Baros Nyarita: Dari Leuweung ke Lembur
Perubahan Desa Baros tersimpan dalam ingatan warganya. Tanpanya, pembangunan dapat membuat masyarakat kehilangan pengetahuan tentang ruang yang sedang berubah.

Tim Peneliti Bestari Saintek 2026
Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung– Bebenah Lemah Cai
9 Oktober 2026
BandungBergerak – Baros tidak tumbuh dalam satu galur peristiwa atau tanggal tunggal. Jejak perubahannya tersebar dalam ingatan warga Desa Baros, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung: tentang: keluarga yang datang dan menetap, lahan yang dibuka, rumah yang bertambah, jalan yang diperlebar, hingga sawah dan kebun yang berganti fungsi. Jejak itu juga tersimpan dalam nama kampung, musim tanam, sumber air, serta cerita keluarga. Dari potongan-potongan itulah, galur Baros terbaca, bukan sebagai satu versi sebuah sejarah resmi, melainkan sebagai ingatan yang disambung perlahan, dibaca dengan hati-hati dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Jika jejak itu ditarik ke belakang, sejumlah nama lama muncul dalam ingatan warga. Tanjung Wangi, misalnya, dalam riwayat lisan dikaitkan dengan wilayah bernama Kademangan Cidemang. Cerita kemudian membawa kita ke Ciengang, Tamansari, Tarikolot, Wangun, sampai Ciirateun. Ciengang dikenang sebagai salah satu permukiman orang-orang terdahulu. Tamansari dikenang sebagai tempat berkumpul atau berunding. Tarikolot dikenang sebagai lembur (kampung) lama di bawah Wangun, ketika kawasan sekitarnya masih berupa leuweung (hutan). Nama-nama itu bukan sekadar penunjuk Lokasi; bagi warga, Sebagian darinya juga menyimpan ingatan tentang bagaimana kampung itu berkembang.
Ciirateun menempati posisi tersendiri dalam ingatan sebagian warga. Dalam salah satu tuturan yang dihimpun tim, tempat ini dikaitkan dengan pusat pemerintahan setempat pada masa awal. Tuturan yang sama menyebut keberadaannya telah bermula sejak sekitar abad ke-17 dan menghubungkannya dengan Eyang Ali Akbar, tokoh yang disebut datang dari wilayah Cirebon untuk menyebarkan Islam. Keterangan tersebut belum dapat diperlakukan sebagai kronologi sejarah yang pasti. Dalam Storybank, ia dicatat sebagai riwayat lisan: penting untuk didengar dan disimpan, tetapi tetap terbuka untuk dibandingkan dengan tuturan lain maupun sumber tertulis.
Dari cerita tentang tempat-tempat lama itu tergambar Baros yang belum sepadat sekarang. Sebagian wilayah masih berupa leuweung dan garung; bagian lainnya perlahan dibuka menjadi kebun, huma, dan sawah. Air menentukan lahan mana yang dapat ditanami, sementara bambu, pepohonan, tanah, dan musim menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Membuka lahan karena itu tidak hanya mengubah bentang alam. Di atas lahan yang mulai digarap, keluarga menetap, rumah dibangun, dan sedikit demi sedikit leuweung berubah menjadi lembur.
Baca Juga: Perempuan Penghayat Penjaga Mata Air di Lembah Ciputri
Cerita Roh Penjaga Mata Air: Cara Masyarakat Desa Wirogomo Merawat Lingkungan
Baros Nyarita: Pada Desa Kita Bertumpu, Pada Kota Kita Bertumbuh
Perubahan Baros dalam Ingatan Warga
Perubahan Baros juga tersimpan dalam ingatan tentang cara warga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam tuturan mengenai masa kolonial, misalnya, garam dan gula disebut pernah diperoleh melalui barter. Hasil bumi dan ternak menjadi bagian dari pertukaran, bahkan muncul pula cerita tentang tanah yang berpindah tangan. Tuturan semacam ini memperlihatkan bahwa kebun, sawah, ternak, dan hasil panen dahulu tidak hanya mempunyai nilai ekonomi, tetapi terikat langsung dengan kebutuhan keluarga untuk makan, bekerja, dan menetap.
Di Cipurut, proses tumbuhnya kampung tergambar melalui istilah ngababakan (membuka permukiman baru). Dalam ingatan Abah Ade yang dihimpun untuk Storybank, Cipurut Lebak disebut sebagai bagian yang lebih lama atau ‘aslina’ (asli), sementara kawasan lain kemudian berkembang sebagai babakan. Sebuah babakan dapat bermula ketika satu keluarga membuka lahan dan mendirikan rumah. Anak, saudara, atau kerabat kemudian menyusul dan membangun tempat tinggal di sekitarnya. Kebun berubah menjadi halaman, jalan setapak menghubungkan rumah-rumah, dan batas permukiman semakin meluas. Dengan cara itulah pertumbuhan keluarga sekaligus membentuk pertumbuhan kampung.
Agar galur Baros tidak terputus, Tim Bestari Saintek Baros Village Creative Eco Living Hub mengembangkan Storybank Baros Nyarita. Tim merekam wawancara warga, menyusun transkrip, menelusuri literatur, memetakan ingatan warga melalui participatory memory zoning, serta membuat register yang menghubungkan setiap cerita dengan penutur, tempat, dan sumbernya. Cerita tentang Tanjung Wangi, Cidemang, Ciirateun, Cipurut Lebak, ngababakan, pertanian, hingga asal nama Baros tidak hanya ditulis menjadi narasi, tetapi juga disiapkan untuk dikembangkan dalam bentuk glosarium, versi bilingual, audio, visual, dan media digital. Dengan cara itu, galur tidak berhenti sebagai tutur yang perlahan kabur. Ia dicatat agar dapat dilacak, disimpan agar dapat diwariskan, dan dihidupkan agar terus dipercakapkan.
Pertumbuhan kampung tidak selalu dapat dibaca dari peta administratif saja. Dalam ingatan warga, batas sebuah tempat juga dikenali melalui pertanyaan tentang siapa yang dahulu tinggal di sana, siapa yang membuka lahan, dan ke mana anak-cucunya kemudian berpindah. Ketika penduduk bertambah, wilayah berkembang menjadi lingkungan dan RW yang lebih banyak. Kebun, hubungan keluarga, dan jalan setapak yang dahulu membantu warga mengenali ruang perlahan dilengkapi oleh jalan, fasilitas umum, dan batas pemerintahan. Peta administratif berubah mengikuti perkembangan wilayah, tetapi cerita kekerabatan masih menyimpan hubungan antartempat yang lebih lama.
Di tengah pertumbuhan permukiman, kehidupan Baros lama bertumpu kuat pada tatanen (bercocok tanam). Sawah ditanami padi dengan mengandalkan ketersediaan air, sedangkan lahan yang lebih kering digunakan untuk pare huma (padi ladang). Setelah padi dipanen, sebagian lahan dapat ditanami palawija seperti jagung, singkong, dan ubi. Warga juga mengingat jenis-jenis padi lama yang membutuhkan masa tanam lebih panjang dibandingkan varietas yang datang kemudian. Bertani karena itu berjalan mengikuti ketersediaan air dan musim, bukan semata-mata mengikuti kecepatan yang dikehendaki manusia.
Hasil panen tidak selalu langsung dijual atau dihabiskan. Dalam ingatan warga, padi di sejumlah tempat dahulu disimpan di leuit sebagai persediaan keluarga hingga musim berikutnya. Sawah juga dikerjakan dengan bantuan munding, sementara pacul menjadi bagian dari kerja sehari-hari. Kini kerbau semakin jarang terlihat dan sebagian pekerjaannya digantikan oleh traktor serta mesin. Teknologi mempersingkat waktu kerja, tetapi sekaligus mengubah ritme pertanian yang dahulu sangat bergantung pada tenaga manusia dan hewan. Munding menjauh, mesin menderu; cara bertani pun perlahan berubah.
Perubahan berikutnya datang bersama jalan yang semakin terbuka. Pelebaran jalan memudahkan warga bepergian dan mempercepat pergerakan barang, sehingga Baros semakin terhubung dengan wilayah di sekitarnya. Namun kemudahan akses juga meningkatkan kebutuhan terhadap ruang. Kebun dan sawah kini berbagi tempat dengan rumah, kompleks perumahan, kapling, tempat usaha, pesantren, dan kawasan wisata. Bentang Baros pun menjadi berlapis: jejak pertanian masih terlihat, tetapi berdampingan dengan bentuk-bentuk ruang yang lahir dari kebutuhan masa kini.
Di tengah perubahan bentang itu, nama Baros tetap bertahan. Salah satu tuturan menghubungkan nama tersebut dengan kai bares, pohon yang disebut pernah dibawa dari Wangun dan ditanam di wilayah ini. Kayunya oleh penutur digambarkan menyerupai manglid. Tuturan lain menyebut bahwa nama Baros telah digunakan lebih dahulu, sementara nama-nama kampung berkembang kemudian di dalam wilayah tersebut. Kedua versi tidak harus dipaksakan menjadi satu. Justru perbedaannya memperlihatkan bagaimana asal-usul sebuah nama dapat hidup dalam lebih dari satu ingatan. Pohonnya mungkin semakin sulit ditemukan, tetapi namanya terus disebut.
Jejak serupa tersimpan dalam nama-nama seperti Cipeuteuy, Cipurut, Cimentrik, Pakusorok, Cikokok, Kadu Bongkok, dan Ci Awi Tali. Sebagian masih disertai cerita yang cukup utuh, sebagian mempunyai lebih dari satu versi, sementara yang lain tinggal sebagai nama dan pertanyaan. Kekosongan informasi itu tidak perlu segera diisi dengan dugaan. Ia justru menunjukkan bagian yang masih harus ditelusuri: dengan bertanya kepada warga lain, mendatangi tempatnya, atau membandingkan cerita dengan sumber yang tersedia. Dalam kerja mendokumentasikan ingatan, mengakui bahwa sebuah cerita belum lengkap sama pentingnya dengan mencatat cerita yang telah ditemukan.

Dari Leuweung Menjadi Lembur
Upaya itulah yang mendasari pengembangan Storybank Baros Nyarita dalam Program Bestari Saintek Baros Village Creative Eco Living Hub. Bersama warga dan mitra lokal, tim Universitas Katolik Parahyangan menghimpun cerita melalui wawancara, penelusuran literatur, dokumentasi lapangan, serta pemetaan ingatan partisipatif. Transkrip dan register digunakan untuk menghubungkan setiap cerita dengan penutur, tempat, dan sumbernya, sementara hasilnya disiapkan pula dalam bentuk narasi, glosarium, audio, visual, dan media digital. Kerja ini tidak bertujuan menetapkan satu versi sebagai yang paling benar. Yang hendak dijaga justru keterlacakan cerita dan keberadaan versi-versi yang berbeda.
Galur itu menunjukkan bahwa desa tidak pernah benar-benar selesai menjadi. Baros berubah dari ruang yang masih banyak berupa leuweung, berkembang menjadi lembur dan wilayah pertanian, lalu terus bertumbuh bersama jalan, rumah, usaha, dan kebutuhan ruang baru. Perubahan semacam itu bukan sesuatu yang dapat dihentikan. Namun, tanpa ingatan, pembangunan dapat membuat masyarakat kehilangan pengetahuan tentang ruang yang sedang berubah: mengapa suatu tempat dinamai demikian, bagaimana sebuah kampung bermula, dari mana air pertanian berasal, atau bagaimana keluarga-keluarga dahulu membangun permukiman. Karena itulah cerita tentang tatanen, leuit, ngababakan, maupun asal nama Baros bukan sekadar nostalgia. Semuanya merupakan cara membaca hubungan masyarakat dengan tempat yang mereka tinggali.
Baros Nyarita bukan penutup cerita, melainkan bagian dari pencarian yang masih berjalan. Mungkin masih ada nama yang belum dicatat, jalan lama yang belum dipetakan, atau cerita keluarga yang belum sempat dituturkan. Setiap ingatan baru dapat menambah galur itu selama sumbernya dicatat dan perbedaan versinya dihormati. Sebab galur bukan tali yang mengikat Baros pada masa lalu. Ia adalah benang yang memungkinkan sebuah kampung bergerak ke masa depan tanpa kehilangan jalan pulang. Dari leuweung ke lembur, cerita Baros masih terus bergerak.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


