Yang Istimewa dari Kampung Naga
Kampung Naga menyuguhkan alam yang indah. Satu dari sekian kampung adat yang masih memegang tradisi dan norma yang berlaku secara turun-temurun di Jawa Barat.

Hafidz Azhar
Penulis esai, sejak September 2023 pengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan (Unpas), Bandung
16 Januari 2026
BandungBergerak.id – Yang istimewa dari Kampung Naga bukan hanya nuansa destinasinya, tetapi juga aktivitas dan kebudayaan yang tercipta. Itulah yang saya amati beberapa waktu lalu saat berkunjung ke Kampung Naga, sehari usai pergantian tahun. Untuk kedua kalinya, saya mengunjungi Kampung Naga. Pertama kali tahun 2016, untuk kebutuhan penelitian tentang mitigasi bencana.
Kampung Naga terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Di sana, saya tidak sendiri. Saya berangkat bersama rombongan dari jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV), Universitas Pasundan.
Ini memang kegiatan rutin. Saban tahun, Pak Ibro, sapaan untuk pengampu mata kuliah Budaya Sunda, mewajibkan mahasiswa DKV semester 1 untuk praktik lapangan di Kampung Naga, dan menjadi salah satu hajatan besar bagi jurusan DKV.
Dari Bandung, saya ikut rombongan bus bersama mahasiswa dan beberapa orang dosen termasuk Pak Ibro. Pak Ibro sendiri memandu langsung perjalanan kami di dalam bus. Ada juga yang pergi mengendarai sepeda motor. Meski setiap tahun bergulir, baru kali ini saya ikut praktik lapangan pada mata kuliah Budaya Sunda. Menurut Pak Ibro, praktik lapangan ini sudah berlangsung lebih dari satu dekade. Semula masih dilakukan pulang-pergi dengan tujuan dua tempat yang berbeda. Mengingat efektivitas, belakangan Pak Ibro memutuskan untuk menginap sehari dengan satu destinasi yang dituju.
"Praktik ini sudah sejak tahun 2014. Awalnya ke Kampung Dukuh sama Kampung Naga tapi dulu masih pulang-pergi" tutur Pak Ibro.
Banyak yang tidak mengetahui soal asal-usul Kampung Naga. Ini seolah terputus mata rantai, atau masyarakat kerap menyebutnya pareumeun obor. Kendati demikian, di sana masih memegang teguh tradisi dan norma yang berlaku secara turun-temurun. Umpamanya, tidak menggunakan listrik atau lampu untuk menerangi malam, meskipun tidak melarang warganya untuk memanfaatkan perkembangan teknologi. Terbukti, banyak warga yang membawa seluler, bahkan para pengunjung boleh berfoto dan merekam berbagai destinasi.

Baca Juga: Membaca Ci Tarum dan Ci Manuk dalam Peta VOC MS VEL 1161
Jatukrami di Kasepuhan Gelaralam
Sedekah Laut, Cara Warga Berdamai dan Hormat pada Alam
Kampung Naga
Nama Naga pada kawasan ini tidak merujuk pada binatang berbau mitos yang menyerupai ular besar nan ajaib. Ada yang bilang istilah Naga ini disebut-sebut sebagai daerah yang terletak di gawir (dina gawir). Dalam bahasa Indonesia gawir bermakna lembah. Sebagaimana yang tampak, Kampung Naga berada di bawah ruas jalan raya. Untuk menuju ke pusat permukiman, kami mesti menuruni 444 anak tangga. Saya tidak sempat menghitung apakah benar jumlah anak tangga ini sebanyak 444. Setidaknya itulah yang saya tahu dari pamong kami di sana.
Sisi lain dari Kampung Naga memang menyuguhkan alam yang indah. Selain sungai dengan aliran deras, pemukiman warga dikelilingi oleh hutan atau pepohonan dengan beragam flora dan fauna. Belum lagi jalanan kecil yang berkelok dengan undakan dan juga empang-empang yang berisi ratusan ekor ikan mas. Dengan menonjolkan nilai-nilai kesundaan, rumah-rumah warga dibangun menggunakan kayu, bilik bambu dan beratapkan ijuk. Saya tidak menghitung berapa banyak rumah yang ada. Yang pasti, semua permukiman dibangun dengan bahan dan bentuk yang sama.
Warga menyediakan kami tempat untuk bermalam, lalu kami disebar ke beberapa rumah yang jaraknya tidak terlalu berdekatan. Tiap-tiap rumah diisi sekitar 7-9 orang. Kebetulan tempat saya berhadapan langsung dengan lapangan atau alun-alun kecil. Tidak jauh dari situ ada masjid dan balé sebagai ruang pertemuan. Di ruangan inilah, semua mahasiswa dipusatkan untuk belajar membuat anyaman.
Setiap tahun praktik membuat anyaman tidak berubah. Yang berubah bisa saja objek yang akan dibuatnya. Pada kesempatan ini, saya bisa melihat wajah-wajah sumringah beberapa mahasiswa yang berhasil menuntaskan tugasnya menganyam hihid. Hihid atau kipas, dibuat dari bambu, lalu dianyam membentuk persegi dengan gagang yang sama yang terbuat dari bambu.
Saat mahasiswa membuat anyaman, dosen yang tidak bertugas memanfaatkan aktivitas lain seperti memotret dan menggambar. Dicky Purnama Fajar sudah bersiap membawa kamera andalannya. Sebagai fotografer dan dosen DKV, Dicky blusukan mengamati visual yang bagus untuk diabadikan. Hawe Setiawan tidak mau ketinggalan. Sejak tiba di Kampung Naga matanya tertuju pada berbagai bentuk visual. Tangannya tak henti bergerak, dan sesekali matanya melihat ke arah kertas penuh coretan. Kebanyakan gambar yang dituangkan oleh Hawe berbentuk sketsa.
Selain Hawe, ada juga Agus Setiawan, dosen yang ikut rombongan. Jenis gambar yang dituangkan tidak berbeda dengan Hawe, yakni sketsa ruang. Kebetulan, selain Pak Ibro kami sekadar ikut nimrung, sehingga banyak waktu kosong yang bisa dimanfaatkan.
Itulah mengapa Hawe dan Agus bisa leluasa mencari amatan visual yang menarik untuk digambar, meskipun keduanya sama-sama menghasilkan sketsa permukiman dan seakan-akan gambar tersebut terlihat hidup. Seperti gambar Agus yang diberi keterangan: Rumah Adat Kampung Naga, atau gambar masjid dengan keterangan: Masigit di Kampung Naga karya Hawe Setiawan.

Bentang Alam
Menjelang sore, hujan turun agak lama. Saya menikmati betul bagaimana rintik hujan membasahi atap dan tanah lapang. Sambil meneguk segelas Kopi Aroma yang diberi gula aren khas Kampung Naga, saya merenungi betapa masyarakat Kampung Naga bisa bertahan di tengah gempuran zaman, namun tidak mengurangi tradisi yang sudah berjalan puluhan tahun itu. Jumlah penduduknya mungkin bisa dihitung, dan tidak pernah terdengar masalah mendasar terkait lingkungan yang mengancam kehidupan penduduk.
Menurut salah seorang warga, pernah terjadi luapan sungai melebihi volume normal. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun kemarin, tetapi tidak sampai menenggelamkan rumah-rumah warga. Begitu pun tak pernah terjadi tanah longsor, kendati posisi Kampung Naga tampak melajur ke bawah seperti jurang.
Inilah yang menjadi ciri khas Kampung Naga. Satu dari sekian kampung adat yang terdapat di Priangan, yang skalanya bisa dibilang lebih kecil dari Kasepuhan Gelaralam di Kabupaten Sukabumi, dan lebih besar dari Kampung Adat Cikondang di Kabupaten Bandung. "Bisa menjadi miniatur kebudayaan Sunda", kata Hawe di tengah obrolan kami.
Di balik semua keindahan Kampung Naga, ada kabar yang tidak mengenakan bahwa sebagian hutan akan terlindas proyek pembangunan jalan tol. Proyek ini, konon, sudah direncanakan sejak masa Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, dan akan digarap pada masa gubernur terkini. Mudah-mudahan kabar ini tidak terjadi. Jika proyek sudah mulai beroperasi, kita mesti melakukan serangkaian protes yang efektif agar bentang alam di Kampung Naga tidak terjamah para pejabat yang haus validasi. Sekali lagi, yang istimewa dari Kampung Naga bukan hanya kebudayaannya, tetapi ada bentang alam yang harus dilindungi.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

