Di Balik Riuh Flower City Festival, Ada Mereka yang Terus Bekerja
Flower City Festival adalah ruang untuk berpesta, berjoget, dan merayakan musik. Namun bagi pekerja di baliknya, hajat itu dimulai jauh sebelum musisi naik panggung.
Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 20 Agustus 2026
BandungBergerak - Suara bor sesekali menyelusup di antara dentuman musik Flower City Festival, di Lapangan PPI Pussenif Bandung, Minggu, 9 Agustus 2026. Seorang pekerja berdiri di sisi pagar besi, sibuk mengencangkan baut dengan alat bor. Di balik pagar, para penonton sedang menikmati sajian musik punk dari The Cloves and The Tobacco. Sesekali mereka saling dorong di ketika musik menggelegar.
Tak jauh dari sana, pekerja lain menjalankan tugasnya masing-masing. Petugas kebersihan memunguti sampah yang berserakan. Kru makanan dan minuman sibuk melayani pengunjung yang datang silih berganti. Petugas ticketing dan body checker yang sedari awal menjadi pekerja yang paling sibuk menerima dan memeriksa puluhan ribu orang sepertinya sedang kelelahan.
Sementara soundman dan crew stage sibuk memastikan suara instrumen band terdengar nyaman. Begitu juga kru panggung bekerja mengatur berbagai kebutuhan pertunjukan. Ada pula pekerja yang memperbaiki perangkat efek api di depan panggung.
Mereka tidak datang untuk menonton band. Mereka datang untuk memastikan orang lain bisa menikmati tontotan. Setiap pertunjukan, tak terkecuali Flower City Festival yang terdiri dari empat panggung, selalu berdiri di atas para pekerja yang nyaris tak terlihat.
Bagi penonton, festival mungkin dimulai ketika musisi naik ke atas panggung. Bagi para pekerja, ia dimulai jauh sebelumnya, dan bahkan belum tentu selesai ketika lampu panggung dimatikan.

Iqbal Nugraha, 25 tahun, koordinator tim pengelola sampah di Flower City Festival, termasuk yang mulai sibuk sebelum acara berlangsung. Ia mengatur alur kerja sekitar 30 pekerja yang mengenakan rompi khas. Tugas utama mereka membersihkan sampah di area venue.
Mereka menyiapkan wadah sampah, sapu, dan pengki, sekaligus memetakan titik-titik yang berpotensi menghasilkan banyak sampah, terutama area makanan dan minuman.
Iqbal bersama tim berkeliling melihat titik-titik sampah yang mulai menumpuk, kemudian mengarahkan pekerja untuk segera membersihan dan mengangkut tong sampah. Karena jumlah pengunjung yang besar dan kondisi venue yang padat, pekerjaan itu tidak selalu mudah.
Menurut Iqbal, salah satu kesulitan terbesar adalah kesadaran pengunjung yang masih rendah untuk membuang sampah pada tempatnya.
“Kita enggak bisa ngontrol yang enggak bisa kita kontrol,” kata Iqbal.
Bagi Iqbal, pekerjaan sebagai waste management di festival memiliki suka dukanya sendiri. Bagian yang menyenangkan adalah ia tetap bisa mendengarkan musik di sela pekerjaannya. Namun, konsekuensinya adalah waktu kerja yang panjang, dari pagi hingga malam.
Ketika penonton sibuk berpindah dari satu panggung ke panggung lain, menikmati makanan, berjoget, dan bernyanyi, Iqbal dan timnya justru terus menyisir area yang ditinggalkan. Mereka tidak punya kemewahan untuk menikmati satu pertunjukan secara utuh. Musik menjadi latar pekerjaan, bukan tujuan utama kedatangan.
“Kalau untuk dukanya sih mungkin karena kita dari pagi sampai malam aja sih, karena namanya kerja ya pasti ga ada yang nggak capek sih,” kata Iqbal.
Di atas panggung, The Cloves and The Tobacco tampil dengan musik Celtic dan folk punk-nya. Beragam instrumen membuat musik mereka terdengar penuh dan megah. Sebelum membawakan “Sajak Usang Kelas Pekerja”, sang vokalis bertanya kepada penonton.
“Siapa yang di sini baru pulang bekerja? Seberapa sering kalian diremehkan karena pekerjaan kalian? Tak apa jika itu untuk membiayai keluarga kalian. Bertahanlah,” ujar vokalis sebelum main.
Pertanyaan itu terasa nyambung dengan orang-orang yang sejak tadi bekerja di di sekitar venue seperti Iqbal. Mereka tidak masuk ke dalam foto penonton. Tidak selalu disebut dalam unggahan media sosial setelah acara. Namun tanpa pekerjaan mereka, pesta yang disebut “Hajatna Barudak Bandung” itu tidak akan berjalan dengan cara yang sama.

Hajatna Barudak Bandung
Hajatna Barudak Bandung merupakan sebutan alami untuk Flower City Festival. Raezha Saputra, salah satu penggagas Flower City Festival, mengatakan sebutan tersebut bukan berasal dari pihak penyelenggara. Istilah itu muncul secara organik dari komentar-komentar penonton setelah penyelenggaraan FCF pada 2025. Orang-orang yang datang sendiri yang menyebutnya demikian.
Bagi pengelola, sebutan itu kemudian membawa tanggung jawab.
“Ketika orang-orang sudah bisa bilang bahwa acara ini mah hajatna barudak Bandung, kita harus, wajib, kudu nyuguhkeun nu nyaman dan aman jang barudak nu hadir ka FCF,” ujar raezha.
Hajat, dalam pengertian sederhana, adalah perayaan yang disiapkan untuk orang-orang yang datang dan berkumpul. Tetapi bagi Flower City Festival, sebutan itu tumbuh dari mereka yang mengalaminya langsung di tahun sebelumnya. Karena itu, pengelola tidak hanya berusaha membuat pertunjukan berjalan, tetapi juga membaca apa yang diinginkan orang-orang yang datang.
Dan ketika target acara tahun ini dirasa sudah tercapai, pengelola memilih acara kemarin tidak menjual tiket secara langsung di lokasi. Raezha menyebut keputusan itu sebagai bentuk menahan diri agar tidak mengejar pemasukan berlebih yang bisa menyulitkan.
“Nanaon ge ulah ngarawu ku siku (jangan serakah),” ujarnya.
Bagi Raezha, keputusan tidak menjual tiket on the spot menjadi bagian dari upaya menjaga festival tetap dalam kapasitas yang dapat dikelola. Pemahaman dia terhadap kultur Bandung ia alihwahanakan kepada Flower City Festival. Tidak sekadar mendatangkan nama-nama besar, tetapi memberi ruang besar bagi musisi lokal Bandung untuk berdiri sejajar dengan mereka.
Salah satu yang terbaru Alkateri, band asal Bandung yang tengah naik daun, ditempatkan di panggung utama dan tampil di hadapan puluhan ribu penonton dalam skala yang sama dengan musisi yang lebih mapan. Pilihan itu memperlihatkan upaya Flower City Festival membaca selera anak muda Bandung sekaligus memberi panggung bagi ekosistem musik lokal untuk tumbuh di kotanya sendiri.
Baca Juga: Zine Foto Tumpah Ru(m)ah: Di Mana Perempuan Merasa Pulang?
Sebuah Konser Hardcore Punk dengan Segenggam Beras sebagai Tiketnya
Dari Punk hingga Dangdut
Di hajatan ini, penonton betul-betul dimanjakan. Salah satunya melalui penampilan Teenage Death Star yang membawakan “I've Got Johnny in My Head”. Aksi liar penonton dengan permainan para personel band yang sama gilanya. Kerumunan bergerak mengikuti musik hingga pertunjukan ditutup dengan “Absolute Beginner Terror”.
Setelah lagu terakhir, para personel Teenage Death Star melemparkan mainan layangan kepada penonton sebagai gimmick panggung. Beberapa waktu kemudian, di sela riuh festival, seorang pemuda menerbangkan salah satu layangan itu dengan gembira layaknya anak kecil bermain layangan di atas genteng.
Di panggung lain, suasananya berubah total. Yayan Jatnika, Bungsu Bandung, Abiel Jatnika tampil dengan dangdut yang menggelora. Penonton tak kalah hebohnya. Mereka tidak membutuhkan kesamaan selera untuk menikmati ruang yang sama.
Iman Hadiansyah, 23 tahun, salah satu penonton, merasa pengalaman yang paling menyenangkan di festival ini datang dari panggung dangdut. Ia melihat sesuatu yang menurutnya menarik: orang-orang dengan penampilan serba hitam, bergaya punk, dan terlihat “seram” ikut berjoget menikmati dangdut. Pemandangan itu menjadi salah satu hal yang membuat FCF terasa menyenangkan baginya.
Iman datang ke Flower City Festival dari Ledeng tanpa rencana khusus. Ia semula hanya diajak kakaknya yang memiliki dua tiket, tetapi tetap menemukan sejumlah penampilan yang ingin ditonton, termasuk The Jansen yang belakangan sedang ia ikuti karena album barunya dinilai lebih kuat secara musikal sekaligus berani membawa gagasan tentang politik dan sosial.

Beberapa waktu berselang, Strangers unit band modern metal hardcore tampil dengan energi cadas yang berbeda dari penampil lainnya.
Begitulah Flower City Festival berpindah dari satu energi ke energi lain.
Bagi Dea, 28, salah satu penonton, keberagaman itu salah satu hal yang membuat Flower City Festival berbeda. Ia menyukai punk, reggae, ska, metal hingga dangdut. Baginya, festival tersebut seperti playlist yang dimainkan secara langsung.
Namun musik bukan satu-satunya alasan Dea datang. Dea datang bersama anaknya, Al Ayubi, 6 tahun).
Hubungan Al dengan musik bahkan dimulai ketika ia masih sangat kecil. Saat mengandung Al, Dea masih nge-band dan tampil. Ketika anaknya berusia sembilan bulan, ia mulai membawanya ke acara-acara musik kolektif.
Kini Al sudah memiliki kesukaan sendiri. Ia menyukai Dongker. Ketika band tersebut tampil, Al berdiri di bagian paling depan. Di Flower City Festival, ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan. Ia bermain, berani tampil dalam sesi tanya jawab, mengikuti photo booth, dan berjoget dengan antusias.
“Jadi aku sama anak tuh sefrekuensi, bawa anak kesini kaya main sembari ngasuh aja,” kata Dea.
“Kesukaan aku Dongker, enakeun,” timpal Al, dengan suaranya yang polos.
Bagi Dea, membawa anak ke festival bukan sekadar mengajak anak menikmati musik. Ia juga mengenalkan dunia yang membentuk dirinya.
Ketika orang mempertanyakan mengapa anak dibawa ke acara musik keras, termasuk acara punk lainnya, Dea memiliki jawabannya sendiri. Baginya, punk tidak hanya berarti pemberontakan. Ada solidaritas, pertemanan, dan kesetaraan.
“Memanusiakan manusia,” ujarnya.
Dea mengatakan ia tidak mengajarkan punk sebagai ideologi kepada Al. Yang diperkenalkan lebih dulu adalah musik dan fesyen, sekaligus nilai yang menurutnya penting dalam kehidupan sehari-hari: tidak membeda-bedakan orang dan bisa berbaur dengan siapa saja.
Di acara tersebut Al Ayubi melihat beberapa pria yang sedang mabuk dan mengatakan kepada ibunya agar tidak bergaul dengan orang tersebut. Dea melihatnya sebagai tanda bahwa anaknya mulai memahami batas antara berbaur dengan siapa saja dan mengikuti perilaku yang dianggap tidak baik.
“Enggak boleh mabok nanti masuk neraka," kata Dea meniru ucapan Al ketika menegur teman-teman ibunya.
Sementara Dea membawa hubungan yang panjang dengan musik, Abim, 19 tahun, datang dengan pengalaman yang berbeda.
Pemuda asal Padalarang itu datang ke Flower City Festival untuk pertama kalinya dengan mengendarai sepeda motor. Ia memperkirakan menghabiskan sekitar 20.000 rupiah untuk bensin pulang-pergi. Tiket seharga 150.000 rupiah dibelinya dari hasil bekerja di sebuah waralaba ayam.
Abim datang karena band-band yang tampil. Alkateri, Alpha Liberta, Rumah Sakit, dan The Adams menjadi beberapa nama yang ingin ditontonnya. Tidak semuanya berhasil ia saksikan karena sejumlah penampil tampil berbarengan.
Ia dan teman-temannya harus berpindah dari satu panggung ke panggung lain. Baginya, Flower City Festival adalah pengalaman pertama. Baginya, band-band yang tampil bagus dan pengalaman menonton musik secara langsung masih rela ia bayar dengan harga yang masih masuk akal.
Di panggung lain, saya kemudian menyaksikan Alpha Liberta, proyek musik elektronik alternatif asal Bandung yang dimulai Aldi Salladin pada 2024. Musiknya membawa suasana yang jauh berbeda dari riuh Teenage Death Star atau Strangers.
Synthesizer modular dan eksplorasi bunyi mentah menjadi ruang untuk mengalami musik dengan cara yang lebih tenang dan eksperimental. Lagu “Semesta” membawa perpaduan modular synth, suara-suara alam, dan bebunyian alien membuat saya sedikit takjub dan mengaggukan kepala.
Flower City Festival mungkin menjadi sebuah hajat yang tidak pernah selesai hanya karena orang-orang yang datang sudah merasa puas. Ada tangan-tangan yang sejak awal menyiapkannya, menjaganya tetap aman, membersihkannya ketika berantakan, memperbaiki ketika sesuatu rusak, dan memastikan pertunjukan terus berjalan.
Di depan panggung, orang-orang menikmati pesta. Di belakangnya, orang-orang bekerja agar pesta bisa layak dinikmati bersama.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


