• Berita
  • Nasib Bagja dalam Gelombang Penertiban PKL di Bandung: Lapak Dibongkar, Buku Dijual Kiloan

Nasib Bagja dalam Gelombang Penertiban PKL di Bandung: Lapak Dibongkar, Buku Dijual Kiloan

Setelah hampir 46 tahun berjualan di Jalan Cihapit, Bagja harus membongkar lapaknya. Buku-bukunya dilepas sebelum seluruhnya sempat dipilah.

Bagja, 63 tahun, PKL lapak buku di Cihapir, Bandung terkena penertiban, Selasa, 6 Oktober 2026. (Foto: Muhammad Akmal/BandungBergerak)

Penulis Muhammad Akmal Firmansyah7 Oktober 2026


BandungBergerak - Beberapa hari terakhir, Bagja, lelaki yang telah hampir 46 tahun berjualan buku di kawasan Cihapit, Kota Bandung, tidak lagi sibuk melayani pembeli. Ia sibuk mengosongkan lapaknya yang terkena program penertiban PKL yang gencar dilakukan di Kota Bandung.

Di kios yang kini hampir kosong, sisa-sisa buku lapuk dan sampah menumpuk. Mengenakan kaus oblong, Bagja membereskannya seorang diri. Sesekali beberapa orang datang membantu, dibayar dengan upah lelah yang tidak seberapa. Buku-buku yang selama ini ia jual satu per satu pun terpaksa dilepas secara kiloan.

“Kemarin satu mobil, tadi dua mobil dijual secara kiloan,” ujar pria akrab disapa Kang Bagja kepada BandungBergerak, Selasa, 6 Oktober 2026.

Di antara buku-buku itu terdapat terbitan lama yang menurut Bagja sudah ada sejak 1800-an. Sebagian masih layak diselamatkan dan memiliki nilai koleksi. Namun, waktu untuk membereskan kios semakin sempit. Buku-buku tersebut akhirnya ikut ditimbang.

Buku yang dahulu dibeli satuan dengan modal hingga jutaan rupiah kini nilainya hanya menjadi ratusan ribu rupiah setelah dijual kiloan. Bagja mengatakan kerugiannya cukup besar, meski ia tidak menghitung jumlahnya secara pasti.

“Ya, lumayan besar sih. Enggak saya hitung lah. Sudah ya, memang aturannya gitu. Ya sudah, mau gimana lagi,” kata lelaki 63 tahun tersebut.

Kios itu berada di sekitar stopan Jalan Riau-Cihapit, Kelurahan Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan. Hampir separuh hidup Bagja dihabiskan di sana untuk berjualan buku. Kini tempat itu kosong. Bagja pun belum tahu kapan bisa kembali berjualan.

Buku-buku di Kios Buku Tjihapit, Jalan Cihapit, Bandung, Agustus 2023. (Foto: Fitri Amanda/BandungBergerak)
Buku-buku di Kios Buku Tjihapit, Jalan Cihapit, Bandung, Agustus 2023. (Foto: Fitri Amanda/BandungBergerak)

Bagja masih mengingat ketika kawasan Cihapit belum dikenal sebagai salah satu kawasan kuliner Bandung. Dulu, beberapa kios buku berdiri di sekitar tempatnya berjualan. Tak heran jika daerah ini masuk ke dalam peta literasi komunitas.

Menurut dia, ada empat pedagang buku di sana. Satu per satu berhenti berjualan atau beralih profesi. Bagja memilih bertahan.

“Yang masih bertahan ya cuma saya aja,” katanya.

Alasannya bukan semata-mata karena tidak memiliki pilihan lain. Ia sudah memiliki banyak pelanggan. Selain itu, ia juga hobi dengan buku, jadi akhirnya konsentrasi ke buku aja,” ujarnya.

Selama puluhan tahun, kios itu menjadi tempat Bagja bertemu dengan pembaca. Ada pelanggan lama yang terus datang, ada kolektor yang mencari edisi tertentu, dan ada pembeli yang datang untuk menemukan buku yang tidak mudah ditemukan di toko buku biasa.

Relasi dengan para pelanggan menjadi salah satu hal yang paling berarti baginya selama berjualan. Karena itu, perintah pengosongan kios kali ini bukan hanya kehilangan tempat berdagang. Bagi Bagja, tempat tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupannya.

Sepanjang berjualan buku,Bagja sebenarnya sudah beberapa kali menghadapi perubahan aturan mengenai lapaknya. Dahulu ia menggunakan bangunan permanen dengan rolling door. Kemudian, menurut Bagja, pada masa Ridwan Kamil menjadi Wali Kota Bandung, pedagang tidak lagi diperbolehkan menggunakan bangunan permanen. Lapak kemudian menggunakan tenda.

“Kalau waktu Ridwan Kamil kan cuma paling diperkecil aja, nggak boleh permanen dulu. Tadinya, sebelum zaman Ridwan Kamil, kita pakai rolling door, permanen. Nah, pas zaman Ridwan Kamil, enggak boleh permanen, cuma pakai tenda,” tuturnya.

Belakangan, tenda pun tidak boleh menetap. Pedagang harus membongkarnya ketika tidak digunakan.

“Jadi, kayak tenda itu bongkar-pasang,” kata Bagja.

Sejak Kamis pekan sebelumnya, pemberitahuan untuk mengosongkan kios di sekitar stopan telah disampaikan. Pedagang diberi waktu hingga Senin untuk membereskan lapak.

Pedagang lain mulai lebih dahulu mengangkut barang dagangan. Bagja masih memilah buku-bukunya. Ia kemudian mendapat teguran dari pihak kelurahan karena lapaknya belum selesai dibereskan.

Sebenarnya masih ada buku yang menurut Bagja layak diselamatkan. Tetapi ia tidak ingin keterlambatannya membuat pedagang lain ikut terkena persoalan.

“Daripada kita ditegur terus sama kelurahan. Kan kenapa belum beres, yang lain sudah beres. Ya udahlah, daripada nanti seorang bermasalah, semua kena imbasnya,” katanya.

Ia akhirnya memilih menyelesaikan semuanya dengan ditimbang. Buku-buku yang selama bertahun-tahun ia kumpulkan pun berpindah tangan tanpa sempat seluruhnya dipilah.

Pengalaman Bagja berlangsung ketika penertiban PKL di Bandung sedang berlangsung di banyak tempat. Dalam liputan “PKL Bandung Ditertibkan, ke Mana Mereka Berjualan?”, mencatat sedikitnya sepuluh titik penertiban atau penggusuran PKL sepanjang 2026. Liputan tersebut memperlihatkan persoalan yang muncul setelah ruang usaha pedagang dibongkar: sebagian kehilangan penghasilan, sebagian mencari pekerjaan lain, sementara kepastian tempat untuk kembali berjualan tidak selalu tersedia.  

Pemerintah Kota Bandung menyatakan penertiban PKL dilakukan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Dalam liputan yang sama, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan pemerintah tidak memiliki kewajiban memberikan relokasi maupun kompensasi kepada PKL yang ditertibkan. Ia juga menyebut kemungkinan relokasi ke ruang usaha formal dapat menimbulkan biaya baru bagi pedagang. 

Bagi Bagja, persoalannya bukan lagi bentuk kios atau tenda. Ia sementara kehilangan tempat untuk berjualan. Ia memperkirakan perlu waktu lama untuk bisa kembali membuka lapak.

“Ya, kasihan pedagang kaki lima,” ujarnya.

Ia tidak banyak menuntut. Ia hanya berharap masih dapat berjualan.

Baca Juga: Perpustakaan Gasibu, Literasi, dan Ambisi Penataan Fisik
Bukan Jumahan Akbar: dari Kedai Jante ke Festival Literasi, dari Peta Sastra Jawa Barat ke Penyitaan Buku

Bagja, 63 tahun, PKL lapak buku di Cihapir, Bandung terkena penertiban, Selasa, 6 Oktober 2026. (Foto: Muhammad Akmal/BandungBergerak)
Bagja, 63 tahun, PKL lapak buku di Cihapir, Bandung terkena penertiban, Selasa, 6 Oktober 2026. (Foto: Muhammad Akmal/BandungBergerak)

Aktivis Literasi Kecewa

Nasib Bagdja sebagai pedagang buku yang tergusur mendapat perhatian di media sosial. Sejumlah orang kemudian datang ke lokasi untuk membantu menyelamatkan buku-buku yang masih bisa digunakan.

Deni Rachman, pedagang buku sekaligus pemilik Lawang Buku mengetahui kabar penertiban tersebut saat sedang bersepeda pada pagi hari. Menurut Deni, Bagdja diminta pihak kelurahan setempat untuk membereskan buku-bukunya sebelum pukul 15.00 hari itu.

Deni menyoroti penertiban Kios Buku Tjihapit yang terjadi ketika sejumlah ruang yang berkaitan dengan aktivitas membaca dan perdagangan buku di ruang publik Bandung juga mengalami perubahan. Sebelumnya, Perpustakaan Gasibu telah dirobohkan.

BandungBergerak sebelumnya pernah menurunkan laporan khusus serial Jejak-Jejak Literasi di Kota Bandung. Bagi para pegiat literasi dan pemburu buku, Kios Buku Tjihapit bukan nama asing. Selain menyediakan buku-buku lawas berbahasa Indonesia, kios ini juga memiliki banyak koleksi berbahasa asing, seperti Inggris, Belanda, dan Jerman.

Kios kecil ini berada di Kelurahan Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan. Berdasarkan data BPS 2020, Kelurahan Cihapit dihuni 3.892 penduduk. Pada 2021, terdapat 15 sekolah dari jenjang SD hingga SMK dengan total 951 murid.

Data tersebut menunjukkan bahwa Cihapit tidak hanya menjadi kawasan perdagangan, tetapi juga memiliki lingkungan pendidikan yang berdekatan dengan keberadaan kios buku.

Bagja (58 tahun), pemilik Kios Buku Tjihapit, Jalan Cihapit, Bandung, Agustus 2023. (Foto: Fitri Amanda/BandungBergerak)
Bagja (58 tahun), pemilik Kios Buku Tjihapit, Jalan Cihapit, Bandung, Agustus 2023. (Foto: Fitri Amanda/BandungBergerak)

Ketika Lapak Buku di Bandung Menyusut

Kios Buku Tjihapit sendiri bukan ruang buku yang berdiri sendirian dalam sejarah perdagangan buku Bandung. Di Jalan Dewi Sartika, lapak buku telah tumbuh sejak 1980-an. Para pedagang di sana mengalami perubahan yang berbeda: internet dan jual-beli daring mengurangi ketergantungan pembeli pada lapak fisik. Sebagian pedagang beralih ke penjualan online, sebagian berhenti, sementara yang lain memilih bertahan. 

Kondisi tersebut membuat jumlah pedagang buku di trotoar Dewi Sartika menyusut. Pada 2023, BandungBergerak mencatat Wawan menjadi salah satu pedagang yang masih bertahan di sana setelah banyak pedagang lain gulung tikar, berjualan secara daring, atau berganti profesi. 

Di Cikapundung, lapak buku memiliki sejarah yang lebih panjang. Sejak 1970-an, kawasan itu dikenal sebagai salah satu tempat mencari buku langka, sastra, sejarah, dan buku-buku yang sulit ditemukan di tempat lain. Bagi mahasiswa dan pegiat literasi, lapak tersebut pernah menjadi tempat menemukan bahan bacaan dan pengetahuan alternatif.  BandungBergerak.id

Tjihapit, Dewi Sartika, dan Cikapundung memang memiliki sejarah dan karakter yang berbeda. Namun, ketiganya memperlihatkan satu perubahan yang sama: ruang perdagangan buku fisik di Bandung tidak lagi sebanyak sebelumnya.

Para pelapak kecil tersebut terdesak zaman, juga kebijakan penertiban seperti yang dialami Bagja. Baginya, bukan hanya pembelinya yang berubah atau jumlah pedagang yang berkurang, tempatnya berjualan pun hilang.

Sementara itu, perubahan ruang buku tidak hanya terjadi pada lapak perdagangan. Pada pertengahan Juli 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Barat merobohkan Perpustakaan Gasibu dalam rangka penataan kawasan. Sepanjang 2024, perpustakaan tersebut mencatat 12.441 kunjungan. Pemerintah menyatakan layanan literasi akan tetap diberikan melalui transformasi digital dan perpustakaan keliling.

Bagi pengguna perpustakaan, fungsi ruang fisik tidak sesederhana tempat mengambil buku. Perpustakaan menjadi tempat belajar, berkegiatan, bertemu, dan bertukar pikiran. 

Pada saat yang sama, ruang literasi yang dibangun warga, bukan oleh pemerintah, justru tumbuh. Reiza Harits dari Aliansi Perpustakaan Independen Bandung menyebut lebih dari 20 perpustakaan independen telah berdiri di Bandung Raya sejak masa pascapandemi, di luar Taman Bacaan Masyarakat dan perpustakaan jalanan. 

Kembali ke kios buku Tjihapit, proses pengosongan hampir selesai. Rak-rak yang sebelumnya penuh buku mulai kosong. Bagja masih ingin berjualan. Namun, setelah hampir 46 tahun bertahan di tempat yang sama, ia harus memulai lagi dari ketidakpastian.

Ia belum tahu kapan bisa kembali membuka lapak. Ia juga belum tahu di mana akan menjual buku-bukunya. Yang ia tahu, untuk sementara, ia berhenti berjualan. Terlebih buku-buku yang dulu menunggu pembeli satu per satu, kini hampir semua telah diangkut dalam hitungan kilogram.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//