• Narasi
  • Mewarisi Banjir Tahunan di Kampung Halaman Kami, Baleendah

Mewarisi Banjir Tahunan di Kampung Halaman Kami, Baleendah

Banjir di Baleendah bukan lagi sekadar bencana alam, melainkan seperti acara komedi televisi yang diputar berulang-ulang.

Muhammad Surya Zakariyya

Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Warga melempar jaring ikan di ruas Jalan provinsi yang terendam banjir di perbatasan Dayeuhkolot dan Baleendah, Kabupaten Bandung, 5 desember 2025. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

31 Juli 2026


BandungBergerak – Kita semua berpikir bahwa tahun baru adalah momen untuk menyusun resolusi baru, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Namun, bagi kami yang tinggal di Baleendah dan sekitarnya, momen pergantian tahun, terutama saat musim hujan tiba, hanya berarti satu hal di benak kami, bersiap menyambut warisan lama yang tidak pernah pergi sejak lama.

Ya... apalagi kalau bukan banjir? Entah sudah berapa dekade, entah sudah berapa kali ganti kepala daerah, dan beberapa kali baliho politik yang selalu telat dicabut itu terpasang, hingga janji-janji manis penuntasan banjir digelorakan. Hebatnya, banjir di kampung halaman kami sangat setia.

Ada fakta yang sangat menggelitik, tiap kali kami berkenalan dengan teman baru yang bukan dari kampung halaman ini, respons mereka sebagian besar sama, “Oh, yang suka banjir itu ya?” atau, “oh, daerah sana masih suka banjir enggak?” Ini menandakan bahwa kami sangat eksis dengan “warisan” kami–sebuah identitas geografis yang tidak sengaja terbentuk akibat kegagalan tata kelola. Alih-alih dikenal karena potensi daerah, budaya, atau prestasinya, nama Baleendah justru telanjur karib di telinga orang luar sebagai sinonim dari kata "tenggelam".

Kolam Retensi Cieunteung dan Kolam Retensi Andir telah dibangun, Terowongan Nanjung pun sudah dioperasikan. Di atas kertas, semua proyek besar itu seharusnya menjadi juru selamat. Tetapi nyatanya, begitu hujan deras mengguyur hulu, jalanan Baleendah seketika beralih fungsi menjadi anak Sungai Citarum.

Nama-nama proyek mentereng itu kini tak lebih dari sekadar bumbu retorika yang laku dijual setiap kali musim pemilihan umum tiba. Kami disuguhi data, grafik, dan animasi tiga dimensi tentang bagaimana air akan dijinakkan. Namun, ketika malam tiba dan hujan tak kunjung reda, yang kami pegang bukan lembar data itu, melainkan gayung  berbentuk love dan ember untuk menyelamatkan sisa-sisa harta benda kami dari kepungan air keruh kecokelatan itu.

Baca Juga: Balada Tukang Becak Pasar Sayati
Ketika Kalender Akademik Kampus Memutar Roda Perekonomian Jatinangor
Paradoks WFA di Balik Citra Kota Bandung sebagai Kota Industri Kreatif

Adaptasi Warga yang Luar Biasa

Ada ironi yang menggelitik sekaligus sangat menyedihkan kalau kita jalan-jalan ke sini saat air di jalanan meninggi. Warga Baleendah itu punya tingkat adaptasi yang luar biasa, atau mungkin lebih tepatnya, ketika tingkat kepasrahan yang dialami warga sudah mencapai level tertinggi. Di saat orang-orang di daerah lain sangat panik ketika air mulai menembus pintu rumah, di sini, memindahkan kasur, perabotan, dan buku-buku, atau mengungsikan sepeda motor ke tempat yang lebih tinggi sudah menjadi refleks alami. Seperti rutinitas meminum kopi sambil membaca surat kabar di pagi hari, otomatis tanpa panik dan banyak tanya.

Sekitar jam 10 pagi, anak-anak kecil berenang dengan riang gembira di air keruh berwarna cokelat seolah-olah mereka sedang berada di waterboom gratis. Ada yang dengan iseng memancing, atau sekadar melakukan live TikTok untuk mengabarkan kepada warga Baleendah yang lain bahwa jalanan sudah tidak bisa dilewati. Sungguh sangat solid. Kebersamaan kami memang selalu diuji dan terbukti di saat-saat seperti ini. Mulai dari berbagi informasi instan di media sosial, saling pinjam perahu karet, hingga urunan kopi hangat di pos darurat. Banjir ini, sadar atau tidak, telah merekatkan ego kami menjadi sebuah ikatan senasib sepenanggungan yang sangat kuat. Sayangnya, ikatan seerat ini harus lahir dari rahim sebuah pembiaran yang tak kunjung terselesaikan.

Sementara itu, di Jembatan Dayeuhkolot, para pekerja dan mahasiswa lintas kecamatan, daerah, atau bahkan lintas kota menghela napas di atas perahu karet dan rakit bambu. Mereka menghitung kerugian materiil akibat warisan kali ini atau sekadar khawatir atas telatnya mereka bekerja hari ini sambil menatap kemacetan horor yang mengular dari Simpang Baleendah. Banjir tidak hanya terjadi di satu titik, tetapi juga melanda daerah Cijagra. Bayangkan gilanya, dua akses jalan dari kampung halaman kami menuju kota dihadiahi warisan keren ini. Kami benar-benar dikepung tanpa celah. Bojongsoang lumpuh, Dayeuhkolot terputus, dan Baleendah terisolasi, menyisakan ribuan orang yang terjebak dalam simulasi ujian kesabaran massal. Klakson kendaraan yang saling bersahutan beradu dengan suara kecipak air, membuat rasa frustasi semakin menjadi.

“Gagah euy, lagi banjir besar masih bisa berangkat kerja,” itu ucapan yang dilontarkan oleh kawan-kawan kita yang tinggal di daerah lain. Sebuah pujian yang sebenarnya terasa seperti tamparan.

Bukan lagi Sekadar Bencana Alam

Mereka melihatnya sebagai heroisme, sementara bagi kami, itu adalah keputusasaan yang dipaksakan. Kami tidak punya kemewahan untuk meliburkan diri hanya karena alam sedang tidak bersahabat, karena urusan perut dan tuntutan kantor tidak pernah peduli apakah jalanan di Baleendah sedang berubah menjadi lautan atau tidak. Di balik tawa renyah menyambut candaan itu, ada rasa lelah yang teramat sangat karena harus bertaruh dengan mesin motor yang mogok ketika berangkat atau celana dan sepatu yang basah kuyup sebelum sampai di meja kerja.

Kita tidak bisa terus-menerus memuji ketangguhan warga Baleendah. Memuji ketangguhan mereka sama saja memaklumi kegagalan sistemik yang dibiarkan menahun. Menormalisasi warisan ini seperti menganggap wajar atap rumah yang bocor yang tidak pernah ditambal selama belasan tahun oleh pemiliknya. Banjir di Baleendah bukan lagi sekadar bencana alam, melainkan seperti acara komedi televisi yang diputar berulang-ulang. Warga tidak perlu dipuji karena mereka kuat atau sabar. Yang mereka butuhkan adalah kepastian bahwa warisan ini hilang sepenuhnya, sehingga mereka bisa tidur nyenyak tanpa perlu cemas terbangun karena kaki mereka menyentuh air dingin keruh yang masuk ke dalam kamar.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//