• Narasi
  • Sedekah Laut, Cara Warga Berdamai dan Hormat pada Alam

Sedekah Laut, Cara Warga Berdamai dan Hormat pada Alam

Sedekah Laut menjadi ungkapan syukur nelayan atas rezeki laut. Tradisi ini menjadi sarana belajar budaya dan sejarah lokal.

Fabian Satya Rabani

Pelajar di SMA Talenta Bandung

Hasil bumi yang sudah dinaikkan ke perahu di bawa ke tengah laut (Foto: Fabian Satya Rabani)

2 Januari 2026


BandungBergerak.id – Bagaimana jika hidup setiap hari bergantung pada laut yang luas, indah, sekaligus berbahaya? Inilah realitas masyarakat nelayan pesisir Jawa, terutama di Cilacap. Dari pengalaman panjang itulah lahir tradisi Sedekah Laut. Tradisi ini bukan sekadar acara seremonial tahunan, melainkan ekspresi rasa syukur mendalam atas rezeki yang datang dari laut. Ani Suryanti dalam Upacara Adat Sedekah Laut di Cilacap (2017) menjelaskan bahwa ritual ini merekam relasi manusia, alam, dan Tuhan. Laut memberi penghidupan, tetapi juga menyimpan ancaman. Karena itu, nelayan merasa perlu menyapa semesta lewat doa bersama. Sedekah Laut pun menjadi ruang spiritual sekaligus sosial yang bermakna.

Jika ditelusuri lebih jauh, Sedekah Laut di Cilacap memiliki sejarah panjang dan jelas. Tradisi ini mulai dikenal sejak tahun 1875, sebagaimana dicatat dalam arsip budaya daerah dan dirangkum Tim SMKN 1 Bawang dalam Sejarah Sedekah Laut Cilacap (2020). Pada masa itu, Cilacap dipimpin Tumenggung Tjakrawerdaya III. Ia meminta Ki Arsa Menawi, tokoh nelayan Pandanarang, memimpin ritual larung laut. Tujuan utamanya adalah menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Sejak saat itu, tradisi ini dilakukan rutin setiap tahun. Dari satu generasi ke generasi berikutnya, Sedekah Laut terus diwariskan sebagai bagian hidup nelayan.

Baca Juga: Merajut Persaudaraan Melalui Budaya Hajat Laut Desa Batukaras Pangandaran
Laut, Ombak, dan Susi Pudjiastuti
Saat Negeri Tanpa Laut Mengajari Kita Bermain di Pantai

Sedekah Laut di Cilacap

Nama Sedekah Laut sendiri menyimpan makna simbolik yang kuat. Kata “sedekah” berarti pemberian ikhlas sebagai wujud syukur. Kata “laut” menunjuk sumber kehidupan utama masyarakat pesisir. Koentjaraningrat dalam Kebudayaan Jawa (1984) menyebut bahwa penamaan ritual mencerminkan cara berpikir kolektif masyarakatnya. Sedekah Laut berarti menyerahkan sebagian hasil bumi kepada Tuhan melalui laut. Makna ini berkembang seiring perubahan zaman dan keyakinan. Kini, sedekah tidak lagi dipahami sebagai persembahan mistis, melainkan doa, amal, dan niat tulus. Laut tetap dipandang sebagai alam yang harus dihormati.

Pelaksanaan Sedekah Laut di Cilacap tidak dilakukan sembarangan waktu dan tempat. Upacara ini digelar setahun sekali pada bulan Sura dalam kalender Jawa. Biasanya jatuh pada Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon, hari yang dianggap sakral. Lokasi utamanya berada di Pantai Teluk Penyu, Cilacap Selatan. Menurut Dinas Kebudayaan Cilacap dalam Festival Nelayan Cilacap (2024), Teluk Penyu dipilih karena nilai historisnya. Sejak masa kolonial, pantai ini menjadi pusat aktivitas nelayan. Dari sinilah perahu-perahu berangkat menantang laut lepas. Lokasinya pun mudah dijangkau masyarakat.

Rangkaian upacara Sedekah Laut berlangsung panjang dan teratur, seperti sebuah cerita yang disusun rapi. Tahap awal dimulai dengan persiapan dan doa bersama di pendopo. Setelah itu, digelar arak-arakan jolen menuju pantai. Jolen adalah peti kayu berhias kain warna-warni yang berisi sesaji. Parjo Hadi Pranoto, perwakilan nelayan Cilacap, menjelaskan bahwa jolen melambangkan niat sedekah bersama seluruh nelayan (Wawancara, Festival Nelayan, 2024). Jolen kemudian dinaikkan ke perahu utama. Dari sanalah perjalanan sakral menuju laut dimulai.

Puncak upacara terjadi saat pelarungan sesaji di tengah laut. Inilah momen paling ditunggu dan paling khidmat. Sesaji yang dilarung berisi hasil bumi, hasil laut, serta makanan tradisional. Isinya biasanya nasi tumpeng, lauk pauk, buah-buahan, dan jajanan pasar. Beberapa kelompok nelayan juga menambahkan kepala kambing sebagai simbol pengorbanan. Menurut Ani Suryanti (2017), sesaji merupakan simbol rasa syukur kolektif masyarakat. Setelah pelarungan, nelayan menyiram perahu dengan air laut. Tindakan ini dimaknai sebagai harapan rezeki yang terus mengalir.

Perahu-perahu yang berisi persembahan hasil bumi berkumpul di tengah laut untuk melaksanakan upacara adat sedekah laut (Foto: Fabian Satya Rabani)
Perahu-perahu yang berisi persembahan hasil bumi berkumpul di tengah laut untuk melaksanakan upacara adat sedekah laut (Foto: Fabian Satya Rabani)

Tradisi Lokal dan Sejarah Budaya

Dalam sejarah awalnya, Sedekah Laut juga memuat unsur kepercayaan pra-Islam. Khusnul Khotimah dalam Tradisi Pesisir dan Islam (2018) mencatat bahwa ritual awal sering dikaitkan dengan penguasa laut. Sosok yang kerap disebut adalah Kanjeng Ratu Kidul. Namun, seiring berkembangnya Islam, tradisi ini mengalami proses akulturasi. Doa kini ditujukan kepada Allah SWT. Sesaji dipahami sebagai simbol sedekah, bukan pemujaan. Perubahan ini menunjukkan bahwa budaya lokal bersifat lentur. Tradisi tetap hidup tanpa kehilangan nilai spiritualnya.

Tujuan utama Sedekah Laut memang ungkapan syukur atas rezeki laut. Namun, bagi nelayan, ada tujuan lain yang tidak kalah penting. Sujito, Pj Sekda Cilacap, menyatakan bahwa tradisi ini juga menjadi doa keselamatan (Pidato, Tasyakuran Nelayan, 2024). Nelayan setiap hari berhadapan dengan risiko cuaca ekstrem dan kecelakaan laut. Doa bersama memberi kekuatan mental dan spiritual. Tradisi ini juga mempererat solidaritas antar nelayan. Mereka merasa senasib, sepenanggungan, dan saling menguatkan.

Lalu, apakah Sedekah Laut bertujuan menolak bencana alam? Pertanyaan ini muncul, terutama di kalangan generasi muda saat ini. Penelitian Ani Suryanti (2017) menyebut ritual ini sebagai doa kolektif keselamatan. Nelayan percaya doa bersama memberi ketenangan batin. Tradisi ini juga menumbuhkan sikap waspada terhadap alam. Dalam sambutannya, Sujito mengingatkan pentingnya memantau informasi BMKG (2024). Artinya, tradisi tidak berjalan sendiri. Doa dan pengetahuan modern saling melengkapi.

Bagi generasi sekarang, Sedekah Laut memiliki makna yang luas. Tradisi ini menjadi sarana belajar budaya dan sejarah lokal secara langsung. Annisa Wiji Rahayu dalam Makna Simbolik Sedekah Laut (2023) menyebut bahwa generasi muda belajar nilai syukur. Mereka juga belajar gotong royong dan toleransi. Festival nelayan membuka ruang perjumpaan lintas usia dan latar belakang. Selain itu, Sedekah Laut juga menjadi daya tarik wisata budaya. Nilai edukasi dan ekonomi berjalan beriringan.

Sedekah Laut masih terus diadakan karena fungsi sosialnya sangat kuat. Tradisi ini mempererat hubungan nelayan dengan masyarakat umum. Parjo Hadi Pranoto menegaskan bahwa Sedekah Laut adalah identitas nelayan Cilacap (Wawancara, 2024). Tanpa tradisi ini, rasa kebersamaan bisa memudar. Sedekah Laut juga menjadi media pewarisan nilai. Anak-anak melihat langsung praktik budaya. Dengan cara ini, budaya tidak berhenti di buku sejarah.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//