Sebuah Konser Hardcore Punk dengan Segenggam Beras sebagai Tiketnya
“Kadang saya juga enggak punya uang. Yang bisa saya pertukarkan untuk hadir ya beras yang ada di rumah."
Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 23 Juni 2026
BandungBergerak – Seharusnya distorsi gitar yang bising mulai dimainkan pukul empat sore. Namun Jumat, 19 Juni 2026 itu aliran listrik putus akibat pemadaman bergilir yang belakangan melanda Bandung atas nama efisiensi. Dan begitulah konser Unacceptable: Decontrol Showcase di basement parkiran kampus STT Tekstil terpaksa tertunda.
Sejumlah kawan kolektif kalang kabut pergi ke kawasan Bandung utara untuk mencari genset agar acara tetap dapat berlangsung. Sementara para penonton memilih bertahan. Ada yang berbincang beragam topik di sudut ruangan. Ada yang duduk bersila sambil membaca zine dengan halaman-halaman kertasnya yang sedikit berkerut di bawah cahaya seadanya. Ada juga beberapa orang tenggelam di layar ponsel, menggulir linimasa Instagram seolah mencari distraksi dari jeda yang tak direncanakan untuk gigs ini.
Seorang penonton tampak serius menggoreskan poster di gawai. Jari-jarinya bergerak cepat menyusun konten visual yang kemungkinan akan dipakai oleh sebuah band.
Ketika genset datang mengisyaratkan acara bakal segera dimulai, penonton berbaris di pintu masuk dengan membawa kantong beras di tangan masing-masing. Tidak ada loket pembelian tiket, tidak ada gelang masuk berbayar, tidak ada transaksi uang.
Tanpa menunggu lama, suasana liar khas gigs bawah tanah segera hadir. Dan memang faktanya acara ini digelar di basement parkiran!
Moshpit pecah di depan panggung. Aksi berlangsung dua arah. Di sela-sela dentuman musik, puisi dibacakan oleh sang vokalis. Energi penonton semakin tak terkontrol dalam ritme yang saling bertubrukan.

Tentang Lumbung, Beras, dan Uang
Unacceptable: Decontrol Showcase digagas oleh kolektif Unacceptable Punk dengan dukungan kawan-kawan Gema Musik Kampus STT Tekstil Bandung. Sejumlah band lain, dari Bottled Violent, Barbed Wire, Arogan, Egofatum, Kataliz, hingga Cherish, turut meramaikan konser hardrock punk ini.
Dengan beras sebagai tiketnya, yang ingin dibangun dalam pertunjukan malam itu jelas bukan sekadar ruang hiburan. Apalagi beras yang terkumpul, seberapa pun banyaknya, akan disalurkan bagi warga di kampung-kampung kota dan gang-gang kecil.
Melalui manifesto yang disebarkan sebelum musik meraung, Unacceptable menjelaskan bahwa konsep “tiket beras” berangkat dari gagasan tentang "lumbung". Bukan sebagai sekadar bangunan penyimpanan pangan, tapi sebagai perjanjian. "Lumbung bukan gedung, lumbung adalah perjanjian," tulis mereka. Dan perjanjian itulah yang memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang harus menghadapi kesulitan seorang diri. Kelebihan yang dimiliki seseorang dapat menjadi cadangan bagi orang lain yang membutuhkan.
Dalam pernyataan kritiknya, Unacceptable meyakini bahwa kebanyakan konser musik telah membentuk hubungan yang terlalu transaksional. Penonton hadir sebagai konsumen, sementara musisi ditempatkan sebagai idola. Saatnya mengubahnya: semua orang dianggap sebagai kontributor yang sama-sama membangun ekosistem skena yang menolak sama.
Gagasan tentang kesetaraan itu termuat juga dalam zine edisi kedelapan yang diterbitkan bertepatan dengan konser malam itu. Secara khusus, dominasi uang dalam kehidupan modern dikritik habis. Uang mestinya tidak dijadikan satu-satunya bahasa pertukaran sehingga hubungan antar-manusia tidak jatuh melulu transaksional. Harus lahir bentuk pertukaran lain yang tidak semata-mata ditentukan oleh logika pasar.
Beras dipilih bukan semata-mata sebagai simbol bantuan. Beras merupakan bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat sekaligus medium untuk membangun hubungan sosial yang lebih setara.
Tiket beras bukan dimaksudkan sebagai gimmick atau kegiatan amal sesaat. Tidak seperti praktik filantropi yang menempatkan satu pihak sebagai pemberi dan pihak lain sebagai penerima, konsep ini diniatkan untuk membangun solidaritas secara horizontal tanpa hierarki.
Dalam zine yang sama, Unacceptable mengamini bahwa sebuah pertunjukan musik, beberapa karung beras, dan satu sesi barter bukanlah revolusi. Namun praktik-praktik kecil semacam ini diyakini dapat “membuka kemungkinan baru di tengah kehidupan yang semakin dikendalikan oleh pasar”.

Baca Juga: Nyaring Hip-Hop di Taman Cibeunying: Merebut Ruang dari Bayang-bayang Budaya Takut
Menyaksikan Kolektif Hip-hop Tumbuh di Bandung Timur
Menciptakan Ruang Otonom
Candra, 26 tahun, yang datang dari Bojongsoang, melihat konser tak biasa di basement parkiran kampus ini sebagai ruang otonom yang wajib dibangun di tengah situasi politik yang menurutnya semakin represif. Ia fasih menceritakan bagaimana semakin represif aparat menghadapi aksi demonstrasi. Beberapa peserta aksi ditangkap bahkan sebelum unjuk rasa dimulai. Karena ruang demokrasi menyempit, komunitas dan subkultur perlu menciptakan ruangnya sendiri.
"Yang patut di-highlight itu bagaimana kita membuat ruang otonom yang tidak diintervensi, baik oleh kapital maupun aparat negara," ujarnya.
Bagi Candra, konser kolektif menunjukkan bahwa komunitas masih mampu membangun infrastrukturnya sendiri di tengah keterbatasan. Konsep tiket beras membuat relasi antara penonton dan musisi menjadi lebih setara.
"Kadang saya juga enggak punya uang,” katanya. “Yang bisa saya pertukarkan untuk hadir ya beras yang ada di rumah."
Risa, seorang perempuan pejalan asal Tokyo, Jepang, yang telah sebulan tinggal di Bandung, datang dengan niat menyaksikan Bottled Violent, band yang sudah dia kenal sejak beberapa tahun lalu. Secara khusus, dia ingin memberikan penghormatan kepada Irfan Yutsar atau Mon, salah satu personel Bottled Violent yang telah meninggal dunia.
"Setelah Mon meninggal, saya ingin datang untuk mengapresiasi dan mengenangnya," tuturnya.
Risa mengaku tertarik dengan dinamika musik bawah tanah di Bandung. Dibandingkan dengan Tokyo, sebuah kota besar dengan industri musik yang besar pula, skena bawah tanah Bandung memiliki energi yang berbeda.
"Underground di Bandung sangat aktif: beda genre tapi masih berbaur. Itu yang saya sangat suka," ucapnya.
Manifesto Unacceptable benar belaka: apa yang terjadi malam itu tidak akan mengubah dunia. Tidak akan lahir revolusi dalam sekejab. Namun di tengah festival musik yang semakin mahal, budaya konsumsi yang semakin kuat, serta ruang-ruang publik yang semakin menyempit, betapa membesarkan hati menyaksikan sekelompok orang muda memilih cara yang berbeda dengan keras kepala, dengan skala yang kecil, dan dengan ide yang sederhana.
Segenggam beras yang sebelumnya dibawa secara terpisah oleh para penonton telah berubah menjadi dua karung penuh. Tidak akan ada dokumentasi yang memperlihatkan siapa yang memberi dan siapa yang menerima beras itu karena solidaritas tidak membutuhkan tepuk tangan, tidak membutuhkan hierarki. Yang penting bukan bagaimana bantuan terlihat, melainkan bagaimana hubungan antarmanusia tetap terjaga.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


