• Cerita
  • Nyaring Hip-Hop di Taman Cibeunying: Merebut Ruang dari Bayang-bayang Budaya Takut

Nyaring Hip-Hop di Taman Cibeunying: Merebut Ruang dari Bayang-bayang Budaya Takut

“Selama masih ada ketimpangan, ketidakadilan, dan persoalan sosial, hip-hop akan selalu relevan.”

Orang-orang muda menghadiri peluncuran album Brother's Keeper II, Jumat, 19 Juni 2026 di Taman Cibeunying, Kota Bandung. (Foto: Muhammad Akmal Firmansyah/BandungBergerak)

Penulis Muhammad Akmal Firmansyah21 Juni 2026


BandungBergerak — Di trotoar Taman Cibeunying, Cihapit, Bandung, puluhan orang muda berdesakan membentuk kerumunan. Sebagian mengangkat tangan ke udara, sebagian merekam dengan telepon genggam, sementara yang lain larut mengikuti rima demi rima yang dilontarkan para rapper dari atas panggung sederhana. Aku berdiri di dalam lingkaran orang-orang yang menganggukkan kepala mengikuti dentuman beat dari turntable.

Di balik meja dua soundsystem berukuran kecil, para disk jockey (DJ) bergantian menggores piringan hitam. Beat mengalun tanpa henti, mengantar para master ceremony (MC) menyampaikan cerita, kritik, dan kegelisahan melalui rentetan rima. Jumat malam, 19 Juni 2026, ruang publik di tengah kota berubah menjadi perayaan hip-hop yang bukan semata-mata tentang musik.

“Sukahaji!” teriak Rand Slam saat membawakan lagu Mewariskan Bara.

Sorakan itu merujuk pada warga Sukahaji yang masih berjuang mempertahankan ruang hidupnya di tengah konflik agraria.

Free West Papua!”

Free West Papua!” jawab penonton serempak.

Free Palestine!”

Free Palestine!”

Seruan-seruan itu menggema di antara pepohonan, penerang jalan umum, dan lalu lalang kendaraan yang melintas di sekitar tempat nongkrong kawula muda Bandung di Kawasan Cihapit itu. Di tengah dentuman bass dan sorak penonton, isu agraria, kemerdekaan, dan solidaritas internasional berkelindan dengan musik yang dimainkan malam itu.

Rand Slam menutup penampilannya dengan lagu Manual Hidup Hepi Bab 1.1. Pada bagian reffrain, suara penonton menyatu mengikuti lirik yang mereka hafal di luar kepala.

"Happy happy happy yang hakiki, bukan happy five, awas polisi..."

Tak lama kemudian, giliran Ken Amok mengambil mikrofon. Diiringi DJ Evil Cutz, ia melontarkan bars-bars tajam yang langsung disambut riuh penonton. Koroner ikut naik ke panggung membawakan single terbarunya, Mutton, sebelum penampilan ditutup dengan freestyle yang memancing sorakan dari berbagai sudut kerumunan. “Hingga semua tahta skena rata dengan tanah!”

Menjelang akhir acara, Kid Vicious dan Krowbar membuat suasana semakin liar. Tubuh-tubuh mulai bergerak lebih agresif mengikuti irama. Sejumlah penonton melompat, berdesakan, bahkan mengangkat tubuh kawan mereka ke atas kerumunan. Trotoar yang biasanya menjadi ruang lalu-lalang pejalan kaki dan tempat parkir motor, malam itu berubah menjadi ruang tumbuh dan bertemunya musik, persahabatan, dan ekspresi.

Peramu birama Jaydawn  menjadi penampil pamungkas dalam helatan peluncuran album Brother’s Keeper 2. Setelah alat-alat dirapikan, orang-orang kembali saling bercakap dan menikmati jajanan yang menjajar di sepanjang jalan Taman Cibeunying.

Penampilan Ken Amok. (Foto: Muhammad Akmal Firmansyah/BandungBergerak)
Penampilan Ken Amok. (Foto: Muhammad Akmal Firmansyah/BandungBergerak)

Merayakan Persaudaraan

Usai acara, aku menemui Rand Slam di sela-sela permintaan foto bersama dan sapaan oleh kawan-kawan. Sudah sembilan tahun ia membangun dan merawat Serikat Pekerja Rima, Ritme, dan Birama atau kolektif Def Bloc Union. Kata “Union” disematkan karena kolektif ini memang diniatkan sebagai semacam koperasi kreatif yang mengusung prinsip saling menopang, termasuk membantu anggota yang tidak memiliki modal untuk produksi.

“Misalnya ada modal kolektif, uang itu dipakai dulu untuk produksi album. Atau kalau dia punya setengah modal, kami menambah setengahnya lagi. Nanti tinggal dibagi hasilnya,” kata Rand Slam yang malam itu mengenakan topi hitam dibalik.

Def Bloc Union pertama kali merilis album di Festival Kampung Kota (FKK) I di Dago Elos pada 2017. Dua tahun kemudian, Brother Keepers meluncur sebagai lanjutan dari semangat kolektif yang terus berkembang di antara para anggotanya.

Usai pandemi Covid-19 yang sempat menciptakan jarak fisik dan ritme berkarya, para anggota kembali berkumpul di ruang-ruang nongkrong. Dari pertemuan-pertemuan informal itu muncul gagasan untuk kembali memproduksi karya bersama. Pada 2024, ide album kompilasi lahir dan kemudian digarap secara lebih serius.

Rand Slam menjelaskan, beberapa materi dalam rilisan tersebut ditulis dengan konteks yang juga sarat peristiwa sosial, termasuk kasus kematian Afif Maulana di Padang oleh polisi yang menjadi salah satu momen reflektif bagi sebagian anggota. Proses kreatif yang bergulir secara lintas kota, mulai dari penulisan di Padang hingga rekaman di Medan, memperlihatkan jejaring yang tidak terikat satu ruang geografis.

Rand Slam berharap, kompilasi Brother’s Keeper II  ini dapat menjadi  pemicu agar para anggota lebih aktif menulis, berkarya, dan merilis musik secara mandiri. Semangat g yang diusundalam frasa Beats, Bars, Brotherhood, menegaskan bahwa rap bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga relasi pertemanan yang menjadi fondasi utama. Semangat kolektif dijaga melalui keterhubungan personal dan musikal.

“Yang ingin dibangun adalah rasa persaudaraan yang benar-benar terasa. Itu sebabnya namanya Brother Keepers. Contoh paling gampang, kalau saya enggak dijaga sama teman-teman, mungkin saya enggak akan ada di sini,” bebernya.

Jika sebelumnya peluncuran album digelar di kampung kota, kali ini di ruang publik: tongkrongan pinggir jalan. Konsep back to the street, menurut Rand Slam, memungkinkan siapa saja datang, ngobrol, makan, serta menikmati musik tanpa batasan akses.

Rand Slam meyakini, musik masih relevan sebagai medium solidaritas dan perlawanan. Menurutnya, tidak semua orang bisa turun ke jalanan, tapi musik menjadi ruang untuk menyuarakan kegelisahan, membangun kesadaran, serta mendorong keterlibatan publik dalam isu-isu sosial yang lebih luas.

“Jujur saja, kadang saya sendiri juga mengalami demoralisasi dalam beberapa situasi. Tapi melalui musik, setidaknya seseorang bisa menyalurkan apa yang dia rasakan ketika tidak bisa turun langsung,” ucapnya.

Penampilan Rand Slam. (Foto: Muhammad Akmal Firmansyah/BandungBergerak)
Penampilan Rand Slam. (Foto: Muhammad Akmal Firmansyah/BandungBergerak)

Baca Juga: Menyaksikan Kolektif Hip-hop Tumbuh di Bandung Timur
Menyusuri Jejak Skena Musik Metal di Ujungberung: Dari Lapangan Kampung, Kamar Kos, hingga Studio

Menghidupi Ruang, Menolak Budaya Takut

Setelah mengobrol dengan Rand Slam, saya mendatangi Morgue Vanguard atau yang akrab biasa disapa Ucok, rapper Bars of Death dan Homicide. Sambil membakar kreteknya, ia bercerita tentang aktivasi ruang publik, sebuah tradisi yang telah tumbuh di Bandung sejak sekitar tahun 2015 melalui berbagai inisiatif yang dilakukan di kampung-kampung kota seperti Tamansari, Dago Elos, dan Anyer Dalam.

Kini, semangat yang sama mulai diarahkan ke ruang-ruang di pusat kota melalui kegiatan yang berpindah-pindah. Salah satunya dalam bentuk street gigs. Sebagai bagian dari upaya menghadirkan percakapan dan ekspresi kebudayaan langsung di ruang publik, street gigs memiliki semangat sama dengan perpustakaan jalanan yang selama ini menjadi simbol okupasi ruang kota oleh warga: merawat keberanian.

“Kita sudah pernah hidup di bawah ketakutan pada masa Orde Baru. Kalau sekarang kita kembali mengulang pola itu, maka budaya takut akan tumbuh lagi. Tradisi untuk menolak rasa takut harus terus dibiasakan,” jelas rapper pemilik single Membebaskan Hujan Dari Tirani Puisi ini.

Menurut Ucok, street gigs menjadi sarana membangun jejaring sosial dengan warga sekitar, pemilik warung, pelaku UMKM, dan berbagai kelompok yang hidup di sekitar lokasi kegiatan. Dengan begitu, komunikasi sosial terbangun dan kegiatan serupa lalu bisa dilangsungkan juga di ruang-ruang publik di daerah-daerah lain. Inilah peran penting street gigs di tengah ancaman regulasi yang semakin membatasi ruang ekspresi publik.

“Jangan sampai aturan-aturan tersebut membuat kita berhenti melakukan tradisi dan praktik kebudayaan yang ingin kita jalankan,” kata Ucok, yang tahun ini menerbitkan buku Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan.

Penampilan Kid Vicious . (Foto: Muhammad Akmal Firmansyah/BandungBergerak)
Penampilan Kid Vicious . (Foto: Muhammad Akmal Firmansyah/BandungBergerak)

Risiko tentu selalu ada. Namun, menurut Ucok, risiko tersebut harus dihitung dan dihadapi, bukannya menghentikan praktik-praktik kebudayaan yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

Tentang tindak represi yang terjadi belakangan, mulai dari penangkapan mahasiswa hingga penggeledahan jurnalis, Ucok menyebut itu bukan hal baru. Pola serupa telah berlangsung selama bertahun-tahun. Berbagai bentuk tekanan terhadap ruang-ruang kebudayaan dan gerakan warga telah lama terjadi. Perpustakaan Jalanan Bandung pernah dibubarkan di Cikapayang pada 2016. Sebelumnya, penerbit Ultimus mengalami penggerebekan pada 2006.

Dalam catatan BandungBergerak, dalam lima tahun terakhir di Kota Bandung terjadi beragam tindak pembatasan kebebasan berekspresi, mulai dari pelarangan pementasan teater Wawancara dengan Mulyono dan pembatalan pemutaran film Pesta Babi di ISBI Bandung, pembubaran diskusi di Kedai Jante, hingga penempatan buku sebagai barang bukti dalam rangkaian penangkapan pascademonstrasi Agustus-September 2025.

Meski tindak represi terus berulang, Ucok menegaskan itu bukan alasan untuk pasrah atau menganggapnya sebagai hal yang wajar. Pengorganisisasian sehari-sehari melalui ruang-ruang budaya, seperti street gigs, harus menjadi fondasi utama gerakan sosial politik, dan demonstrasi hanyalah puncak gunung es-nya. Dengan begitu, gerakan warga memiliki daya tahan panjang.

Dan dalam arah gerakan seperti ini, musik, terutama hip-hop, masih relevan. Musik ini lahir dari gejolak sosial, sehingga akan menjadi masalah kalau ia tidak lagi terhubung dengan perjuangan sosial.

“Karena itu, selama masih ada ketimpangan, ketidakadilan, dan persoalan sosial, hip-hop akan selalu relevan. Yang justru perlu dipertanyakan adalah ketika hip-hop tidak lagi mampu memberikan jawaban atau resonansi terhadap kondisi-kondisi tersebut,” jelas Ucok.

Malam itu, setelah perbincangan dengan Ucok, aku berpamitan dan memacu sepeda motor menuju arah pulang. Tersiar kabar, di Yogyakarta, kota yang jaraknya 310 kilometer, seorang dengan balaclava yang beraksi memprotes keterlibatan yayasan milik anak penguasa negeri ini dalam sebuah pameran seni tahunan, mengalami tindak represif. Kalimat-kalimat Ucok makin nyaring mengiang di kepala: “Tradisi untuk menolak rasa takut harus terus dibiasakan. Kalau tidak, ketakutan akan berubah menjadi kebudayaan.”

 

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

image
//