• Berita
  • Cerita di Balik Kuliner Resep Gerwani: Kerja Perempuan Lebih dari Rumah Tangga

Cerita di Balik Kuliner Resep Gerwani: Kerja Perempuan Lebih dari Rumah Tangga

Mencicipi resep Gerwani menguak sejumlah isu terkait hak-hak perempuan. Ada sejarah yang hilang tapi terarsipkan dalam rasa makanan.

Diskusi Merawat Ingatan dari Sepiring Resep Gerwani di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Rabu sore, 30 September 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)

Penulis Retna Gemilang3 Oktober 2026


BandungBergerak - Sambal tjuka, agar-agar buah, dan tahu berontak tersaji di atas meja kayu kafe Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Rabu sore, 30 September 2026. Ini bukan acara makan-makan biasa, melainkan Upaya membedah arsip di balik menu makanan lewat diskusi bertajuk “Merawat Ingatan dari Sepiring Resep Gerwani”.

“Aku tuh ngerasa kayak masakan buatannya eyang aku, rasanya kayak hangat hati tuh,” kesan Amalia, salah satu peserta diskusi, saat mencicipi tiga menu yang diadaptasi dari Majalah Api Kartini itu. 

Diskusi ini menunjukkan bahwa di resep makanan tersimpan banyak kenangan, bahkan sekelumit sejarah perjuangan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) era 1950 hingga 1960-an. Amalia merasa tiga menu itu membawanya kembali pada kenangan masa kecil. 

Namun, pengalaman mencicipi resep lama Gerwani juga menyimpan sejumlah isu terkait hak-hak perempuan yang masih berlanjut hingga sekarang. Ia berpendapat, suara dan pergerakan perempuan kini terasa dilemahkan oleh sistem dengan disibukkan oleh kerja domestik, pengasuhan, atau mencari nafkah. 

“Kayaknya perjuangan perempuan zaman dulu sampai sekarang tuh kayak never ending gitu, lho. Apakah ada kemajuan dari gerakannya dulu sampai sekarang?” ibu rumah tangga 33 tahun tersebut. 

Kesan berbeda datang dari Mankind, 34 tahun, seorang fasilitator komunitas sekaligus seniman visual. Baginya, makanan yang disajikan terasa dekat karena sering dikonsumsi dalam kesehariannya. Sambal tjuka, misalnya, yang mengingatkan Mankind pada rujak cuka di masyarakat Sunda. Unsur kedekatan ini membuka cara pandang lain terhadap makanan yang tersaji di meja.

“Terus lagi, (hidangan) di meja kita tuh ternyata sangat politis,” tutur Mankind. 

Sama halnya dengan peserta diskusi lainnya, Muhammad Masyal, 25 tahun. Ia merasa menemukan hubungan personal lewat rasa hidangan. Melalui ketiga menu tersebut, terdapat fragmen masa kecil dari orang-orang yang lekat dengannya, seperti masakan ibu.

Hidangan tersebut juga memantik perspektif Masyal tentang pergerakan Gerwani yang masih relevan dengan sekarang. Menurutnya, perempuan berhak mendapatkan keadilan yang setara dalam menyuarakan haknya. 

“Perempuan tuh memang harus ada dasar perlawanannya juga, enggak hanya laki-laki gitu. Karena mereka juga berhak mendapatkan keadilan,” katanya. 

Berbagi cerita yang muncul memperlihatkan bagaimana perempuan dan kerja domestik dicatat dalam sejarah. Resep-resep yang selama ini tampak sederhana, ternyata menyimpan cerita panjang bersama konteks zamannya. 

Diskusi Merawat Ingatan dari Sepiring Resep Gerwani di  Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Rabu sore, 30 September 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)
Diskusi Merawat Ingatan dari Sepiring Resep Gerwani di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Rabu sore, 30 September 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)

Mengolah Kembali Resep dari Api Kartini

Masih dalam sesi yang sama, Deuis Raniarti kerap disapa Rani dari Dera’s Kitchen menceritakan pengalaman memasak tiga menu tersebut. Ia menceritakan, resep lama itu ditulis secara singkat dalam majalah Api Kartini sehingga ia perlu menerjemahkan kembali agar dapat dimasak di dapurnya. 

Rani tidak hanya berhadapan dengan bahan dan takaran, tapi juga mengingatkan kembali menu yang pernah dibuat. Contoh, resep tahu berontak dari majalah Api Kartini edisi No. 2 Tahun 2 (Februari 1960) familiar dengan gehu dari Sunda. Ada pula sambal tjuka dari edisi No. 11-12 Tahun 6 (November-Desember 1963) familiar dengan rujak cuka dari Sunda. Agar-agar buah yang dilengkapi dengan nanas, berasal dari edisi No. 9 Tahun 2 (September 1960).

Ia sengaja tidak mengubah resepnya untuk mempertahankan rasa otentik zaman dulu. Resep tersebut kemudian didokumentasikan di zine Dera’s Kitchen dan dibagikan kepada setiap peserta.

“Aku tetap mempertahankan apa yang aku baca di resep itu,” tutur Rani. 

Ketertarikan Rani pada memasak bermula ketika ia membaca buku Memasak Harapan, terbitan POST Editions. Buku antologi tersebut memuat tujuh esai dan resep makanan dari arsip Api Kartini. 

Pengalaman memasak Rani kemudian didokumentasikan pula melalui seri Dapur Api Kartini di BandungBergerak. Dapur, menurutnya, bukan hanya sebagai bagian dari keseharian perempuan, tapi juga menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman. Dengan memuat politik, pergerakan perempuan, kehidupan sehari-hari, pendidikan, kesehatan, hingga keluarga.  

“Jadi kayak sambil masak, terus sambil membaca yang lain juga, komplit gitu, di dapur itu teh semuanya dijelaskan,” tambahnya. 

Baca Juga: DAPUR API KARTINI #1: Memasak Tahu Berontak ala Gerwani
SEJARAH SURAT KABAR WARTA BANDUNG #7: Mereka yang Pernah Ada

Gerakan Progresif Perempuan Era 1950-1960-an

Api Kartini adalah majalah yang diterbitkan Gerwani, organisasi perempuan yang aktif pada era 1950 hingga 1965-an. Majalah ini menjadi salah satu ruang bagi para aktivisnya untuk menyampaikan gagasan sekaligus membicarakan persoalan yang lekat dengan kehidupan perempuan.

Peneliti independen, Hanfa Azzahra menjelaskan bahwa resep-resep dalam Api Kartini bagian dari arsip Gerwani untuk melihat pemikiran dan aktivitas organisasi perempuan terbesar pada masanya. Pembacaan tersebut menjadi penting karena banyak pengetahuan dan cerita dari kelompok kiri, seperti Gerwani, PKI, dan Lekra turut hilang pada periode 1965 hingga 1966. Tubuh mereka dibunuh, dipenjara, dikejar, bahkan dibungkam. Generasi sekarang perlu merawat ingat yang telah sengaja dilenyapkan oleh kekerasan negara. 

“Bukan cuma tubuh mereka yang dihilangkan atau tubuh mereka dibunuh, tapi pengetahuan mereka dibunuh,” tegas Hanfa.

Dalam kondisi tersebut, Api Kartini menjadi salah satu arsip tersisa yang masih dapat dibaca untuk menelusuri pemikiran Gerwani. Selain itu, arsip tersebut mengembalikan kembali kerja-kerja sejarah berdasarkan spekulatif yang telah tergantikan di masa orde baru. 

Gerwani sendiri merupakan salah satu organisasi perempuan terbesar di era orde lama. Sebelumnya, organisasi ini bernama Gerakan Wanita Sedar (Gerwis) pada tanggal 4 Juni 1950. Kemudian berganti nama menjadi Gerwani pada Kongres ke-2 tahun 1954. Namun, saat genosida 1965-1966, Gerwani dihilangkan dari sejarah karena dianggap terafiliasi dengan PKI. 

Padahal, Hanfa menjelaskan, pergerakan Gerwani termasuk ke dalam sosialis-feminis yang progresif. Pembaca Api Kartini diajak berpikir kritis dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, buruh perempuan, dan ibu rumah tangga. 

Terlihat dari Api Kartini No. 2 Tahun 2 (Februari 1960) terdapat berita tentang kaum ibu memprotes turunkan harga barang. Di edisi yang sama, resep tahu berontak menyertai reportase tersebut. Dalam penafsiran Hanfa, pemberontakan juga tetap bisa dilakukan dengan memasak di dapur.

“Bagaimana ibu-ibu rumah tangga ini dengan tetap bisa memasak, bisa juga memegang pemikiran-pemikiran ini yang cukup militan, yang cukup revolusioner,” paparnya. 

Hanfa melanjutkan, pemusnahan tokoh dan pengetahuan idealisme Kartini, sayangnya direduksi sebagai perempuan pemberontak, gila, perlu dikondisikan kembali, bahkan disebut sebagai perempuan tapol. 

Pada masa Orde Baru, pergerakan progresif perempuan digantikan dengan domestifikasi dan penyempitan suara. Terlihat dari hadirnya PKK atau Dharma Wanita, organisasi perempuan dari para istri ASN. Peran ibu dan perempuan, ujarnya, dikembalikan dalam kerja-kerja produktif dan reproduktif negara. 

“Ibu-ibunya itu semacam memang didomestifikasi dan jadi mereka memang tugasnya di dapur, sudah, mereka enggak bisa berpolitik gitu,” ungkapnya.  

Bagi Hanfa, membaca kembali Api Kartini bukan sekadar menghidupkan arsip yang tersisa, tapi juga melihat perjuangan Gerwani yang masih berkelindan dengan kehidupan perempuan saat ini. Melalui sepiring tahu berontak, sambal tjuka, dan agar-agar buah yang tersaji sore itu, akhirnya tersingkap historis panjang yang selama ini ditutupi negara.

Dari meja makan, peserta diajak melihat kembali bagaimana perempuan pada masa itu tidak cuma bertandang di dapur. Tapi juga turut menyuarakan harga kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan, dan hak mereka. 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB 

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//