SITUS BATU KALDE #1: Sapi yang Dikira Keledai, Ironi Linguistik pada Tinggalan Geoarkeologi di Pangandaran
Di balik Situs Batu Kalde di Cagar Alam Pananjung, Pangandaran, masyarakat mencoba meraba masa lalu di tengah kegelapan informasi sejarah.

Merrina Listiandari
Penulis sejarah dan budaya. Bisa dihubungi via FB: Merrina Kertowidjojo, IG: merrina_kertowidjojo
25 September 2026
BandungBergerak – Melangkahkan kaki membelah rimbunnya vegetasi kawasan Cagar Alam Pananjung, Pangandaran, kita seolah ditarik masuk ke dalam pusaran ruang waktu yang menolak untuk dilupakan. Di sana, di antara desau angin Samudra Hindia yang lembap dan cengkeraman akar-akar pohon beringin tua, berserakan balok-balok batu pasir berlapis yang membisu.
Di tengah runtuhan itu, sebuah arca satwa purba berkaki empat tampak bertekuk lutut, bersimpuh pasrah. Tubuh batunya terkikis oleh korosi angin garam pesisir. Masyarakat lokal sejak berabad-abad lalu menyapa tempat sunyi ini dengan nama yang unik sekaligus ganjil, Situs Batu Kalde.
Bagi telinga penutur bahasa Sunda modern, kata “kalde” secara otomatis terasosiasi pada seekor keledai, hewan pembawa beban bertubuh ringkih yang bahkan tidak memiliki rekam jejak habitat asli dalam sejarah ekologi Pulau Jawa. Di sinilah ironi kultural itu bermula. Bagaimana mungkin sebuah situs peradaban klasik yang megah, yang dibangun dengan pengerahan tenaga kerja dan keahlian arsitektur tinggi pada masanya, dinamai berdasarkan nama seekor binatang yang sepenuhnya asing bagi bentang alam lokal?
Ketika masyarakat awam melihat arca tersebut secara sekilas, mata mereka memang menangkap sebentuk tubuh mamalia quadrupedal berkaki empat yang tampak ringkih menyerupai keledai atau anak sapi jantan. Namun, dalam kacamata disiplin arkeologi, arca tersebut dikenali dengan sangat fasih sebagai Arca Nandi, lembu jantan suci yang bertindak sebagai wahana atau kendaraan keagamaan bagi Dewa Siwa dalam teologi Hindu.
Fenomena salah kaprah linguistik ini bukan sekadar perkara nama yang meleset, melainkan sebuah gejala sosiologis yang jauh lebih mendalam. Ia adalah potret nyata dari amnesia kolektif di tingkat akar rumput pascaruntuhnya sebuah tatanan peradaban lama.
Ketika gelombang islamisasi merombak struktur kepercayaan di wilayah pesisir selatan Jawa Barat sejak abad ke-16, jangkar kosmologi Hindu-Siwa terputus seketika. Komunitas lokal kehilangan khazanah istilah religius dan simbolis untuk mengidentifikasi peninggalan masa lalu mereka. Akibatnya, Nandi yang sakral diturunkan derajat sosialnya menjadi sekadar “kalde” yang lebih membumi dan biasa saja. Sebagaimana dianalisis oleh budayawan Sunda, hilangnya makna asli dari sebuah artefak purbakala sering kali terjadi ketika komunitas pendukung kebudayaan baru gagal atau menolak mengenali tanda-tanda zaman dari kebudayaan pendahulunya (Ekadjati, 2005).
Penamaan "Batu Kalde" adalah bentuk kompromi putus asa dari memori masyarakat yang mencoba meraba masa lalu di tengah kegelapan informasi sejarah. Mereka tahu batuan itu purbakala dan memiliki kekuatan magis, namun karena ketiadaan narasi Hindu-Siwa dalam memori kolektif, bentuk lembu Nandi tersebut mengalami distorsi visual dalam tuturan lisan dari generasi ke generasi. Di sinilah tugas sejarawan publik dan riset kebudayaan bermula, meretas kembali rantai ingatan yang putus tersebut dan mendudukkannya pada proporsi sains yang jujur, tanpa harus membunuh folklor kultural yang telanjur hidup menghidupi ingatan publik pesisir Pananjung, Pangandaran.

Membaca Papan Prasasti Lapangan: Rekonsiliasi Dua Narasi
Jika kita berdiri tepat di depan papan informasi resmi yang tertanam di situs tersebut, kita akan disambut oleh tulisan usang pada sebongkah marmer berpahat tulisan: “Informasi Situs Batu Kalde”. Lembar panduan visual di lapangan ini sejatinya merekam upaya rekonsiliasi yang luar biasa antara kebenaran sains arkeologi dan memori komunal masyarakat setempat. Papan penunjuk itu tidak buru-buru menyingkirkan mitos, ia justru mencatatnya sebagai bagian integral dari kekayaan situs (BPCB Banten, 2019). Di sana tertulis bahwa lokasi Batu Kalde atau Sapi Gumarang merupakan tempat bersembahyang umat Hindu di masa Kerajaan Pananjung. Eksistensi masa lalu dibuktikan dengan keberadaan sebaran reruntuhan candi, arca sapi, dan lima buah makam kuno yang diperkirakan sebagai persemayaman para pembesar kerajaan lokal tersebut.
Fakta menarik yang terpampang pada papan informasi tersebut adalah penegasan mengenai asal-usul penamaan ilmiah versus penamaan populer masyarakat. Dijelaskan secara lugas bahwa arca sapi tersebut memiliki dimensi volume sekitar 1 x 1 x 0,5 meter dengan tinggi hanya berkisar setengah meter. Proporsi tubuh arca yang kecil dan cenderung "cebol" ini dinilai oleh ingatan lisan masyarakat setempat menyerupai ukuran binatang buruan lokal seperti kijang. Di sinilah belokan linguistik terjadi, entah karena pergeseran tutur atau kemiripan fonetis purba di pesisir selatan, masyarakat menyematkan istilah “kalde” (keledai/satwa berukuran serupa) untuk mendeskripsikan arca mini tersebut. Dari situlah frasa komersial yang terbentuk secara kultural "Batu Kalde" kukuh mengkristal dan bertahan melewati zaman.
Papan informasi lapangan ini menjadi bukti otentik bagaimana sebuah institusi kebudayaan berusaha menjembatani felt history, sejarah yang dirasakan oleh masyarakat dan sejarah yang digali, dug history oleh para peneliti. Bagi penulis, teks di papan informasi tersebut adalah representasi dari lapisan ingatan berlapis (multilayered memory). Situs ini diakui secara bersamaan sebagai ruang sakral Hindu kuno sekaligus situs makam pahlawan lokal versi Kerajaan Pananjung. Dokumen visual ini menegaskan bahwa penolakan terhadap kekaburan identitas kultural Sunda pesisir dapat dimulai dengan cara menghormati bagaimana cara masyarakat lokal merawat warisan bendawi mereka.
Folklor Aria Sapi Gumarang, Ketika Mitos Bertindak Sebagai Penjaga Lanskap
Melangkah lebih dalam ke silsilah kepercayaan rakyat, nama Situs Batu Kalde tidak bisa dipisahkan dari bayang-bayang figur mistis bernama Aria Sapi Gumarang. Dokumen penunjuk situs dengan sangat gamblang menceritakan kisah yang hidup subur di memori kolektif warga Pangandaran: arca tersebut merupakan batu nisan kuno atau monumen memorial bagi seorang Menteri Pertanian Kerajaan Pananjung yang teramat sukses.
Aria Sapi Gumarang bukanlah tokoh pewayangan kiriman dari tanah seberang; ia adalah pahlawan logistik lokal yang dipuja karena berhasil memicu ledakan produktivitas agraris, membawa kemakmuran, serta melambungkan kemasyhuran Kerajaan Pananjung di sepanjang garis pantai selatan (Mulyana, 2014; Perum Perhutani, 2002).
Bagi masyarakat agraris purba, sapi atau kerbau bukan sekadar hewan ternak peliharaan, melainkan simbol sakral dari motorisasi ketahanan pangan dan kesuburan tanah aluvial. Ketika Aria Sapi Gumarang wafat, warga yang merasa berutang budi atas melimpahnya panen padi memahat batu kuburnya menyerupai bentuk sapi jantan sebagai lambang dedikasi tak berkesudahan. Di titik inilah sains geoarkeologi dan folklor rakyat berpapasan dalam koridor yang unik. Secara akademis, arca tersebut adalah arca Nandi Siwaistis dari abad ke-7 hingga ke-8 Masehi. Namun, bagi masyarakat dari abad ke-14 hingga masa Islamisasi, arca itu adalah perwujudan fisik dari Sapi Gumarang sang penjaga ketahanan pangan lokal.
Penempatan kronologi waktu yang salah, saat sebuah arca Hindu abad ke-7 diklaim sebagai makam tokoh abad ke-14, jangan terburu-buru dicap sebagai kesalahan sejarah massal. Dalam kajian antropologi budaya, mitos Aria Sapi Gumarang telah menjelma menjadi cultural shield atau perisai budaya yang sangat perkasa (Ekadjati, 2005). Ketakutan mistis masyarakat terhadap kutukan "Sapi Gumarang" apabila merusak tatanan batu pasir di Pananjung terbukti secara empiris berhasil mengamankan balok-balok batu pasir Formasi Pamutuan dari ancaman penjarahan massal atau alih fungsi lahan oleh pemukim, berabad-abad sebelum undang-undang cagar alam formal diterbitkan oleh pemerintah modern.
Baca Juga: NGULIK BANDUNG: Mendekolonisasi Ingatan Ketika Romantisisme Menutupi Luka Kolonial
KAMPUNG NAGA #2: Corak Islam dalam Hajat Sasih dan Kesenian Terbang Gembrung

Jejak Geoarkeologi: Batuan Sedimen di Batas Samudra
Pembahasan mengenai Batu Kalde akan pincang jika kita mengabaikan faktor alam yang membentuknya. Di sinilah letak pentingnya paparan ilmiah yang pernah dilontarkan oleh arkeolog Luthfi Yondri dalam kegiatan Culture for Future: from Eastern Parahyangan, yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan tahun 2025 lalu. Ia konsisten mengingatkan bahwa situs ini adalah penanda batas spasial geoarkeologi yang sangat krusial di wilayah Jawa bagian barat. Berbeda dengan candi-candi di pedalaman Jawa yang akrab dengan material andesit vulkanik purba, Candi Candha Wasi (nama purba Batu Kalde) dibangun menggunakan material batu pasir berlapis (bedded sandstone) yang ditambang langsung dari kekayaan geologi Formasi Pamutuan lokal (Yulianto et al., 2023).
Lebih jauh lagi, rekonstruksi paleogeografi membuktikan bahwa saat peradaban Hindu-Siwa membangun poros spiritual ini, area cagar alam Pananjung saat itu masih berupa pulau karst terisolasi yang dikelilingi laut kuarter yang ganas (Yulianto et. al., 2023). Dinamika arus laut dan refraksi gelombang selama berabad-abadlah yang mengendapkan material pasir secara konsisten hingga membentuk jembatan tanah alami yang dinamakan tombolo, yang menghubungkan pulau terpencil itu menjadi semenanjung seperti sekarang. Pilihan lokasi di atas pulau batu pasir terisolasi ini mengindikasikan bahwa para leluhur Sunda klasik sengaja memilih batas geosfer yang ekstrem sebagai wilayah kontemplasi suci demi mendekatkan diri pada sang pencipta di batas samudra.
Mengakhiri seri pembuka ini, penulis ditantang untuk melihat melampaui tumpukan batu kapur yang berserakan. Papan informasi situs, mitologi Aria Sapi Gumarang, amnesia linguistik terhadap lembu Nandi, hingga proses sedimentasi geologis tombolo adalah suara kolektif yang menolak terjadinya kekaburan identitas sejarah Sunda pesisir. Sebelum narasi kebudayaan kita terlanjur dipaksa tunduk pada hegemoni agraris pedalaman feodal, Batu Kalde di ujung selatan Pangandaran telah berdiri lebih dulu sebagai bukti monumental dari sebuah peradaban maritim yang mandiri, melek geologi, dan berdaulat penuh di hadapan deburan ombak Samudra Hindia.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


