Menyaksikan Kolektif Hip-hop Tumbuh di Bandung Timur
Hip-hop tidak harus selalu lahir dari kolektif besar dan berkembang dari pusat kota; ia bisa muncul dari pinggiran, dari kolektif baru.
Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 2 Mei 2026
BandungBergerak – Saya tiba di Syde Coffee dengan bersepeda motor setelah terlebih dahulu menyusuri Jalan Cimincrang dan melintasi gerbang kampus UIN Sunan Gunung Djati, Sabtu, 25 April 2026 malam. Di sisi jalan, tampak sebuah gudang yang dipenuhi motor terparkir. Tepat di depan kafe di kawasan Cipadung Timur, Panyileukan itu, beberapa orang sedang membuat grafiti dengan pilox warna-warni di permukaan tembok, seolah hendak membuka ruang visual sebelum musik benar-benar mengambil alih malam itu.
Di dalam, sebuah panggung kecil berdiri di ruang yang juga tidak terlalu besar dengan sekitar seratus orang memenuhi setiap sudutnya. Tidak pernah ada jarak yang tegas antara penampil (performer) dan penonton.
Gelaran Wellbloc Party Volume 2 malam itu dibuka oleh penampilan kolektif rap Bandung, JSK Clane, yang langsung menghidupkan suasana. Setelah itu, giliran kolektif Katastrofe meniupkan energi berbeda, sebelum akhirnya panggung diambil alih oleh penampilan kolektif Def Bloc sebagai penutup yang paling dinanti.
Nama-nama familiar seperti Ken Amok, Rand Slam, Insthinc, dan Kid Vicious berhasil memantik reaksi penonton. Crowd mulai bergerak lebih liar. Nyanyian bersama, dorongan tubuh, dan stage dive membuat ruang semakin padat sekaligus hidup. Interaksi tidak lagi satu arah, tapi sahut-menyahut antara rapper dan penonton yang sudah hafal lirik-lirik mereka.
Salah satu momen istimewa datang dari special guest Maderodog, rapper senior yang hidup jauh dari dunia internet. Namanya cukup terkenal di kolektif solidaritas.
“Saya dengar Annas (Asosiasi Nasional Anti-Syiah) akan bangkit lagi di Bandung,” kata Maderodog dalam orasi singkatnya di atas panggung. “Jadi untuk menyambut Bandung lautan biggot, ini dia lagu berjudul Kafir untuk Pemula!”
Lagu itu, menurut saya, menjadi titik paling reflektif malam itu. Liriknya: “Pekik Allahuakbar jadi latar aksi barbar, kebencian ditebar. Emang nabi ga ngajarin sabar? Sumpah serapah bagian dari ibadah saat persekusi satu diksi dengan jihad dan faedah.”, adalah kritik yang dilemparkan telak tanpa perlu banyak lapisan.
Bersolidaritas, Kembali ke Akar
Di balik Wellbloc Party, ada The Beat Brawlers, kolektif yang lahir dari keresahan atas minimnya ruang untuk skena hip-hop di Bandung Timur. Kawan-kawan yang tinggal di kawasan Riung Bandung, Gedebage, dan Rancaekek tidak pernah benar-benar berkumpul dalam satu wadah atau perhelatan. Di Wellbloc Party Volume I, napas solidaritas menyatukan mereka lewat aksi donasi ketika kampung sengketa Sukahaji dibakar.
“Untuk acara kedua yang sekarang berlangsung, kita ticketing dan ingin subsidi silang,” tutur Murdoc, salah satu penggerak The Beat Brawlers. “Kita berusaha banget nih untuk berdonasi ke komunitas terdampak kalaupun ada sisa.”
Menurut Murdoc, Wellbloc Party bukan sekadar soal perhelatan acara musik, tapi juga cara hip hop dipahami hari ini. Ia melihat bagaimana kecenderungan melihat hip-hop sebagai gaya hidup, fesyen, tongkrongan, estetika visual, atau tren flexing belaka, semakin menguat sehingga perlahan menjauhkannya dari akar. Gerakan kolektif ini diniatkan untuk mengembalikan hip-hop ke ruang yang lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari.
Pilihan Bandung Timur menjadi penting dalam konteks ini. Bukan hanya tentang keterbatasan ruang, tapi juga tentang upaya sadar untuk memindahkan titik tumbuh. Hip-hop tidak harus selalu lahir dari kolektif besar dan berkembang dari pusat kota; ia bisa muncul dari pinggiran, dari kolektif baru, dari ruang-ruang yang sebelumnya tidak diperhitungkan sebagai bagian dari skena.
Murdoc meyakini, hip-hop berakar pada perlawanan terhadap budaya dominan dan ketidakadilan. Liriknya sering kali menyuarakan kritik sosial, identitas, dan perjuangan hidup sehari-hari. Istilah ini bukan sekadar metafora, tapi cara menggambarkan posisi hip-hop sebagai medium yang lahir dari teman-teman akar rumput. Wellbloc Party Volume 2 yang diadakan oleh Beat Brawlers adalah upaya untuk mengaktifkan kembali logika dasar itu: bahwa hip-hop bisa tumbuh di akar rumput dengan semangat perlawanan, dan pesta-pesta di pinggiran atau blok-blok ini adalah ruang terbuka bagi siapa saja yang memiliki keresahan sosial yang sama.

Regenerasi: Dari Penonton ke Penampil
Di antara kerumunan malam itu, tidak semua orang datang sebagai penampil (performer). Sebagian hadir sebagai penonton: mereka yang selama ini mengikuti dari jauh, mendengarkan dari platform digital, atau hanya sesekali datang ke acara. Salah satunya Monalesh.
Monalesh datang dari Cililin, Kabupaten Bandung Barat, sebuah wilayah yang tidak memiliki banyak akses terhadap acara hip-hop. Untuk bisa menikmati musik yang ia dengarkan sehari-hari, ia harus menempuh perjalanan jauh ke Bandung Timur. Jaraknya sekitar 50 kilometer.
Namun pengalaman Monalesh tidak berhenti sebagai penonton. Ada proses lain yang berjalan pelan: dari mengamati, menjadi tertarik, lalu mulai mencoba. Rentetan nama Jengsky, Just Dextro, Kinep, dan Luzel, dia sebut.
“Aku memandang mereka sebagai partner yang banyak ngenalin aku di hiphop. Senanglah melihat mereka tampil, dan masih ada gitu acara musik hip-hop di Bandung,” kata Monalesh.
Monalesh sendiri sudah merilis EP debutnya. Baginya, musik bukan sekadar medium ekspresi, tapi juga cara untuk mengurai hal-hal yang tidak bisa dia ucapkan secara langsung. EP itu ia bayangkan seperti buku harian yang memuat kemarahan terhadap situasi sosial, relasi personal, serta kehilangan seseorang yang dekat dalam hidupnya. Tidak ada usaha untuk membuatnya terdengar besar atau kompleks. Justru kekuatannya ada pada kejujuran itu.
Apa yang dialami Monalesh bukan kasus tunggal. Dalam konteks yang lebih luas, ini menunjukkan bahwa regenerasi tidak selalu datang dari label rekaman besar; ia bisa muncul dari pengalaman sederhana: datang ke acara, merasa terhubung, lalu menemukan keberanian untuk ikut bersuara.
Regenerasi ini juga diamati oleh pelaku yang lebih dulu ada di skena. Rand Slam, yang malam itu hadir sekaligus merepresentasikan Def Bloc, melihat perubahan generasi ini sebagai sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan akses informasi yang masif dan mudah didapatkan. Jika generasi sebelumnya harus mencari referensi secara terbatas melalui buku fisik, majalah, atau jaringan yang sempit, hari ini sumber pengetahuan terbuka lebar.
“Siapa pun bisa belajar, mengakses referensi global, dan membangun jaringan tanpa batas geografis yang kaku,” katanya.
Baca Juga: South of Heaven di Bandung Selatan, Menjaga Skena Musik Lokal Lewat Ruang Alternatif
Dari Panggung ke Kampus, Cara Skena Hardcore Bandung Bertahan di Tengah Krisis Venue
Menemukan Keseimbangan, Membuka Banyak Kemungkinan
Keterlibatan Def Bloc dalam Wellbloc Party tidak lahir dari skala acara, melainkan dari kesesuaian nilai. Bagi Rand Slam, yang terpenting bukan seberapa besar panggungnya, tapi bagaimana acara itu dibangun. Ada prinsip yang mereka pegang: tidak melibatkan sponsor korporat besar atau industri yang tidak satu visi, serta menjaga agar gerakan tetap berdiri di atas kesadaran kolektif, bukan kepentingan komersial saja. Pilihan ini tentu tidak mudah, apalagi di tengah ekosistem musik yang semakin dekat dengan industri.
Dalam pembacaan Rand Slam, hip-hop hari ini menghadapi dilema yang cukup jelas. Di satu sisi, ia berkembang pesat sebagai kultur populer, tapi di sisi lain, ada risiko kehilangan kedekatan dengan akar awalnya: sebagai medium yang lahir dari pengalaman nyata.
Itulah kenapa Rand Slam menekankan pentingnya tetap “organik”. Bukan sekadar istilah, tapi cara kerja. Isu sosial tidak boleh dijadikan tempelan hanya untuk memberi kesan “berisi”. “Ia harus benar-benar lahir dari pengalaman yang dialami,” ujarnya.
Namun Rand Slam juga tidak menutup mata pada aspek lain: penyampaian. Sebuah pesan, sekuat apa pun, tetap membutuhkan bentuk yang tepat. Acara harus digarap serius, musik harus dipikirkan, sponsor perlu dikurasi. Di sinilah keseimbangan antara idealisme dan eksekusi menjadi penting.
Perspektif ini beresonansi dengan apa yang dirasakan Dea Anugrah, penulis yang menjadi salah satu founder Malaka Project. Bagi Dea, yang juga seorang rapper dengan nama panggung Jorbu, kekuatan acara seperti Wellbloc Party justru terletak pada pilihan-pilihan rapper-nya.
“Aku nonton semua, dan aku senang dan mengapresiasi pilihan roaster yang cukup beragam dari berbagai jenis spektrum musik. Dan menurutku, ini acara yang menyenangkan banget,” kata Dea yang malam itu datang sebagai penonton.
Dea melihat hip-hop hari ini tidak lagi terikat pada batas kota atau kelompok tertentu. Kolaborasi bisa terjadi dengan siapa saja, selama ada pertemuan secara musikal dan gagasan. Ia membuka banyak kemungkinan, tapi juga menuntut kedewasaan dalam memilih arah.
Dalam refleksi Dea, hip-hop tidak harus selalu berbicara tentang isu sosial secara eksplisit. Namun karena ia berangkat dari pengalaman nyata, isu hampir tidak mungkin terhindarkan. Ia akan muncul dengan sendirinya, tanpa perlu dipaksakan. Hip-hop tidak boleh kehilangan kedalaman hanya karena ingin terlihat relevan.
Tempat yang Berbeda, Cara yang Baru
Wellbloc Party Volume 2 mungkin tidak tampak sebagai perhelatan besar jika dibandingkan dengan konser musik lainnya. Namun justru di ruang seperti inilah berbagai lapisan dalam skena bertemu. Ada kolektif Beat Brawlers yang membuka ruang dari pinggiran Bandung Timur. Ada kolektif Def Bloc yang menjaga nilai dan turut membantu kolektif baru. Ada Monalesh yang bergerak dari penonton menjadi pelaku, membawa pengalaman personalnya ke dalam musik. Dan ada penonton seperti Dea yang membaca pergerakan skena dengan jarak reflektif. Semua membentuk satu sirkulasi yang hidup dan berkelanjutan.
Di luar acara satu malam ini, inovasi dan kreativitas terus berjalan. Rand Slam, misalnya, sedang menyiapkan album baru–sebuah fase yang ia gunakan untuk mencari bentuk penyampaian lirik yang lebih jujur tanpa terasa menggurui. Ia mencoba menemukan cara agar pesan sosial tetap sampai, tanpa kehilangan daya tarik musikal. Dengan sentuhan Ucok Homicide sebagai produser di album selanjutnya, kita pantas penasaran menunggu apa yang yang akan disajikan.
Perjalanan Monalesh dengan EP debutnya adalah juga sebuah bukti keberlanjutan: bagaimana skena memberi ruang bagi suara-suara baru yang belum tentu datang dari label rekaman besar. Musiknya mungkin tidak besar dan proses produksinya berlangsung sederhana di kamar, tapi keresahan yang disampaikan adalah pengalaman nyata yang dirasakan selama ini.
Hari ini bukan lagi soal siapa yang paling besar atau siapa yang paling dikenal, tapi tentang bagaimana ruang itu dibuka, bagaimana relasi dibangun, bagaimana rapper baru terus muncul, dan bagaimana kolektif hip-hop selalu sejalan dengan semangat akar rumput menyikapi isu-isu di Kota Bandung ini.
Dan mungkin seperti yang diupayakan The Beat Brawlers, jawabannya memang bukan kembali ke masa lalu, melainkan menghidupkan lagi semangat yang dulu pernah ada, tapi di tempat yang berbeda dan dengan cara yang baru.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


