Hikayat Batu dan Kuasa dalam Lakon Pakta Ledak
Lakon teater Pakta Ledak mempertemukan alam, manusia, dan mesin dalam percakapan tentang bumi yang terus dirusak.
Penulis Fitri Amanda 3 Oktober 2026
BandungBergerak - Seorang laki-laki memasuki ruang pertunjukkan. Mengenakan baju biru dongker dengan buntalan di tangan, ia berdiri di hadapan para penonton. Dalam kesunyian ruang, gerak matanya berpindah perlahan dari satu wajah ke wajah lainnya. Musik bernuansa Jawa mengalun mengiringi tembang yang dilantunkan sinden. Beberapa saat kemudian lelaki itu mulai membacakan narasi-narasi mengenai alam dan manusia serta bagaimana mereka saling memengaruhi.
Dalam lakon teater “Pakta Ledak” tersebut, Irwan Ahmett, sang aktor, mengajak penonton menelusuri perjalanan material gunung api—batu dan pasir yang menyimpan waktu dan ingatan, serta terus berpindah. Dari letusan gunung berapi hingga cara manusia mengambil dan mengubah bumi untuk memenuhi kebutuhannya, kompleksitas hubungan manusia dan alam perlahan mengarah pada persoalan tanah, wilayah, dan kekuasaan.
Di pementasan yang berlangsung di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Kamis, 24 September 2025, pasir dan batu berulang kali ditampilkan. Material tersebut menjadi simbol bahwa manusia mengambil sesuatu dari bumi, “Antara hidup dan yang menyertai hidup.”
Narasi-narasi tentang hubungan manusia dengan alam terus dilafalkan oleh Irwa. Narasi itu ia bacakan dengan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan sesekali ia hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Dalam satu adegan, tubuh Irwan perlahan meringkuk layaknya bulatan batu. Sementara di layar panggung menampilkan segerombolan orang yang berulang kali menggunakan palu.
“Jika tak tahan dengan kerumunan, datanglah dan masuklah ke dalam batu.”
Pada adegan lain, layar menampilkan seseorang berpakaian adat berhadapan dengan ekskavator. Sementara pada adegan lain, seekor babi hutan yang mengendus-ngendus di tanah lapang yang terlihat seperti pertambangan. Napas sang celeng menderu. Ia terus berkeliling mencari sesuatu sampai ia kelelahan dan terbaring.
Tak lama kemudian, celeng itu bangkit dan berlari. Di atas panggung, Irwan mulai mengeluarkan buntalan yang sejak awal pertunjukan ia bawa. Buntalan itu berisi topeng kepala celeng. Ia mengenakan topeng tersebut.
Usai pentas, Irwan menjelaskan penampilan berdurasi 70 menit itu berusaha mengajak penonton untuk “merasa”. Penonton dibebaskan memaknai karyanya. Tetapi satu hal yang ia tekankan, isu yang hendak ia bawakan ialah geopolitik.
Seniman yang kurang lebih sepuluh tahun menaruh perhatian pada gunung berapi itu menyoroti bagaimana selama jutaan tahun material gunung berapi bergerak mengikuti proses alam menuju wilayah selatan, tetapi manusia mengambil pasir dari gunung untuk kebutuhan pembangunan di wilayah utara. Perpindahan tersebut, dalam pandangannya, menjadi bentuk pembalikan arah alam yang dilakukan untuk memenuhi kepentingan manusia.
Ia kemudian menghubungkan persoalan itu dengan perubahan lingkungan di kawasan pantai utara Jawa, dari Jakarta, Cirebon, Pekalongan, Semarang, hingga Demak. Menurut Irwan, material yang dipindahkan tidak pernah benar-benar berhenti menjadi bagian dari persoalan lingkungan. Ada gunung yang kehilangan materialnya, ada wilayah lain yang menerima material tersebut, dan ada kepentingan manusia yang berdiri di antara keduanya.
“Karena sistem kita tidak berpihak kepada alam gitu,” ungkap Irwan, kepada BandungBergerak.
Karya yang dipersiapkan selama satu tahun ini berangkat dari cerita yang amat personal bagi Irwan. Ketika membahas tentang gunung berapi, ingatannya kembali pada letusan Gunung Galunggung pada awal 1980-an. Pengalaman tersebut membuatnya melihat gunung bukan hanya sebagai bagian dari alam, melainkan sebagai sesuatu yang dapat memengaruhi kehidupan manusia.
Bagi Irwan, hubungan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari bumi. Letusan gunung dapat memengaruhi kehidupan sosial, sementara manusia di sisi lain terus berusaha mengatur dan mengubah lingkungan sesuai kebutuhannya. Dari sinilah Irwan mulai memperhatikan cara manusia mengatur bumi. Manusia membuat aturan, menentukan batas, membagi wilayah, dan menyusun kesepakatan, tetapi alam tidak bekerja dengan cara yang sama. Gunung dapat meletus kapan saja tanpa menunggu persetujuan dari manusia.
“Jadi manusia itu kan bisa mengontrol sebetulnya, Gaza misalnya, dia (manusia) bisa memilih untuk tidak ngebom (orang-orang di Gaza). Tapi kalau gunung kan nggak bisa, dia nggak peduli mau orangnya apa kek, meledak ya meledak aja gitu,” ungkapnya.
Batu, Manusia, dan Mesin
Batu menjadi simbol dominan yang hadir dalam teater. Irwan mengatakan bahwa batu adalah salah satu material yang paling sering digunakan manusia. Batu juga menyimpan sejarah bumi dan memiliki makna yang berbeda-beda tiap manusia. Sebagaimana dengan Candi Borobudur dan Hajar Aswad, dua hal yang memperlihatkan bahwa batu dapat memiliki nilai sejarah dan spiritual.
Sementara topeng celeng sengaja ia pilih karena makna paradoksnya. Di satu sisi, ia kerap dimaknai sebagai hewan yang rakus karena dianggap memakan apa saja, bahkan ia kerap menjadi simbol keserakahan manusia. Di sisi lain, celeng memiliki fungsi mitologis, bahwa celeng akan mengurai tulang-tulang dan membawa kembali jejak para leluhur karena ia hidup dan bergerak di bawah tanah.
Selain kedua makna yang saling bertolak, Irwan menggunakan celeng juga sebagai kritik pada adu bagong, sebuah tradisi berburu yang diniali sangat maskulin, patriarkis, dan keji. Dalam tradisi ini, anjing-anjing dilatih dan dikerahkan untuk memburu celeng sampai ia mati, lalu dagingnya kemudian dibagikan.
Di mata penonton, Martin, merasa pertunjukkan yang dibawakan Irwan telah mempertemukan sesuatu yang berasal dari masa lalu dengan teknologi modern. Bagian ekskavator dalam teater menjadi salah satu adegan yang paling membekas.
“Pada akhirnya bukan masalah teknologinya, bukan masalah soal orang ada yang diusir, masalahnya sistem pada akhirnya,” ungkap Martin.
Teater tersebut menunjukkan bahwa ketika sebuah ekosistem sudah rusak maka mentalitas manusia juga akan rusak dan dapat memengaruhi bagaimana cara manusia memperlakukan lingkungan sekitar. Dalam hal ini, batas antara manusia dan “mesin” menjadi semakin kabur. Mesin terus bekerja atas kendali manusia tanpa henti, sementara manusia yang menggerakkan juga dikendalikan oleh keserakahannya.
Baca Juga: Caang Mumbul Dina Batok, Kritik Pembangunan Kota di Terap Festival #2 Bandung
Ketika Ibu-ibu dari Braga Memainkan Teater Simulasi Bencana Banjir Bandang

Terap Festival Ketiga
Lakon teater “Pakta Ledak” merupakan bagian dari Terap Festival: Waktu Bersama. Sejak edisi pertamanya pada 2024, Terap Festival merupakan festival teater yang membawa pertunjukan teater keluar dari ruang-ruang pertunjukkan konvensional dan menggunakan ruang publik sebagai ruang pertunjukkan sekaligus sebagai tempat untuk membaca kembali sejarah, ingatan, dan kehidupan warga.
Pada edisi pertamanya, Terap Festival mengangkat tema “Braga Berebut Kenangan” dengan mengeksplorasi sejarah dan memori yang melekat pada kawasan Braga dan sekitrarnya. Gagasan tentang kota kemudian diperluas pada edisi kedua mereka di 2025 melalui tema “Kota di Jalan Kita: Hak Mobilitas dan Hak atas Kota” yang melihat mobilitas, akses, tubuh, kelas, gender, dan abilitas memengaruhi pengalaman seseorang dalam menikmati kota.
Sahlan Mujtaba, Festival Director Terap Festival 2026, mengatakan pada edisi ketiga, Terap Festival mengangkat pengalaman ruang dan waktu melalui tema “Waktu Bersama”. Tema ini berangkat dari kehidupan kota yang semakin cepat: manusia dapat berada di kota, ruang, dan waktu yang sama, tetapi belum tentu benar-benar mengalami waktu bersama.
Karena itu, Terap Festival mengajak publik mengambil jeda dari ritme kota untuk mengalami sebuah peristiwa secara bersama-sama. Dalam konteks ini, teater diposisikan sebagai salah satu cara untuk menciptakan waktu bersama.
“Di situ kami melihat bahwa waktu tidak selalu harus dikejar atau dihemat. Ada waktu yang bisa dibagikan. Karena itu, Terap Festival yang ketiga ingin menyediakan kesempatan untuk berhenti sejenak, berbagi ruang, dan mengalami sesuatu bersama orang lain,” ucap Sahlan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


