• Kolom
  • SITUS BATU KALDE #2: Koin Keberuntungan di Ceruk Yang Retak, Mitos pada Struktur Geoarkeologi

SITUS BATU KALDE #2: Koin Keberuntungan di Ceruk Yang Retak, Mitos pada Struktur Geoarkeologi

Situs Batu Kalde di Pananjung merupakan peninggalan Hindu-Siwa, merekam keterkaitan antara praktik keagamaan dan berkembangnya mitos wisata kontemporer.

Merrina Listiandari

Pendiri Komunitas Djiwadjaman, bisa dihubungi via FB: Merrina Kertowidjojo, IG: merrina_kertowidjojo, atau FB page: Djiwadjaman

Arca Batu Kalde (Nandi dalam kebudayaan Hindu-Siwa) dan batu balok persegi yang melambangkan Yoni di TWA Pananjung, Pangandaran. (Foto: Merrina Listiandari)

1 Oktober 2026


BandungBergerak – Ketika melewati pagar bambu sederhana yang mengelilingi Situs Batu Kalde di Cagar Alam Pananjung, Kabupaten Pangandaran, kita segera menjumpai sisa-sisa peninggalan masa Hindu-Siwa. Di atas tanah aluvial pesisir yang lembap, terlihat sebuah yoni berukuran besar yang telah retak dan terbelah. Di dekatnya terdapat arca Nandi yang bentuknya mulai terkikis akibat pelapukan. Sejumlah struktur batu berbentuk bundar, yang diduga merupakan lapik padma, juga tersebar di sekitar situs, layaknya potongan teka-teki masa lalu yang belum selesai disusun.

Bagi mata seorang peziarah awam atau wisatawan yang datang berpelesir, tumpukan batuan tersebut barangkali hanyalah ornamen purbakala eksotis di tengah hutan. Namun, dalam diskusi ilmiah di Pangandaran, pada acara yang bertajuk Culture for Future: from Eastern Parahyangan arkeolog senior Luthfi Yondri mengajak kita untuk membedah situs ini secara radikal melalui kacamata geoarkeologi, termasuk Batu Kalde. Menguliti Batu Kalde bukan sekadar urusan membaca naskah babad kuno, melainkan upaya membaca sejarah manusia yang berkelindan erat dengan perilaku batuan, dinamika geomorfologi pantai, hingga mitos kontemporer pelemparan koin yang dituturkan oleh para pemandu wisata lokal di lapangan.

Batu balok persegi yang melambangkan Yoni di TWA Pananjung, Pangandaran. (Foto: Merrina Listiandari)
Batu balok persegi yang melambangkan Yoni di TWA Pananjung, Pangandaran. (Foto: Merrina Listiandari)

Anatomi Yoni Terbelah: Simbol Kesuburan dan Misteri Air yang tak Pernah Surut

Objek paling dominan yang langsung mencuri perhatian di Situs Batu Kalde adalah struktur batu berbentuk balok persegi besar dengan lubang kotak vertikal di bagian tengahnya. Menurut Luthfi Yondri, objek ini adalah Yoni, lambang sakral kesuburan feminin dalam kosmologi Hindu yang merepresentasikan Dewi Parwati, pasangan abadi Dewa Siwa.

Jika kita mengamati lebih dekat, Yoni di Batu Kalde berada dalam kondisi yang memprihatinkan sekaligus dramatis. Tubuh batunya mengalami keretakan masif yang membaginya menjadi empat kuadran utama. Keretakan ini, menurut kajian geoarkeologi, dipicu oleh kombinasi fluktuasi suhu ekstrem pesisir, intrusi akar tanaman liar selama berabad-abad, serta pelapukan mekanis akibat paparan konstan air garam (Yulianto dkk., 2023).

Namun, retaknya batu purba ini tidak mengurangi daya tarik magisnya di mata publik. Jika kita melongok ke dalam lubang persegi di tengah Yoni tersebut, kita akan menemukan genangan air jernih yang memantulkan bayangan rimbunnya dedaunan hutan Pananjung. Menariknya, di dasar kolam mini berukuran sakral itu, tampak ratusan keping uang koin logam berkilauan diterpa cahaya matahari yang menyelinap dari celah kanopi pohon.

Para pemandu wisata lokal di Cagar Alam Pananjung kerap membagikan sebuah narasi mistis yang telah telanjur mengakar di kalangan pelancong: barang siapa yang mampu melemparkan koin logam ke dalam lubang Yoni tersebut dengan cara memunggungi batu, maka pelemparnya dipercaya akan mendapatkan keberuntungan, keberkahan hidup, atau enteng jodoh. Praktik ritual kontemporer ini mengharuskan pengunjung berdiri membelakangi Yoni, memfokuskan niat, lalu melemparkan koin dari atas bahu mereka tanpa melihat langsung ke arah sasaran. Jika koin tersebut sukses tercebur masuk ke dalam genangan air di lubang Yoni, mitos keberuntungan dianggap sah terpenuhi.

Secara teoritis-akademis, tindakan memunggungi objek sakral ini sebenarnya merupakan sebuah bentuk desakralisasi yang paradoks. Dalam ritual Hindu aslinya, seorang pemuja tidak akan pernah membelakangi simbol keilahian. Namun, di tangan industri pariwisata budaya dan psikologi massa lokal, Yoni yang telah kehilangan fungsi teologisnya ini mengalami rekontekstualisasi makna. Ia bertransformasi dari sebuah altar pemujaan transendental menjadi "sumur permohonan" yang profan. Mitos koin keberuntungan ini menjadi jembatan psikologis yang membuat pengunjung modern merasa terhubung secara langsung dengan tuah magis masa lalu, sekaligus menjadi atraksi interaktif yang menghidupkan ekosistem wisata Pangandaran.

Melempar koin dengan membelakangi situs. (Foto: Merrina Listiandari)
Melempar koin dengan membelakangi situs. (Foto: Merrina Listiandari)

Laboratorium Bumi: Anomali Batu Pasir Formasi Pamutuan

Ketika mitos koin menawarkan romantisasi keberuntungan, sains geoarkeologi justru menyuguhkan fakta material yang jauh lebih menakjubkan terkait asal-usul fisik bangunan ini. Luthfi Yondri menegaskan bahwa Situs Batu Kalde, atau yang dalam diskursus sejarah klasik kerap dirujuk sebagai struktur bagian bawah dari Candi Candha Wasi, memegang rekor protektif sebagai penanda batas paling selatan dari sebaran struktur bangunan sakral periode Hindu-Buddha kuno di Jawa bagian Barat (Yondri, 2016; Munandar, 2011).

Keunikan geoarkeologis yang paling radikal dari situs ini terletak pada jenis batuan penyusunnya. Sepanjang ingatan kita, candi-candi megah di pedalaman Jawa Tengah seperti Prambanan dibangun menggunakan batu andesit beku yang keras, sedangkan candi di pantai utara Jawa Barat seperti Kompleks Batujaya di Karawang memanfaatkan teknologi bata merah dari tanah liat yang dibakar. Batu Kalde menolak kedua pakem material tersebut. Menurut Luthfi Yondri, struktur bangunan di sini seratus persen menggunakan batu pasir berlapis (bedded sandstone) berbutir sedang hingga kasar.

Analisis petrografis laboratorium membuktikan bahwa batu pasir ini tidak didatangkan dari luar daerah, melainkan ditambang langsung dari singkapan batuan sedimen lokal yang dikenal dalam stratigrafi geologi sebagai Formasi Pamutuan (Yulianto dkk., 2023). Formasi batuan ini terbentuk dari endapan laut dangkal jutaan tahun lalu yang kaya akan kandungan kalsit dan fosil mikrofora.

Pilihan arsitektur purba untuk menggunakan batu pasir lokal ini merefleksikan sebuah kecerdasan geologis dari komunitas pembangunnya. Mereka mengabaikan batu andesit gunung api yang jauh di pedalaman dan memilih mengoptimalkan material batuan sedimen yang tersedia di sekitar tebing pesisir pantai tempat mereka hidup. Batu pasir Formasi Pamutuan ini relatif lebih mudah dipahat menjadi ornamen halus seperti lapik padma (tumpuan bermotif teratai) melingkar yang kini tampak tergeletak membisu di sekitar Yoni utama (BPCB Banten, 2019).

Koin di dalam genangan air di lubang Yoni batu balok persegi yang melambangkan Yoni. (Foto: Merrina Listiandari)
Koin di dalam genangan air di lubang Yoni batu balok persegi yang melambangkan Yoni. (Foto: Merrina Listiandari)

Kisah Tombolo Pananjung: Poros Maritim Sunda Klasik

Pertanyaan geoarkeologis terbesar yang kemudian muncul adalah: mengapa para pendeta purba abad ke-7 hingga ke-10 Masehi bersikeras membangun sebuah poros spiritual Hindu-Siwa di lokasi pesisir yang terpencil dan rawan abrasi seperti ini? Jawabannya tersembunyi di bawah lapisan sejarah bentang alam purba (paleogeografi) Pangandaran.

Penyelidikan geomorfologi pantai membuktikan sebuah fakta ilmiah yang mengejutkan: pada saat Candi Candha Wasi didirikan dan aktif digunakan sebagai pusat ritual, wilayah Cagar Alam Pananjung belum menyatu dengan daratan utama Pangandaran seperti sekarang (Yulianto dkk., 2023). Kawasan cagar alam tersebut awalnya merupakan sebuah pulau karst terisolasi yang terpisah sepenuhnya oleh selat sedimentasi dangkal dari daratan Jawa. Proses dinamika oseanografi berupa akumulasi endapan pasir pantai oleh arus bolak-balik yang dipicu refraksi gelombang laut selatan selama berabad-abad secara perlahan membangun jembatan tanah alami. Fenomena geologi inilah yang dalam literatur sains bumi dikenal dengan istilah tombolo.

Keberadaan jembatan pasir alami tombolo inilah yang di kemudian hari mengubah pulau karang Pananjung menjadi sebuah semenanjung utuh. Konsekuensi logisnya, ketika para resi masa Galuh Kuno bermeditasi di hadapan Yoni Batu Kalde, mereka sedang berada di sebuah pulau suci terpencil yang dikepung oleh deburan ombak laut kuarter yang ekstrem dan buas. Isolasi geografis total di atas pulau batu pasir ini sengaja dipilih untuk menciptakan pembatas sakral yang memisahkan urusan spiritual kedewaan dari riuh rendah urusan duniawi di daratan utama.

Melalui lensa geoarkeologi dan pembacaan kritis terhadap mitos lokal pelemparan koin memunggungi Yoni retak ini, kita dituntut untuk melihat Batu Kalde bukan sekadar sebagai objek wisata sejarah pelengkap masa liburan. Keberadaan koin logam di dasar lubang Yoni dan struktur batu pasir Formasi Pamutuan adalah simbol fisik yang nyata dari penolakan masyarakat terhadap kekaburan identitas maritim Sunda purba. Jauh sebelum dinasti feodal Mataram Islam datang merombak total ruang hidup Priangan menjadi perkebunan agraris pedalaman yang terkunci pada abad ke-17 (Lubis, 2013), pesisir selatan Jawa Barat telah lebih dulu berdiri tegak sebagai pusat peradaban bahari yang mandiri, berdaulat, melek terhadap karakteristik geologi lokal, serta memiliki kedalaman spiritualitas yang abadi di hadapan Samudra Hindia.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//