Archive & Crate 2026: Melawan Lupa dengan Kaset, Zine, dan Foto
Dari kaset hingga zine, arsip fisik menjadi upaya menjaga jejak ekosistem musik agar tidak hilang bersama platform digital.
Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 5 Oktober 2026
BandungBergerak - Di tengah musik yang semakin bergantung pada platform digital, sebagian orang masih memilih menyimpan musik dalam bentuk benda. Kaset, zine, majalah, foto, hingga art print tidak hanya menjadi medium untuk menikmati karya, tetapi juga cara menyimpan cerita tentang musik dan orang-orang yang berada di dalamnya.
Hal itu terlihat dalam Archive & Crate 2026 yang digelar Consumed di Jalan Braga, Bandung, Sabtu, 26 September 2026. Acara tersebut mempertemukan berbagai unsur dalam ekosistem musik, mulai dari rilisan fisik, buku, zine, merchandise, karya ilustrasi, hingga pertunjukan musik.
Salman Alfaris datang setelah melihat nama grup musik yang disukainya tercantum dalam flyer acara. Ia membawa dua kaset koleksinya untuk ditandatangani oleh musisi yang dikaguminya, masing-masing rilisan Homicide dan Morgue Vanguard.
“Seru aja gitu, beda dari yang lain,” kata Salman ketika ditanya alasan mengoleksi banyak kaset.
Bagi Salman, daya tarik rilisan fisik terletak pada pengalaman memiliki dan melihatnya secara langsung. Musik yang biasanya hadir sebagai suara melalui perangkat digital berubah menjadi benda yang dapat disentuh dan disimpan.
Namun, yang paling menarik perhatiannya bukan hanya rekaman. Ia menyukai ilustrasi dan gambar yang terdapat pada sampul album.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa musik bagi sebagian orang tidak berhenti pada suara. Ada benda, gambar, desain, dan cerita yang ikut membentuk hubungan seseorang dengan sebuah karya.
Gagasan tersebut menjadi dasar penyelenggaraan Archive & Crate. Consumed merupakan media musik sekaligus ruang bagi orang-orang yang memiliki ketertarikan terhadap berbagai benda yang mengiringi perjalanan musik.
Dinarson Dinar Gandhy, salah satu panitia, mengatakan acara tersebut berangkat dari kecintaan terhadap musik dan kegemaran mengoleksi berbagai benda yang berkaitan dengannya.
“Sebenarnya Consumed itu media musik, jadi kita tuh related to all music stuff. Selain itu, kita juga kolektor music stuff. Jadi kenapa enggak kita bikin event ini buat memperpanjang umur ekosistem musik tersebut,” kata Dinar.
Menurut Dinar, ekosistem musik tidak berhenti pada suara yang dihasilkan musisi. Artwork, ilustrasi, merchandise, rilisan fisik, dan berbagai bentuk dokumentasi ikut membentuk perjalanan sebuah karya.
Karena itu, Archive & Crate tidak hanya menjadi tempat untuk menonton pertunjukan. Pengunjung dapat melihat, mencari, dan membeli berbagai rilisan, sekaligus menemukan karya visual yang lahir dari ekosistem musik.
Bagi Dinar, benda-benda tersebut juga memiliki fungsi sebagai arsip. Apa yang dibuat dan terjadi pada suatu masa dapat menjadi catatan bagi generasi berikutnya.
“Kayak ngasih tongkat estafet ke depannya. Yang terjadi di era 2026 tuh ada apa aja sih, itu jadi sebuah arsip. Itu jadi sebuah cerita,” ujarnya.
Arsip, menurut Dinar, memungkinkan generasi berikutnya melihat kembali apa yang pernah dilakukan pendahulunya. Ketika dokumentasi dari masa sebelumnya belum cukup tersedia, generasi sekarang memiliki kesempatan untuk mengisi kekosongan tersebut.
Consumed menjalankan pengarsipan melalui berbagai bentuk. Selain menggelar acara, mereka menerbitkan zine, art print, dan majalah musik. Consumed Volume 3 direncanakan terbit pada akhir tahun ini.
Pada penyelenggaraan Archive & Crate, Consumed juga merilis Street Spider bersama Golosor Times, sebuah arsip foto mengenai komunitas skateboard Bandung pada masa lalu. Selain itu, agenda ini juga menghadirkan konser gratis sebagai bagian dari ekosistem musik yang ingin dirawat Consumed. Rilisan fisik, dokumentasi, dan pertunjukan musik ditempatkan dalam satu ruang yang sama: bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman yang kelak dapat diingat dan didokumentasikan.
Ilham Saputra dan Karina, misalnya, datang bersama anak mereka untuk menyaksikan penampilan Alkateri. Mereka juga berencana kembali keesokan harinya untuk menonton Kale.
“Mau nonton band, mau nonton Alkateri. Sama Kale besok,” tutur Ilham Saputra.
Kehadiran konser melengkapi bentuk pengarsipan yang ditawarkan Archive & Crate, bahwa musik tidak hanya didengar, tetapi juga disaksikan, dialami, dan kemudian dapat meninggalkan jejak melalui benda serta dokumentasi yang menyertainya.

Ketika Jejak Digital Menghilang
Keinginan membuat sesuatu dalam bentuk fisik tidak hanya muncul dari kegemaran mengoleksi. Bagi Ilham Fadhilah, pengulas musik di Consumed sekaligus pemain bass grup hardcore Waffle, benda fisik berkaitan dengan persoalan lain: bagaimana sebuah dokumentasi dapat bertahan.
Ilham pernah melihat sejumlah temannya bekerja di media yang berbasis website dan media sosial. Ketika media tersebut berhenti beroperasi, situsnya ikut menghilang. Tulisan dan dokumentasi yang pernah dibuat pun menghadapi persoalan yang sama.
“Beberapa temanku dulu yang kerja di media based on website dan sosmed doang, medianya sudah enggak eksis lagi akhirnya website hilang segala macam. Kalau majalah mungkin walaupun medianya udah enggak eksis tapi produknya masih ada,” ujar Ilham.
Bagi Ilham, benda fisik dapat menjadi jejak yang bertahan ketika institusi atau platform yang menerbitkannya sudah tidak ada. Pengalaman itu juga muncul ketika Ilham mendokumentasikan perjalanan tur pada Juli hingga Agustus. Perjalanan tersebut melewati sejumlah kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali.
Foto-foto perjalanan itu sebelumnya sudah diunggah ke media sosial. Namun, publikasi secara digital tidak menghilangkan keinginannya untuk menghadirkan dokumentasi tersebut dalam bentuk fisik.
“Sebenarnya fotonya udah di-upload di sosmed, tapi kecenderungan menghasilkan itu dalam bentuk fisik masih ada,” katanya.
Keinginan tersebut bukan semata-mata soal menyimpan foto. Ilham melihat bentuk fisik sebagai cara untuk menyatakan sesuatu. Dengan begitu, rilisan fisik tidak hanya berfungsi sebagai wadah karya. Ia juga menjadi cara untuk memberi bentuk pada pengalaman yang sebelumnya hanya hadir di ruang digital.
Baca Juga: Panggung Kesetaraan di Saung Anglung Udjo
Forgotten: Melawan Sampai Akhir Hidup

Arsip Tidak Cukup Disimpan Sendiri
Persoalan kemudian bergeser dari bagaimana seseorang menyimpan benda menjadi bagaimana sebuah komunitas merawat ingatannya. Herry Sutresna atau Ucok Homicide melihat masih ada orang-orang yang secara mandiri menjaga jejak musik dan kebudayaan melalui koleksi zine. Salah satunya Deden Alternaive, yang dikenal memiliki koleksi zine dalam jumlah besar.
Ucok bahkan menyerahkan sebagian besar koleksi dan master zine miliknya kepada Deden karena keterbatasan ruang dan waktu untuk merawatnya sendiri. Namun, bagi Ucok, pengarsipan tidak semestinya bergantung pada satu orang. Arsip merupakan pekerjaan bersama yang perlu dirawat secara kolektif.
“Ini adalah persoalan kolektif untuk pengarsipan. Urusan si Deden sorangan kitu? Lain. Kalau buat saya ini urusan kolektif,” ujar Ucok dalam diskusi mengenai arsip fanzine sebuah band di tengah acara.
Menurut Ucok, gagasan tersebut dapat dikembangkan menjadi perpustakaan atau ruang arsip bersama yang dirawat komunitas. Ia merujuk pada praktik serupa di sejumlah kota, seperti Tokyo dan Melbourne.
“Idealnya kita punya perpustakaan komunitas bersama, yang dirawat bersama,” katanya.
Ia menegaskan, arsip tidak lagi hanya dipahami sebagai tempat menyimpan benda lama. Arsip dapat menjadi ruang yang memungkinkan orang menemukan kembali karya, pengetahuan, dan pengalaman yang sebelumnya sulit diakses.
Di titik itu, keberadaan arsip juga berkaitan dengan pertemuan. Benda-benda yang disimpan dapat menjadi alasan orang datang, berbicara, dan membangun hubungan.
Ucok mengatakan, relevansi zine dan media cetak hari ini tidak hanya terletak pada bentuk fisiknya. Yang lebih penting adalah kemungkinan benda-benda tersebut membawa kembali aktivitas yang terlalu banyak berlangsung di ruang digital menuju pertemuan langsung. Ruang fisik, menurutnya, dapat menjadi titik temu untuk berbincang, membangun relasi, hingga mengorganisasi sesuatu secara bersama.
“Bagaimana kemudian hal-hal yang kita lakukan ini melahirkan titik kumpul-titik kumpul. Dari titik kumpul ini akan melahirkan sesuatu yang lain, apakah itu pergerakan kultural, pergerakan sosial, bahkan pergerakan politik. Makanya kenapa saya bilang ini makin relevan hari ini,” ujar Ucok.
Ia mencontohkan sejumlah ruang diskusi yang tumbuh di kawasan seperti Tamansari, Anyer Dalem, Dago Elos, dan Sukahaji. Menurutnya, ruang-ruang tersebut menunjukkan bahwa pertemuan fisik dapat tumbuh dari pengalaman bersama menghadapi persoalan tertentu.
“Ujungnya di situ, kita melihat ulang relasi sosial kita hari ini yang sama-sama terasing, enggak pernah ketemu, apa segala macam, ujungnya pasti titik kumpul,” kata Ucok.
Pandangan itu memperluas makna pengarsipan. Arsip tidak hanya menjaga benda dari masa lalu, tetapi juga dapat menciptakan kesempatan bagi orang-orang untuk bertemu kembali dengan sejarah, karya, dan satu sama lain.
Archive & Crate memperlihatkan bahwa kaset dapat disimpan di rak. Zine dapat dikumpulkan. Foto dapat dicetak. Majalah dapat diterbitkan. Namun, di balik benda-benda itu terdapat upaya untuk memastikan pengalaman musik tidak berhenti sebagai unggahan yang tenggelam di lini masa.
Dengan kata lain, pengarsipan musik bukan sekadar menyimpan benda. Kaset, zine, majalah, art print, dan foto menjadi cara untuk menjaga jejak tentang siapa yang membuatnya, musik yang pernah dimainkan, serta ruang yang pernah mempertemukan orang-orang di dalamnya. Di tengah musik yang semakin mudah diakses secara digital, benda-benda tersebut mengingatkan bahwa menyimpan musik juga berarti menyimpan ingatan tentang ekosistem yang melahirkannya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


