• Berita
  • Wajah Lain May Day di Jatinangor: Antara Reak, Debus, dan Dukungan untuk Kelas Pekerja

Wajah Lain May Day di Jatinangor: Antara Reak, Debus, dan Dukungan untuk Kelas Pekerja

Dari pinggir jalan Jatinangor, kesenian tradisi menjelma suara kolektif untuk menyuarakan keresahan buruh di peringatan May Day.

Peringatan Hari Buruh Aliansi Jatinangor Bergerak (AJB) di Jalan Raya Bandung–Sumedang, Jatinangor, Jumat, 1 Mei 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Penulis Yopi Muharam2 Mei 2026


BandungBergerak - Sorak-sorai yang diiringi trompet Sunda dan dog-dog menggema di pangkalan bus Damri Unpad, Jalan Raya Bandung–Sumedang kilometer 21, Jumat, 1 Mei 2026. Sebuah bangbarongan dihamparkan di pinggir jalan, menyerupai seekor naga yang tengah tertidur.

Seorang pemuda kemudian maju dan memasuki bangbarongan, bagian dari pertunjukan seni tradisional reak. Ia menari mengikuti tempo dog-dog, tubuhnya meliuk ke sana kemari. Di sisi lain, beberapa anggota lainnya turut menampilkan atraksi pencak silat.

Tak hanya itu, seorang anggota lain mempertunjukkan atraksi silat menggunakan sebilah golok. Ia memperlihatkan ketajamannya dengan membelah kartu remi, lalu menggesekkannya ke tubuhnya, termasuk ke lidah dan leher. Tubuhnya tidak tergores sedikit pun.

Pertunjukan tersebut menunjukkan bahwa peringatan Hari Buruh tahun ini hadir dengan nuansa berbeda.

Anggi Nugraha, 26 tahun, ketua komunitas Dog-Dog Bandung Timur, mengungkapkan bahwa mereka memilih bersuara bukan melalui orasi, melainkan lewat kesenian.

“Jendong-jendong jeng (pembukaan dog-dog) menjadi pemicu semangat para buruh dan mahasiswa,” ujarnya saat diwawancarai usai tampil.

Ia juga menyebut keterlibatan mereka dilatarbelakangi kedekatan personal dengan dunia buruh. Latar belakang keluarganya mayoritas buruh. Baginya, tak ada sekat antara kesenian dan perburuhan. Ia menegaskan, kesenian tidak berarti jika tidak peka terhadap isu sosial.

“Jadi apa yang kita lakukan adalah membuat suatu orasi dengan melalui sebuah karya,” tandasnya.

Peringatan Hari Buruh Aliansi Jatinangor Bergerak (AJB) di Jalan Raya Bandung–Sumedang, Jatinangor, Jumat, 1 Mei 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)
Peringatan Hari Buruh Aliansi Jatinangor Bergerak (AJB) di Jalan Raya Bandung–Sumedang, Jatinangor, Jumat, 1 Mei 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Menurut Anggi, pertunjukan reak sendiri berasal dari kata eak-eakan yang berarti sorak-sorai. Dalam konteks ini, sorak-sorai menjadi simbol perlawanan dan penyampaian kebenaran. Musik yang dimainkan pun mencerminkan semangat perlawanan melalui tempo cepat yang tetap harmonis.

Atraksi debus yang ditampilkan dalam seni reak juga memiliki makna simbolis sebagai bentuk perlawanan terhadap kriminalitas dan premanisme, sekaligus pesan bahwa tidak ada manusia yang benar-benar kebal atau abadi.

Di hari buruh ini, Anggi menekankan bahwa momentum ini seharusnya tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga momentum untuk memperkuat solidaritas dan memperjuangkan cita-cita buruh.

“Buruh adalah salah satu penopang terbesar ekonomi negara,” ujarnya.

Selain pertunjukan reak, musisi balada asal Bandung, Om Tris, turut memeriahkan acara. Ia memaknai Hari Buruh sebagai momentum memperkuat solidaritas dan menyampaikan aspirasi.

Sebagai musisi, ia merasa dapat berkontribusi melalui karya. Ia berharap karyanya dapat "mendampingi, ikut serta" sebagai tanda keberpihakan pada perjuangan buruh.

Namun, ia juga menyoroti kondisi buruh yang menurutnya masih terjebak pada perjuangan berbasis tuntutan ekonomi semata (unionisme), dan belum menyentuh perjuangan sistemik (laborisme).

Ia juga mengkritik kebijakan Omnibus Law yang dinilai merugikan buruh dan petani.

“Ya, karena jelas tidak berpihak ke buruh dan tani terutama. Terus melahirkan konflik-konflik agraria, penguasaan lahan yang tidak berkeadilan,” lanjutnya.

Baca Juga: May Day di Unpad: Aliansi Kelas Pekerja Jatinangor Menuntut Upah Layak dan Status Jelas
Buruh Jawa Barat di Persimpangan: Kontrak, Kecelakaan Kerja, dan PHK Menjadi Ancaman Rutin

Peringatan Hari Buruh Aliansi Jatinangor Bergerak (AJB) di Jalan Raya Bandung–Sumedang, Jatinangor, Jumat, 1 Mei 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)
Peringatan Hari Buruh Aliansi Jatinangor Bergerak (AJB) di Jalan Raya Bandung–Sumedang, Jatinangor, Jumat, 1 Mei 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Aliansi Jatinangor Bergerak

Perayaan Hari Buruh ini diinisiasi oleh Aliansi Jatinangor Bergerak (AJB), yang terdiri dari buruh, mahasiswa, dan pengemudi ojek online. Aksi dimulai dari Tugu Makalangan Unpad, dilanjutkan dengan long march mengelilingi kawasan kampus, hingga berakhir di pangkalan Damri.

Ilham Al Badi Soewartobi, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unpad yang tergabung dalam aliansi, menyebut aksi ini sebagai ruang bersama untuk menyuarakan tuntutan masyarakat.

Ia menyoroti masih banyak buruh yang menerima upah di bawah standar minimum.

“Bahkan dari segi ekonominya aja (buruh) dengan gaji UMR itu masih kejar-kejaran sama inflasi,” tandasnya.

Mengacu pada data BPS Jawa Barat, ia menyebut masih banyak masyarakat dengan pendapatan di bawah tiga juta rupiah per bulan, bahkan di beberapa daerah jauh lebih rendah.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesejahteraan dasar buruh masih belum terpenuhi, termasuk akses terhadap jaminan sosial dan hak-hak normatif seperti cuti.

Aksi ini diikuti sejumlah warga dan mahasiswa. Miki, warga Jatinangor, menilai aksi ini sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi buruh di daerahnya.

“Untuk kesejahteraan masih kurang. Hari Buruh ini jadi ikhtiar agar suara warga didengar pemerintah,” ujarnya.

Sebagai relawan kebencanaan, ia juga menyoroti minimnya perhatian terhadap fasilitas dan kesejahteraan relawan.

Di sisi lain, momentum ini juga menjadi pengalaman pertama bagi sebagian mahasiswa. Abigail Nathaniela, mahasiswi Sosiologi, mengaku baru pertama kali mengikuti aksi.

“Aku ingin memperjuangkan keadilan yang seharusnya direalisasikan oleh pemerintah,” jelasnya.

Sementara itu, Primanitha Syakila, mahasiswi Antropologi, merasa terpanggil untuk menyuarakan aspirasi buruh.

“Saya ingin suara mereka yang selama ini tidak terdengar bisa sampai ke pemerintah,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat semakin menyadari pentingnya peran buruh dan hak-hak yang seharusnya mereka terima.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//