Ketika Kalender Akademik Kampus Memutar Roda Perekonomian Jatinangor
Ini adalah kisah warga lokal yang urat nadi ekonominya tumbuh dan layu bersama kalender akademik kampus-kampus di Jatinangor, Sumedang.

Naraya Raissa Aqila
Mahasiswa Program Studi Jurnalistik Universitas Padjadjaran (Unpad)
6 Juli 2026
BandungBergerak – Jarum jam baru menunjukkan jam tujuh pagi, tetapi Armiati sudah sibuk di depan kompor. Asap tipis dari kuah sup yang gurih menguar, membelah udara Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, yang masih basah oleh embun. Di warung nasi miliknya yang sudah berdiri sejak 2015 di tepi Jalan Raya Jatinangor, deretan piring masih tertata rapi. Para mahasiswa belum keluar dari kosnya.
Namun, perempuan berusia 54 tahun itu tahu benar ritme wilayah ini. Warungnya akan mendadak ramai menjelang siang, tepat saat jam kuliah usai dan ratusan mahasiswa dari Unpad, ITB, IPDN, serta Ikopin menyebar ke segenap penjuru kecamatan.
Ia juga hafal di luar kepala masa-masa sepi. Saat kalender akademik mendekati ujung semester, satu per satu perantau muda itu akan melipat pakaian, mengemas tas, dan pulang ke kampung halaman.
“Kalau anak-anak libur, pendapatan bisa turun sampai lima puluh persen,” ujar Armiati, sambil menata lauk di etalase.
Keluhan itu bukanlah hal yang baru. Sudah lebih dari satu dekade ia mengejar ritme konstan tersebut–pasang dan surut, datang dan pergi–mengikuti detak nadi kampus yang bahkan tak pernah ia masuki sebagai mahasiswa.
Di balik hiruk-pikuk Jatinangor yang kerap menghiasi lini masa–mulai dari cerita tekanan akademik hingga dinamika organisasi mahasiswa–ada narasi lain yang luput dari sorotan. Ini adalah kisah warga lokal yang urat nadi ekonominya tumbuh dan layu bersama kalender akademik. Mereka bukan bagian dari civitas academica, bukan dosen, bukan pula birokrat kampus. Mereka adalah pemilik warung tegal, ibu kos, pengusaha fotokopi, hingga penyedia jasa laundry yang seluruh hidupnya berputar di dalam orbit kehidupan mahasiswa.
Baca Juga: Menelusuri Sejarah Jembatan Cincin dan Taman Loji di Jatinangor Bareng Komunitas Bandoeng Waktoe Itoe
Kisah A’ Onong, Mantan Ojol yang Sukses dengan Usaha Kuliner Viral di Jatinangor
Wajah Lain May Day di Jatinangor: Antara Reak, Debus, dan Dukungan untuk Kelas Pekerja
Urat Nadi Ekonomi Jatinangor
Data BPS Kabupaten Sumedang dalam publikasi Kecamatan Jatinangor Dalam Angka 2024 mencatat bahwa sebagian besar tenaga kerja di desa-desa sekitar kampus terserap di sektor perdagangan dan jasa informal, yang aktivitasnya sangat bergantung pada kehadiran mahasiswa. Saat perkuliahan aktif, perputaran uang di sektor ini melonjak tajam. Sebaliknya, masa libur panjang kerap menjelma menjadi periode paling mencekik bagi para pelaku usaha mikro.
Armiati meniti jalannya dari bawah, menjajakan dagangan di kedai kecil. Bakso, nasi goreng, hingga soto pernah ia jajakan, sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka warung tegal pada 2015. Langkah itu diambil lewat perhitungan matang: Jatinangor adalah kota mahasiswa dan mahasiswa selalu butuh makan.
Pelanggannya kini beragam, mulai dari mahasiswa lintas kampus, sopir travel, hingga pengemudi ojek daring. Namun, ia sangat sadar siapa tulang punggung usahanya. Siang hari adalah masa keemasan. Membuka warung sejak pukul setengah delapan pagi hingga sepuluh malam, Armiati bergerak mengikuti ritme aktivitas mahasiswa yang dihafalnya di luar kepala.
Ujian terbesar datang saat pandemi Covid-19 melanda. Pada Maret 2020, ia terpaksa menggembok warungnya selama enam bulan penuh. Sebuah keharusan yang getir. Ketika gerbang warung kembali dibuka, pelanggannya tidak serta-merta kembali karena aktivitas kampus belum pulih total. Pundi-pundi rupiah mengalir sangat lambat, menetes satu demi satu. Bagi Armiati, lembaran kelam itu adalah masa yang enggan ia kenang, tetapi mustahil bisa ia lupakan.
Kini, tantangan hadir dalam rupa yang berbeda. Jatinangor berkembang menjadi kawasan komersial yang padat: perumahan baru, pusat perbelanjaan yang semakin maju, hingga kos eksklusif tumbuh bak jamur di musim hujan. Bagi Armiati, modernisasi ini membawa dua sisi mata uang. Di satu sisi, ada regenerasi konsumen yang menjamin kesinambungan rezekinya setiap tahun ajaran baru. Di sisi lain, ceruk pasar makin sesak dan pilihan kuliner mahasiswa kian beragam.
“Harapan saya cuma satu: semoga pemerintah tidak terus-terusan naikin harga pokok. Kalau harga naik, saya mau jual berapa?” ujar Armiati.
Saat ditanya mengenai masa depan–apakah ia akan tetap bertahan andai kampus-kampus di Jatinangor suatu hari pindah atau tutup–Armiati menjawab tanpa rona ragu. Ia akan tetap membuka warung nasinya. Bukan karena ia tidak dilingkupi rasa cemas, melainkan karena ia tidak tahu cara lain untuk menyambung hidup.
Keterikatan pada eksistensi mahasiswa bukan sekadar perkara omzet harian. Bagi sebagian warga, mahasiswa adalah ekosistem itu sendiri–menjadi sumber penghidupan, tetangga sementara, bahkan bertransformasi menjadi keluarga yang berganti setiap empat tahun sekali. Rasa ini barangkali tertanam paling dalam pada benak mereka yang menyewakan tempat bernaung.
Semi, bukan nama sebenarnya, merintis bisnis kos nya pada 2011. Kini, ia mengelola 79 kamar yang hampir seluruhnya selalu dipadati mahasiswa. Tak ada variasi penyewa, tidak ada karyawan maupun keluarga yang menetap di sana. Seluruh dapur rumah tangganya bergantung pada satu segmen pasar yang sebenarnya sangat rentan terhadap kebijakan akademik.
Ketika badai pandemi memaksa kampus mengalihkan perkuliahan ke ruang-ruang digital, kamar-kamar milik Semi mendadak sunyi dan kosong melompong. Pemasukan nihil, sementara cicilan bank tetap menuntut untuk dilunasi. Semi enggan merinci nominal kerugiannya, tetapi ia mengenang masa itu sebagai tamparan keras yang memaksanya menyadari betapa rapuhnya fondasi kehidupan yang ia bangun.
Dinamika pembangunan Jatinangor juga menghadirkan tekanan baru baginya. Kos premium dan apartemen modern berdiri megah, menawarkan fasilitas yang tak mungkin ia tandingi dengan modal seadanya. Persaingan sengit itu ada di depan mata dan ia memilih untuk tidak menutup diri.
Bergantung pada Kehidupan Kampus
Namun, di luar angka-angka dan rivalitas bisnis, cara Semi memandang perubahan Jatinangor terasa lebih emosional. Sebagai perempuan asli yang lahir dan menua di tanah ini, ia menyaksikan sendiri bagaimana Jatinangor bermutasi dari hamparan lahan pertanian hijau menjadi kota akademis yang bising dan padat. Ia mengaku bangga melihat kemajuan tanah kelahirannya.
“Kalau kampus-kampus suatu hari pindah, menurut saya Jatinangor akan tetap maju. Kan sudah terlanjur berkembang. Kalau saya pribadi ya belum tahu ke depannya,” ujar Semi.
Ketergantungan serupa juga merayap di sudut-sudut usaha yang lebih kecil. Yati, yang telah mengoperasikan mesin fotokopi sejak 2011 berpendapat bahwa arus digitalisasi perlahan tapi pasti mulai menggerogoti pendapatannya. Mahasiswa zaman sekarang makin jarang mencetak dokumen, para dosen pun kini lebih gemar menerima tugas dalam bentuk salinan digital. Musim panen baginya kini hanya datang tiga kali: saat ospek, UTS, dan UAS. Meski belum berniat banting setir, Yati sadar bahwa usahanya berpijak di atas tanah yang rawan.
“Kalau kampus tutup atau pindah, kurang bisa sih. Mayoritas penghasilan memang dari mahasiswa,” akunya jujur.
Di sudut lain, ada Elwi (nama disamarkan), seorang pelaku usaha laundry yang baru membuka jalannya sejak 2024. Saban hari, rata-rata 20 kilogram pakaian kotor masuk dari pelanggannya yang mayoritas adalah mahasiswa Unpad. Angka itu bergerak fluktuatif—melonjak di awal semester dan menyusut drastis di akhir bulan atau menjelang liburan. Elwi tidak ambil pusing dengan menjamurnya kompetitor. Baginya, tiap-tiap orang telah digariskan rezekinya sendiri. Hal yang lebih sering mengusik pikirannya adalah kenyataan bahwa pendapatan dari jasa cuci pakaian ini belum sepenuhnya ideal untuk menopang perannya sebagai orang tua tunggal dari anak berkebutuhan khusus.
“Kurang cukup, tapi dicukup-cukupin,” ungkap Elwi, sebuah kalimat yang menyimpan beban jauh lebih berat dari apa yang tersurat.
Sore itu, seiring dengan berakhirnya kelas-kelas di ruang kampus, warung makan Armiati mulai berdenyut. Kursi-kursi plastik berwarna hijau yang semula kosong mulai terisi satu demi satu. Riuh pesanan nasi campur mulai bersahutan. Jemari Armiati bergerak taktis di balik kaca etalase–menjumput lauk, menyiram kuah, dan menyajikan piring demi piring.
Inilah fragmen waktu yang selalu ia nanti setiap hari. Bukan semata-mata karena pundi-pundi rupiah yang mengalir, melainkan karena di dalam keriuhan mahasiswa itulah ia menemukan kepastian: bahwa hari ini, dapur dan hidupnya akan baik-baik saja.
Siklus ekonomi tersebut akan terus berputar di Jatinangor. Semester baru akan terus menyingsing, wajah-wajah segar akan kembali memadati kamar kos, antrean di depan mesin fotokopi akan mengular menjelang ujian, dan tumpukan baju kotor akan menggunung di awal bulan. Lalu, ketika masa perkuliahan usai, kesunyian itu akan kembali menyergap. Sebuah kesunyian yang bagi warga setempat bukanlah sekadar sepi, melainkan jeda panjang untuk bersiap dan bertahan dengan satu-satunya cara yang mereka bisa.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


