• Narasi
  • Saat Libur Lebaran di Bandung Tanpa Kebun Binatang

Saat Libur Lebaran di Bandung Tanpa Kebun Binatang

Ada yang berbeda pada libur Lebaran tahun ini di Kota Bandung. Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo tutup.

Yudi Hamzah

Warga Kota Bandung yang memiliki minat pada sejarah. Bisa dihubungi lewat Instagram @hamzahfarmland

Spanduk penutupan Bandung Zoo oleh Pemerintah Kota Bandung pada 22 Maret 2026. (Foto: Dokumentasi Yudi Hamzah)

20 April 2026


BandungBergerak – Sedikitnya sudah dua kali Bandung Zoo ditutup oleh Pemerintah Kota Bandung sebagai imbas dari tak kunjung selesainya sengketa dalam tubuh yayasan yang mengelola tempat tersebut. Dalam kurun waktu 6 bulan, terjadi 2 kali penutupan tempat itu. Pada 6 Agustus 2025 terjadi kericuhan di area Bandung Zoo yang melibatkan dua kubu pengelolanya. Imbas dari kejadian itu adalah penutupan Bandung Zoo selama beberapa waktu. Bandung Zoo lalu dibuka untuk umum dengan berbagai ketentuan pada waktu liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026. Bandung Zoo masih menerima kunjungan setelah libur Nataru lewat, namun pada 5 Februari 2026 kembali ditutup dengan pemasangan segel di pintu masuknya. Dan sekali lagi, warga Bandung kehilangan tempat wisata legendarisnya.

Sekedar mengingatkan bahwa warga Bandung dan wilayah Jawa Barat lainnya lebih mengenal nama Kebun Binatang Bandung, atau lebih dulunya disebut dengan derentén sebagai pelafalan warga lokal untuk dierentuin dalam bahasa Belanda yang artinya kebun binatang. Seolah sudah menjadi kelaziman, bahwa nama yang kadung melekat di ingatan masyarakat, maka nama itu yang terus dipakai. Ini terbukti pada beberapa nama ruas jalan yang ada di Kota Bandung.

Lantas sejak kapan Kebun Binatang Bandung identik dengan hari raya lebaran? Untuk mengetahuinya kita harus memundurkan waktu ke lebih dari 90 tahun lalu, di mana lahan yang sekarang menjadi kebun binatang pada awalnya adalah sebuah taman peringatan 25 tahun Bandung menyandang status gemeente.

Jubileumpark yang diresmikan pada 1 April 1931 ini menjadi taman terbesar dan terluas di Bandung ketika itu (De Preangerbode, Officieel Jubileum Uigtgave Ter Gelegenheid van Het 25 Jarig Bestaan van de Gemente Bandoeng Op 1 April 1931). Menempati lahan seluas 50.000 m2 di lembah Cikapundung, di kawasan utara kota. Ketika taman ini diresmikan dan dibuka untuk umum, di Bandung sendiri sudah ada 5 buah taman, 9 tanah lapang dan ruang terbuka, dan 2 buah taman khusus pembibitan pohon (Yudi Hamzah. 2025. Kado Untuk Bandung; Taman Menjadi Kebun Binatang. Dunia Pustaka Jaya). Ketika itu warga kota memiliki alternatif tempat wisata alam baru yang ada di dalam kota.

Dua tahun kemudian, di sebagian lahan Jubileumpark ditempati oleh sebuah kebun binatang, yang sebelumnya ada di Dago dan Cimindi (Yudi Hamzah. 2025. Kado Untuk Bandung; Taman Menjadi Kebun Binatang. Dunia Pustaka Jaya). Sejak itulah kebun binatang menjadi primadona baru bagi warga kota. Pariwisata lokal bergeliat. Kebun Binatang Bandung menjadi salah satu tujuan wisata pelancong dari luar kota. Promosi terus terus dilakukan, salah satunya oleh perkumpulan Bandoeng Vooruit melalui majalah Mooi Bandoeng yang dikelolanya dan terbit setiap bulan. Bahkan pada paruh kedua tahun 1937, majalah Mooi Bandoeng menerbitkan edisi khusus Kebun Binatang Bandung (Mooi Bandoeng, 20 Oktober–20 November 1937, Edisi Khusus Kebun Binatang Bandung).

Denah Kebun Binatang Bandung tahun 1937. (Foto Sumber: Mooi Bandoeng Edisi Khusus Kebun Binatang Bandung, 20 Oktober–20 November 1937)
Denah Kebun Binatang Bandung tahun 1937. (Foto Sumber: Mooi Bandoeng Edisi Khusus Kebun Binatang Bandung, 20 Oktober–20 November 1937)

Baca Juga: Akar Konflik Kebun Binatang Bandung Dilihat dari Catatan Sejarah, Bisnis dan Konservasi Sulit Bertemu
Kebun Binatang Bandung di Persimpangan Jalan
Di Balik Kematian Huru Hara Harimau, Masalah Lama di Kebun Binatang Bandung Kembali Mencuat

Lekat dengan Wisata Keluarga

Popularitas Kebun Binatang Bandung semakin berkibar setelah dibukanya beberapa fasilitas baru, seperti arena bermain anak-anak. Ribuan orang mendatangi kebun binatang pada masa liburan, baik itu liburan sekolah maupun liburan hari raya. Pada tahun 1936 pernah tercatat ada 11.000 pengunjung kebun binatang pada satu hari (Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie, 8 Oktober 1936). Ini membuktikan bahwa kebun binatang menjadi tempat wisata keluarga yang murah meriah di dalam kota. Meski disesaki pengunjung, namun tidak terberitakan adanya peristiwa kriminal atau pelecehan. Pengunjung bisa tetap merasa aman dan nyaman berwisata di kebun binatang dan Jubileumpark. Pada masa-masa liburan seperti ini biasanya jumlah loket penjualan karcis masuk kebun binatang ditambah, sehingga akses masuk bisa dilakukan di Jubileumpark selain gerbang utama di Gang Tjihampelas (sekarang Jalan Taman Hewan).  

Setelah kemerdekaan Indonesia, penduduk Bandung dan sekitarnya tetap menjadikan kebun binatang sebagai tujuan wisata keluarga, terutama di libur akhir pekan, liburan sekolah, dan libur hari raya. Khusus untuk liburan hari raya lebaran, jumlah pengunjung kebun binatang bisa melewati angka 10.000 pengunjung setiap harinya (wawancara dengan Sulhan, Januari 2026). Warga dalam kota biasanya menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum yang melintas di jalan Tamansari. Sedangkan pengunjung dari luar kota akan menggunakan kereta api dan turun di Stasiun Bandung, kemudian menyambung dengan menggunakan angkutan umum menuju kebun binatang. Tidak jarang pula pengunjung dari luar kota datang ke kebun binatang menggunakan truk terbuka maupun mobil pick up yang baknya dimodifikasi sedemikian rupa agar layak dipakai menumpang. Fenomena ini terus berlangsung setiap tahun. Seolah sudah menjadi tradisi.

Pada dekade akhir abad ke-20, Kebun Binatang Bandung memiliki ikon selain koleksi satwa yang ada di dalamnya. Salah satunya adalah seorang perempuan yang (maaf) memiliki keterbatasan fisik, yang setiap hari ada di dalam area kebun binatang di dekat pintu masuk utama (wawancara dengan Pak Agus, 65 tahun, September 2025). Selain itu, banyak penjual mainan yang seakan menjadi oleh-oleh wajib setiap berkunjung ke kebun binatang. Mainan-mainan itu menjadi salah satu ciri jika kita pernah ke kebun binatang. Mainan itu di antaranya adalah mainan perahu yang bisa berjalan di atas air sambil mengeluarkan bunyi yang khas. Perahu mainan tersebut disimpan dalam baskom berisi air dan menggunakan minyak kelapa sebagai bahan bakarnya. Selain perahu, ada juga mainan miniatur truk atau bis yang terbuat dari kayu, serta mainan parasut yang terbuat dari plastik dan diikat menggunakan tali panjang sehingga bisa terbang tinggi dan melayang turun dengan indah. Semua itu membekas di memori banyak orang yang pernah berkunjung ke kebun binatang (wawancara dengan Iwa Kartiwa, 51 tahun, Cucu Éma Bratakusuma). Seorang anak yang berkunjung ke kebun binatang biasanya akan membeli salah satu atau lebih dari mainan-mainan ikonik tersebut. Selain sebagai buah tangan, mainan itu juga menjadi semacam ciri bahwa ia sudah ke kebun binatang dan pamer di hadapan teman-temannya.

Berita pembukaan Kebun Binatang Bandung pada 20 Mei 1933. (Foto Sumber: Sipatahoenan, 20 Mei 1933)
Berita pembukaan Kebun Binatang Bandung pada 20 Mei 1933. (Foto Sumber: Sipatahoenan, 20 Mei 1933)

Menjadi Magnet Kunjungan Wisata

Agak sulit untuk melacak apa dan bagaimana asal muasal liburan Lebaran warga Bandung “harus” diisi dengan kunjungan ke kebun binatang. Khusus untuk Kebun Binatang Bandung, setidaknya terdapat beberapa “alasan” mengenai hal tersebut. Pertama adalah karena masa liburan Lebaran bisa dinikmati oleh semua orang dan cenderung lebih lama waktunya dibanding dengan liburan lainnya, maka hal ini dimanfaatkan untuk liburan sekeluarga yang mana ini tidak bisa dilakukan pada liburan akhir pekan dan liburan sekolah. Kedua waktu liburan yang disebut terakhir sering kali tidak bisa dinikmati oleh semua anggota keluarga. Sebagai contoh adalah liburan sekolah, memang benar semua siswa mendapatkan libur, tapi tidak dengan orang tua mereka yang harus tetap bekerja. Begitu juga dengan liburan akhir pekan. Namun jika hari raya, semua anggota keluarga akan mendapatkan libur yang sama sehingga bisa berlibur bersama.

Alasan kedua mengapa kebun binatang selalu ramai pengunjung di liburan Lebaran adalah karena di kebun binatanglah seluruh keluarga, terutama keluarga yang memiliki jumlah anggota banyak dan tersebar di berbagai tempat, bisa berkumpul dan silaturahmi pada waktu yang bersamaan. Biasanya sudah terjadi kesepakatan di antara anggota keluarga untuk memilih waktu dan lokasi, di dalam area kebun binatang, untuk mereka berkumpul. Ini dilakukan selain karena keterbatasan tempat, bisa jadi karena rumahnya kecil sehingga kurang memungkinkan untuk melakukan open house, juga karena dengan berkumpul di kebun binatang, semua anggota keluarga bisa saling mencicipi hidangan hari raya tanpa harus mengunjungi rumah saudaranya satu persatu. Nyaris semua pengunjung Kebun Binatang Bandung yang datang pada hari raya akan botram sambil duduk di atas tanah beralaskan tikar yang banyak disewakan di dalam area kebun binatang ketika itu.

Ketiga adalah karena hanya pada liburan Lebaranlah semua jenis pekerjaan yang ada di Bandung dan sekitarnya mendapatkan hari libur yang panjang. Hal ini tentu membuat banyak profesi yang bisa menikmati liburan. sehingga tidak mengherankan jika pengunjung ke kebun binatang, kebanyakan dari luar kota, datang dengan menggunakan truk atau pick up dengan bak terbuka. Ini karena pada liburan lebaran kedua alat angkut tersebut tidak beroperasi, sehingga bisa dipergunakan untuk mengangkut orang dalam jumlah yang cukup besar. Dengan sistem patungan antar penumpang, maka harga untuk menyewa angkutan tersebut pun menjadi lebih murah dibandingkan dengan menggunakan kendaraan umum lainnya. 

Setidaknya itu gambaran bagaimana Kebun Binatang Bandung masih menjadi magnet yang cukup kuat untuk menarik pengunjung di hari liburan Lebaran. Namun dengan adanya kejadian sekarang, Lebaran tahun ini di Kebun Binatang Bandung akan berbeda. Tidak akan ada lagi kemacetan panjang di jalan Tamansari, Ganesa, Dago, dan sekitarnya. Tidak akan terdengar anak kecil merengek minta dibelikan mainan. Tidak ada lagi riuh pedagang makanan dan minuman yang mendapatkan rezeki berlebih di area luar kebun binatang. Tidak ada lagi teriakan dan lengkingan peluit tukang parkir liar yang mengatur kendaraan pengunjung. Entah apa lagi yang hilang di Lebaran tahun ini, namun yang pasti Kota Bandung kehilangan salah satu budaya masyarakatnya sudah berlangsung selama puluhan tahun.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//