• Narasi
  • Paradoks WFA di Balik Citra Kota Bandung sebagai Kota Industri Kreatif

Paradoks WFA di Balik Citra Kota Bandung sebagai Kota Industri Kreatif

Masih banyak pekerja kreatif di Kota Bandung yang bekerja tanpa batas waktu yang jelas, menjalani ritme kerja fleksibel yang melelahkan, dan kerap kali disepelekan.

Dawnika Syaira Sayyidina Riantara

Mahasiswi Program Studi Jurnalistik Universitas Padjadjaran (Unpad)

Ilustrasi. Pekerja startup dituntut harus kreatif dengan waktu dan ruang kerja fleksibel. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

25 Juli 2026


BandungBergerak – Hampir setiap hari, sudut-sudut coffee shop dan co-working space di Bandung dipenuhi suara ketikan dan notifikasi pesan. Beberapa orang duduk dengan laptop terbuka, berpindah dari satu revisi ke revisi lain. Bagi sebagian pekerja kreatif, inilah rutinitas sehari-hari mereka.

“Saya ambil WFA karena jatuhnya lebih fleksibel dan bisa kerja di mana saja kapan saja,” ujar Achmed, 34 tanun, pekerja kreatif asal Cikutra yang sudah tiga tahun bekerja secara Work from Anywhere (WFA) sebagai Community Lead Manager dan Illustrator. Dari Bandung, ia mengelola komunitas digital yang berpusat di Jakarta.

“Kalau saya sistemnya sebenarnya sama ‘9 to 5’ juga, jadi dari jam 9 udah standby takutnya ada meeting. Tapi bedanya gak ke kantor aja.” tambahnya.

Dari luar, fase kerja seperti ini terlihat nyaman dan bebas: tidak ada macet, tidak ada jam absen, tidak harus ke kantor. Tapi ada satu hal yang ia tambahkan, “Cuma risikonya jadi harus standby terus kalau ada sesuatu.”

Fenomena seperti ini semakin umum di Bandung yang kerap disebut sebagai ibu kota industri kreatif di Indonesia. Hal ini sudah diakui oleh UNESCO yang menetapkan Bandung sebagai Creative City dalam kategori Design. Julukan tersebut tak lepas dari berkembangnya berbagai sektor kreatif seperti fashion, desain grafis, hingga media digital yang menjadi bagian besar dari pergerakan ekonomi kreatif. Berbagai acara festival, komunitas kreatif, creative hub, dan ruang kolaborasi pun tumbuh berdampingan dengan pekerja kreatif di Bandung.

Namun, ada yang jarang masuk ke dalam narasi itu. Di balik semua agenda kreatif di kota Bandung, masih banyak pekerja kreatif yang bekerja tanpa batas waktu yang jelas, menjalani ritme kerja fleksibel yang melelahkan, dan kerap kali disepelekan karena banyak orang yang belum memahami proses kerja mereka.

Baca Juga: Saat Libur Lebaran di Bandung Tanpa Kebun Binatang
Perjuangan Yana Mengubah Sampah Menjadi Berkah di Rumah Maggot Cijawura
Menstruasi dan Harga Mahal yang Harus Dibayar Perempuan

Fleksibel yang Jadi Bumerang

Bagi banyak pekerja kreatif, fleksibilitas kerap menjadi alasan untuk memilih sistem kerja WFA.. Mereka bisa menentukan suasana kerja sendiri, mengatur ritme sendiri, dan bisa pergi ke mana saja tanpa harus meninggalkan pekerjaan. Tetapi dibalik itu, terkadang batas antara bekerja dan beristirahat menjadi kabur.

Itu dirasakan oleh Putri, 24 tahun, pekerja freelance asal Buahbatu yang kerap mengambil pekerjaan sebagai kreator konten, videografer, fotografer, hingga content writer sambil bekerja sebagai admin perusahaan distribusi impor kacamata di Bandung. Dari pengalamannya yang berpindah dari satu proyek ke proyek kreatif lainnya, Putri merasakan pergeseran makna dari kata fleksibilitas itu sendiri.

Ngomongin fleksibel, secara definitif WFA memang fleksibel. Tapi pada akhirnya, fleksibel ini bisa jadi bumerang,” ungkap Putri.

Menurutnya, fleksibilitas sering membuat orang lain menganggap pekerja kreatif itu bisa selalu kerja kapan saja. Pesan terkait pekerjaan bisa datang larut malam, revisi muncul saat waktu istirahat, bahkan akhir pekan pun tetap bekerja.

“Dengan kata fleksibel, orang jadi anggap kita bisa kerja jam berapa saja dan bisa dihubungi kapan saja. Jadi dianggap harus terus available,” ujarnya.

Ketika pekerjaan menumpuk dan dikejar oleh deadline yang ketat, waktu istirahat terpaksa harus menjadi hal pertama yang dikorbankan. “Aku tipe yang kalau kerja harus sampai beres, jadi kadang istirahatnya nanti kalau kerjaannya udah selesai,” kata Putri.

Tekanan ini juga dirasakan Rina, 21 tahun, seorang pekerja kreatif yang sudah lima bulan terakhir menjalani pekerjaan WFA sebagai editor video sekaligus pengelola media sosial untuk sebuah institusi bimbingan belajar di Jakarta. Baginya, walau WFA memberinya kebebasan untuk mengatur suasana kerja sendiri, terkadang terasa tuntutan untuk produktif secara terus-menerus.

Masalahnya, pekerjaan kreatif memang tidak selalu bisa dipaksakan setiap saat. Pekerjaan seperti editing, bikin konten, atau desain butuh ide yang kadang datangnya tidak menentu. Saat dipaksakan terus, hasilnya justru sering tidak maksimal dan akan muncul burnout serta creative block.

“Aku gak bisa terlalu dikebut kalau lagi ngedit karena tetap butuh ide kreatif. Kalau dipaksain terus, hasilnya malah jadi hancur. Jadi biasanya kalau lagi buntu, aku pilih istirahat dulu atau cari referensi sekalian minta feedback dari atasan,” ujar Rina.

Saat idenya buntu, Rina biasanya berhenti sejenak untuk menyegarkan pikiran dengan scrolling media sosial atau keluar rumah. Tetapi deadline tetap ada. Konten harus tetap naik tepat waktu, itu artinya terkadang ia harus tetap bekerja di akhir pekan.

“Minusnya, Sabtu-Minggu tetap kerja kalau ada yang harus diupload Senin. Kan mau ga mau harus dikerjain di weekend juga,” kata Rina. Meski sudah terbiasa, akhir pekan sering kali tidak terasa seperti waktu istirahat.

Paradoks Kota Kreatif

Di tengah semua kegiatan kreatif di kota Bandung, Achmed menjelaskan ironi yang lebih dalam. “Ada fakta menarik soal WFA di Bandung,” katanya. “Kebanyakan pekerja kreatif yang WFA, dapat proyeknya malah dari Jakarta atau luar Bandung.”

Ia lalu melanjutkan. “Di mana Bandung kan dijuluki sebagai kota kreatif, tapi kita sendiri jarang dapat proyek dari orang-orang Bandung.”

Achmed memberikan dua penjelasan. Pertama, karena berada di kota yang sama, kebanyakan orang berpikir: ngapain online/remote, kan satu kota? Jadi WFA dianggap perlu hanya ketika ada jarak tempuh cukup jauh. Kedua, tempo kerja di Jakarta yang lebih cepat membuat perputaran trennya lebih kencang dan proyeknya lebih besar. Hasilnya, para pekerja kreatif muda Bandung pun banyak menjadi tenaga kreatif di kota lain.

Meski kadang melelahkan, mereka tetap menjalaninya dengan cara masing-masing. Mereka berharap kedepannya, pekerja kreatif dapat lebih dihargai dan dipahami.

“Semoga orang-orang bisa lebih menghargai orang-orang yang kerja WFA, terutama pekerja kreatif,” kata Putri. “Pekerja kreatif masih sering disepelekan cuma karena orang-orang gak ngerti pekerjaannya. At least mau memahami bahwa pekerja kreatif juga kerja pakai tenaga dan fleksibel ga selalu berarti siap kerja 24 jam.”

Rina juga menyampaikan harapannya agar industri kreatif di Bandung bisa terus berkembang dan para pekerja kreatif juga bisa merasa lebih nyaman untuk bekerja dan berkarya di kota sendiri. Sementara bagi Achmed, WFA tetap menjadi sistem kerja yang ia nikmati selama bisa menjaga ritme kerja dan waktu istirahatnya sendiri.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//