun, kedalaman sumur bor di kampungnya semula sekitar 40 meter. Untuk mengantisipasi kekeringan saat kemarau, warga kemudian bergotong royong menambah kedalamannya hingga 60 meter.

“Kalau cuma 40 meter riskan kering pas kemarau. Makanya kita swadaya tambah kedalaman jadi 60 meter,” terang Danu.

Di Lagadar terdapat beberapa titik sumur SAB. Setiap titik melayani sekitar 17 hingga 20 kepala keluarga (KK). Warga membayar iuran untuk perawatan dan kebutuhan listrik sekitar Rp30.000 per bulan.

Bagi warga, keberadaan sumur bor menjadi penopang utama kebutuhan air ketika sumur-sumur tradisional tak lagi bisa diandalkan. Namun, pengalaman sejumlah kampung menunjukkan bahwa memperdalam sumur tidak selalu berarti persoalan selesai.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kampung di Lagadar berulang kali menghadapi kekeringan. Desa merupakan desa terluas di Kecamatan Margaasih. Berdasarkan Kecamatan Margaasih Dalam Angka 2025 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS), luas Lagadar mencapai 4,32 kilometer persegi atau 23,78 persen dari wilayah Kecamatan Margaasih. Desa ini dihuni 27.205 jiwa dan terbagi dalam 21 rukun warga (RW) serta 125 rukun tetangga (RT).

Secara keseluruhan, Kecamatan Margaasih memiliki luas 18,16 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 155.740 jiwa pada 2025. Kepadatan penduduknya mencapai 8.576 jiwa per kilometer persegi. Wilayah kecamatan ini berada di bagian barat laut Kabupaten Bandung dan berbatasan langsung dengan Kota Bandung, dengan topografi relatif datar hingga sedikit bergelombang pada ketinggian 600-700 meter di atas permukaan laut. Data tersebut tercatat dalam Kecamatan Margaasih Dalam Angka 2025.

Di kawasan yang dihuni puluhan ribu orang itu, akses air bersih belum sepenuhnya ditopang jaringan perpipaan. PDAM Tirta Raharja, salah satu pemasok air terbesar di Kecamatan Margaasih, belum menjangkau Desa Lagadar.

Warga pun selama bertahun-tahun mengandalkan sumur galian rumahan dan sumur bor swadaya yang menggunakan pompa jet pump. Sumur galian umumnya hanya memiliki kedalaman sekitar 12 hingga 18 meter. Sementara sumur bor dapat mencapai 120 meter.

Namun, semakin dalam sumber air yang harus dicari, semakin besar pula biaya yang diperlukan. Di Kampung Cibogo, wilayah yang paling rutin dilanda kekeringan, warga bahkan telah mengajukan pembangunan sumur artesis dengan kedalaman 100 hingga 120 meter kepada pemerintah sejak 2024. Hingga kini permintaan tersebut belum terealisasi karena besarnya biaya pembangunan, sebagaimana diberitakan detikJabar dalam laporan Margaasih Langganan Kekeringan, Warga Terpaksa Beli Air 'Eceran'.

Baca Juga: TERSINGKIR DI PESISIR CIREBON: Ketika Laut Berubah Warna dan Perempuan Memikul Beban Ganda
Di Balik Riuh Flower City Festival, Ada Mereka yang Terus Bekerja

Sumur tradisional di Lagadar, Kabupaten Bandung Barat,  Jumat, 7 Agustus 2026. (Foto: Jawahir Almaani//BandungBergerak)
Sumur tradisional di Lagadar, Kabupaten Bandung Barat, Jumat, 7 Agustus 2026. (Foto: Jawahir Almaani//BandungBergerak)

Ada yang Aman, Ada yang Harus Mencari Sumber Baru 

Kondisi berbeda terlihat di Jalan Angsana RW 20, masih di Desa Lagadar. Beberapa ibu-ibu PKK RW 20 yang sedang berkumpul di posyandu mengatakan wilayah mereka sejauh ini tidak mengalami persoalan air.

RW 20 terdiri atas enam RT. Warga memiliki tiga sumur bor dengan kedalaman sekitar 100 meter. Sumur tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan air warga.

“RW 20 mah enggak masalah,” kata salah seorang warga.

Air dari ketiga sumur tersebut disebut masih bersih dan mampu memenuhi kebutuhan warga. Sumur yang lebih dalam membuat warga RW 20 relatif lebih siap menghadapi musim kemarau dibandingkan wilayah lain di Lagadar.

Namun, di wilayah perumahan yang berbatasan dengan kawasan perbukitan, persoalannya jauh lebih berat. Tidak semua warga dapat mengakses fasilitas SAB. Sebagian harus mengandalkan pengiriman tangki air bersih.

Yudi, Ketua RT 07/RW 15, mengatakan persoalan ketersediaan air di kawasan perumahan tersebut telah berlangsung cukup lama. Pengembang perumahan sebelumnya sempat menyediakan fasilitas sumur bor. Namun, debit air tidak bertahan lama.

“Pengembang perumahan dulunya cuma menyediakan satu titik, terus kering. Bikin lagi, kering lagi. Sampai akhirnya adik saya dan warga di dua blok patungan membuat sumur bor sendiri,” ujar Yudi.

Wilayah Yudi juga pernah mendapatkan bantuan sumur bor dari sebuah bank syariah. Sumur tersebut memiliki kedalaman sekitar 40 meter dan direncanakan untuk menyuplai sekitar 20 KK. Namun, air tidak keluar.

Dinas PUPR kemudian menyalurkan bantuan sumur bor baru dengan kedalaman 80 meter.

“Kedalaman 80 meter itu, tapi pas kemarau mengering juga. Kondisinya makin terasa dalam beberapa bulan terakhir,” tambah Yudi.

Namun, memperdalam sumur belum tentu menjadi solusi permanen. Ketika musim kemarau berlangsung, sumber air yang sebelumnya dapat diandalkan kembali menghadapi risiko kekeringan.

Kondisi itu telah berulang di kawasan Cibogo Lamping. Pada Juni 2023, warga RT 02/RW 01, Desa Lagadar, harus membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan harian. Ketika bantuan pemerintah berupa 13.000 liter air bersih tiba, masyarakat mengantre membawa ember, jeriken, drum, dan tong besar untuk menampung air. Peristiwa tersebut diberitakan detikJabar dalam laporan Kekeringan Melanda Margaasih, Warga Rela Antre Demi Air Bersih.

Kekeringan kembali terjadi pada Juli hingga September 2024 di Kampung Cibogo, RW 01. Saat itu, sekitar 780 KK di RT 01, 02, dan 03 terdampak. Warga yang bergantung pada sumur galian rumahan menghadapi debit air yang menyusut. Air yang tersisa juga menjadi keruh.

Warga kemudian meminta air kepada tetangga atau membelinya dengan harga sekitar Rp1.000 hingga Rp1.500 per jeriken. Ketua RW 01 Desa Lagadar, Asep Sukana, menyebut kondisi tersebut rutin terjadi setiap musim kemarau. Hal itu dilaporkan IDN Times dalam berita Sumur Mengering, Warga Lagadar Terpaksa Beli Air Bersih Setiap Hari dan detikJabar dalam laporan Margaasih Langganan Kekeringan, Warga Terpaksa Beli Air 'Eceran'.

Pada 2026, beban warga semakin berat. Harga air di kawasan Margaasih dilaporkan mencapai 5.000 rupiah per jeriken. Sejumlah keluarga bahkan harus membeli hingga 10 jeriken atau sekitar 50.000 rupiah per hari hanya untuk kebutuhan memasak, mandi, mencuci, dan sanitasi.

Kondisi itu terjadi ketika Pemerintah Kabupaten Bandung menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan sejak 18 Juni hingga 30 September 2026. Sebanyak 27 dari 31 kecamatan di Kabupaten Bandung dinyatakan rawan kekeringan. Data tersebut dilaporkan Radar Bandung dalam berita Kekeringan di Margaasih, Warga Harus Rogoh 5.000 Rupiah Demi Air Bersih per Jerigen.

Kemarau panjang juga membawa risiko lain. Sejak fenomena El Nino, Desa Lagadar beberapa kali mengalami kebakaran lahan yang berkaitan dengan kondisi vegetasi yang mengering.

Salah satunya terjadi pada Rabu, 29 Juli 2026, di Kampung Cikuya, kawasan perbukitan yang berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat. Kebakaran melanda semak belukar seluas sekitar 200 meter persegi dan diduga bermula dari aktivitas pembakaran sampah yang merembet ke lahan kering di sekitarnya.

Kejadian tersebut berlangsung ketika kebakaran lahan di Kabupaten Bandung meningkat tajam. Kompas.com melaporkan jumlah kejadian meningkat dari tiga kasus pada Januari-Mei menjadi 72 kasus pada Juni hingga 29 Juli 2026. Sementara Antara News Jabar mencatat total 88 kasus kebakaran lahan hingga akhir Juli.

Namun, krisis air tidak hanya dirasakan untuk kebutuhan rumah tangga. Di kawasan Cikuya Tonggoh, para petani menghadapi persoalan serupa dengan konsekuensi yang lebih besar: ancaman gagal panen.

Di hamparan sawah yang mulai merekah, Iwan, 53 tahun, menunjuk saluran irigasi dan aliran sungai kecil yang debitnya semakin menyusut.

Para petani bergantung pada pasokan air irigasi untuk mengairi sawah. Namun, saat kemarau, aliran dari kawasan pegunungan ikut mengecil. Untuk mempertahankan tanaman padi, sebagian petani terpaksa menyedot air dari saluran pembuangan atau selokan menggunakan mesin pompa.

“Sawah mah da bergantung pisan ka air irigasi. Pan kemarau gini mah saluran ti gunung ge tos alit pisan, malah sebagian disedot pamasangan mesin ti hilir. Pami teu dibantu nyedot mah ya gagal panen,” ungkap Iwan.

Bagi petani, air yang berkurang berarti hasil panen ikut dipertaruhkan.

***

*Liputan ini mendapatkan dukungan data lapangan dari reporter BandungBergerak Insan Radhiyan. Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//