• Berita
  • Zine Foto Tumpah Ru(m)ah: Di Mana Perempuan Merasa Pulang?

Zine Foto Tumpah Ru(m)ah: Di Mana Perempuan Merasa Pulang?

Lewat foto dan cerita personal, para pengkarya Tumpah Ru(m)ah merekam bagaimana perempuan memaknai rumah sebagai ruang untuk tumbuh dan berubah.

Salah satu karya dalam Zine Foto Tumpah Ru(m)ah yang didiskusikan di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Sabtu, 15 Agustus 2026. (Foto: Riyan D Apriliyana/BandungBergerak)

Penulis Ryan D.Afriliyana 19 Agustus 2026


BandungBergerak - Sebuah mading terpasang di atas tempat tidur kamar. Berhadapan dengan jendela besar, majalah dinding tersebut menjadi instalasi personal berupa catatan dan gambar buatan pemilik kamar, Husna N. Ada kalimat-kalimat penyemangat yang mungkin terdengar klise. Tapi lembaran kertas di dinding itu adalah tali penyelamat saat ia berada di fase depresi.

"Saat depresi, suara di dalam otak kita itu sangat buruk. Kita tidak bisa mengendalikannya," ungkap Husna saat diskusi bedah zine foto Tumpah Ru(m)ah pada Sabtu Sore #42 dengan tema Cerita Tentang Rumah yang Berbeda di Perpustakaan Bunga di Tembok, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Dalam diskusi ini, turut hadir enam dari sembilan orang pembuat karya yang dimuat ke dalam zine foto Tumpah Ru(m)ah, salah satunya Husna yang mengusung judul Talking Walk.

Di tengah kesibukan sehari-hari yang kadang berisik dan melelahkan, tempelan-tempelan kertas di dinding seolah menyapa dan mengingatkan perempuan tersebut. Sadar bahwa ia tidak bisa mengandalkan pikirannya yang sedang sakit, ia sengaja menaruh kata-kata pengingat itu di luar dirinya, di tembok kokoh kamar.

“Setiap hari aku lihat, setiap hari aku baca gitu. Walaupun mungkin awal-awalnya aku menyangkal gitu ya. Apalah gitu,” kata Husna.

Seiring berjalannya waktu, fungsi dinding itu berubah. Ketika fase penolakan dan kesedihan mulai mereda, ia menaikkan level afirmasinya. Jika awalnya tulisan-tulisan itu berfungsi untuk menenangkan dan menerima diri (acceptance), kini tulisan tersebut menuntut tindakan nyata (action). Ia harus bergerak melakukan sesuatu.

“Memang setiap tahun tuh ada aja yang beda-beda aku pasang gitu di dinding. Memang apa ya, aku kayaknya tipenya ini banget ya kayak positive words of affirmation banget gitu anaknya,” jelas Husna.

Salah satu titik balik pentingnya adalah sebuah catatan acak yang ia dapatkan dari sebuah kotak permainan. Aturan mainnya sederhana: menulis surat untuk orang asing, memasukkannya ke dalam kotak, lalu mengambil surat milik orang lain secara acak. Surat misterius yang ia dapatkan mengatakan:

Ia menekankan pentingnya memperbaiki diri dalam kondisi apa pun, tetap bangkit, dan mencintai diri sendiri. Sebab, orang lain mungkin hanya melihat apa yang terjadi, sementara diri sendirilah yang merasakan dan menjalani. Karena itu, perubahan perlu dimulai dengan berani keluar dari keadaan dan mengambil langkah untuk memperbaiki hidup.

Menurut Husna, surat itu terasa seperti semesta sedang berbicara langsung kepadanya. Surat itu menyadarkannya untuk keluar dari kamar, berhenti mengurung diri, dan kembali menemui dunia.

“Ada masa yang di mana aku kalau malas tuh kayaknya di rumah aja kan. Kayaknya enggak ketemu orang gitu. Tapi ketika dapat ini teh, iya ya benar gitu loh. Jadi, aku akhirnya menyematkan ini juga gitu,” ucap Husna.

Di dinding itu pula, ia menempelkan tulisan "build a legacy" sebagai pengingat jangka panjang agar hidupnya meninggalkan jejak kebaikan, bersanding dengan coretan-coretan hangat dari teman-temannya.

Mading yang pada awal kuliahnya kosong melompong dan hanya berisi jadwal kuliah biasa, kini telah bertransformasi menjadi saksi hidup perjuangan memulihkan diri. Terlihat bagaimana ia memotret kertas demi kertas yang ia tempelkan. Detil itu seakan-akan mengungkapkan mengapa ia masih bertahan sampai detik ini.

Berbeda dengan Husna, Salma Nur Fauziyah, pembuat karya lainnya yang dimuat zine foto Tumpah Ru(m)ah, merefleksikan bahwa rumah sebagai ingatan. Melalui foto-foto berjudul “Memoire”, ia menggali kembali separuh hidupnya yang dihabiskan di rumah sang nenek sejak SD, SMP, SMK, hingga bangku kuliah. Sosok nenek menjadi jangkar utama dari seluruh ingatan tersebut. 

Melalui lensa kameranya, ia merekam sudut-sudut rumah yang menyimpan residu kenangan. Ada taman tempat neneknya biasa menyapu di pagi hari, dua kursi baru di pelataran rumah yang jarang sempat diduduki, hingga tumpukan kerudung dan dompet belanja yang masih tersimpan rapi.

“Jadi aku memotret memori yang aku paling ingat dengan nenekku gitu. Seperti di taman karena nenekku suka nyapuin taman kalau tiap pagi-pagi gitu. Terus juga kenapa taman? Karena aku punya arsip juga,” ungkap Salma saat diskusi.

Namun, ingatan Salma juga menyimpan masa-masa sulit menjelang kepergian sang nenek. Ia masih mengingat botol cairan infus NaCl yang setiap hari digunakan untuk membersihkan luka di kaki neneknya yang kian membesar. Lembar CT scan terakhir juga menjadi bagian dari ingatannya setelah sang nenek mengalami serangan stroke setahun sebelum meninggal.

Salma kembali masuk dalam ingatannya. Kala itu, saat sang nenek terkena serangan storke, ia merasa tidak tahu harus melakukan apa, selain menelpon om dan tantenya. Namun, setelah om dan tantenya datang tak lama sang nenek berpulang. Itulah alasan kenapa ia memotret botol cairan infus dan CT scan

Ingatan manis dan pahit selalu ada, bagi Salma rumah adalah residu-residu yang tertinggal di tempat itu. “Sekecil apa pun pasti akan memicu ingatan kita kembali,” tutup Salma sembari menunjuk peserta berikutnya untuk mempresentasikan karyanya.

Baca Juga: Zine Bandung 24 Jam, Carut Marut di Balik Romantisasi Kota Kembang
Zine bagi Orang-orang Muda Bandung

Lebih dari Tempat Fisik

Lain lagi dengan eksplorasi hubungan antara rumah dan jati diri yang diolah Novi Rahma, seorang perempuan yang membagi dirinya dalam berbagai peran sebagai anak, perempuan, guru PAUD, dan mahasiswa.

“Kalau saya tuh banyak identitasnya itu. Di antaranya adalah seorang anak, seorang perempuan, seorang guru, seorang mahasiswa juga. Cuma di sini tiga aja sih gitu,” kata Novi saat diskusi.

Bagi Novi, rumah tidak lagi merujuk pada tempat fisik. Ia memfokuskan karyanya pada tiga peran utama: sebagai anak, guru PAUD, dan mahasiswa.

Dalam karyanya, identitas-identitas ini divisualisasikan secara intim. Perannya sebagai anak dan bagian dari keluarga digambarkan lewat momen spontan saat ia ikut bermain balon bersama adik-adiknya, serta aktivitas bermain game ludo bersama keluarganya.

Sebagai guru PAUD, ia menampilkan foto murid-muridnya yang sedang ceria memainkan permainan tradisional bernama cingciripit. Sementara perannya sebagai mahasiswa terekam dalam foto bersama teman-teman kuliahnya yang tergabung dari peserta kelas liar, foto tersebut memotret dirinya sedang menggarap proyek Festival Bandung Menggugat ke-2.

Melalui rajutan identitas yang beragam ini, ia merumuskan ulang arti pulang. "Rumah adalah ketika aku merasa nyaman dengan diriku sendiri, di mana pun aku berada, dengan siapa pun itu, selama aku nyaman," tuturnya.

Karya selanjutnya dari Mirna Nadia bertajuk “Nanti Kita Pulang” menawarkan perspektif rumah sebagai ruang jeda di tengah riuhnya dunia modern yang menuntut produktivitas tanpa batas.

“Kita pulang ke rumah kita bisa ketemu orang-orang yang kita sayang, enggak harus performing sesuatu, enggak harus selalu produktif,” ungkap Mirna.

Mirna menganggap, rumah sebagai tempat untuk melepaskan segala bentuk penat atas tuntutan pekerjaan. Di rumah, seseorang bisa kembali menjadi manusia seutuhnya, beristirahat tanpa rasa bersalah, ditemani oleh orang-orang tersayang, dan dengkur halus sang kucing peliharaan.

“Bentuk-bentuk rumah itu selalu berbeda di tiap tempat. Mungkin dalam satu tempat lebih banyak kucingnya daripada orangnya,” kata Mirna dengan bergurau.

Pembuat karya zine berikutnya bernama Suha Amani, peserta asal Yogyakarta. Ia membuat karya berjudul Rumah yang Penuh Cinta. Ia memotret sebuah arsip silsilah keluarga (pohon keluarga) yang ditulis dengan bolis tinta sejak tahun 1930.

Arsip tersebut berusia hampir satu abad peninggalan kakek buyutnya, ia rawat layaknya koleksi museum menggunakan silika gel agar tidak hancur dimakan usia.

“Tapi mungkin ini dari tahun ke atas-atasnya lagi. Jadi belum sampai ke beliau,” kata Suha melanjutkan sesi diskusi.

Baginya, rumah terus tumbuh seiring perjalanan hidupnya yang berpindah-pindah kota, mulai dari Yogyakarta, Purwokerto, Depok, hingga Melbourne. Di setiap tempat itu, benang merahnya tetap sama, siapa yang mengisi rumah dan bagaimana perasaan kita di dalamnya.

“Nah, ini dulu waktu saya ngontrak di Depok. Saya fotoin ruang tamu waktu itu, saya enggak bisa cuma sendirian berdiri di rumah itu, ada barang-barang lain milik suami dan anak saya,” jelas Suha.

Dalam sampul zine karya Suha terdapat foto pohon bugenvil yang ia abadikan sebagai kenangan. Saat terakhir pulang ke Yogyakarta, ia mendapati pohon tersebut sudah tidak ada. Pekarangan tempat bugenvil itu dulu tumbuh kini telah berubah menjadi bangunan serbaguna.

Pohon bugenvil tersebut sebelumnya ditebang karena banyak semut. Setelah itu, pohon rambutan ditanam sebagai pengganti, tetapi kembali mengalami persoalan serupa. Hingga akhirnya, area tempat pohon itu tumbuh ikut berubah setelah rumah diperluas menjadi ruang serbaguna.

Foto selanjutnya adalah coretan kapur lintasan mobil mainan untuk sang anak yang menganggap ibunya sebagai pahlawan, hingga magnet-magnet kulkas Jogja sebagai simbol harapan untuk selalu bisa pulang.

“Seperti apa ya? Manifestasi bahwa aku akan selalu punya uang buat pulang ke Jogja. Dan itu benar,” tuturnya.

Kehangatan rumah ini teruji nyata saat krisis ekonomi dan kesehatan mendera menjelang lebaran. Ketika ia dihadapkan pada pilihan sulit antara biaya pengobatan rahang atau membeli tiket pulang.

Keputusannya untuk mengobati rahang tetap memabawanya pulang, seakan takdir sudah ditentukan, ia dibelikan tiket pulang oleh orang tuanya. Setiap foto yang dipotret memberikan makna seolah rumah menerima setiap kekurangannya.

Karya terakhir yang milik Karina Shella yang memotret perjalanan meninggalkan rumah, setelah 30 tahun menetap di Bandung bersama keluarga dan sahabat. Ia harus mengambil keputusan besar untuk bekerja sebagai perantau.

Langkah kakinya sempat goyah dan gamang saat harus meninggalkan kota yang membesarkannya. Ada ketakutan nyata akan kehilangan relasi dan kehangatan yang selama ini ia miliki di Bandung. Namun, perjalanan sejauh ratusan kilometer itu justru memberikan kesadaran baru.

“Berat sebenarnya ninggalin Bandung dan sebenarnya cita-cita aku buat ke mana pun aku pergi karena menurut aku rumah itu bukan hanya Bandung ketika aku kecil. Alam raya ini adalah rumah kita gitu kan,” ungkap Karina.

Di Labuan Bajo, tempat dimana Karina sekarang bekerja. Ia menemukan ruang kontemplasi dan teman-teman baru yang lambat laun bertransformasi menjadi "rumah" baru baginya. Jarak ternyata tidak merusak hubungan, melainkan mendewasakannya.

"Jarak hanya mengubah bentuk kasih sayang, bukan memutuskannya. Pergi bukan berarti kehilangan rumah," pungkasnya hangat.

Keindahan Labuan Bajo mempertemukan Karina dengan kawan baru. Namanya Clara dan Alicia, tidak ada alasan lain kenapa ia memotret mereka berdua selain karena ia menyayanginya. Kerap Karina sering memanggil mereka dengan sebutan “mi amore”. Sampai saat ini, ia belum bertukar kabar dengan mereka.

“Nah, semoga ya baik-baik aja,” ujarnya, yang khawatir dengan dampak gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu lalu, 15 Agustus 2026.

Bagi para pengkarya, zine foto “Tumpah Ru(m)ah ibarat wadah yang menampung imajinasi tentang rumah. Rumah bukan sekadar koordinat geografis yang kaku, dibatasi oleh dinding bata dan nomor alamat. Definisi itu meluber, tumpah, dan mewujud menjadi rupa-rupa bentuk yang personal, intim, sekaligus politis.

Dari ruang-ruang memori masa kecil, silsilah keluarga yang menembus waktu satu abad, hingga pergolakan batin saat harus melintasi pulau, para kreator ini membagikan bagaimana mereka merawat ingatan dan mendefinisikan ulang arti pulang.

Cerita-cerita tersebut diusut tuntas melalui kegiatan kolaborasi foto yang menaruh perhatian pada keseharian perempuan di ruang domestik yang sering kali selama ini terpinggirkan oleh sejarah besar. Kegiatan tersebut menjadi wadah bercerita bagi kawan-kawan perempuan tentang relasi unik mereka dengan apa pun itu yang disebut sebagai rumah. Wadah baru tersebut bernama “Tumpah Ru(m)ah”

Dalam dua bulan proses pengembangan ide cerita, peserta pembuat zine mengeksplorasi kemungkinan bagaimana foto mampu menguatkan setiap pengalaman dan kesaksian. Ada ngobrol langsung, ada kelas, ada diskusi timbal-balik semacam mentoring.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//