Perjuangan Yana Mengubah Sampah Menjadi Berkah di Rumah Maggot Cijawura
Pengelolaan sampah berbasis maggot di Rumah Maggot Cijawura, Kota Bandung, berdampak domino pada ekosistem lingkungan dan warga.

Sherly Goesty Rany
Mahasiswa Program Studi Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad)
15 Juli 2026
BandungBergerak – Di meja makan kita setiap hari mungkin ada nasi dingin, lauk daun sawi, atau potongan kulit buah sisa sarapan. Bagi sebagian orang, mereka cukup melemparnya ke plastik sampah dan urusan selesai. Namun di Kota Bandung, remah-remah yang terbuang itu adalah bom waktu yang siap meledak.
Menurut Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Kota Bandung, Salman Faruq, produksi sampah di Kota Bandung menyentuh angka 1.500 ton per hari. Situasi kian mencekam karena kapasitas TPA Sarimukti diprediksi akan penuh total pada Oktober 2026. Akibatnya, kuota pembuangan terus dipangkas ketat.
Di tengah kepungan kecemasan darurat sampah kota, ada pemandangan berbeda di RW 13 Cijawura, Kecamatan Buah Batu. Bukan bau busuk kantong sampah atau kerumunan lalat, melainkan sebuah rumah budidaya maggot yang berdiri di tengah pemukiman warga.
Garis takdir Suharyana atau akrab disapa Yana (51 tahun) bersama ribuan larva pengurai sampah ini dimulai sejak 25 Agustus 2023. Kala itu, Kota Bandung dihantam krisis lingkungan hebat menyusul terbakarnya TPA Sarimukti. Sampah di seluruh penjuru kota mandek, tak terkecuali di RW 13 Cijawura. Di saat yang sama, Yana mendapat telefon dari rekannya untuk mengadopsi ribuan maggot.
“Saya modal nekat dan tawaran dari teman. Katanya ini maggot urus lah, saya coba dibarengi dengan ikhlas dan niat yang baik buat mengurangi sampah, alhamdulillah jalan sampai sekarang,” ujar Yana.
Awal perjalanan itu jauh dari kata layak. Yana memulai semuanya di bawah selembar tenda plastik yang kerap bocor, kehujanan, dan kepanasan. Sebagai orang awam yang tidak tamat Sekolah Dasar, ia harus belajar ilmu alam ini secara perlahan. Tantangan terbesar bukan hanya cuaca, tetapi juga pengorbanan batin keluarganya.
“Istri saya sampai muntah-muntah, nangis-nangis gak kuat karena bau. Saya bilang sabar, sabar semoga jadi amal,” ucap Yana lirih.

Baca Juga: Balada Tukang Becak Pasar Sayati
Siapakah Van Berling? Mengungkap Misteri Nama Lapangan Sepak Bola di Kertasari
Ketika Kalender Akademik Kampus Memutar Roda Perekonomian Jatinangor
Strategi untuk Mendisiplinkan Warga
Sebagai orang yang berdiri di garis depan mengurus limbah satu RW, Yana menyadari bahwa posisinya sangat rentan memicu konflik. Apalagi, ruang budidaya maggot ini berbatasan langsung dengan dinding rumah-rumah warga. Demi menjaga kenyamanan bersama, ia menerapkan strategi untuk memilah dan mengolah sampah setelah waktu Magrib.
“Kenapa setelah Magrib, karena pintu dan jendela rumah warga sudah tertutup rapat. Jadi sebelum dimarahin oleh orang lain, kita harus bisa paham,” jelas Yana.
Sikap Yana yang luar biasa pengertian ini perlahan-lahan mulai mengetuk hati nurani masyarakat sekitar. Rasa saling memahami pun tumbuh. Warga yang awalnya acuh, lama-lama merasa tersentuh melihat seorang pria paruh baya berjuang sedemikian rupa demi kebersihan lingkungan mereka.
Momentum ini tidak disia-siakan oleh pengurus wilayah dan kader PKK. Mereka sadar betul, mengubah kebiasaan lewat edukasi formal yang kaku sering kali hanya masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri.
Maka, ibu-ibu PKK dan Yana memutar otak. Mereka menerapkan strategi unik dengan menyelipkan pesan pilah sampah di setiap ruang komunikasi warga, mulai dari arisan, posyandu, hingga kegiatan keagamaan seperti pengajian. Sejak saat itu warga mulai konsisten memisahkan sampah mereka menjadi tiga bagian: organik, residu, dan kemasan.
“Sulit memang untuk mengubah kebiasaan itu, tetapi saya tidak sendiri, saya dibantu dengan yang lain. Ditambah saya tegas, kalau tidak dipilah, sampah tidak akan diambil,” ujar Yana.
Kini per harinya, Rumah Maggot Cijawura mampu menyerap minimal 200 kilogram sampah organik dapur warga. Mulai dari sisa nasi atau lauk, sayuran layu, hingga buah-buahan. Sampah lembut langsung dihisap habis oleh ribuan maggot dalam waktu 24 jam, sementara sampah yang cenderung kasar seperti kulit buah keras dialokasikan ke bak komposter.

Berkah Sirkular: Dari Sampah Kembali ke Warga
Keberhasilan pengelolaan sampah berbasis maggot ini berdampak domino pada ekosistem lingkungan sekitar. Sisa pencernaan maggot yang berupa pupuk kasgot (bekas maggot) dipasok langsung ke kebun “Buruan SAE” (Sehat, Alami, Ekonomis). Pupuk organik ini menyuburkan berbagai tanaman seperti bayam merah dan bayam hijau.
Menariknya, hasil panen kebun tidak dijual untuk komersial, melainkan dibagikan kembali secara gratis untuk ketahanan pangan dan menghemat uang belanja warga RW 13.
“Jadi kalau ada yang mau pupuk atau mau sayurnya, khusus RW 13 gratis ya, karena ini dari mereka untuk mereka juga” ungkap Yana.
Melihat kegigihan dan dampak luar biasa dari swadaya mandiri ini, Pemerintah Kota Bandung akhirnya melirik pergerakan di akar rumput tersebut. Setelah berbulan-bulan Yana sekeluarga merintis di bawah keterbatasan, konsep pengolahan sampah ini diadopsi menjadi cetak biru (blueprint) skala kota. Tepat pada 21 Februari 2024, Pemerintah Kota Bandung meresmikan Program Rumah Maggot Kota Bandung sebagai gerakan massal mengatasi darurat sampah kota.
Melalui program dinas dan insentif “Gas Lah” (Gerakan Atasi Sampah Kelar di Wilayah) yang menyertai peresmian tersebut, tingkat kesejahteraan Yana dan keluarga juga ikut terdongkrak nyata. Penghasilan bulanan yang dulunya hanya berkisar ratusan ribu rupiah, kini melesat menyentuh angka jutaan.
Keberkahan dari sampah ini tak berhenti di situ. Sang istri pun kini ikut direkrut menjadi petugas resmi pemerintah untuk membantu memperkuat gerakan tersebut.
RW 13 Cijawura juga sempat dinobatkan sebagai Kawasan Bebas Sampah (KBS) se-Kota Bandung, mengurangi drastis pasokan sampah yang harus dikirim ke TPA Sarimukti. Atas prestasi tersebut, apresiasi dan fasilitas penunjang pun mulai membanjiri Rumah Maggot ini. Mulai dari hadiah unit motor roda tiga dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sebagai armada pengangkut sampah, hingga berbagai bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) dari instansi besar seperti PT Telkom Indonesia.

Menolak Nilai Rupiah Demi Kenyamanan Jiwa
Saat ini Rumah Maggot Cijawura telah bertransformasi menjadi pusat studi tiru nasional. Tamu-tamu dari berbagai penjuru tanah air, mulai dari Bali, Lombok, hingga Papua, bahkan luar negeri datang silih berganti.
Pihak Politeknik Negeri Bandung (Polban) pun ikut turun tangan merancang proyek percontohan pembangkit listrik tenaga surya di lokasi ini untuk memangkas biaya operasional.
Meski namanya kini harum dan banyak dilirik oleh pihak luar dengan tawaran gaji yang jauh lebih besar, Yana memilih untuk tetap setia di Cijawura. Bagi Yana, kenyamanan batin dan rasa kekeluargaan jauh lebih bernilai ketimbang materi.
“Saya tidak memandang gaji besar. Karena kita cari kerja tuh yang nyaman dan tenang. Kalau nyaman pasti tenang. Kasih sayang warga dan pengurus sudah terasa sama keluarga saya di sini, jadi saya tidak bisa meninggalkan begitu saja,” pungkas Yana dengan mata berbinar optimis.
Dari sebuah kepanikan krisis kebakaran TPA, Yana dan ribuan maggotnya telah membuktikan sebuah harapan besar. Jika sistem mandiri di Cijawura ini sukses diadopsi oleh seluruh wilayah di Kota Bandung, maka krisis sampah kota bukan lagi sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sebuah berkah sirkular yang menghidupi sesama.
“Saya berharap sistem ini bisa perlahan bekerja. Jadikan sampah sebagai temanmu, demi kebaikan bersama,” tutup Yana.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


