Dari Trayek Angkot ke Titik Baca: Ketika Sopir, Komunitas, dan Pegiat Literasi Membicarakan Arah Transportasi Publik Bandung
Keterbatasan transportasi publik menjadi penghalang bagi warga dalam mengakses ruang-ruang literasi di Kota Bandung.
Penulis Muhammad Akmal Firmansyah6 Mei 2026
BandungBergerak - Sopir angkutan kota (angkot) bertemu dengan komunitas dan pegiat literasi di Bandung dalam satu benang merah: transportasi publik di Kota Bandung belum inklusif dan belum dapat diakses oleh semua kalangan.
Pemerintah pusat kini mendorong konversi angkot menjadi layanan feeder (pengumpan) untuk sistem Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya yang tengah dibangun. Namun, proses peralihan ini tidak berjalan mudah.
Pipin Nugraha, mantan sopir angkot yang kini menjadi pengemudi feeder BRT Bandung Raya, menilai skema angkot pengumpan memberi kepastian yang lebih baik bagi sopir, baik dari sisi penghasilan, identitas kerja, maupun perlindungan kesehatan.
Meski demikian, tidak semua sopir menyambut perubahan tersebut. Pipin menyebut masih ada kekhawatiran kehilangan trayek yang berujung pada penurunan pendapatan.
Ia mengaku merasakan langsung dinamika menjadi sopir angkot selama dua tahun. Sistem kejar setoran menjadi beban utama, bahkan sebelum memperhitungkan biaya bahan bakar. Setelah setoran terpenuhi, barulah sopir bisa memperoleh penghasilan tambahan.
“Kalau pulang terlalu cepat, belum tentu dapat penghasilan lebih,” ujar Pipin.
Persoalan ini turut diangkat dalam pameran dan diskusi publik bertajuk “Dari Trayek ke Titik Baca” yang digelar di Toko Buku Pelagia, Sabtu, 2 Mei 2026. Kegiatan ini diinisiasi oleh Kelas Liar BandungBergerak melalui program Literide, dengan menghadirkan galeri foto, puisi, serta forum diskusi.
Dalam diskusi, Muhammad Zulyadri dari Transport for Bandung menjelaskan bahwa angkot memiliki sejarah berbeda dibanding transportasi publik yang dirancang terpusat. Moda ini tumbuh dari inisiatif warga sejak era 1970-an.
Kala itu, individu atau kelompok bermodal membeli kendaraan dan mengoperasikannya melalui sistem koperasi. Rute ditentukan berdasarkan riset mandiri terkait potensi penumpang, kemudian diajukan kepada pemerintah untuk memperoleh izin.
Namun, menurut Zulyadri, pemerintah cenderung menerbitkan izin tanpa evaluasi menyeluruh. Akibatnya, selama puluhan tahun trayek angkot berkembang tanpa perencanaan terpadu, memicu tumpang tindih rute dan ketidakteraturan layanan.
Ia juga menyinggung program BRT Bandung Raya yang mendorong integrasi angkot sebagai feeder. Proses ini dinilai kompleks karena melibatkan banyak pemangku kepentingan lintas wilayah di Bandung Raya dan Jawa Barat, serta jumlah armada yang besar.
Sebelum pandemi Covid-19, jumlah angkot di Bandung diperkirakan mencapai sekitar 5.000 unit. Kini jumlahnya menurun, dan tidak seluruh armada dapat terserap dalam sistem baru.
Baca Juga: Nasib Pengguna Transportasi Umum, Pejalan Kaki, dan Pesepeda Terpinggirkan di Bandung
Revitalisasi Halte Bus di Bandung di Mata Pengguna Transportasi Publik, Banyak yang Harus Diperbaiki
Dampak pada Literasi dan Festival Trayek Baca
Transportasi publik yang belum terintegrasi menjadi kendala struktural di Bandung. Dampaknya tidak hanya pada mobilitas warga, tetapi juga akses terhadap ruang-ruang literasi yang kini berkembang di kota tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, komunitas dan ruang baca alternatif tumbuh pesat, terutama pascapandemi. Namun, banyak di antaranya berada di lokasi yang sulit dijangkau transportasi umum.
Salma dari Kembang Kata Bookclub menilai akses menjadi kendala utama. Menurutnya, kegiatan literasi cenderung diikuti oleh mereka yang memiliki kendaraan pribadi atau mampu menggunakan ojek daring.
Kondisi ini menciptakan ketimpangan akses. Ruang literasi yang seharusnya inklusif justru belum sepenuhnya dapat dijangkau berbagai kelompok. Selain itu, faktor keamanan dan kenyamanan perjalanan juga menjadi pertimbangan, terutama bagi pengunjung yang harus berjalan kaki dari titik transportasi terdekat.
Lebih jauh lagi, tidak terhubungnya titik-titik literasi di Bandung dengan transportasi publik semakin meningkatkan kesenjangan pengetahuan. Para pegiat literasi sudah lama merasakan masalah ini.
Dengan latar belakang tersebut, Cindy dari Literide berinisiatif menggelar Festival Trayek Baca yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Bandung Menggugat 2026. Festival ini mengangkat keterkaitan antara transportasi publik dan akses terhadap ruang literasi.
Selain diskusi publik, festival ini menghadirkan instalasi “angkot baca”, galeri foto dan puisi, serta pertunjukan seni dari Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Bandung. Instalasi angkot mengajak pengunjung melihat langsung kondisi angkot sekaligus membayangkan potensinya sebagai ruang literasi bergerak.
Pada hari pertama, instalasi angkot dipamerkan di Rugos Space, Jalan Kompleks Luxor, Kebon Jati, Kota Bandung, Sabtu, 2 Mei 2026. Terdapat pula “Pojok Titip Salam” yang memungkinkan pengunjung menuliskan pengalaman dan harapan terkait transportasi publik.
Pameran foto hasil kolaborasi Literide dan Raws Syndicate menampilkan karya sejumlah fotografer, antara lain Anang Sudrajat, Ezaki Kurnia, Elvalen Yurisya, dan Husna, yang dikurasi oleh WD dan Farah Farihah.
Sementara itu, galeri puisi bertema angkot yang berkolaborasi dengan Bandung Berpuisi menampilkan sepuluh penulis, di antaranya Diana Arios, Dlulu, Herlangga Juniarko, Ihya Nur Fawaíd, Mila, Akmal Firmansyah, Ni Putu Puspa Trisnawati, Nuralam, Nuryana Emsi, dan Panji Sakti. Kurasi dilakukan oleh Bob Anwar.
Pameran berlangsung hingga 9 Mei 2026. Bob Anwar menjelaskan, banyak puisi yang datang dengan semangat membela atau meratapi angkot, namun pendekatan yang terlalu eksplisit justru membuat karya kehilangan kekuatan.
Menurutnya, puisi yang kuat adalah yang “menjadi sesuatu”, bukan sekadar membicarakan sesuatu. Karya-karya terpilih menghadirkan beragam sudut pandang: dari sempitnya ruang antarpenumpang hingga pengalaman sopir yang kerap luput dari perhatian.
Sejumlah puisi juga memotret angkot sebagai ruang sosial yang apa adanya, tempat interaksi terjadi tanpa formalitas meski dalam kondisi tidak nyaman. Dalam konteks perubahan kota, angkot yang dahulu hadir sebagai simbol modernitas kini kerap dipandang tertinggal di tengah dominasi transportasi berbasis aplikasi dan kendaraan pribadi.
Meski demikian, angkot dinilai tetap bertahan di antara sistem formal dan kebutuhan nyata warga. Puisi-puisi dalam pameran ini tidak berupaya menyelamatkan angkot secara langsung, melainkan merekam pengalaman keseharian yang sering terabaikan—dari lutut yang berhimpitan hingga sopir yang menunggu penumpang.
Melalui pendekatan tersebut, Festival Trayek Baca menempatkan angkot bukan sekadar moda transportasi, tetapi sebagai ruang hidup yang merekam dinamika kota. Upaya ini sekaligus menjadi cara merawat ingatan kolektif di tengah perubahan cepat yang kerap menghapus hal-hal kecil dari keseharian.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


