Balada Tukang Becak Pasar Sayati
Di antara ramainya kendaraan dan pesatnya perubahan transportasi di perkotaan, becak-becak tua masih bertahan di sudut-sudut jalan.

Widya Putri Pramesti
Mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran (Unpad)
22 Juni 2026
BandungBergerak – Suara klakson pagi itu bersahutan di Jalan Kopo, Kabupaten Bandung. Motor dan mobil bergerak perlahan di tengah kemacetan yang seolah tak pernah selesai. Di sekitar Pasar Sayati, ojek online datang silih berganti menjemput penumpang, sementara warga bergegas menuju tujuan masing-masing.
Dalam beberapa tahun terakhir, cara masyarakat bergerak di kota perlahan berubah. Kehadiran transportasi online, meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi, serta layanan berbasis aplikasi membuat masyarakat semakin mengutamakan kecepatan dan kemudahan dalam bepergian.
Di tengah arus mobilitas yang semakin cepat itu, beberapa becak masih terlihat berjajar di pinggir jalan. Sebagian pengemudinya duduk menunggu sambil menyeruput kopi, berharap ada penumpang yang datang. Namun di tengah perubahan pola transportasi perkotaan, harapan itu kini semakin sulit terwujud.
Di tengah perubahan itu, Encep Sumantri, 81 tahun, masih bertahan sebagai tukang becak. Ia sudah mengayuh becak sejak tahun 1980 dan menjadikan kawasan Kopo sebagai ruang hidupnya hingga sekarang.
Tangannya tampak berkerut dan menghitam akibat terpapar panas matahari bertahun-tahun. Becak tuanya berdiri diam di sampingnya. Sesekali ia memperhatikan kendaraan yang terus bergerak di tengah kemacetan Jalan Kopo yang seperti tidak pernah benar-benar selesai.
Pak Encep bercerita bahwa dulu, ia sempat mangkal di kawasan Cibadak sebelum akhirnya menetap mencari penumpang di sekitar Pasar Sayati hingga sekarang. Di titik itu, ia seperti menjadi bagian dari sejarah jalan yang tidak ikut berubah, sementara di sekelilingnya kota terus bergerak cepat. Suara mesin kendaraan, klakson yang bersahutan, dan orang-orang yang tergesa menjadi pemandangan yang ia lihat setiap hari dari atas becaknya.
Ia tidak banyak bergerak, hanya menunggu. Sesekali menggeser posisi duduk atau menoleh ke arah jalan, berharap ada penumpang yang berhenti. Namun semakin lama, yang datang justru semakin jarang.
“Sekarang mah beda jauh sama dulu,” ujarnya pelan.

Baca Juga: Nasib Pengguna Transportasi Umum, Pejalan Kaki, dan Pesepeda Terpinggirkan di Bandung
MAHASISWA BERSUARA: Pengakuan pada Becak di Bandung Berhenti Bersamaan dengan Matinya Pajak Kendaraan Mereka
Dari Trayek Angkot ke Titik Baca: Ketika Sopir, Komunitas, dan Pegiat Literasi Membicarakan Arah Transportasi Publik Bandung
Luka, Kerja, dan Bertahan Hidup
Setiap hari ia mulai pukul enam pagi, menunggu hingga siang, lalu kembali lagi sore hari. Pola itu ia jalani puluhan tahun, meski hasil yang didapat kini jauh berubah.
“Sekarang mah satu kali narik juga sudah syukur,” katanya.
Jika dulu ia bisa mendapatkan empat hingga lima penumpang per hari, kini satu atau dua perjalanan sudah dianggap ramai. Bahkan sering kali ia pulang tanpa membawa penghasilan. Rata-rata ia hanya mendapat Rp20.000 hingga Rp50.000 per hari.
Di depannya, jalan terus bergerak cepat. Motor berhenti sebentar lalu kembali melaju, ojek online datang silih berganti, angkot ngetem di pinggir jalan. Sementara Encep tetap duduk di becaknya, menunggu di tengah arus yang tidak pernah berhenti.
“Sekarang jadi susah cari penumpang,” katanya.
Namun ia tetap bertahan. Bukan karena pekerjaan ini masih menjanjikan, tetapi karena pilihan hidupnya sudah terbatas.
“Kalau di rumah terus mah malah sakit. Di sini masih bisa gerak,” ujarnya.
Perubahan yang dialami Encep bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal perubahan struktur mobilitas kota. Transportasi saat ini semakin bergantung pada aplikasi, sistem digital, dan efisiensi waktu.
Dalam sistem ini, becak berada di luar struktur utama. Ia tidak terhubung dengan sistem pemesanan cepat, tidak masuk dalam arus digital, dan tidak mampu bersaing dalam logika kecepatan.
Akibatnya, ruang ekonomi bagi pengayuh becak semakin menyempit. Mereka tidak hanya kehilangan penumpang, tetapi juga kehilangan posisi dalam ekosistem mobilitas kota yang baru.
Di sisi lain, transisi ini tidak diikuti dengan mekanisme adaptasi yang jelas bagi pekerja informal. Tidak ada ruang yang benar-benar menghubungkan mereka dengan sistem baru, sehingga mereka bertahan di ruang yang semakin terbatas.
Di balik rutinitasnya, Encep juga menyimpan pengalaman hidup yang tidak ringan. Ia pernah kehilangan anak pertamanya pada 2014 karena sakit. Saat menceritakan itu, ia terdiam lama, menatap jalan yang terus bergerak di depannya.
Namun hidup tetap berjalan. Ia memilih tetap bekerja selama tubuhnya masih mampu.
“Yang penting mah usaha terus. Rezeki sudah ada yang ngatur,” katanya.
Bagi Encep, becak bukan lagi sekadar alat transportasi, tetapi ruang untuk tetap bertahan secara fisik dan sosial di tengah kota yang terus berubah.
Tidak jauh dari Encep, Sawi Wahamim menjalani realitas yang serupa. Ia terlihat duduk santai di atas becaknya sambil menikmati kopi di pinggir Pasar Sayati. Di tengah lalu lintas Jalan Kopo yang terus bergerak, ia menunggu penumpang dengan cara yang lebih tenang.
Ia juga merasakan perubahan yang sama.
“Kalau dulu rame. Sekarang paling tiga atau empat kali narik,” katanya.
Penumpang becak kini semakin berkurang. Yang masih menggunakan jasanya biasanya orang tua atau warga yang membawa barang.
“Yang naik becak sekarang orang-orang yang jalannya susah atau bawa barang,” ujarnya.
Meski pendapatan menurun, ia tidak banyak mengeluh.
“Udah biasa aja. Mau narik atau enggak, dijalani aja,” katanya.

Kota yang Tidak Menunggu
Eva, warga sekitar Pasar Sayati, mengaku kini lebih sering menggunakan motor pribadi atau ojek online.
“Lebih cepat dan praktis,” katanya.
Pernyataan ini menunjukkan bagaimana efisiensi telah menjadi standar utama mobilitas perkotaan. Kecepatan menjadi ukuran utama dalam menentukan pilihan transportasi.
Namun di balik normalisasi itu, ada konsekuensi sosial. Jenis transportasi yang tidak sesuai dengan standar efisiensi perlahan tersingkir dari ruang kota.
Di balik becak tua yang terparkir di pinggir jalan, ada harapan hidup yang terus dijaga setiap hari. Ada tanggung jawab keluarga, perjuangan yang tak selesai, dan orang-orang yang tetap bertahan meski perlahan terdorong ke pinggir oleh perubahan kota.
Menjelang malam, Pasar Sayati mulai sepi. Lapak pedagang satu per satu tutup, sementara Jalan Kopo tetap dipenuhi kendaraan yang tak pernah benar-benar berhenti. Di tengah itu, Encep masih duduk di atas becaknya, menunggu penumpang terakhir hari itu.
Kota terus bergerak semakin cepat. Namun tidak semua orang bergerak dalam kecepatan yang sama. Di antara ramainya kendaraan dan pesatnya perubahan transportasi, becak-becak tua masih bertahan di sudut jalan. Dan seperti yang telah ia lakukan selama puluhan tahun, Encep tetap mengayuh. Di tengah kota yang terus bergerak maju, harapan itu belum benar-benar berhenti.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


