• Narasi
  • Cerita Roh Penjaga Mata Air: Cara Masyarakat Desa Wirogomo Merawat Lingkungan

Cerita Roh Penjaga Mata Air: Cara Masyarakat Desa Wirogomo Merawat Lingkungan

Warga Desa Wirogomo, Kabupaten Semarang, memercayai cerita roh penjaga mata air untuk melestarikan dan merawat mata air sebagai penghidupan bagi kebun-kebun mereka.

Moehammad Alfarizy

Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang

Ilustrasi. Eksploitasi alam berlebihan akan memperbesar potensi terjadinya bencana. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

13 Agustus 2026


BandungBergerak – Bagi sebagian masyarakat kosmopolitan, cerita mistis biasanya dipandang sebagai cerita yang tak jelas kebenarannya. Saat datang ke Desa Wirogomo, selain daerahnya yang dingin, cerita tentang roh penjaga mata air tersaji sebagai hidangan utama.

Hal ini tentu mengundang segudang pertanyaan dalam benak penulis. Sekilas, Desa Wirogomo masuk dalam ranah administrasi Kabupaten Semarang. Lebih tepatnya dekat dengan Salatiga. Secara geografis Desa Wirogomo diapit oleh Gunung Kelir, juga terletak di lereng Gunung Telomoyo.

Mata pencaharian warganya pun beragam. Ada yang menjadi buruh di pabrik, pekerja serabutan, menggarap lahan, dan berdagang. Akan tetapi mayoritas masih membawa cangkul dan arit untuk berkebun.

Selain menggarap lahan, kehidupan masyarakat Wirogomo sangat bergantung dengan mata air yang berada di Gunung Kelir. Di sinilah letak menariknya. Awal datang ke Desa Wirogomo, ada perayaan karnaval. Penulis menganggap itu hanyalah perayaan karnaval tahunan yang menampilkan berbagai pertunjukan kesenian seperti wayang.

Beberapa hari setelahnya, penulis bertemu dengan Mas Fatkhur, seorang pemuda berusia 32 tahun. Ia banyak bercerita tentang desanya. Mas Al begitulah sapaan hangatnya sering bercerita tentang mata air Kelir memiliki peran yang penting sebagai penghidupan bagi warga.

Tak heran apabila warga Desa Wirogomo sangat menghormati mata air Gunung Kelir. Mas Fatkhur bercerita proses meruwat mata air hampir selalu diselenggarakan tiap satu tahun sekali.

Diawali dengan membersihkan mata air, kemudian membawa sesaji sebagai bentuk penghormatan. Beberapa hari setelahnya, akan diselingi dengan pertunjukan seni seperti wayang, karnaval warga, dan tari warok.

Rangkaian tersebut ternyata memiliki kesinambungan secara teologis. Pernah, perayaan meruwat mata air tidak dilaksanakan dalam jangka waktu sekitar dua sampai tiga tahun. Hasilnya, ada beberapa warga Desa Wirogomo yang kesurupan. 'Dirasuki roh', begitulah warga menyebutnya.

Hal itu kemudian membuat warga desa kembali melakukan rangkaian proses ruwatan. Kembali menampilkan wayang dan tari warok sebagai persembahan. Selain sebagai bentuk penghormatan, Warga Desa Wirogomo percaya bahwa sumber mata air mereka dijaga oleh roh gaib.

Persembahan wayang dan tari warok juga memiliki kesinambungan dengan meruwat mata air Gunung Kelir. Dari cerita Mas Fatkhur, saat wayang dan tari warok diselenggarakan, roh-roh penjaga mata air ikut menari bersama sinden. Itu menjadi semacam pandangan spiritual. Tak heran bila datang ke sana, cerita tentang orang kesurupan disajikan dalam bentuk cerita.

Hal itu sebenarnya bukan hanya tentang mitos atau klenik, melainkan upaya masyarakat Wirogomo menjaga lingkungan mereka. Ada sudut pandang lain dari cerita roh penjaga mata air yang ceritanya selalu diwariskan oleh warga Desa Wirogomo.

Baca Juga: Yang Istimewa dari Kampung Naga
Mewarisi Banjir Tahunan di Kampung Halaman Kami, Baleendah
Pelestarian Hutan Keramat oleh Komunitas Lokal Melindungi Keanekaragam Hayati Perdesaan

Pengetahuan Lokal sebagai Logika Ekologis

Karakter atau model penceritaan roh penjaga mata air di Desa Wirogomo memiliki dimensi teologis sekaligus ekologis. Ceritanya tidak hanya vertikal terhadap roh, melainkan bersifat horizontal terhadap alam dan manusia.

Pengetahuan semacam itu tumbuh dan hidup melalui tradisi lisan. Diwariskan turun-temurun tanpa dibukukan dalam catatan resmi negara. Apabila seorang terdidik mampu membicarakan siklus hidrologi, maka warga Wirogomo merangkainya melalui mitos.

Saat penulis menanyakan akses jalan menuju mata air, Mas Fatkhur selalu mengingatkan kalau tempatnya angker, banyak setan, demit, dan bentuk-bentuk peringatan lainnya. Tampaknya, ia mencoba melindungi sumber penghidupan warga dari orang asing.

Kepercayaan warga terhadap roh mistis inilah barangkali dapat disebut sebagai pengetahuan berbasis lokal. Memang, pengetahuan semacam ini sangat bertentangan dengan kaidah-kaidah saintifik. Masyarakat tidak menjelaskan sebab musabab secara ilmiah bahwa air memiliki pengaruh terhadap siklus hidrologi, melainkan melalui cerita yang diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun.

Pembentukan pengetahuan lokal warga berangkat dari pengalaman yang empiris. Pengetahuan direproduksi dalam bentuk cerita menjadi kebenaran yang dipercaya. Pengetahuan tak bersifat netral, melainkan secara kolektif menjadi daya tawar sekaligus alat politik.

Regime of truth sebagaimana yang dikemukakan oleh Michel Foucault, dalam konteks Wirogomo, pengetahuan lokal tidak diposisikan sebagai narasi tandingan, melainkan sebagai 'bahasa' yang berbeda mengenai persepsi terhadap lingkungan.

Apabila kita mengurainya, pengetahuan lokal tidak hanya berfungsi sebagai ritus kepercayaan maupun simbol estetika belaka. Perlahan, pengetahuan lokal berubah menjadi laku spiritual, menerapkannya menjadi etika untuk merawat dan menjaga lingkungan.

Warga membahasakannya “roh” karena hal itulah yang paling mudah dicerna dan dipatuhi. Fungsi sesajen dalam meruwat mata air merupakan representasi dari hubungan manusia dengan alam. Ungkapan rasa syukur terhadap apa yang diberikan oleh alam sebagai sumber penghidupan.

Uniknya, pengetahuan semacam ini juga dirawat dari generasi ke generasi. Diwariskan dari bapak ke anak hingga terbentuk sebagai persepsi yang rigid tentang alam. Hal ini tentu kontras dengan paradigma industrial yang cenderung melihat alam sebagai potensi, bukan sebagai bagian dari tatanan ekologis.

Alih-alih sebagai mistika, ungkapan “roh penjaga” lebih tepat disebut sebagai logika ekologis. Cerita itu tidak lagi berfungsi sebagai mitos, melainkan sebagai konservasi selama ratusan tahun yang terus dirawat.

Kritik Terhadap Rasionalitas Teknokrat

Sekitar dua sampai tiga tahun silam, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) milik BUMD pernah survey ke mata air Kelir Desa Wirogomo. Mereka berencana untuk mengelola  mata air Kelir sebagai potensi kapital bagi PDAM.

Akan tetapi, masyarakat desa menolak keras. Mereka tidak sepakat dengan rencana PDAM yang ingin melakukan privatisasi terhadap sumber air. Mereka berbondong-bondong mendatangi balai desa sebagai bentuk protes. Sejak itu, wacana privatisasi air oleh PDAM mereda meskipun pengakuan dari Mas Fatkhur bukan berarti PDAM berhenti total.

Bagi Mas Fatkhur yang menolak, privatisasi air merupakan upaya PDAM untuk hanya menguntungkan beberapa pihak. "Nek ngono sing diuntungkan ki sopo? Pasti orang-orang di kota," ucapnya saat ia menceritakan kejadian tersebut.

Ada satu hal yang pasti, warga Desa Wirogomo paham bahwa sejauh ini bahwa mereka hidup dari sumber mata air Gunung Kelir yang melimpah. Mereka paham karakteristik dari PDAM, sebagai perusahaan yang membawa modal kapital untuk mengeksploitasi dan mengkomersialisasi sumber air mereka.

PDAM menjadi salah satu representasi dari rasionalitas teknokrat yang menggunakan rasionalitas sebagai upaya untuk menghegemoni pengetahuan. Mereka datang dengan bahasa rasional tentang potensi mata air, mematok harga, mengatur sistem, membangun meteran untuk membatasi penggunaan air warga.

Cerita roh penjaga mata air tidak serta merta sebatas cerita, melainkan kritik terhadap rasionalitas teknokrat yang menjadikan sains sebagai alat politik. Industri kemudian menggunakan modal kapitalnya, menguasai sumber daya alam untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.

Orientasinya berbeda dengan warga. Mereka memercayai cerita roh penjaga mata air untuk melestarikan dan merawat mata air sebagai penghidupan bagi kebun-kebun mereka. Dari kebun-kebun yang subur itulah mereka hidup, bukan menjadikan mata air sebagai potensi untuk dieksploitasi.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//