DAPUR API KARTINI #1: Memasak Tahu Berontak ala Gerwani
Dapur hadir sebagai bagian dari keseharian perempuan yang juga bisa menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Deuis Raniarti
Juru masak di Dera Kitchen
24 Agustus 2026
BandungBergerak – Debu jalanan masih menempel di pakaian dan peluh terus bercucuran ketika kami—aku dan suami—sampai di toko buku Malire di Jalan Otista No. 14, Kabupaten Garut. Selasa siang, 4 Agustus 2026 itu, toko lengang. Baru setelah kami saut-saut, seorang penjaga keluar dan mempersilakan kami untuk masuk. Dan seketika rasa lelah setelah berjam-jam menempuh perjalanan sejauh 60 kilometer dari Moch. Toha, Kota Bandung terbayar lunas.
Malire tidak terlalu besar. Namun, rak-rak buku yang memenuhi ruangannya membuat kami betah berlama-lama. Kami berjalan dari satu rak ke rak lainnya, sesekali menarik sebuah buku, membolak-balik halamannya, lalu mengembalikannya ke tempat semula.
Di saat aku sedang asyik membaca buku Ajengan Anjing karya Ridwan Malik, suamiku sibuk mencari buku untuk dibeli sampai akhirnya tertumbuk pada satu buku lalu menunjukkannya kepadaku. Judul bukunya Memasak Harapan, diterbitkan oleh Post Editions.
“Aku mau beli buku ini,” katanya dengan antusias. “Isinya menarik karena terinspirasi dari arsip-arsip majalah Api Kartini.”
Memasak Harapan mengisahkan sekelompok orang yang mencoba mendekati kembali arsip Api Kartini lewat dapur. Mereka membaca resep-resep yang pernah dimuat di majalah tersebut, mencoba mempraktikkannya kembali, lalu mencatat pengalaman ketika makanan dari puluhan tahun lalu hadir lagi di meja makan hari ini.
“Memasak Harapan adalah tujuh esai yang dihidangkan untuk mengingat nenek-nenek revolusioner kita,” demikian tertulis di sampul belakang buku.
Api Kartini merupakan majalah yang diterbitkan oleh Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), organisasi perempuan yang aktif pada dekade 1950-an. Majalah ini menjadi salah satu ruang bagi para aktivisnya untuk menyampaikan gagasan sekaligus membicarakan berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan perempuan.
Isinya tidak melulu soal politik dan gerakan perempuan. Api Kartini juga memuat tulisan tentang kehidupan sehari-hari, pendidikan, kesehatan, keluarga, hingga resep masakan. Dapur, dalam konteks ini, hadir sebagai bagian dari keseharian perempuan yang juga bisa menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman.
Dan dari sanalah perjalanan Dapur Api Kartini ini dimulai. Kami hendak membawa resep-resep yang pernah tersimpan di halaman majalah tersebut kembali ke dapur hari ini, persis seperti yang dilakukan oleh para juru masak di dapur Post Editions.

Namanya Tahu Berontak
Pilihan pertamaku jatuh pada resep Tahu Berontak yang tertulis dalam edisi nomor 2 tahun II, Februari 1960. Selain namanya yang unik, menu ini pernah aku cicipi dan rasanya membuat penasaran. Lantaran resep di majalah tidak mencantumkan takaran bahan, aku berinisiatif mencari tutorialnya di TikTok. Ternyata camilan ini cukup populer di Jawa Tengah serta sebagian wilayah Sumatera.
Namun, setelah menonton beberapa video, aku merasa ini bukan Tahu Berontak yang sama dengan versi buku. Resepnya sangat berbeda. Akhirnya, aku memilih setia pada petunjuk Api Kartini dan menakar bahannya menggunakan insting saja.
Berdasarkan resep tersebut, bahan-bahan yang perlu kami siapkan adalah tahu, ayam atau udang, maizena, “brambang”, tepung, telur, garam, dan merica. Awalnya aku kurang paham apa itu "brambang" karena kata itu asing bagiku. Setelah mencarinya di Google, barulah aku tahu kalau itu berarti bawang. "Ah, mungkin maksudnya bawang merah," tebakku.
Alih-alih memilih ayam atau udang sebagai isian, kami memutuskan untuk mencampur keduanya.
Untuk memperoleh semua bahan, kami pergi ke pasar yang dari rumah dipisahkan oleh hanya satu lampu merah. Pagi itu beberapa kios sudah mulai sepi dan dagangannya nyaris habis. Demi menghemat waktu, kami membagi tugas: aku berburu ayam giling, sementara suamiku mencari tahu putih. Nantinya, kami akan bertemu di lapak sayur langganan untuk membeli bawang merah. Sayangnya udang di pasar habis, kami memutuskan singgah sebentar ke supermarket untuk membeli udang seperlunya. Adapun tepung, telur, garam, dan merica sengaja tidak kami beli karena stok di rumah masih ada. Begitu semua bahan lengkap terkumpul di dapur, aku mulai meracik.

Irisan bawang merah ditumis hingga harum, disusul cincangan ayam dan udang, lalu dibumbui garam dan merica. Karena kurang tahu kapan larutan maizena harus dituangkan, aku menunggu sampai tumisan harum dan cukup matang. Setelah larutan maizena masuk, cincangan ayam dan udang menjadi adonan isian yang padu dan tidak gampang terurai. Tumisan terus aku aduk hingga matang.
Alih-alih memotong tahu berbentuk segitiga, aku mengikuti trik dari penulis Memasak Harapan: memotong tahu berbentuk kotak agar lebih mudah diisi. Kerukan sisa tahu pun langsung kulahap agar tidak terbuang. Nahas, tahu putih yang dibeli suamiku ternyata terasa asam, seperti basi, walau teksturnya masih tampak bagus.
Hari makin siang. Aku sempat menyisir warung-warung dekat rumah, tetapi tahu putih tak juga ditemukan. Akhirnya, aku memakai tahu kuning yang tersisa di kulkas. Semoga rasanya tidak terlalu berbeda. Selagi aku mengeruk tahu, suami bertugas memasukkan adonan isian. Kerja sama yang padu.
Setelah semua tahu terisi, aku menyiapkan adonan pelapisnya. Satu butir telur dikocok bersama tepung dan sedikit garam, lalu diberi air sedikit demi sedikit hingga mencapai kekentalan yang pas. Tahu lalu dicelupkan dan digoreng dalam minyak panas.
Kami membiarkannya sebentar hingga adonan mengering sebelum dibalik, agar tekstur tahu yang lembut tidak pecah. Begitu kedua sisinya berwarna kuning keemasan dan garing, tahu segera diangkat dan ditiriskan. Tahu Berontak pun siap disantap!
Saat mencicipinya, saya menemukan rasa yang unik: renyah seperti gehu, tetapi isinya mengingatkanku pada dimsum. Karena bumbunya tidak terlalu banyak, gorengan ini paling pas disantap bersama cabai rawit untuk memperkaya rasa. Perpaduannya pas!

Di Balik Resep, Ada Cerita-cerita Lain
Resep-resep masakan yang dibagikan di majalah Api Kartini hanyalah bagian kecil dari isi majalah tersebut. Di halaman-halaman lainnya, pembaca akan diajak membaca berbagai persoalan yang sedang berlangsung pada masa itu, mulai dari perjuangan perempuan, politik nasional atau internasional, pendidikan, hingga tips berguna seperti menjahit kemeja putra.
Membuka Api Kartini edisi ini, kita akan menemukan banyak informasi yang bukan sekadar resep masakan: ada sajak yang bertajuk “Untuk Setiap Hati” oleh S.W. Kuntjahjo, kolom tanya-jawab tentang parenting yang berjudul “Taman Pendidikan Anak2”, laporan tentang Menyambut Kongres Pemuda se-Indonesia, ilustrasi tentang tuntutan ibu-ibu terhadap mahalnya harga barang, tips mengenai menjahit kemeja putra dan merawat kecantikan, serta masih banyak topik menarik lainnya.
Daftar isi ini menunjukkan bahwa Api Kartini tidak hanya hadir sebagai majalah yang membicarakan urusan perempuan, tetapi juga membawa pembacanya mengikuti bahasan pendidikan, kebudayaan, organisasi, politik, hingga berbagai persoalan yang sedang berlangsung di dalam atau di luar negeri.

Salah satu bagian yang menarik perhatianku adalah kolom “Teman Pendidikan Anak2”. Kolom ini berisi pertanyaan dari pembaca yang meminta nasihat tentang persoalan mengasuh anak.
Salah satunya datang dari Nj. Tjiptosudarmo, seorang ibu dari Purwodiningratan, Surakarta. Dia bercerita tentang anaknya yang tak mau menurutinya dan hanya takut pada ayahnya saja.
Pertanyaan Nj. Tjiptosudarmo dan jawaban yang diberikan oleh redaksi Api Kartini bisa dibaca lewat gambar berikut:

Poin menariknya adalah kolom ini hadir pada masa ketika orang belum bisa membuka Google atau mencari jawaban dalam hitungan detik. Ketika seorang ibu menghadapi persoalan dalam mendidik anak, salah satu tempat yang bisa ia datangi untuk mencari pengetahuan atau bahkan nasihat adalah majalah yang dibacanya. Hal kecil ini menunjukkan bahwa Api Kartini dipercaya oleh pembacanya. Dia hadir sebagai tempat berbagi kegelisahan, mencari pengetahuan, dan mungkin menemukan jawaban atas persoalan-persoalan yang mereka hadapi sehari-hari.
Bagi saya, kolom tersebut adalah potongan kecil yang menarik untuk melihat persoalan perempuan dan keluarga pada masa itu. Api Kartini telah memperlihatkan bahwa persoalan mendidik anak sudah menjadi kegelisahan perempuan sejak dulu, dan bahwa mereka membutuhkan tempat untuk bertanya tentang bagaimana seharusnya menghadapi anak-anak di rumah.
Mungkin, di situlah menariknya membuka kembali halaman-halaman Api Kartini. Beragam informasi dan kisah tentang resep masakan, politik, sastra,seni, dan bahkan persoalan anak di rumah membuat Api Kartini hadir dekat dalam kehidupan sehari-hari pembacanya.
Dan kini, aku akan membawanya kembali ke dapurku: menyajikan ulang resep-resep yang diwariskan para perempuan yang pernah duduk-duduk di taman bunga Plantungan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


